Rabu, 13 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 9)

 


Siang ini aku tak mesti mengantarkan makanan ke sawah. Tiga petak sawah sudah selesai ditanami. Sisa sepetak lagi yang masih dalam proses pembajakan. Mak melarangku ke mana-mana, katanya ia akan kedatangan tamu dan aku harus menyiapkan sesuatu untuk dihidangkan. Agar tidak terlalu repot, aku akan menghidangkan pisang goreng. Pisangnya sudah kubeli tadi pagi di pasar. Pohon pisang di samping rumah memang sedang berbuah, tapi belum matang.

Tamu Mak sudah datang, tepat ketika kesibukanku menggoreng pisang selesai. Sekarang aku menyeduh teh untuk mereka. Aku sempat mengintip sebentar dari balik gorden yang melapisi pintu dinding pemisah ruang tamu dan ruang tengah. Tamu Mak berpakaian rapi. Yang lelaki mengenakan kemeja batik lengan panjang, sedang perempuan di sampingnya berkebaya merah menyala. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Sepertinya mereka sepasang suami istri. Yang aneh, Puang Sudi juga hadir di antara mereka. Apa sebenarnya yang hendak mereka bicarakan?

Aku bermaksud diam-diam menguping pembicaraan mereka saat keluar mengantarkan minuman dan pisang goreng tadi. Tapi, hingga aku kembali lagi ke dalam, obrolan mereka hanya berisi basa-basi.

Setelah tamu itu pamit pulang, Mak mengajakku bergabung dengannya dan Puang Sudi di ruang tamu. Kenapa Mak memasang tampang serius?

"Mereka itu datang jauh-jauh dari Sidrap untuk melamar. Mereka punya keponakan yang sudah siap untuk menikah." Mak berucap santai, sambil menyomot sebiji pisang goreng dari piring di depannya.

Aku tersentak. Lamaran? Aku sama sekali belum siap untuk menikah. Dan ... bagaimana dengan pemuda itu? Kami memang belum sempat kenal, tapi aku selalu memikirkannya. Sejak kemunculannya hari itu, ia tidak pernah terlihat lagi. Padahal sudah seminggu sejak senyum simpulnya mampu membuat tidurku tidak tenang.

"Saya belum kepikiran untuk menikah. Saya masih mau tinggal sama Mak di rumah ini."

"Mak sama sekali tidak akan memaksa. Hanya memberitahukan. Kamu berhak memutuskan."

"Hasan itu lelaki baik-baik, pekerja keras pula. Aku sudah lama kenal sama dia." Puang Sudi angkat bicara.

Hasan? Aku mengernyit.

"Ingat temanku yang agak gondrong?"

Aku mencoba ingat-ingat. Tapi seingatku, teman Puang Sudi tidak ada yang agak gondrong, kecuali pemuda itu.

"Pasti ingat. Kulihat kalian sempat curi-curi pandang waktu itu. Jangan-jangan kamu juga suka?" goda Puang Sudi dengan senyum jail.

Jadi benar dia? "Jadi, Hasan ...?"

"Cieee ...!"

Mukaku mendadak menyemu merah. Ya ampun, pemuda itu bernama Hasan. Dan baru saja ia mengutus om dan tantenya untuk melamarku. Bagaimana ini?

"Saat kamu pulang waktu itu, ia langsung menanyakan namamu. Ia memang sedang mencari calon istri. Keesokan harinya, ia langsung ke Sidrap menemui keluarganya, menyampaikan niat untuk melamarmu."

Demi mengetahui kebenaran itu, hatiku melonjak tak keruan. Ia yang lebih dulu menanyakan namaku pada Puang Sudi?

"Nanti malam kuajak ke sini biar kalian bisa kenalan. Kamu harus kenal dulu, minimal pernah ngobrol. Jangan langsung nolak," tandas Puang Sudi, kemudian menyeruput tehnya.

Apa? Nanti malam dia akan ke sini? Ya ampun, aku harus bersikap seperti apa?

"Hei, malah melamun." Puang Sudi mengagetkanku. "Nanti malam dandan yang cantik, ya," imbuhnya dengan senyum jail yang khas. Sebenarnya Ambo punya banyak saudara, beberapa merantau ke Malaysia. Dan yang tersisa di sini, aku memang paling dekat dengan Puang Sudi. Mungkin karena masih lajang, jadi sikap kekanak-kanakannya belum hilang dan bikin gampang nyambung sama aku. Dia juga paling sering membantuku dan Mak dalam berbagai hal.

Puang Sudi pamit untuk kembali bekerja di sawah setelah puas menggodaku. Mak juga masuk ke kamar untuk rebahan, menyisakan aku yang masih bingung dengan apa yang kudengar hari ini. Di tengah ketidakpastian aku menginginkan pemuda itu muncul kembali, keluarganya malah datang melamarku. Di saat aku berpikir keras mencari cara agar bisa tahu namanya dari Puang Sudi, yang bersangkutan malah menyebutkannya tanpa kuminta. Apakah Tuhan memang selalu memudahkan takdir-Nya untuk mereka yang sedang jatuh cinta?

***


Malam pun tiba setelah puas melihatku bergelut dengan suasana hati yang tak keruan. Ada bahagia, penasaran, malu, tidak sabar, dan entah apa lagi yang terpilin jadi satu, membuatku seperti orang kebingungan dari siang hingga saat ini. Dan sekarang, aku harus bisa meredam semua itu agar tidak terlihat bego. Pemuda bernama Hasan itu kini tengah duduk di samping Puang Sudi, berhadapan denganku dan Mak. Ia mengenakan kemeja biru malam dan dipadukan dengan jeans berwarna senada. Rambutnya tersisir rapi. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja ia terlihat jauh lebih tampan dibandingkan yang kulihat di sawah waktu itu. Aku semakin gugup dibuatnya.

Mak yang selalu bertanya apa-apa tentangnya, aku hanya mendengarkan. Sebab itu, ia lebih sering melihat ke arah Mak daripada ke arahku. Dari suaranya yang berat namun bernada sopan, akhirnya aku tahu banyak tentang dirinya. Ia tinggal di Sengkang. Menjadi yatim piatu setelah ambonya juga meninggal belum lama ini. Sedang maknya sudah tiada sejak ia masih kecil. Ia menempati rumah peninggalan orangtuanya seorang diri karena memang tidak memiliki saudara. Katanya, ambonya memilih tidak menikah lagi hingga maut pun menjemputnya. Sesaat, aku kagum dengan kesetiaan ambonya. Semoga kesetiaan itu pun menurun padanya, pemuda yang sepertinya akan menjadi jodohku.

Nada suaranya berubah jadi sedikit malu-malu saat menyampaikan pekerjaan sehari-harinya yang hanya seorang kuli bangunan. Mak sama sekali tidak mempermasalahkannya, mengingat kami juga bukan dari kalangan berada. Aku justru suka, ia benar-benar pekerja keras seperti yang Puang Sudi katakan.

"Yang penting, kamu bersungguh-sungguh mencintai anak saya," timpal Mak demi meredam mimik malu-malu yang diperlihatkan Hasan setelah mengutarakan pekerjaannya.

"Saya bersungguh-sungguh, Puang[1]. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakannya!" Setelah senyuman, kini perkataannya yang membuat hatiku mendadak sejuk.

Setelah meladeni semua pertanyaan Mak, obrolan yang awalnya kaku itu mulai lebih cair saat Puang Sudi turut bicara dan menyelipkan berbagai lelucon yang mampu mengundang tawa. Puang Sudi memang ahli melucu. Hasan tidak sungkan terbahak, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang diapit sepasang bibir berwarna merah tua. Sesekali ia bertanya padaku sesuatu hal, dan aku menjawabnya sangat singkat. Seperlunya saja.

***


[Bersambung]


Catatan kaki:
[1] Selain panggilan kepada om dan tante, 'puang' juga bisa digunakan untuk menyapa orang tua atau yang dituakan.


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Selasa, 12 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 8)

 


Sebenarnya Mak bersikeras agar aku tetap melanjutkan pendidikan. Aku paham, Mak menaruh harapan besar kepadaku untuk mengubah nasib keluarga ini. Namun, dari mana Mak bisa mendapatkan uang untuk biaya sekolah sehari-hari? Semasa SMP saja rasanya sangat dipaksakan. Terlebih setelah Ambo tiada. Mak terpaksa jual beras persediaan kami setiap hari untuk biaya hidup dan sekolahku.

Melanjutkan pendidikan kurasa hanya akan menambah beban pikiran Mak. Aku memutuskan untuk melupakan cita-cita itu. Lebih baik fokus bantu Mak di sawah, sembari mencoba cari kerja apa pun yang bisa meringankan bebannya. Tubuh renta Mak sebenarnya sudah tidak pantas lagi menangani pekerjaan berat. Tapi jika sawah itu tidak ditanami, kami mau makan apa? Dan jika bukan aku yang membantunya, siapa lagi?

Maka pada musim tanam pertama setelah Ambo tiada, aku ekstra belajar dan mencoba menikmati setiap langkah-langkahnya. Mulai dari menabur benih, mencabut, menanam, hingga memupuk. Sebenarnya tidak terlalu sulit, aku sering melihat Mak dan Ambo melakukannya. Hanya saja, fisikku belum terbiasa. Baru sebentar saja, langsung terasa capek sekali. Tapi jika Mak saja bisa sekuat itu, harusnya aku bisa jauh lebih kuat.

"Kamu tidak coba cari kerja saja, Nak? Sayang ijazahmu dianggurin." Entah berapa kali Mak mengulangi perkataan itu. Selalu, setiap kali melihatku kelelahan membantunya di sawah.

Aku juga kepikiran begitu. Namun, di kampung ini lapangan pekerjaan sangat minim. Paling mentok juga kerja di tempat pengolahan kepiting dengan upah yang tak seberapa. Menurutku masih mending dengan membantu pekerjaan Mak saja. Aku mungkin saja bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik jika berani meninggalkan kampung ini, mengadu nasib di tempat lain. Namun, mana mungkin aku tega meninggalkan Mak sendiri? Cukup sudah ia ditinggalkan oleh kedua kakakku.

Musim panen tiba. Aku sangat bersemangat, karena inilah hasil jerih payahku bersama Mak. Dari menabur benih hingga memanen, kami lakukan bersama. Hanya sesekali dibantu oleh Puang[1] Sudi-adik almarhum Ambo-jika pekerjaannya benar-benar sudah selesai. Kecuali untuk urusan membajak, kami sepenuhnya menyerahkan kepada Puang Sudi dengan upah berupa beras setelah panen nanti. Sebagian hasil panen kami jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selebihnya tentu saja disimpan untuk persediaan makanan.

***


Watampone, tahun 1993

Musim tanam selanjutnya sedikit berbeda. Mak tidak segesit biasanya. Ia mulai sakit-sakitan. Aku mendadak khawatir penyakit yang merenggut nyawa Ambo kini bersarang juga di tubuh Mak. Aku melarang Mak untuk bekerja. Pekerjaan di sawah terpaksa diserahkan sepenuhnya kepada Puang Sudi. Ia mengajak beberapa temannya turut serta.

Soal upah seperti biasa, diberikan setelah panen. Puang Sudi yang akan mengaturnya. Aku cukup menyediakan serta mengantarkan bekal makan siang untuk mereka setiap hari. Seperti hari ini. Aku baru saja tiba setelah menempuh jarak panjang di atas puluhan pematang sawah. Kedengarannya melelahkan. Namun, aku sudah sering dan terbiasa melakukannya.

Aku menata piring-piring berisi lauk di atas selembar sarung yang telah kubentangkan. Setelah beres, aku memanggil mereka untuk istirahat makan siang. Aku hampir mengenal semua teman-teman Puang Sudi yang dipanggilnya menanam kali ini. Kecuali satu orang. Pemuda yang baru saja melepas selembar kain yang digunakan sebagai penutup muka sepanjang menanam tadi. Aku baru pertama kali melihatnya.

Ia duduk tepat di samping Puang Sudi. Ia sempat beberapa kali melirik ke arahku sambil mengambil nasi dan beberapa lauk. Entah apa yang menarik dari pemuda yang kini mulai menikmati makanan yang kusajikan. Saat tengah larut memperhatikannya diam-diam, secepat kilat, tatapannya beralih ke mataku. Saat itulah sekilas ia memperlihatkan senyum simpul yang mampu menghalau udara panas persawahan di sekitarku. Hati mendadak sejuk.

"Tambahki, sampai semuanya habis. Tidak boleh ada yang sisa." Tentu saja aku tak bicara padanya saja. Maksudku mempersilakan semuanya. Meski selama berucap, aku lebih sering melirik ke arahnya.

Sungguh momen singkat yang penuh degup aneh. Entah kenapa. Mereka mengambil peralatan masing-masing, kembali turun ke sawah. Meninggalkanku yang tengah membereskan piring-piring kosong serta suasana hati yang mendadak ditumbuhi ribuan kuntum bunga. Ah, apa ini?

Perjalanan pulang tak kalah aneh. Tak satu pun langkahku yang tak bertemankan senyum di bibir. Pemuda itu ...? Ah, sayang, aku tak sempat tahu namanya.

"Kamu kenapa senyum-senyum terus?" Mak pun menangkap hal aneh pada senyum tak wajar di wajahku. Ia yang sedang duduk santai di teras mengaku melihatku senyum-senyum sendiri sejak beberapa meter sebelum tiba di rumah.

Aku hanya menggeleng kemudian berlalu ke dalam, bermaksud langsung mencuci peralatan makan tadi.

Malam ini untuk pertama kalinya aku gelisah bukan soal cita-cita yang kandas, melainkan karena pemuda yang belum kutahu namanya itu. Aku menolak menyebut sedang jatuh cinta, tapi entah apa nama lainnya. Aku baru pertama kali seperti ini, karena memang masih kecil. Meski aku bukan anak SMP lagi, namun umur 16 tahun kurasa belum saatnya berurusan dengan cinta. Tapi ... anehkah bila aku mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis?

***


Meski tidurku tidak begitu nyenyak gara-gara bayangan senyum simpul pemuda itu, aku menyambut pagi dengan semangat baru. Seperti biasa, kuawali hari dengan beres-beres rumah. Menyapu halaman, mencuci pakaian, memasak, dan sebagainya. Semua pekerjaan itu terasa lebih mengasyikkan karena kali ini kujadikan sebagai pembunuh waktu. Siang nanti, aku akan ke sawah mengantarkan bekal makan siang lagi untuk Puang Sudi dan teman-temannya. Aku akan bertemu pemuda itu. Oh, Tuhan, bisakah sisa waktu kulipat saja agar siang lekas tiba?

Waktu mengantarkan bekal makan siang pun tiba. Maka di sinilah aku, di depan cermin. Tak biasanya aku melakukan ritual ini sebelum ke sawah. Untuk apa? Bedak tabur yang kukenakan ini nantinya juga akan luntur tergulung keringat. Tapi setidaknya aku merasa lebih siap setelah ini.

Namun, hari ini ternyata tak seindah hari kemarin. Pemuda itu tidak datang. Semua masakan yang kupersiapkan sedikit lebih spesial hari ini, serta langkah tergesa-gesa tadi, mendadak terasa sia-sia. Ke mana dia? Aku bermaksud menanyakannya pada Puang Sudi yang tengah sibuk dengan makanannya. Tapi urung. Aku tak punya alasan kuat mencarinya. Entah kenapa aku jadi sedih.

***


[Bersambung]


Catatan kaki:
[1]Panggilan untuk om dan tante.

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Senin, 11 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 7)

 


Watampone, tahun 1992

Aku terpaku di depan meja belajar. Memandangi ijazah yang baru saja kudapatkan tadi pagi setelah tiga tahun berjuang. Berjuang yang kumaksud mengandung makna perjuangan yang sesungguhnya. Di kampung ini, bisa menyelesaikan pendidikan hingga SMP dianggap sudah hebat. Di luar sana, sebagian teman-teman yang nasibnya jauh lebih mujur mungkin tengah sibuk mengurus pendaftaran masuk ke SMA. Sedang aku, di sini saja. Sedang berusaha untuk berdamai dengan takdir.

Sejak pertama kali ditanya soal cita-cita sewaktu masih SD dulu, aku selalu menjawab ingin menjadi guru. Entahlah. Bagiku guru itu sangat hebat. Bisa membuat orang yang tadinya tidak tahu apa-apa jadi sangat pintar. Bahkan terkadang melampaui kepintarannya sendiri. Tapi sekarang, kenyataan memaksaku mengubur cita-cita itu. Orangtuaku hanya petani. Dan segala ketidakmungkinan yang membayangiku selama ini semakin nyata setelah Ambo[1] jatuh sakit dan akhirnya berpulang ke sisi-Nya enam bulan yang lalu.

Di mataku, Ambo bukan sekadar ayah, tapi juga pejuang tangguh. Raganya tak pernah lelah demi membahagiakan kami. Apa pun akan ia lakukan demi melihat kami tersenyum. Jika musim menanam sudah selesai, ia menarik bendi[2] sambil menunggu musim panen. Sepulang dari menarik bendi, ia tidak langsung istirahat, melainkan ke sawah untuk melihat perkembangan bibit padi. Mana tahu banyak rumput yang tumbuh di sela-selanya. Atau malah terserang hama. Ia juga tentu saja masih harus mengurusi kuda yang menemaninya mencari rezeki tambahan sepanjang hari. Memandikan serta mencarikannya rumput-rumput segar di pematang-pematang sawah agar binatang super kuat itu tetap semangat menarik penumpang setiap hari. Semua rutinitas itu terpaksa dilakukannya seorang diri.

Ambo memang punya tiga orang anak, tapi sekarang sisa aku yang masih tinggal bersamanya. Daeng[3] Firman, sejak saya belum lahir sudah merantau ke Merauke dan tidak pernah pulang sekali pun hingga hari ini. Kabarnya, ia sudah menikah dan punya dua orang anak di sana. Daeng Ida, dua tahun sejak tamat SD langsung menikah dan ikut suaminya merantau ke Riau. Ia baru tiga kali pulang menemui kami. Terakhir waktu aku masih kelas enam SD. Kepulangan sebelumnya, aku tidak begitu ingat. Mungkin ketika aku masih sangat kecil. Aku tahu sudah tiga kali hanya berdasarkan cerita Mak. Perempuan berkulit legam itu sering mewarnai suasana sore di teras dengan obrolan hangat seputar kedua kakakku.

Ia selalu ditemani album foto keluarga yang sampulnya mulai dimakan rayap. Benda itu akan memudahkannya mengenang setiap kisah yang pernah terukir. Ia begitu antusias menceritakan peristiwa di balik setiap gambar. Bahkan saking sering Mak mengulanginya, aku pun jadi hafal. Tapi, aku pura-pura lupa dan sengaja mengajukan pertanyaan yang bisa memancing semangat perempuan renta itu bercerita. Aku senang melihat Mak tersenyum dalam ceritanya, meski sesekali ada kilauan bening di sudut matanya yang susah payah ditahan agar tak tergelincir. Dengan begitu, semoga kerinduan yang menggunung di hatinya bisa tersalurkan, meski tak seutuhnya. Sebagai satu-satunya anak yang masih ada di sisinya, aku harus menguatkan.

Aku dan Mak sesekali membantu pekerjaan Ambo di sawah. Bahkan, tanpa persetujuan Ambo, Mak kadang mencari rumput untuk makanan kuda. Ambo tidak suka dibantu. Ia tidak tega melihat kami mengerjakan pekerjaan berat. Ia lebih senang jika aku fokus belajar dan Mak cukup mengerjakan pekerjaan rumah saja. Yang terpenting bagi Ambo, kami selalu menyambutnya dengan senyum setelah ia bekerja seharian.

Ia selalu bisa menikmati makanan apa pun yang dimasak Mak setiap hari. Dan ketika malam tiba, caranya melepas lelah cukup dengan bersantai di ruang depan, tentu saja ditemani Mak dan secangkir kopi hangat. Bila pohon pisang di samping rumah tengah panen, maka akan ada pisang goreng di antara mereka. Hanya seperti itu. Mereka akan mengobrol seputar kenangan, sesekali tentang masa depan yang masih harus disongsong. Nyala pelita menciptakan suasana remang, serta bayangan mereka yang bergoyang di dinding papan. Pasangan yang tak lagi muda itu berhasil mempertahankan keharmonisan rumah tangga setelah badai apa pun mereka lalui bersama. Diam-diam aku iri. Dan kelak, semoga aku mendapatkan lelaki pendamping hidup sehebat Ambo.

Ambo bukan mesin yang bisa bekerja terus menerus. Pada akhirnya tubuh kokoh itu ambruk setelah penyakit menyeramkan menguasai tubuhnya. Gejalanya mulai terlihat sejak Ambo sering mengeluh, katanya ia cepat lelah dan kadang susah untuk bernapas.

Sebagai orang awam, Mak hanya memberinya obat yang dibeli di warung. Dengan kondisi seperti itu, ia tetap beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja selalu pulang lebih awal karena merasa sangat lelah. Mak selalu memintanya untuk berhenti bekerja dan beristirahat total di rumah. Biar Mak dan aku yang mengurusi padi di sawah. Namun, Ambo lumayan keras kepala untuk urusan pekerjaan.

Ia baru mau mendengarkan Mak ketika perutnya mulai membesar secara tidak wajar. Beberapa bagian tubuh lain seperti kaki turut mengalami pembengkakan. Semacam diisi cairan. Dari beberapa tetangga dan kerabat yang datang menjenguk, banyak pendapat perihal penyakit yang tengah diderita Ambo. Apa pun itu, kami hanya ingin agar beliau sembuh secepatnya.

Segala macam usaha kami lakukan demi kesembuhan Ambo. Entah berapa banyak ramuan yang dibuat oleh Mak dan dengan terpaksa diminum oleh Ambo. Seringkali Mak terpaksa mengayuh sepeda menempuh jarak puluhan kilometer demi menemui orang pintar di sana sesuai arahan dari siapa saja. Biasanya ia pulang membawa sebotol air putih yang katanya sudah diberi mantra penyembuh. Air itu akan habis diminum oleh ambo dalam waktu tiga hari. Dan tanpa pernah mengeluh, Mak akan ke sana lagi. Membawa pulang sebotol air yang sama.

Jika setelah tandas beberapa botol namun tidak ada perubahan yang mengarah pada kesembuhan Ambo, Mak akan beralih ke orang pintar lainnya. Begitu seterusnya. Jika Mak sedang menemui orang pintar atau ke sawah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman padi, aku yang menjaga Ambo. Mengipas, mengelus punggungnya, apa pun yang bisa membuatnya tenang. Melupakan sejenak penyakit yang tengah menggerogoti tubuhnya.

Penyakit Ambo mungkin akan sembuh jika dibawa ke rumah sakit, ditangani oleh dokter spesialis. Tapi, kami sama sekali tidak punya uang. Lagipula kata Mak, penduduk di kampung ini belum terbiasa berobat sama dokter. Jika sedang sakit, mereka cukup mengandalkan ramuan serta air sakti dari orang-orang pintar yang ketenarannya sudah ke mana-mana. Meski tidak yakin, aku terpaksa mendukung argumen itu.

Dari hari ke hari, kondisi Ambo semakin menurun. Nafsu makannya bermasalah. Jika berhadapan dengan makanan, ia pengin muntah. Alhasil, tubuhnya semakin kurus. Tapi, perut serta kakinya malah tampak semakin membengkak. Mentalnya juga mulai terganggu. Ia jadi sensitif dan manja. Ia paling tidak bisa ditinggal sendirian. Minimal ada orang yang mengelus punggungnya atau mengipasnya. Dua hal itu yang mampu membuatnya merasa agak nyaman. Aku dan Mak bergantian melakukannya.

Melalui beberapa kenalan yang juga perantau dan kebetulan sempat pulang beberapa bulan yang lalu, Mak menitipkan surat untuk kedua anaknya yang tengah menempuh kehidupan masing-masing di pulau yang berbeda. Ia mengabarkan kondisi Ambo yang memprihatinkan.

Seminggu yang lalu, surat balasan dari Daeng Firman sudah tiba. Pada selembar kertas lusuh itu ia hanya mengirimkan doa untuk kesembuhan Ambo. Berselang tiga hari, surat balasan dari Daeng Ida juga tiba. Isinya jauh lebih baik. Selain doa, ia juga mengirimkan lembaran-lembaran rupiah untuk keperluan berobat Ambo. Entah apa yang membuat hati kedua saudaraku itu belum tergerak untuk pulang menjenguk ambo. Ada-ada saja alasan yang bisa mereka rangkai dalam deretan kata-kata indah yang selalu mampu membuat Mak maklum.

Perjuangan kami, doa-doa panjang yang seolah tak pernah putus, pada akhirnya menemui titik ujung. Tuhan memanggil Ambo untuk kembali, setelah tiga bulan tak berdaya melawan penyakit yang belakangan kami tahu bernama liver itu. Di hari itu, banyak hal dalam diri yang kurasakan runtuh bersamaan. Terutama soal cita-cita untuk menjadi guru. Tanpa Ambo, segalanya pasti lebih sulit. Aku kehilangan pegangan, panutan. Serta sepasang bintang yang kerap menyinari malam-malamku. Mata Ambo.

***


[Bersambung]


Catatan kaki:
[1]Ayah.
[2]Delman.
[3]Panggilan untuk kakak.


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya.

KBM

KARYAKARSA

Minggu, 10 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 6)

 


"Tiara, akhirnya kamu pulang, Nak." Ibu menatap Tiara dengan rasa bahagia yang membuncah. Ayunan bening membuat sepasang bola matanya berkilau.

Tiara tak kuasa menahan tangis, bahunya terguncang hebat.

"Pelukka, Nak!" pinta Ibu dengan suara yang semakin tipis. Maka, serta-merta Tiara mendekap tubuh ringkih yang tampak kian lemah itu. Tangan Ibu melingkar di punggung Tiara. Mereka berbagi kehangatan dada.

"Minta maafka, Nak. Mak sudah mengecewakan kamu. Mak gagal jadi Ibu yang bisa dibanggakan." Suara tersendat-sendat Ibu mengalun pilu. Tiara mengeratkan dekapannya, bermaksud mencegah Ibu bicara lebih jauh. Dia pulang bukan untuk mempermasalahkan hal itu lagi.

Lamat-lamat terdengar suara lain yang memanggil Tiara. Semakin jelas, hingga Tiara bisa mengenali suara itu milik Imran. Tiara membuka mata perlahan-lahan, menemukan wajah panik cowok beralis tebal itu.

"Kenapa aku di sini?" Tiara mengedarkan pandangan. Dia berada di kamar rumah sakit.

"Tadi kamu pingsan."

Serta-merta air mata kembali membanjiri kedua pipi Tiara setelah menyadari pertemuannya dengan Ibu tadi hanya terjadi di alam bawah sadar.

"Mana makku?"

"Sudah dipulangkan pakai ambulans. Tante Siska terpaksa ninggalin kamu. Dia ikut di ambulans untuk mengurus segala sesuatunya. Kita juga harus segera pulang untuk menyiapkan pemakaman makmu."

Sesuatu yang bergemuruh di hati Tiara saat ini sangat sulit diuraikan dengan kata-kata. Bukan sekadar sesal. Lebih dari sekadar sedih. Dan lebih akut dari rasa bersalah. Semuanya terpilin jadi satu dan membuatnya kesulitan untuk berpikir jernih. Dia bahkan tidak sempat memeluk Ibu, mencium tangannya, meminta maaf, mendengar suaranya, atau bahkan sekadar menerima tatapannya. Hal itu yang membuat air mata Tiara semakin deras seiring detik-detik pilu yang terangkai di sisinya.

***

Jasad Ibu dikebumikan menjelang magrib. Tiara tidak akan beranjak dari pusara itu jika saja tidak dipaksa oleh Tante Siska. Dia berniat menemani Ibu sepanjang malam. Butuh waktu sekitar sejam sebelum Tante Siska dan Imran berhasil membujuknya untuk pulang.

Setelah para pelayat pamit pulang, Tiara menyendiri di teras. Imran yang tidak tega melihat kondisi Tiara seperti itu bermaksud menemani. Namun kemudian pamit juga setelah menyadari Tiara butuh ruang untuk sendiri, berdamai dengan takdir seraya meredakan apa pun yang membuat dadanya masih sesak.

Setelah selesai beres-beres di dalam, Tante Siska menemui Tiara di teras.

"Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Sekarang makmu sudah menemukan tempat yang jauh lebih tenang. Daripada dia harus tetap di sini melawan penyakit yang memangsa sel-selnya dengan sadis. Di samping itu, hidupnya memang tidak pernah tenang karena memikirkan kamu setiap hari." Meski tidak bermaksud, kalimat barusan kian menyudutkan Tiara.

Tiara tidak menoleh, tatapannya menerawang hampa. Seolah mencari secercah cahaya yang mampu membuatnya lebih tenang.

"Sebenarnya makmu sudah lama tahu ada benjolan di payudaranya yang sesekali terasa sakit. Tapi dikiranya hanya benjolan biasa. Dia baru cerita setelah benjolan itu semakin sering sakit. Sebagai orang kampung yang minim pengetahuan, kami hanya berobat ke orang pintar. Hanya dikasih ramu-ramuan yang ternyata tidak membantu sama sekali. Aku sering memintanya agar periksa ke dokter. Tapi katanya sayang uangnya, mending ditabung untuk keperluan kamu nantinya. Dia selalu yakin bahwa penyakitnya bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Pasti akan sembuh dengan sendirinya."

Hati Tiara semakin ngilu, terbayang hari-hari sulit yang dilalui Ibu.

"Tapi pada akhirnya kondisinya semakin memburuk dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Barulah kami tahu bahwa dia terkena kanker payudara yang sudah teramat akut. Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Pengobatan apa pun katanya sudah terlambat. Setiap hari dia hanya diberi obat penghilang rasa sakit. Hanya agar dia tidak merasakan sakit berlebih di saat-saat terakhirnya." Kalimat Tante Siska basah oleh linangan air mata yang ikut terurai di setiap tarikan napasnya. Dia dan Ibu memang tidak ada hubungan keluarga, tapi perjuangan hidup yang dilalui bersama menjadikan mereka seperti saudara. Begitu banyak tawa dan tangis yang mereka ukir bersama.

Tiara terenyuh. Rasa bersalah semakin giat mengimpit dari segala arah. Andai dia tidak pergi waktu itu, Ibu tidak perlu menanggung dan menyembunyikan penyakit ganas itu sendirian. Dia tentu bisa bertindak sebagaimana mestinya.

"Setelah pergi, kamu nggak tahu betapa sulit hari-hari yang dilalui makmu. Dia terus mencarimu setiap hari. Aku pernah menemaninya mencari seharian penuh keliling kota, tanpa hasil apa-apa. Pada akhirnya kami menyimpulkan, kamu berada jauh dari kota ini. Mungkin di tempat yang sulit dijangkau oleh orang kampung seperti kami ini." Tante Siska jeda, meredam tangis.

"Dia bekerja keras mengumpulkan uang. Katanya untuk kamu yang sangat ingin jadi dokter. Meski dia sendiri nggak paham berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk kuliah kedokteran. Bahkan kamu sendiri nggak jelas akan pulang atau tidak. Dan untuk semua itu, pada akhirnya dia mengorbankan kesehatannya. Bahkan nyawanya." Tante Siska tercekat. Sungguh tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Sedang Tiara masih menerawang hampa dengan bahu yang semakin hebat terguncang. Sedu-sedannya turut mewarnai malam yang belum pernah terasa semencekam ini.

"Dia memutuskan untuk berhenti jadi biduan. Agar saat kamu kembali, kamu nggak akan kecewa untuk kedua kalinya. Dia jadi buruh cuci sebelum kami memulai usaha bersama demi mengumpulkan uang untuk anak yang telah meninggalkannya."

Setiap kalimat yang diucapkan Tante Siska menjelma ribuan anak panah yang kemudian menghunjam jantung Tiara secara brutal. Dia tidak sanggup membayangkan betapa berat perjuangan yang dilalui Ibu. Demi dirinya yang saat itu tengah memupuk benih kebencian. Menyesal sekarang sungguh tidak akan mengubah keadaan.

Tuhan ... takdir macam apa ini?

"Satu hal yang selalu dia takutkan, nggak punya kesempatan untuk membuktikan ketulusannya sebagai ibu, membuatmu memaafkan dan menerima semua masa lalunya. Dan ternyata benar. Keras hatimu membuatnya kehilangan kesempatan itu. Kamu pulang hanya untuk menyaksikan pemakamannya. Tapi itu jauh lebih baik dibanding nggak sama sekali."

Ucapan Tante Siska kembali membuat seisi hati Tiara semakin tidak keruan. Tangisnya benar-benar pecah sekarang, bergaung memenuhi rona malam yang sesekali dihiasi embusan angin.

"Makmu nggak punya apa-apa untuk diwariskan." Tante Siska menghela napas panjang seraya menyusut air matanya. "Hanya ini." Kemudian dia menyerahkan sebuah kotak perhiasan dan buku usang.

Tangan Tiara gemetar menerimanya.

"Kotak perhiasan itu berisi uang yang berhasil dia kumpulkan selama ini. Sebenarnya dia teramat ingin memberikannya secara langsung." Tante Siska jeda, melirik Tiara yang terpaku menatap kedua benda di tangannya. "Sedang di buku itu, diam-diam dia menulis kisah hidupnya yang nggak diduga akan sedramatis ini. Dia ingin kamu membacanya. Semoga dengan buku itu, kamu bisa mengenal sosok makmu yang sesungguhnya. Dan semoga nggak lagi menyesal terlahir dari rahimnya."

Tiara mengabaikan kotak perhiasan yang sudah jelas isinya. Dia lebih tertarik pada buku usang bersampul biru itu. Diusapnya perlahan, seolah merasakan kehangatan di sana. Masih dengan tangan gemetar, dia membuka halaman pertama setelah Tante Siska kembali ke dalam, membiarkannya leluasa bercengkerama dengan sejuta kenangan Ibu. Pada lembaran yang mulai menguning, serta tinta pulpen yang agak luntur, Tiara melihat bayangan senyum Ibu.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya.

KBM

KARYAKARSA

Jumat, 08 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 5)

 


SELAMAT DATANG DI KOTA WATAMPONE

KOTA BERADAT BUMI ARUNG PALAKKA

Tiara melongok ke luar demi membaca kalimat itu pada gapura yang dibangun di perbatasan Kota Watampone. Senyumnya merekah. Dulu, sempat bercokol niatan di benaknya untuk tidak kembali lagi ke kota ini selamanya. Tidak akan melihat lagi gapura bermodel songkok recca[1] itu.

Tiara menarik napas dalam-dalam ketika mobil yang ditumpanginya mulai memasuki kawasan Desa Bajoe, membiarkan aroma khas kampung halaman memenuhi rongga dadanya. Dia mulai memikirkan kalimat pertama yang akan dia ucapkan kepada Ibu nanti. Haruskah dia menangis dan langsung berlari mendekap perempuan itu? Atau bersikap biasa-biasa saja? Dia mendadak gelisah.

Tiara penumpang terakhir yang diantar ke tempat tujuan. Penumpang lain sudah turun satu per satu sebelumnya. Mobil yang kini hanya berisikan dia dan sang sopir berhenti di depan Masjid Nurul Huda. Di samping masjid itu ada jalan setapak. Di ujung jalan itulah rumah kontrakan yang pernah dia tempati bersama Ibu berada.

Tiara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Dia memang merencanakan akan tiba jam segini, ketika kebanyakan orang di kampung itu masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing atau sedang lelap dalam tidur siangnya. Jadi tidak terlalu banyak orang yang akan menyoroti kedatangannya. Benar saja, sepanjang jalan sepi. Hanya terlihat beberapa bocah di pinggir jalan yang tengah sibuk dengan permainannya, dunia yang hanya dimengerti oleh mereka.

Langkah Tiara berhenti di halaman sebuah rumah petak yang tampak tidak terurus dan terkesan kumuh. Dindingnya masih telanjang, memperlihatkan susunan batu bata tanpa lapisan semen dan cat atau apa pun. Daun-daun kering serta sampah plastik berserakan.

Ada apa dengan Ibu? Kenapa jadi tidak sempat mengurus rumah seperti ini?

Tiara melanjutkan langkah hingga tiba di teras. Setelah menimbang beberapa detik, akhirnya dia mengetuk pintu sambil mengucap salam. Berselang lama, tidak ada jawaban. Diulanginya lagi setelah bola matanya berputar sejenak mengamati langit-langit teras yang dipenuhi sarang laba-laba. Masih tidak terdengar jawaban. Tiara mengintip lewat jendela yang setengahnya tertutup gorden dengan warna yang mulai pudar. Tidak ada tanda-tanda Ibu sedang di dalam. Kemudian dia teringat dengan Tante Siska, rekan kerja Ibu sesama biduan. Perempuan yang gemar mewarnai rambutnya itu juga mengontrak sepetak rumah tepat di samping rumah mereka. Dia pasti bisa memberitahukan keberadaan Ibu. Tiara bergegas beranjak ke rumah sebelah. Setibanya, dia mendapati hal serupa. Rumah Tante Siska juga kosong.

Atau mereka sedang ada job siang?

"Tiara ...?" Seseorang menyapa dengan ekspresi setengah tercengang, ketika Tiara hendak mengulang mengetuk pintu rumah itu sekali lagi.

Tiara menoleh dan mendapati wajah yang sangat dia kenal. Perempuan paruh baya yang gemar berdaster itu adalah Bu Hasna, pemilik warung kelontong yang hanya berjarak tujuh rumah dari rumahnya. Dulu, Tiara sering belanja kebutuhan sehari-hari di sana.

"Kamu benar Tiara, kan?" Tatapan perempuan bertubuh gempal itu masih menyemburkan tanda tanya.

Tiara mengangguk seraya tersenyum. Kemudian dia mendekat untuk menjabat tangan Bu Hasna, menepis riak-riak heran di wajahnya yang mulai mengeriput itu.

"Kamu dari mana aja? Kenapa lama sekali baru pulang?"

"Kerjaka di Makassar, Bu."

Bu Hasna hanya ber-o panjang, meski dia yakin jawaban itu bukan alasan yang sebenarnya. Bagaimanapun, dia sangat mengenal Ibu. Dia paham benang merah yang melintang di tengah hubungan pasangan ibu-anak itu. Sering kali dia menyaksikan langsung hari-hari sulit yang terpaksa dilalui Ibu pasca ditinggal kabur sang anak.

"Kita[2] lihat makku?"

Mendadak raut wajah Bu Hasna berubah.

"Sudah beberapa minggu ini makmu sakit parah. Dia dirawat di rumah sakit."

"Ha? Sakit?" Penuturan itu membuat gemuruh di dada Tiara lebih kacau dari sebelumnya. Matanya berkaca-kaca kemudian. Dia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. "Rumah sakit mana, Bu?"

"Rumah Sakit Umum Tenriawaru. Sebaiknya kamu lekas ke sana."

"Iye[3]. Langsungma[4] ke sana, Bu."

"Tasnya simpan aja dulu di rumah. Nanti biar diantar sama Imran."

Sepintas, Tiara teringat masa lalunya dengan Imran. Dia sudah bersahabat dengan putra bungsu Bu Hasna itu sejak kecil. Bahkan, kedekatan mereka sudah seperti saudara. Imran cowok baik-baik, taat beribadah dan sangat patuh terhadap orangtua. Dia alumni SMA Negeri 1 Watampone, sekolah menengah atas terbaik di kota itu.

Tiara menunggu Imran yang tengah siap-siap. Dia duduk di depan warung, kolong rumah panggung yang telah disulap jadi tempat mencari nafkah. Bu Hasna baru saja mengambil alih dan membawa barang-barangnya ke dalam. Dia sedang menikmati sebotol minuman dingin ketika Imran sudah siap dan sedang menuruni tangga. Karena lama tidak bertemu, cowok itu terlihat canggung. Tiara sampai harus berdiri dan menyapa duluan. Tiara tidak heran, tetangganya itu memang agak pemalu.

"Apa kabar?" Tiara mengulurkan tangan.

"Alhamdulillah, baik," jawab Imran setelah menjabat tangan Tiara. "Mau berangkat sekarang?" imbuhnya sambil pura-pura merapikan kancing kemejanya.

Tiara hanya mengangguk. Imran beranjak menyiapkan kendaraan, sebuah motor matic warna merah yang telah menemani kesehariannya sejak SMA.

***

Di koridor rumah sakit, Tiara dan Imran berpapasan dengan Tante Siska. Dia bersama beberapa orang perawat yang tengah membawa pasien di atas brankar. Mereka panik dan tampak tergesa-gesa.

"Tante Siska?" hadang Tiara.

"Tiara?" Langkah tergesa-gesa Tante Siska mendadak terkunci demi memastikan seseorang yang baru saja menggaet tangannya.

"Tante, mana makku?"

Bibir Tante Siska malah bergetar hebat, tidak mampu bersuara. Dia hanya menunjuk ke arah rombongan perawat tadi yang telah menjauh. Tiara paham, kondisi Ibu pasti sedang mengkhawatirkan. Mereka lekas menyusul para perawat tadi. Tiara berlari demi bisa lekas melihat Ibu yang terbaring lemah di atas brankar itu. Air matanya tumpah ruah setelah melihat tubuh yang dulunya tegap berisi, kini begitu lemah dan ringkih.

"Mak ...!" panggil Tiara di sela tangis yang kian hebat. Dia sangat berharap mata Ibu bisa terbuka walau hanya sedetik demi melihat kepulangannya. Namun, mata itu malah seolah semakin rapat mengatup. Tiara baru berhenti memanggil-manggil setelah seorang perawat menahan dan memintanya menunggu di luar. Ibu akan ditangani di ruang ICU. Tubuhnya merosot di kursi tunggu. Dia menopang kepala dengan kedua tangannya. Air matanya terus berjatuhan, membasahi lantai rumah sakit yang dipasangi ubin putih bersih.

Tangan Tante Siska mendarat di punggung Tiara. Mengelus, menenangkan. Tiara beralih bersandar, berbagi kekalutan dengan teman seperjuangan ibunya itu. Imran yang kebingungan melihat pemandangan itu hanya bisa diam.

"Kenapa kamu tega ninggalin makmu?"

Tiara kian terenyuh mendengar pertanyaan itu.

"Apa pun yang dia lakukan, semua demi melihatmu bahagia. Sampai-sampai dia lupa memilah cara yang benar dan salah."

Entah apa yang harus diucapkan Tiara. Dia hanya terus sesenggukan.

Seorang dokter perempuan keluar dari ruang ICU, langsung disambut oleh Tiara dan Tante Siska. Keduanya sigap berdiri.

"Dokter, bagaimana keadaan Mak saya?" Suara terbata Tiara nyaris tidak terdengar.

"Saya harap, kamu bisa tabah. Kami sudah mengupayakan yang terbaik, tapi Tuhan lebih dulu menetapkan kehendak."

Deg!

Jantung Tiara seakan terhenti. Kepalanya mendadak terasa berat. Ribuan bintik cahaya yang menyerupai kunang-kunang serta-merta mengacaukan penglihatannya, sebelum semuanya berubah gelap dan tubuhnya ambruk.

***

[Bersambung]

Catatan kaki:

[1] Peci khas Bugis.

[2] Makna kata 'kita' dalam bahasa pergaulan orang Makassar melebur menjadi 'Anda' (sopan).

[3] Iya.

[4] Akhiran 'ma' berfungsi menggantikan kata "aku".


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya.

KBM

KARYAKARSA

Kamis, 07 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 4)

 


Satu minggu sudah berlalu sejak latar belakangnya bocor ke publik. Namun, Tiara tidak merasakan ada perubahan berarti. Dia belum berani buka sosmed karena komentar miring netizen masih ada di mana-mana. Lebih parahnya lagi, dia seolah kehilangan kemampuan menulisnya.

Tiara sadar, dia tidak bisa seperti ini terus. Dia harus tegas terhadap hidupnya sendiri. Malam-malam panjang dia gunakan untuk merenungi, mencari cara untuk keluar dari fase ini. Dari sekian banyak cara yang sempat terlintas, pada akhirnya tetap kalimat Nenek Hamida yang berdengung paling keras.

"Pulanglah, Nak. Barangkali ada yang ingin Allah tunjukkan. Ingat, ridho Allah adalah ridho ibu."

Karena itu, setelah enam tahun kukuh dalam pendirian, hari ini Tiara memutuskan untuk pulang. Dia akan menemui Ibu, melihat kembali wajah yang pernah sangat dia kagumi. Meski setelahnya, dia tetap akan kembali menjalani kehidupannya yang sekarang. Dia hanya ingin membuat Ibu dan dirinya sendiri lebih tenang.

Nenek Hamida adalah orang yang paling senang mendengar keputusan itu. Entahlah, tapi dia merasa bersalah kalau gagal membujuk cucu angkatnya itu untuk berdamai dengan ibu kandungnya.

"Kamu nggak lupa jalan pulang, kan?" tanya Nenek Hamida dengan nada setengah bercanda tadi malam, sambil menemani Tiara berkemas.

"Ya nggak lah, Nek."

Tiara tidak berniat lama-lama. Jadi, dia hanya bawa satu ransel yang hanya muat beberapa pakaian.

Saat ini Tiara berada di teras, menunggu mobil jemputan. Karni dan Nenek Hamida menemaninya. Mereka masih setengah percaya bahwa hari ini akhirnya datang juga. Bertahan untuk tidak pulang selama enam tahun bukan keputusan main-main. Mereka tidak bisa membayangkan sedalam apa luka di hati Tiara.

Setelah menunggu sekitar sejam, akhirnya mobil datang juga. penumpangnya sudah penuh, hanya menyisakan satu kursi kosong di samping sopir yang memang sudah dipesan Tiara sejak semalam. Si sopir langsung turun dan memasukkan tas Tiara ke bagasi.

"Nek, aku berangkat, ya."

"Semoga kamu menemukan jawaban di sana."

Meski agak sangsi, Tiara mengangguk, kemudian mendekap Nenek Hamida sangat erat. Dari perempuan renta ini Tiara belajar, bahwa keluarga bisa saja terbentuk tanpa ikatan darah.

"Kar, titip Nenek, ya," ujar Tiara setelah melepas pelukan.

Karni langsung mengacungkan kedua jempolnya.

"Tunggu, Ra!" teriak Ikbal dari jarak beberapa meter.

Tiara urung masuk ke mobil. Dia langsung menoleh ke sumber suara.

"Ada apa, Bal?" tanyanya begitu cowok itu tiba di depannya.

Alih-alih menjawab, Ikbal malah menyodorkan sekantong penuh tahu goreng. "Buat di jalan," katanya seraya tersenyum.

"Loh, jam segini udah buka?" Tiara sigap menoleh ke arah stan Ikbal, tapi ternyata masih tertutup rapat.

"Nggak, itu aku bikin di rumah, khusus untuk menemani perjalanan kamu." Ikbal tahu rencana kepulangan Tiara tadi malam dari Karni. Karena itu, tadi subuh selepas shalat, dia langsung memasak tahu goreng andalannya untuk sang pujaan hati. Andai tahu-tahu itu bisa ngomong, dia tidak perlu setersiksa ini memendam perasaan.

"Wah, makasih banyak, loh. Tapi kayaknya ini kebanyakan, deh." Tiara terkekeh ringan.

"Sengaja, kok. Biar kamu bisa bagi ke penumpang yang lain. Kan, pasti kamu nggak enak kalau makan sendiri."

"Duh ... baik banget. Nggak heran, deh, kalau banyak pelanggan yang jatuh cinta."

"Apaan, sih." Ikbal mengibaskan jemari sambil mengedarkan pandangan. "Loh, Haikal nggak datang lihat kamu berangkat?" tanyanya spontan. Padahal, itu jelas-jelas nggak ada hubungannya sama dia. Namun, dia tidak bisa menahan pertanyaan itu.

Tiara bingung harus jawab apa. Akhirnya dia hanya menggeleng.

Ikbal ber-o tanpa suara. Meski hal itu terasa janggal, dia memilih untuk tidak bertanya apa-apa lagi.

"Ya udah, aku jalan, ya."

Ikbal mengangguk. "Apa pun tujuan kamu ke sana, semoga kamu bisa balik ke sini lagi dengan versi terbaikmu."

Tiara tersenyum dan mengangguk samar. "Semoga." Lalu masuk ke mobil.

Beberapa saat kemudian mobil itu pun melaju. Nenek Hamida terus melambai hingga mobil itu hilang di tikungan kompleks menuju jalan utama.

Dari balik kaca jendela mobil, Tiara menerawang ke luar. Bangunan-bangunan kios semi permanen yang berderet di sepanjang jalan semakin cepat bergerak ke arah berlawanan, seiring ingatan masa lalu yang terputar kembali.

***

Puncak dari masa-masa suram Tiara di sekolah bertepatan dengan perayaan hari kelulusan. Mereka diminta datang bersama orangtua masing-masing untuk menghadiri acara pelepasan siswa-siswi SMA Negeri 5 Watampone angkatan 2013 yang dirangkaikan dengan pengumuman siswa-siswi lulusan terbaik dan beragam acara pendamping lainnya. Lapangan yang biasanya digunakan untuk upacara bendera setiap hari Senin dipasangi tenda dan didekor sedemikian rupa. Pagi-pagi sekali, tenda itu sudah disesaki wajah-wajah bahagia, lega setelah tiga tahun berjuang dan berhasil melalui tantangan di sekolah itu.

Tiara tiba sekitar 30 menit sebelum acara dimulai. Dia mengenakan kebaya berwarna hijau yang sengaja disenadakan dengan pakaian Ibu. Hari ini Tiara bermaksud menegaskan, bahwa dia baik-baik saja. Seruncing apa pun kabar miring itu melesat akhir-akhir ini. Terbukti, dia tampak tenang ketika seluruh pasang mata menyoroti kedatangannya mulai saat turun dari angkot. Tiara berjalan sambil menggandeng tangan Ibu. Ini salah satu bentuk perlawanan.

Nahas. Di antara semua itu, Cika telah menyiapkan senjata pamungkas. Serta-merta dia menyebarkan video Ibu sedang beraksi di atas pentas dengan tarian erotis candoleng-doleng[1] di sebuah acara resepsi pernikahan. Entah dari mana lagi Cika mendapatkannya. Tidak heran, dia punya uang dan dengan mudah membayar siapa saja untuk merekam adegan itu.

Tiara tetap duduk tenang, meski tawa orang-orang di sekitarnya jauh lebih mengusik dari awal dia datang. Dalam hati Tiara bertanya-tanya, video apa sebenarnya yang tengah mereka tonton di ponsel masing-masing? Kenapa seheboh itu?

Rasa penasaran itu terjawab setelah Linda—salah satu sahabat yang kini memilih menjauhinya—menghampiri dan menunjukkan video itu di ponselnya. Sesaat Tiara hanya mengernyit, masih belum paham maksud video seronok itu. Sepasang matanya melotot kemudian, dada mendadak sesak, sekujur tubuhnya lemas, bahkan tidak punya cukup kekuatan untuk sekadar memegang ponsel Linda lebih lama. Dia mengembalikan sebelum menjatuhkan benda yang terbilang sangat mewah untuk ukuran dirinya itu.

Tiara berusaha mengelak, serupa yang berhasil dia lakukan selama ini. Namun, kali ini berbeda. Perempuan yang sedang mengumbar aurat dalam video itu benar-benar Ibu. Tiara gagal dalam upayanya untuk tetap tenang. Video tadi sukses mengacaukan hati dan pikirannya. Tawa-tawa di sekeliling kian menusuk gendang telinganya. Dia menghambur, berlari sekencangnya meninggalkan tenda itu. Air matanya tumpah ruah tidak terkendali. Dia menyetop angkot setibanya di pinggir jalan, sebelum Ibu berhasil menyusulnya. Dia meninggalkan Ibu dan acara perayaan kelulusan yang belum dimulai.

***

Tiara mulai pusing ketika sang sopir memutuskan singgah di Rumah Makan Cijantung agar dia dan penumpangnya bisa istirahat sejenak sambil makan siang. Untunglah, Tiara bisa sekalian cuci muka untuk menyegarkan diri. Rumah makan yang masih berada di kawasan Kabupaten Maros ini memang paling ramai disinggahi oleh mereka yang tengah melakukan perjalanan Makassar-Bone.

Tiara teringat kembali. Di hari pelarian itu, dia juga singgah untuk makan siang di tempat ini. Enam tahun tidak membawa perubahan apa-apa untuk rumah makan yang disebut-sebut sebagai titik tengah Makassar-Bone ini.

Entah pikiran apa yang menghuni ruang kepala Tiara hingga memutuskan untuk lari dari kenyataan pada hari itu. Semuanya terlalu kacau dan sulit diuraikan dengan kata-kata. Pada akhirnya, setelah berhari-hari menghindari Ibu karena kemunculan video itu, Tiara memutuskan untuk bicara baik-baik.

Malam itu, dia sama sekali tidak bisa tidur sebelum mendapatkan penjelasan yang diinginkan. Tiara terdiam di ruang depan, menunggu Ibu yang lewat tengah malam belum pulang juga. Setelah menunggu hampir dua jam, Ibu muncul dari balik pintu. Wajah letihnya masih dibalut sisa-sisa make up menor yang mulai bercampur dengan keringat. Jadi sedikit aneh.

"Kenapaki belum tidur, Nak?" Ibu tampak kaget menemukan Tiara tengah menunggunya.

"Mauka bicara sebentar, Mak." Tiara berucap pelan setelah menghela napas panjang.

Sambil bertanya-tanya dalam hati, Ibu lekas duduk berhadapan. Mereka diantarai meja panjang yang terbuat dari rotan. Ibu menunggu Tiara bersuara duluan, sambil meletakkan tas jinjing di kursi sebelahnya, kemudian melepas jaket yang dikenakannya untuk menghalau angin malam.

"Jadi selama ini Mak ma[2]candoleng-doleng?" Suara Tiara bergetar.

Ibu terkesiap. Apa pun yang tengah dilakukannya terhenti total. Mematung. Keheningan menyelinap di antara mereka.

"Iya," lirih Ibu setelah menarik napas panjang demi menormalkan degup di dada yang mendadak berpacu tidak wajar.

Hati Tiara bak tergelincir ke palung terdalam demi mendengar jawaban itu. Air matanya berhambur tanpa mampu dicegah.

"Dan dulu, apakah Mak juga melacur?" Sekuat tenaga Tiara melontarkan kalimat barusan. Dia sadar, betapa besar luka yang bisa tercipta di sana. Dia menegakkan kepala dan menunggu jawaban. Ibu seolah tidak sanggup menatap mata Tiara. Dia hanya mengangguk perlahan sambil menggigit kedua bibir. Anggukan yang diiringi dua aliran sungai kecil di pipi itu mengakhiri upaya apa pun yang dibangun susah payah oleh Tiara selama ini. Keras usahanya untuk abai, tidak percaya, kini runtuh.

Ibu tidak mampu mengeluarkan sepenggal kata pun sebagai sanggahan demi menjaga keutuhan hati putrinya. Hanya nada sesenggukan yang dia perdengarkan, yang semakin jelas memecah hening malam. Jemari tangannya saling meremas. Banyak hal berkecamuk di dada, tapi tidak satu pun yang mampu dia utarakan. Tidak ada niat untuk bela diri. Dia hanya takut sikap anaknya akan berubah setelah ini.

Kenyataan ini serupa obat bius yang menjalar dengan cepat ke seluruh syaraf Tiara. Membuatnya kehilangan kemampuan gerak selama beberapa saat. Bahkan, sekadar mengeluarkan air mata saja rasanya sudah tidak sanggup. Tatapannya menerawang hampa. Dan tanpa diundang, sesuatu mulai bertunas di hatinya. Rasa kecewa yang akut, bahkan menyerupai benci.

Tiara memilih angkat kaki lebih dulu dari suasana mencekam itu. Suara derap kakinya berakhir dengan bantingan pintu kamar yang membuat Ibu tersentak. Hati Ibu semakin tidak keruan setelahnya. Kini, dia sendiri, membiarkan dirinya larut dalam situasi yang dia sendiri sulit untuk memahami.

Tiara tidak tidur malam itu. Dia berpikir keras bagaimana mesti menghadapi kenyataan yang ada. Dia paham permasalahan ekonomi yang tidak pernah beranjak dari kehidupan mereka, tapi tidak menyangka Ibu sampai rela jual diri. Dia berbesar hati menerima pekerjaan Ibu sebagai biduan organ tunggal yang kerap tampil dengan busana mini, tapi tidak habis pikir perempuan yang melahirkannya itu sampai berani memeragakan aksi candoleng-doleng. Hal ini tidak lantas membuat Tiara serta-merta menyalahkan Ibu. Dia hanya ingin menjauh dari keadaan itu.

Cahaya matahari pagi baru saja jatuh dan menghantarkan kehangatan ke permukaan bumi. Tiara selesai mengemas barang-barang yang akan dia bawa pada rencana besarnya kali ini, ketika Ibu mengetuk pintu kamar sambil memanggil-manggil.

"Tiara ... buka pintuta[3], Nak!"

Tiara geming. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab, terlebih membuka pintu.

"Mauka ke pasar, Nak. Sudahmi[4] kumasakkanki nasi goreng. Ada di bawah pattongko[5]."

Mendengar Ibu tengah pamit untuk ke pasar, tekad yang membuat Tiara merenung sepanjang malam semakin bulat. Dia memilih pergi dari rumah itu daripada menjalani hari-hari yang tentu tidak akan semudah sebelumnya. Dia tidak punya rencana dan tujuan yang jelas. Dia hanya ingin menghilang secepatnya.

***

[Bersambung]

Catatan kaki:

[1] Bergelayut. Sebutan untuk aksi erotis yang dipertontonkan para biduan organ tunggal di acara resepsi pernikahan dan semacamnya. Terkadang mereka tidak segan memperlihatkan buah dada mereka menjelang tengah malam, setelah pesta dibubarkan. Tarian ini diiringi musik dugem tanpa nyanyian, melainkan desahan yang seolah-olah sengaja dibuat untuk mengundang hasrat birahi kaum lelaki. Untuk di daerah Makassar dan sekitarnya, pertunjukan semacam ini marak di tahun 2000-an.

[2] Imbuhan dalam logat Bugis yang berarti melakukan.

[3] Partikel ta pada aksen khas orang Bugis mengindikasikan kepunyaan atau milik. Patikel ini digunakan untuk menghargai lawan bicara. Bertutur dengan sopan.

[4] Partikel khas dalam dialek Makassar yang sering diikut-ikutkan saat berbahasa Indonesia. Umumnya partikel ini berfungsi untuk menegaskan kata yang ditempelinya, dan sama sekali tidak memiliki arti jika berdiri sendiri.

[5] Tudung saji.

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya.

KBM

KaryaKarsa

Selasa, 05 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 3)

 


Hari ini hampir sama dengan hari kemarin. Dari tadi pagi Tiara masih mengurung diri di kamar. Setelah asar, barulah dia memaksakan diri untuk keluar membeli beberapa keperluan dapur. Dia tidak boleh terus-terusan mengandalkan Nenek untuk memasak. Kasihan, Nenek sudah cukup capek mengurusi orderan jahitannya.

Nenek Hamida mulai menerima orderan jahitan untuk berbagai macam model pakaian sejak masih muda. Ruang tamu rumah mereka merangkap jadi ruang kerja Nenek. Katanya itu salah satu strategi marketing. Jadi kalau ada tamu, mereka bisa sekalian lihat-lihat hasil jahitan Nenek.

Tiara pernah menyarankan agar berhenti saja, biar dia yang fokus cari uang. Namun, Nenek Hamida bersikeras tetap menjahit selama fisiknya masih sanggup. Katanya, badannya malah pegal-pegal semua kalau tinggal diam.

Karena gagal menyuruhnya berhenti, Tiara pun mencari cara agar suasana kerja Nenek semakin nyaman. Tiara pun membelikan mesin jahit yang lebih canggih, serta semua hal yang bisa mempermudah pekerjaan Nenek. Beberapa bulan yang lalu Tiara juga membiayai penuh renovasi rumah itu sehingga tampak jauh lebih nyaman dari sebelumnya.

"Eh, mau ke mana?" tanya Nenek Hamida di balik mesin jahit begitu melihat Tiara melintas.

"Ke depan bentar, Nek."

Nenek Hamida tersenyum. Dia lega melihat anak itu mulai membaik. "Ya udah, hati-hati."

Tiara belanja kebutuhan dapur di toko Karni. Di pelataran toko kelontong yang lumayan besar itu, Ikbal menyewa tempat untuk berjualan tahu goreng. Meski hanya penjual gorengan, Ikbal lumayan populer karena paras tampannya yang sepintas mirip aktor Malaysia. Entahlah, Tiara tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Yang dia tahu, Ikbal itu sangat ramah. Makanya dagangannya laris manis.

"Hei, Bal." Tiara menyempatkan diri menyapanya. "Buka lebih awal lagi?"

"Eh, Ra." Ikbal yang sedang memotong tahu, berhenti sejenak. "Kayaknya bakal seperti ini terus. Aku lagi menyiapkan sesuatu, jadi harus lebih rajin kerjanya."

"Mau nikah, ya?" tebak Tiara sambil mengacungkan telunjuk.

"Maunya, sih, gitu. Tapi calon aja belum punya, nih." Cowok hitam manis itu terkekeh.

"Maksudnya belum ada yang diiyain, kan? Padahal yang ngantri banyak."

"Ah, kamu bisa aja." Ikbal kembali memperlihatkan barisan gigi putihnya.

"Eh, aku masuk dulu, ya."

Ikbal mengangguk mengiyakan seraya mengulum senyum. Namun, baru dua langkah Tiara berpaling, dia kembali memanggil. "Ra!"

Tiara menoleh. "Hm?"

Ikbal malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh, nggak deh. Cuma manggil." Dia nyengir salting.

Tiara tersenyum sambil geleng-geleng, merasa aneh. Dia pun melanjutkan langkahnya.

Ikbal meringis samar. Padahal tadi itu dia mau bilang, kalau dia senang melihat Tiara bisa senyum lagi. Namun, entah kenapa dia merasa tidak pantas mengucapkan kalimat itu.

Sejak Tiara tinggal di rumah Nenek Hamida, sejak saat itu pula Ikbal menyukainya diam-diam. Namun, mengingat dirinya hanya tukang gorengan, dia terlalu minder untuk mengutarakan perasaannya. Hingga akhirnya Tiara menjalin hubungan dengan Haikal. Ikbal semakin menutup perasaannya. Dia hanya tidak tahu, bahwa hubungan Tiara dengan cowok tajir itu sedang tidak baik-baik saja, atau malah sudah bisa dikatakan berakhir.

"Melihat kamu ke sini lagi seperti menyaksikan tarian hujan setelah kemarau panjang," sambut Karni dari balik etalase.

"Lebay." Tiara mengibaskan jemari. "Eh, tapi, kok, aku nggak asing, ya sama kalimat itu?"

"Iya, ada di novel kamu." Karni terkekeh.

"Sudah kuduga. Kamu emang pembaca terbaik, sih."

"Iya, dong."

Tiara mengambil keranjang di samping pintu, lalu mulai memilih barang-barang yang dibutuhkannya.

Seperti biasa, Karni keluar dari balik etalase dan membuntuti Tiara untuk mengobrol random. Kadang sampai kena tegur sama ibunya kalau toko lagi ramai tapi dia tetap seperti itu.

"Eh, tadi ngobrol apa sama Ikbal?"

"Cuma nyapa."

"Dari kemarin dia bolak-balik nanyain kamu. Dikira aku baby sitter kamu kali."

"Oh ya?"

Karni mengangguk. "Udah kayak yang paling khawatir kamu nggak kelihatan beberapa hari."

Tiara tampak berpikir sejenak, lalu lanjut memilih barang tanpa merespons lagi informasi itu.

"Jadi gimana, udah baikan, kan?" Karni buka obrolan lagi.

"Sedang diusahakan."

"Pokoknya, kalau ada apa-apa ngomong aja sama aku. Aku paling nggak rela kalau kamu nyerah sama situasi ini."

Tiara mengangguk seraya tersenyum tipis.

Selesai belanja, Tiara langsung pulang, sebelum Nenek mengambil alih dapur. Namun, langkahnya terhenti di dekat stan Ikbal karena cowok itu memanggilnya. Ketika Tiara menoleh, Ikbal mendekat sambil menyodorkan sekantong tahu goreng.

"Loh, perasaan aku nggak pesan, deh," herannya, sambil menerima kantongan itu.

"Buat Nenek."

"Oh, berapa?"

"Maksudnya, itu gratis. Soalnya, tiba-tiba aku dibikinin celemek." Ikbal menunjuk celemek yang sedang dipakainya. "Karena nggak mau dibayar, gantinya itu aja. Sekalian bilangin, aku suka banget celemeknya." Cowok santun itu nyengir.

Tiara tergelitik dengan tulisan di celemek itu.

Tahu Goreng Aroma Cinta

Menyadari ekspresi Tiara, Ikbal langsung klarifikasi. "Oh, ini Nenek yang bordir, kalimatnya juga ngarang sendiri."

"Keren, kok. Pasti pelanggan kamu tambah ramai. Siapa coba yang nggak suka sama aroma cinta?"

Mereka tergelak.

"Ya udah, aku balik, ya. Makasih gorengannya."

Ikbal mengangguk dengan sisa tawa yang belum reda seutuhnya. Meski hanya dengan momen seperti itu, dia sudah sangat senang bisa mengenal Tiara.

***

Setibanya di rumah, Tiara langsung berkutat di dapur. Namun, ternyata memasak tidak cukup ampuh untuk mengalihakan pikiran. Pelan-pelan semua hal buruk yang sedang terjadi kembali memadati kepalanya.

Tiara merasa dejavu. Apa yang terjadi kini seolah lanjutan dari episode-episode sulit enam tahun silam, ketika semua orang saling bisik perihal masa lalu Ibu yang katanya seorang pelacur, juga soal profesinya sebagai biduan organ tunggal.

Alfian, Kakak kelas yang ditaksir Tiara waktu itu serta-merta menjauh ketika kabar seputar masa lalu Ibu merebak. Sebelumnya, cowok berambut ikal itu dengan senang hati selalu memberinya tumpangan sepulang sekolah. Membonceng di motor sport milik Alfian menjadi sepenggal momen indah yang patut ditunggu-tunggu oleh Tiara setiap hari. Arah pulang mereka memang sejalan. Alfian tinggal di Barebbo, sekitar empat kilometer dari tempat Tiara. Dia anak bungsu orang terkaya di kampungnya. Karena itu, Tiara tidak pernah berharap apa pun atas kedekatannya dengan pemilik gigi gingsul itu, selain hanya selalu membonceng ketika pulang sekolah.

Untuk Alfian sendiri, entah alasan apa dia memilih memberi tumpangan kepada Tiara setiap hari. Padahal masih banyak teman lain yang searah dengannya. Tidak jarang dia mengajak singgah nge-bakso, atau sekadar menikmati es tong-tong yang dijajakan pedagang keliling. Saat seperti itulah tawa mereka akan berhambur. Usik-usikan. Hal-hal sederhana yang kemudian menganak rindu di hati Tiara. Secara tidak langsung memekarkan sejumput harapan, membiarkan sesuatu bertunas, dan membuatnya semakin susah mengelak.

Namun sejak kabar masa lalu Ibu merebak, masa-masa seperti itu tidak ada lagi. Dia kembali naik angkot, sama seperti sebelum mengenal Alfian, cowok pertama yang berhasil membuatnya merindu.

Tiara pernah berusaha memastikan penyebab perubahan sikap Alfian terhadapnya. Waktu itu, mereka tidak sengaja berpapasan di koridor, ketika Tiara hendak ke perpustakaan. Tiara langsung memberikan senyum terbaiknya. Dan dibalas oleh Alfian seadanya saja.

"Mauki[1] ke mana?"

"Kantin," jawab Alfian seraya sibuk mengecek ponsel.

"Kenapaki kayak berubah? Atau perasaanku ji[2]?"

"Maaf, orangtuaku melarang berteman dengan orang yang nggak jelas asal-usulnya." Alfian berlalu setelah terang-terangan mengoyak hati Tiara. Ada sesuatu yang beguguran di sana. Sejak saat itulah Tiara berhenti mencoba untuk mengerti maksud setiap perhatian-perhatian kecil dari Alfian selama ini. Alasan cowok itu menjauh malah lebih kuat merangkul benaknya.

Tidak hanya sampai di situ. Keempat sahabatnya pun perlahan-lahan mulai membentangkan jarak. Dia tidak pernah lagi diajak bergabung jika ada tugas kelompok. Rutinitas belajar bareng pun ditiadakan. Mereka seolah membiasakan diri melakukan apa pun tanpa perlu mengajak Tiara. Mereka memang tidak pernah terang-terangan mengungkapkannya seperti Alfian, tapi semua perubahan yang ada cukup mewakili.

Hari-hari yang tercipta kemudian menjadi sangat menyiksa bagi Tiara. Tidak ada lagi keceriaan di sekolah itu. Dia terkucilkan. Semua orang seolah akan kena imbas jika bergaul dengannya. Kabar masa lalu Ibu yang katanya seorang pelacur semakin santer terdengar. Bahkan, ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai anak haram. Katanya, dia hanya hasil kebiadaban yang tidak diharapkan. Hati mana yang tidak hancur bila diperlakukan seperti itu?

Tentu saja Tiara mengelak. Dia berjuang keras untuk menepis semua anggapan itu. Dia yang kenal Ibu lebih dari siapa pun. Ibu sosok pekerja keras yang tidak pernah menunjukkan tampang lelah demi melihatnya tersenyum. Bahagia. Perempuan tangguh yang mampu bangkit dan bertahan hidup setelah ditinggal mati suami.

Perihal Ayah, Tiara tidak begitu ingat. Dia masih terlalu kecil untuk tahu banyak hal waktu itu. Yang jelas, dia bukan anak haram seperti yang mereka katakan. Dia punya Ayah.

Kabar yang serta-merta merenggut kecerahan hari-hari Tiara pertama kali meluncur dari bibir Cika, teman sekelas yang memang selalu cari gara-gara dengannya. Tepatnya sejak Tiara mulai dekat dengan Alfian. Pasalnya, sebagai seorang mantan yang sebenarnya masih mengharapkan cinta Alfian, Cika terbakar api cemburu. Hari-harinya jadi disibukkan dengan pikiran-pikiran apa pun demi membuat hidup Tiara tidak tenang. Tiara terbilang tangguh menghadapi Cika. Ada-ada saja hal yang bisa membuatnya merasa menang. Namun, tidak untuk sekarang ini, setelah semua orang beranggapan bahwa dia anak pelacur.

Cika sendiri tidak punya bukti kuat soal kebenaran kabar yang dia siarkan dengan antusias itu, kecuali kesaksian dari mulut berbusa milik pembantu di rumahnya. Konon, pembantu itu teman dekat mantan suami Ibu. Dia paham semua permasalahan yang terjadi di rumah tangga mereka. Hingga Ibu memilih jual diri demi terlepas dari permasalahan ekonomi.

Sekencang apa pun kabar itu meluas di sekolah, Tiara tidak pernah percaya. Hanya saja, dia masih belum menemukan cara yang tepat untuk melakukan perlawanan. Terhadap Ibu, Tiara tidak pernah kepikiran untuk menanyakan kebenaran kabar itu. Dia tidak ingin beliau tersinggung. Ibu memang biduan organ tunggal yang kebanyakan mengambil job malam, tapi dia bukan pelacur!

Tiara menanamkan keyakinan itu dalam hati. Setidaknya sampai hari di mana Ibu malah mengakui, bahwa kabar itu memang benar, bahwa dia mantan pelacur.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya:

KBM

KaryaKarsa