Jumat, 19 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 5)

 


Terima kasih wahai sepasang mata, telah terjaga dan mengantarkanku pada momen ini.


---


Cahaya sore merekah sempurna di Kota Bogor. Dingin masih geming di beberapa sudut. Ini waktu yang tepat untuk memulai agenda liburan yang telah kami rancang. Untuk sore ini kami akan berkuda mengelilingi perkebunan teh. Semua langsung memilih pasangan. Aku berpasangan dengan Ruwanta. Bukan kami yang menentukan, mereka yang menyisakan kami berdua. Padahal aku bermaksud berpasangan dengan Nila. Ini kesempatan emas untuk mengerjainya. Ia takut kuda, terlebih untuk menungganginya. Tapi berpasangan dengan Ruwanta juga tidak buruk. Malah lebih baik. Maka tanpa kupinta, ribuan kuntum petunia bermekaran di hati.

Sepuluh ekor kuda berjalan berderet. Mereka serupa tengah pawai untuk merayakan hari kebesaran. Aroma daun teh berpadu sejuk, bertamu dengan sopan ke rongga hidung. Aku dan Ruwanta menunggangi kuda urutan ketiga. Tepat di depanku ada Nila bersama Tomo, lelaki bertubuh gempal yang terkenal usil. Sepertinya ia salah pilih pasangan. Tubuh mungil Nila tampak tenggelam di belakang tubuh Tomo. Ia berpegangan erat, sedang wajahnya tenggelam di punggung lelaki yang tak hentinya tergelak itu. Sesekali ia memekik, ketika dirasa langkah kuda kurang seimbang. Nila benar-benar menjadi hiburan tersendiri buat kami.

"Kamu suka?" Ruwanta bertanya. Jarak antara mulutnya dan telingaku sangat dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat.

"Suka banget," jawabku disertai anggukan.

"Suka kudanya, alamnya, atau orang yang bersamamu?" Nada jail mengental di kalimat barusan.

Aku menyikut pinggangnya. Kami terkekeh.

Tanpa persetujuan, Ruwanta memasang sebelah earphone di telingaku. Jadilah kami menikmati bersama alunan lagu Ada Cinta, lagu lawas romantis milik Acha Septriasa dan Irwansyah.

Mengapa berat ungkapkan cinta
Padahal ia ada
Dalam rinai hujan, dalam terang bulan
Juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta
Padahal ia terasa
Dalam rindu dendam, hening malam
Cinta terasa ada

Aku terhanyut. Kuda-kuda lain mendadak hilang di pandanganku. Lebih tepatnya, aku merasa tengah berdua saja dengan Ruwanta. Hamparan hijau daun teh perlahan menjelma ungu. Lagi-lagi aku melihat petunia di mana-mana. Semburat jingga mulai muncul di ujung langit, menambah efek dramatis suasana. Seperti inikah rasanya dunia milik berdua? Konyol. Maka, apa lagi maksud semua ini, Tuhan?

***


Aktivitas berkuda ternyata tidak bisa dianggap enteng. Meskipun hanya sekitar dua jam tadi sore, cukup mengundang pegal bersarang di badan. Mungkin karena tidak terbiasa. Akibatnya kami tidur lebih awal.

Aku terjaga setelah badan terasa lebih ringan. Sejenak, lagi-lagi bibirku melengkung indah saat mengingat kebersamaan dengan si mata elang tadi sore. Tangan kananku meraba ponsel yang selalu kuletakkan di sisi bantal saat tidur. Kedua mata memicing saat benda itu kuangkat di depan wajah dan layarnya mengeluarkan cahaya. Penunjuk waktu di sudut kanan atas menampilkan angka 2. Terlalu larut untuk malam, terlalu dini untuk pagi.

Di bagian tengah, aku menemukan nama Yudit. Tiga panggilan tidak terjawab. Tidak hanya itu, lelaki yang selalu tampil rapi itu juga mengirimkan foto di WA. Beberapa gambar kaus khas Bali yang disertai pertanyaan singkat, "kamu suka yang mana?" Sepertinya ia habis mengunjungi salah satu pusat suvenir di Pulau Dewata sana. Aku tidak berniat membalasnya. Meski kubilang tidak suka, ia pasti tetap akan membeli salah satunya.

Lagian tanpa kuberitahu pun, ia pasti bisa memilih sesuai seleraku. Ia sudah hafal mati. Ia mengirimkan foto-foto itu tadi sore, ketika aku tengah berkuda bersama Ruwanta. Ia pun bermaksud menelepon sekitar lima jam yang lalu. Aku memang selalu seperti ini. Mengabaikannya.

Aku memilih beranjak daripada mencoba untuk tidur kembali. Jika terjaga di jam segini biasanya susah tidur lagi. Aku tiba di balkon, bertemankan bintang menyesapi aroma malam. Saat mengecek ponsel tadi, sebenarnya aku mengharapkan notification dari Mama. Entah pesan atau panggilan tidak terjawab. Lagi-lagi pikiranku berhasil dikuasai tentang Mama. Perempuan glamor itu benar-benar tidak memedulikanku lagi. Ia sama sekali tidak khawatir setelah aku pergi tanpa pamit. Malam mendadak terasa lebih dingin, ketika tunas-tunas kebencian kurasakan mulai tumbuh di balik tulang rusuk.

"Jam segini, kok, belum tidur?" Suara bas barusan mengagetkanku.

Aku menoleh dan mendapati Ruwanta sedang menenteng gitar, melangkah mendekat.

"Tadi sudah tidur. Tapi aku emang kebiasaan bangun jam segini kalau tidur lebih awal."

Ruwanta duduk di railing balkon yang terbuat dari bahan stainless. Kaki kanannya masih menyentuh lantai untuk menjaga keseimbangan.

"Lah, kamu sendiri?" tanyaku balik.

"Belum ngantuk."

"Jam segini?"

Ia hanya tersenyum melihat ekspresiku.

"Tadinya aku di dipan sana." Gerakan mata elang itu mengarah ke dipan di pojok halaman, tempat favoritnya sejak tiba di vila ini. "Aku suka menatap bintang. Terkadang sampai lupa waktu. Menikmatinya berdua dengan seseorang, tentu lebih menyenangkan. Kebetulan ada kamu di sini," lanjutnya tanpa kupinta. Sepanjang kalimat tadi, ia menengadah. Menatap langit. Memantapkan rasa sukanya terhadap objek yang sedang dibicarakannya. Membuatku leluasa menikmati setiap keindahan yang Tuhan titipkan di wajahnya. Terpesona untuk kesekian kalinya.

"Ternyata dilihat dari sini bintangnya lebih terang." Ia kembali berucap, masih dengan senyum yang sama. "Kamu suka bintang?" Secepat kilat tatapannya berpindah ke mataku.

Aku lekas mengangguk, tanpa sempat berpikir benar-benar suka atau tidak.

"Kelak setelah menikah, anak pertamaku akan kuberi nama "Bintang". Tak peduli ia lelaki atau perempuan."

Apakah ia serius? Entahlah. Intinya ia benar-benar menyukai bintang. Detik selanjutnya kebersamaan ini dilatarbelakangi alunan melodi yang terlahir dari permainan gitarnya. Sempurna. Terima kasih wahai sepasang mata, telah terjaga dan mengantarkanku pada momen ini. Melanjutkan keinginan lelaki hitam manis di sampingku, seutas doa mengalun lirih dalam hati: semoga akulah ibu dari bintangnya.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA 

Kamis, 18 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 4)

 


Tuhan ... mengapa ciptaan-Mu yang satu ini selalu penuh pesona?


---


Perjalanan Bandung-Bogor benar terjadi sesuai rencana mereka. Satu per satu dari kami maju menceritakan kejadian konyol yang pernah dialami masing-masing. Yang maju pertama tentu saja Nila. Seperti biasa, gadis bertubuh mungil itu bersemangat dalam segala hal. Dengan pede ia menceritakan sifat pelupanya. Lebih tepatnya ia pernah lupa memakai celana dalam waktu SMA. Semua terbahak, termasuk sopir bus yang sedari tadi fokus ke jalanan yang cukup padat. Sahabatku itu memang ajaib. Mungkin ia satu di antara seribu perempuan yang berani menceritakan kejadian se-horor itu di depan umum.

Setelah selesai bercerita, lebih tepatnya mengocok perut kami, Nila kemudian menunjukku untuk maju ke depan. Ternyata memang seperti itu aturannya: menunjuk teman selanjutnya. Sial. Aku belum kepikiran untuk menceritakan apa-apa. Mau tidak mau aku harus bercerita, karena saat ini aku sudah berdiri tepat di posisi Nila tadi.

"Aku pernah salah masuk toilet. Karena disibukkan dengan sesuatu di ponsel, aku jalan sambil nunduk dan malah nyasar ke toilet cowok." Demikian ceritaku yang hanya disambut senyum lebar beberapa orang. Memang sangat klise dan tentu saja tak seheboh cerita Nila tadi.

Setelah selesai, aku berniat menunjuk Ruwanta, yang matanya tak pernah lepas memandangku selama bercerita tadi. Tapi, aku malah menunjuk Tio, lelaki berambut kribo yang duduk di sampingnya. Tio salah satu sahabat terdekat Ruwanta. Mungkin karena mereka kebetulan sekamar di asrama.

Entahlah. Cerita teman-teman yang maju selanjutnya, aku tidak begitu menyimak. Pikiranku masih tersisa di rumah, tentang Mama dan perubahannya yang keterlaluan. Fakta perselingkuhan dan kematian Papa berhasil menyuramkan sebagian masa putih abu-abuku. Setiap hari aku menuai cibiran. Rasanya sesak.

Di masa-masa sulit itu Nila selalu hadir menguatkan. Aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertinya. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Karena itu, perihal perubahan sikap Mama, aku tak pernah bercerita kepada siapa pun. Kecuali Nila. Dari dulu aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari gadis berambut sebahu itu.

"Maaf, aku tidak punya pengalaman konyol yang bisa kuceritakan. Bisakah kuganti dengan cerita lain?"

Perhatianku tersita sepenuhnya setelah mendengar suara tadi. Aku hafal betul, suara bas milik Ruwanta. Lelaki yang selalu memesona di mataku itu berdiri di depan, tampak tengah menyiapkan sebuah cerita.

"Hari pertama kuliah tentu kalian memiliki pengalaman berkesan yang berbeda-beda. Begitu pun denganku. Bukan karena gelar mahasiswa, lingkungan atau teman-teman baru. Tapi karena hari itu aku menemukan sekuntum bunga di taman, berkelopak kecil dengan semburat warna ungu yang menyejukkan."

Semua mata terfokus pada Ruwanta, bertanya-tanya. Sedang aku, entah apa yang tumbuh di dada saat mulai mengerti ke mana arah kalimat lelaki berdada bidang di depan sana. Entah ada alasan apa ia malah menceritakan pertemuan pertama kami kala itu.

"Selanjutnya, bunga itu kerap muncul di hariku, bermekaran di setiap dinding waktu."

Hanya seperti itu, Ruwanta mengakhiri ceritanya. Hampir seisi bus dibuatnya melongo. Dengan konyol, Nila malah standing applause. Gadis ajaib yang kutemani bersebelahan itu menatapku dengan mata berpijar-pijar. Aku paham maksudnya. Aku menunduk, menyembunyikan senyum simpul yang menguasai sepasang bibir. Perjalanan ini mendadak indah. Katakan bahwa aku sudah gila, tapi aku melihat petunia di mana-mana, memenuhi trotoar sepanjang laju bus.

Hari ini, di atas bus yang mengantarkan kami ke tempat berlibur, lagi-lagi lelaki beralis tebal itu membuatku bertanya-tanya. Ia selalu seperti itu, memberi sinyal, menyampaikan sesuatu secara tersirat. Selama tiga tahun lebih, aku tak pernah mencoba dekat dengan lelaki mana pun. Aku terpenjara dalam dekapan pesona Ruwanta yang terkadang membuatku merasa bodoh. Aku mampu merasa hidup dalam halusinasi, mengikuti alur kisah yang samar-samar tanpa kepastian. Tak bisa disebut bahagia untuk itu. Namun, aku menikmatinya.

Ruwanta pun tak pernah benar-benar menjalin cinta dengan gadis mana pun. Meski sesekali berembus kabar ia tengah dekat dengan seseorang, ia selalu menepis tanpa kuminta setiap kali kami bertemu. Seolah ia paham, aku gerah dengan kabar itu. Bila demikian, bukankah ia menyimpan rasa serupa yang kupendam? Tapi, aku butuh kepastian. Sampai kapan pun kami hanya akan jalan di tempat bila seperti ini. Tidakkah ia mengerti hal ini sungguh menyiksa? Haruskah aku bicara duluan? Itu tidak mungkin.

***


Vila keluarga Nila yang akan kami tempati selama di Bogor tergolong mewah. Bangunan bernuansa putih tulang itu berlantai dua dengan delapan kamar tidur. Kami berkumpul di ruang tengah, baru tiba lima menit yang lalu. Selaku tuan rumah, Nila langsung membagi kamar tidur. Para lelaki menempati kamar di lantai dasar, sementara gadis-gadis di lantai atas. Selaku ketua rombongan, Ruwanta membacakan agenda selama lima hari ke depan. Semua bersemangat. Sepertinya liburan ini benar-benar akan menyenangkan.

Setelah mendapat pembagian kamar, kami langsung istirahat. Ada yang menikmati musik lewat earphone, baca buku, teleponan, main game, dan tak sedikit juga yang memilih tidur. Mengingat sepanjang perjalanan tadi diisi dengan berbagi pengalaman dan dilarang tidur.

Aku menyendiri di balkon, menikmati pemandangan hijau pepohonan yang berdiri kokoh di sekitar vila. Pikiran tentang Mama sesekali masih membekuk, betapa pun keras usahaku untuk mengabaikannya. Aku merindukan Mama yang dulu. Seorang ibu yang tak hanya memiliki peran layaknya ibu pada umumnya, tapi juga bisa diajak berbagi.

"Kita ke sini untuk liburan, kamu malah bengong. Kenapa lagi?" Nila duduk bersisian. Tadi kukira ia sedang tidur.

"Sebenci apa pun kamu terhadap perubahan sikap mama kamu, tapi kita juga tidak pernah tahu sebesar apa luka yang menganga di hatinya. Perempuan mana yang tidak akan gila, kematian dan fakta perselingkuhan suaminya menerpa di saat bersamaan." Nila memang ajaib. Hanya dengan melihat raut wajahku, ia bisa menebak isi pikiranku.

"Mama kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka. Di balik sikap liarnya, tanpa sepengetahuan siapa pun, bisa jadi tangis-tangis perih mewarnai malamnya. Suatu saat ia akan kembali menjadi ibu yang kamu banggakan dulu. Tapi nanti, setelah keadaan memastikan tak satu pun sisa luka di hatinya yang akan bertunas dan tumbuh lagi." Nila berucap pelan, seirama tepukannya di pundakku. Lagi-lagi ia berhasil menenangkanku. Kehadiran Nila adalah salah satu cara Tuhan menyayangiku. Aku patut bersyukur.

"Terkadang kamu teramat bijak. Aku kagum. Tapi tidak jika kamu masih menyembunyikan sosok Beruang Kutub itu."

"Tuh, kan, ujung-ujungnya ...." Tepukan terakhir Nila sengaja dibikin lebih keras dari sebelumnya, karena aku tiba-tiba beralih topik. Nila kembali ke dalam setelah memastikan aku baik-baik saja. Ia paham, aku butuh waktu untuk sendiri.

Sepeninggal Nila, petikan senar gitar menggapai pendengaranku. Aku melongok ke bawah mencari sumber suara. Di pojok halaman, duduk di atas dipan bertemankan secangkir kopi, aku menemukan Ruwanta. Ia sedang memainkan melodi ringan. Tuhan ... mengapa ciptaan-Mu yang satu ini selalu penuh pesona?

Aku menyamankan posisi, bermaksud menikmati permainan gitar Ruwanta dari kejauhan. Aku ingat melodi itu. Ia juga pernah memainkannya di taman kampus. Beberapa kali. Sepertinya irama tak berlirik itu telah menjadi candu baginya.

"Apa judul lagunya?" tanyaku saat pertama kali memergokinya tengah memainkan melodi itu.

"Ini hanya melodi tanpa lirik," jawabnya tanpa berhenti memetik senar. "Aku menemukan melodi ini dalam kegamangan, ketika masa depan tampak abu-abu dan menolak untuk dijajaki," imbuhnya, masih dengan iringan melodi yang semakin didengar semakin enak.

Apa coba maksudnya? Bukan Ruwanta namanya bila tak penuh misteri. Aku memilih turut menikmati melodi yang ia mainkan ketimbang menanyakannya lebih jauh. Sampai sekarang pun, ia tetap misteri.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Rabu, 17 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 3)

 


Baginya, aku tak lebih dari sekadar teman mengobrol yang asyik. Bahkan, ia tak segan bertingkah konyol di depanku. Hal-hal yang kemudian justru menguatkan akar-akar rasa di dada.


---


Seminggu berlalu dengan cepat. Selama itu otakku sibuk membayangkan kejadian-kejadian apa saja yang mungkin akan kulewati bersama Ruwanta. Berkuda mengitari perkebunan teh tentu sangat mengesankan. Bersepeda mengelilingi Kota Bogor sepertinya asyik juga. Atau sekadar memancing, menepi berdua. Ah, membayangkannya saja mampu membuat dadaku sesak-sesak manja.

Mentari pagi meretas sempurna di hari keberangkatan ini. Kabut perlahan-lahan beranjak, menampakkan wajah asri Lembang yang selalu memesona. Dingin menyapa raga. Aku sudah siap dari 15 menit yang lalu. Sweter rajut berwarna ungu dan sehelai syal merah kurasa membuat penampilanku lebih manis. Aku bukan tipe gadis yang suka dandan berlebihan. Tapi hari ini, aku menghabiskan waktu di depan meja rias tak kurang dari 40 menit. Bahkan, aku sampai mengenakan maskara-peralatan kosmetik yang paling jarang kusentuh.

Di Bogor, kami akan menempati vila milik keluarga Nila. Kalau bukan karena Ruwanta, aku lebih memilih mengisi waktu liburan di kota sendiri. Lembang memiliki cukup banyak tempat wisata yang tak kalah menarik dengan tempat-tempat lain. Terlebih hanya untuk ke Bogor. Bukan apa, aku sudah teramat sering ke sana.

Akan tetapi, ini demi si pemilik mata elang itu. Terlebih menurut pengakuan Nila, Ruwanta dan teman-temanya telah merancang konsep liburan ini dengan sangat matang. Selama lima hari di sana dijamin tidak membosankan. Mereka sudah membuat jadwal kegiatan setiap harinya. Akan ada games juga. Seheboh apa pun Nila selalu memaparkan konsep liburan yang disambutnya sangat antusias itu, alasan keikutsertaanku tetap satu, Ruwanta.

Aku menuruni tangga, berpegangan pada railing yang masih menyimpan sisa dingin tadi malam. Anak tangga itu kulalui dengan cepat. Tiba di anak tangga terakhir, aku menoleh ke kamar Mama yang tertutup rapat. Entah ia ada di dalam atau tidak. Aku tidak peduli. Soal keberangkatanku ke Bogor, aku tidak perlu pamit. Aku menghilang berapa lama pun, baginya tak masalah.

Aku mendapati bibi sedang mengepel di beranda, membersihkan ceceran noda yang dari baunya sangat kukenali. Bekas muntahan Mama. Berarti ia ada di dalam kamar tadi, tapi dalam keadaan tidak sadar dan baru saja merepotkan bibi dengan muntah sembarangan.

Lagi-lagi ia pulang pagi. Entah diantar oleh lelaki yang mana. Aku lupa menghitung wajah-wajah yang sering ia temani muncul di depan pintu dalam keadaan berantakan. Hal ini menepis getar-getar halus yang membuat senyumku mengembang sejak tadi malam, berganti genangan bening di tepian mata yang membuat keindahan petunia berayun di pandanganku.

Menyadari kehadiranku, bibi lebih gesit membersihkan ceceran noda itu, memastikan baunya tidak sampai ke hidungku. Entah ia terlalu patuh pada Mama, atau sangat menjaga perasaanku. Perempuan bertubuh gempal dengan rambut yang mulai memutih beberapa helai ini bekerja pada kami sudah sangat lama. Bahkan sebelum aku lahir. Seluk-beluk permasalahan keluarga ini, ia paham betul.

"Pagi-pagi begini, Non Senja mau ke mana?" tanyanya setelah merasa pekerjaannya selesai.

"Aku mau ke Bogor, Bi. Liburan sama teman-teman. Bibi nggak usah bilang sama Mama, ya!" Aku beranjak sebelum air mata menetes di depan perempuan berdaster tadi.

***


Kami sepakat, tidak boleh ada yang bawa mobil. Kami berkumpul di kampus sebelum berangkat bersama-sama menggunakan bus. Sepanjang perjalanan nanti tidak boleh ada yang tidur. Akan ada permainan menceritakan kejadian paling konyol yang pernah dialami. Ini salah satu bagian dari cara mereka membuat liburan kali ini berbeda dari biasanya.

Aku tiba terlalu pagi, mendapati hawa dingin belum beranjak dari kawasan Universitas Advent Indonesia. Yang lain belum kelihatan. Aku menunggu Nila di taman kampus. Tangan kananku menggenggam paper cup berisi cappuccino yang kubeli di penjual keliling di samping gerbang tadi. Hangatnya menjalar perlahan melalui pori-pori telapak tangan. Lumayan. Aku tengah menyesapinya ketika Ruwanta tiba-tiba hadir di sampingku, sedikit mengagetkan.

"Ah, kamu. Beli kopi, kok, cuma satu? Rombongan kita, kan, ada 20 orang," ujarnya dengan ekspresi yang selalu sama. Gerakan kecil di alisnya, senyumnya, suara basnya, semua terangkum untuk memenjarakanku.

"Emang kesepakatannya gitu? Mesti aku yang traktir kopi?"

"Inisiatif, kan, boleh."

"Mau?" Aku menyodorkan paper cup tadi padanya.

Tanpa menjawab, ia meraih dan mulai meneguknya hingga tiga kali. Tingkahnya sukses membuat jantungku berpacu lebih cepat.

"Kok, tumben tidak ada petunia?" tanyanya setelah mengamatiku beberapa saat, mencari corak bunga kecil itu di sweter, syal, sepatu, tas, atau di mana pun yang biasanya memang selalu ada.

"Petunia lagi tidak berbunga. Aku hanya membawa warnanya." Aku tersenyum seadanya.

Sebatas seperti itulah Ruwanta dalam keseharianku. Lelaki hitam manis yang sukses memenjarakanku dalam pesonanya dengan cara teramat sadis. Baginya, aku tak lebih dari sekadar teman mengobrol yang asyik. Bahkan, ia tak segan bertingkah konyol di depanku. Hal-hal yang kemudian justru menguatkan akar-akar rasa di dada.

Akan tetapi, ketika ia membawa sarapan untukku-nasi goreng yang ia masak sendiri di asrama, menemaniku mencari keperluan ini-itu, atau sekadar membuat lelucon ketika melihatku bersedih, membuatku selalu berharap. Perhatian-perhatian kecil macam itu ... sungguh, tanpa maksud apa-apa?

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Senin, 15 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 2)

 


Aku mengerti perasaan Mama, karena aku pun merasakan bias luka itu. Meski di posisi anak yang tentu saja tak sebanding dengan posisi Mama sebagai istri.


---


Lembang, sebuah kota kecamatan di Bandung Barat yang selalu menawarkan kesejukan. Bukit dan lembah hijau serta jajaran pohon rimbun masih bisa ditemui di sini. Banyak wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung untuk melepas kepenatan dari rutinitas pekerjaan yang padat. Lembang memang menyediakan cukup banyak tempat wisata dengan fasilitas yang nyaman dan harga terjangkau. Itu hanya sebagian kecil dari rasa banggaku dilahirkan di tempat ini.

Rumahku hampir sama dengan rumah penduduk lain di sekitarnya—mengedepankan konsep hunian asri. Halaman yang cukup luas disesaki berbagai tanaman hias. Namun yang paling kusuka tentu saja beragam petunia yang bergelantungan manja di beranda. Aku tak pernah lupa memandangi mereka setiap kali melintas. Seperti saat ini, setelah selesai memarkir mobil di garasi.

Suara bising dari dalam tiba-tiba merusak ketenanganku memandangi bunga-bunga tadi. Lamat-lamat terdengar musik dugem yang membaur dengan gelak tawa. Firasatku mulai tidak enak. Aku merangsek masuk. Kudapati Mama dan teman-temannya sedang mabuk-mabukan di ruang tengah. Botol-botol kosong, kulit kacang, dan bekas kemasan kripik bertebaran di mana-mana. Aroma alkohol menguar. Ini bukan yang pertama. Aku tidak kaget, tapi muak.

Mama menyadari kedatanganku. Ia lekas memasang tampang bersalah. Selalu seperti itu setiap kali kupergoki. Segumpal sakit selalu hadir setiap kali melihat Mama seperti itu. Aku bukannya tak peduli, tapi capek. Aku sering memperingatkan Mama, tapi sesering itu juga ia mengulanginya.

Aku beranjak dari tempat itu, berlari ke kamar. Mama menyusul. Tapi tentu saja pergerakanku jauh lebih gesit dibanding orang setengah mabuk. Aku tak ingin mendengar apa pun yang ingin dikatakan Mama. Bosan!

Punggungku menempel di daun pintu yang baru saja kubanting, kemudian merosot seiring air mata yang tak mampu lagi kubendung. Mama memanggil-manggil sambil mengetuk pintu. Aku tak peduli. Mama berubah. Aku kehilangan sosoknya sejak Papa meninggal lima tahun silam. Nyawa papa melayang di tangan suami selingkuhannya. Kenyataan ini yang membuat Mama depresi. Ia jadi liar, melakukan apa pun yang dirasanya mampu menghalau rasa sedih bercampur amarah.

Aku mengerti perasaan Mama, karena aku pun merasakan bias luka itu. Meski di posisi anak yang tentu saja tak sebanding dengan posisi Mama sebagai istri. Papa memang sangat keterlaluan. Aku memang sedih atas kematiannya, tapi setelah dipikir-pikir, ia pantas mendapatkannya. Setelah kuelu-elukan sebagai Papa terbaik sedunia di depan teman-teman, nyatanya ia memendam kebohongan besar. Kenyataan yang menanamkan luka abadi di hatiku. Terlebih di hati Mama.

Perihal rencana liburan bersama Mama yang kukatakan kepada Yudit tadi, tentu hanya wacana belaka. Mama mana ada waktu untukku? Ia terlalu sibuk dengan teman-teman barunya, teman-teman yang berhasil melenyapkan sosok aslinya. Untungnya ada Om Bagas—adik almarhum Papa—yang bersedia mengambil alih perusahaan Papa. Kami cukup bagi hasil setiap bulan. Jadinya, aku tetap bisa kuliah tanpa was-was memikirkan soal biaya.

Ponselku bergetar, mengangkatku dari lamunan. Aku meloloskannya dari saku jins, mendapati nama Nila—sahabatku—mengerjap-ngerjap di layarnya.

"Halo!" jawabku lekas, setelah meredam tangis dan memastikan gadis berponi itu tidak akan mencurigai nada suaraku. Bukannya tidak mau cerita, aku malah sudah teramat sering menceritakan perubahan Mama belakangan ini. Meskipun Nila pendengar yang baik, kupikir ia akan bosan juga setelah hampir setiap hari kukeluhkan sikap Mama padanya.

"Kamu habis nangis, ya?" Sebaik-baiknya sahabat, itulah Nila. Buktinya, ia masih menyadari perubahan suaraku, bahkan setelah berusaha kunormalkan sebelum menjawab teleponnya tadi.

Gadis energik itu orang kedua yang menghampiriku setelah Ruwanta, di hari pertama menjalani masa ospek kala itu. Kebetulan kami sama-sama di Fakultas Ekonomi. Banyak hari yang telah kami lalui berdua. Setumpuk cerita telah kami jejakkan bersama. Tak jarang kami saling menguatkan dalam berbagai hal. Rahasiaku sudah menjadi rahasianya juga, pun sebaliknya. Kecuali satu hal, ia tidak pernah mau menampakkan sosok lelaki idamannya.

Ia hanya memberikan satu clue, bahwa lelaki itu sekampus dengan kami. Setiap kali bercerita tentang lelaki itu, ia menggunakan nama samaran. Beruang Kutub, demikian ia menjulukinya. Mungkin lelaki itu bertubuh besar dan bersikap dingin. Selalu ciri-ciri seperti itu yang muncul di benakku setiap kali ia menyebutkannya. Sebagai seseorang yang sangat mengerti wataknya, aku tak pernah memaksanya untuk berterus terang. Dan aku yakin, pada akhirnya aku pasti akan menemukan si Beruang Kutub itu.

"Nggak, kok!"

"Ya udah. Eh, minggu depan mau liburan ke mana?" Suaranya kembali ceria. Walau demikian, ia pasti tetap yakin bahwa aku baru saja menangis. Dan bila bertemu nanti, ia akan meminta penjelasan. Seperti yang sudah-sudah.

"Aku nggak ada rencana apa-apa. Paling di rumah aja." Nada malasku mengalun lemah.

"Lah, kok, gitu?"

Aku tidak merespons.

"Ikut ke Bogor, yuk!"

"Ya ampun, La, ngapain? Kita, kan, udah sering banget ke sana. Malas, ah!"

"Tapi kali ini beda. Kita perginya bukan berdua, tapi bareng tim khusus yang dibentuk oleh Ruwanta. Dijamin seru, deh, pokoknya."

Demi mendengar nama Ruwanta, energi positifku langsung terkumpul. Senyumku mengembang tanpa kusadari.

"Serius?" timpalku dengan nada girang yang sangat timpang dengan sebelumnya.

"Iya. Kamu jadi ikut, kan?"

"Pasti!" jawabku mantap. Siapa yang mau melewatkan kesempatan berlibur bersama Ruwanta? Lelaki hitam manis yang menghuni mimpi-mimpi malamku sejak semester awal hingga di penghujung semester tujuh ini.

Tangisku redam sempurna. Rasa sedih bercampur jengkel atas sikap Mama menguap entah ke mana. Semua tergantikan dengan getar-getar aneh yang sukses membuat jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Ruwanta. Ah, lelaki itu, sekadar menyebut namanya saja, mampu memindahkan keindahan bunga petunia di beranda ke hatiku.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Minggu, 14 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 1)

 


Cinta lelaki tangguh itu sudah klimaks. Perkara aku mau menerima atau tidak, baginya sudah tidak terlalu penting. Membahagiakanku adalah caranya membahagiakan diri sendiri.


---


Apa yang kamu tahu dari senja? Ketika warna jingga transit di langit sore untuk menyambut malam? Indah dan menenangkan? Setahuku begitu. Namun, lebih dari pada itu, akulah Senja. Entah sebab apa orangtuaku memberikan nama itu. Awalnya kupikir karena aku lahir di waktu senja. Nyatanya tidak. Aku pernah tak menyukai nama yang kusandang sejak lahir ini. Menurutku, senja berarti sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sesaat?

Waktu itu umurku sepuluh tahun, ketika kami sekeluarga berlibur ke pantai. Tangan lembut Mama mendarat di pundakku, ketika aku lena mengamati hamparan laut yang seolah bergandengan tangan dengan langit. Tengadah, kutemukan senyum Mama yang selalu menenangkan.

"Kamu tahu, pertemuan Mama dan Papa terjadi ketika senja." Senyum Mama merekah. "Senja selalu membawa getar halus pada hati yang bahagia, serta sekuntum damai untuk hati yang gelisah. Kami menamaimu "Senja" karena kamu adalah anugerah terindah dari Tuhan. Sama seperti senja yang mempertemukan kami." Suara Mama pelan, tapi berbobot.

Sejak saat itu kutemukan hal ajaib di balik namaku. Persis ketika jingga keemasan berlaga di langit. Senja.

Selain nama, aku juga pernah mempertanyakan perihal kecintaanku pada bunga petunia. Seingatku, tidak ada momen sakral di masa lalu yang melibatkan petunia, tahu-tahu aku begitu mendewakannya. Padahal jelas-jelas umur bunganya pendek, tidak bisa berlama-lama menemaniku.

Orang-orang dengan mudah akan tahu bahwa aku penyuka petunia, sekali pun baru kenal. Termasuk Ruwanta, lelaki bermata elang yang berhasil menabur rindu di hati sejak percakapan pertama kami.

"Kenapa kamu suka petunia?" tanyanya ketika menghampiriku yang sedang menyendiri di taman. Waktu itu kami sedang menjalani masa ospek, jadi belum banyak yang kukenal.

"Kok, tahu?" Setelah pertanyaan itu terlontar, aku disadarkan oleh notebook, pulpen, hingga jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri, semuanya bermotif petunia ungu. Selain memelihara petunia di beranda, mengoleksi benda-benda bermotif bunga kecil itu memang salah satu kesenangan.

Ruwanta entah orang keberapa yang langsung menebak kesukaanku pada bunga petunia di perjumpaan pertama. Sudah terlalu banyak. Alih-alih menakar jumlah tak penting itu, diam-diam aku tertawan sesuatu dari Ruwanta, senyumnya. Lengkungan manis itu serupa kelopak petunia diterpa cahaya sore. Lebih dari sekadar indah. Menenangkan.

"Kamu tahu, apa yang kupikirkan sebelum menemukanmu di sini?"

Aku mengernyit. Penting, ya? Kurang kerjaan banget aku harus meramal isi pikirannya. Aku hanya menggeleng kemudian ketika tatapan lekatnya seolah memintaku lekas bersuara.

"Memutuskan kuliah di sini berarti siap menghabiskan sebagian besar waktu kita di tempat ini selama bertahun-tahun. Tentu sangat membosankan jika tidak diselingi hal-hal menarik. Beruntung, satu menit sebelumnya aku telah menemukannya."

"Apa?" Sial. Kenapa juga aku harus sedemikian penasaran? Tanpa sengaja aku menimpali ucapannya tanpa jeda.

"Petunia berjalan. Kamu!"

Ini mungkin konyol. Tapi anehnya, tampang Ruwanta teramat serius. Bahkan bisa kurasakan tatapannya lebih hangat dari sebelumnya.

Berawal dari percakapan singkat yang terkesan sok kenal sok dekat itu, otakku mulai berproses mencari tahu lebih jauh apa pun tentang Ruwanta. Sekadar ingin tahu, selain mata elang dan senyum manis, apa lagi yang ia punya?

***

Matahari tampak ceria. Sinarnya yang serupa mengandung bara serta-merta memenuhi kawasan Universitas Advent Indonesia. Jam kuliah baru saja berakhir. Aku mempercepat langkah menunju mobil. Bukan saking takutnya kulit terbakar, tapi karena melihat orang itu. Yudit, lelaki yang telah menjelma sebagai pejuang cinta paling tangguh sejak kami masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu.

Tiga tahun di SMA hari-hariku tak pernah lepas darinya. Menurut pengakuannya, ia jatuh cinta padaku sejak hari pertama masuk sekolah dan ditakdirkan menempati kelas yang sama. Awalnya kupikir berlebihan dan hanya perasaan sesaat. Ternyata ia berhasil membuktikannya hingga saat ini. Bahkan, ia menolak keinginan orangtuanya untuk menyekolahkannya di luar negeri demi tetap besamaku. Melanjutkan perjuangan lebih tepatnya.

Yudit berasal dari keluarga berada. Papanya pengusaha tambang minyak yang memiliki jaringan hingga ke luar negeri. Tak heran jika banyak perempuan yang meleleh dibuatnya. Entah naksir orangnya atau malah mobil sport keluaran terbaru yang selalu menemani kesehariannya.

Di samping kaya, Yudit juga sangat beruntung terlahir dengan tampang yang rupawan. Darah chinese papanya menurun dengan baik. Belum lagi otak super encer yang tidak pernah bermasalah dengan pelajaran apa pun. Selama di SMA dia selalu juara umum. Luar biasanya, meski seolah punya segalanya, dia tetap humble, beda jauh dengan lelaki kaya dan sok ganteng pada umumnya. Karena itu, terkadang menurutku ia teramat sempurna.

Yang mampu merasa dalam dadaku adalah hati, bukan batu yang tak bisa Yudit taklukkan bagaimana pun keras usahanya selama bertahun-tahun. Namun, aku telanjur menganggapnya sebatas teman. Bukankah sejak dulu perasaan memang tidak bisa dipaksakan? Cinta bukan perkara benda yang bisa dilepas pasang seenaknya.

Entah berapa banyak hadiah yang kuterima-secara terpaksa-darinya. Entah berapa banyak usahanya untuk memenangkan hatiku-yang tak jarang membuatku takjub. Ajaib. Untuk perhatian-perhatian kecil tak terhitung lagi. Jumlahnya mungkin sudah melebihi bintang yang menghiasi langit malam. Oke, aku memang berlebihan di bagian ini, tapi Yudit memang begitu adanya.

Semua itu membuat para penggemarnya membenciku. Di saat mereka mati-matian berjuang mendapatkan perhatian Yudit, aku malah menghindar dan mengabaikannya. Meski di beberapa kesempatan aku tidak bisa menghindar untuk tidak memanfaatkannya. Ketika mobil masuk bengkel dan butuh tumpangan misalnya, ketika ada tugas rumit yang kejar deadline, dan berbagai hal yang tak perlu kusebutkan. Bukan Yudit namanya bila tak membantu sukacita. Meski ia sadar, aku hanya memanfaatkannya.

Cinta lelaki tangguh itu sudah klimaks. Perkara aku mau menerima atau tidak, baginya sudah tidak terlalu penting. Membahagiakanku adalah caranya membahagiakan diri sendiri. Kurang lebih seperti itu.

"Senja ...!" Suaranya hinggap di telinga ketika tanganku baru saja meraih dan hendak membuka pintu mobil.

Aku menoleh dengan ekspresi yang selalu sama setiap kali berhadapan dengannya. Tidak berselera. Bergegas masuk dan mengabaikannya sepertinya terlalu kejam. Bagaimana pun, tidak bisa dipungkiri, ia sering membantuku dalam banyak hal.

"Minggu depan, kan, sudah musim liburan, aku dan keluarga berencana ke Bali. Kamu ikut, ya." Lelaki beraroma vanilla itu berucap penuh semangat. Entah dengan cara apa ia memulihkan wajah cerianya setelah kuremukkan berkali-kali. Sejak pertama kenal, ia tidak pernah ganti parfum. Selalu aroma itu yang melekat di tubuhnya. Aku sudah hafal. Konon, ia membelinya secara khusus di online shop yang berpusat di Prancis.

"Aku sudah bilang sama Papa-Mama," imbuhnya ketika otakku sibuk merancang kalimat penolakan.

Aku jadi teringat sama kedua orangtuanya. Meskipun super sibuk, keluarga tetap nomor satu. Aku mengenal mereka setelah kunjungan terpaksa waktu itu, demi kelancaran tugas makalah sejarah yang membuatku mual. Di lingkungan tempat tinggalnya, mereka dikenal sosok yang dermawan. Tak jarang nama mereka tampil sebagai donatur untuk berbagai kegiatan sosial dan aksi kemanusiaan. Om Bara dan Tante Wina, sosok orangtua yang sempurna menurutku. Mereka baik pula terhadapku.

"Aku sudah ada rencana sama Mama," kilahku kemudian.

"Gitu, ya?" Pancaran matanya perlahan-lahan meredup.

"Ya udah, aku duluan, ya." Aku masuk ke mobil dan lekas meninggalkan pelataran parkir. Dari kaca spion kulihat ia masih mematung di tempat semula, memantulkan pandangan ke lantai beton yang mungkin di benaknya serupa kerasnya pendirianku. Tuhan ... setangguh apakah hati lelaki itu?

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Sabtu, 13 Januari 2024

Benih Terlarang (Prolog)

 


Kau boleh tak mencintaiku, tapi kau tak akan sanggup menghalangiku mencintaimu. Cinta membabi buta yang pada akhirnya mengajarkanku banyak hal, membuatku mengenal sisi ketulusan.

Sakit tak selalu pada luka yang berdarah. Sakit yang tak pernah kau bayangkan bisa jadi bersemayam pada raga yang tampak baik-baik saja. Ini tentang hati yang merapuh oleh kenangan. Senyum palsu serta tatapan pura-pura tegar yang setia menemani. Kau harus bangun di pagi hari dengan napas baru, memastikan dadamu cukup tangguh untuk menampung gemuruh yang merangsek dari segala arah. Lalu menikmatinya sendiri.

Aku menyukai bagaimana pun wajah hari. Sebab Tuhan melukiskannya dengan tujuan masing-masing. Meski aku memiliki rasa suka berlebih terhadap kabut. Entahlah. Aku menyukai cuaca yang justru tak disenangi banyak orang. Menurut mereka, kabut selalu mengutus hawa dingin berlebih serta membatasi pandangan. Ada sisi lain dalam kabut yang kusuka, kuuraikan dengan caraku sendiri. Bagiku, kabut mengandung jutaan partikel warna yang memancar dari rasa kecewa, kehilangan, pengkhianatan, dan apa pun yang membawa diri bertemankan pilu. Meskipun semuanya bernada sendu, justru di situlah letak alasanku menyukainya. Tuhan mengutus kabut untuk menutupi semua luka di muka bumi. Termasuk lukaku. Luka abadi yang tak ditakdirkan berjodoh dengan penawar mana pun. Meski hanya sesaat dan akan kembali berdarah ketika kabut berlalu tersapu mentari.

Aku bukan manusia super yang kebal luka dan betah menyimpannya dalam diam. Aku pun tak pernah memilih untuk ada di jalan ini. Aku hanya bertahan agar tak banyak luka yang bermekaran. Meski dengan begini, aku akan mati perlahan-lahan.

***





Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Jumat, 12 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 10)

 


Gilang menolak ke rumah sakit. Ia hanya meminta Alea membantu membersihkan lukanya. Sekarang mereka berada di taman kota, setelah sebelumnya mampir ke apotek membeli cairan pembersih luka, kapas, betadine, dan plester luka.

Gilang meringis ketika Alea mulai mengusapkan kapas yang telah dibasahi cairan anti bakteri ke luka-lukanya.

"Lo kenapa nggak bilang itu pestanya Aira?"

"Kalau gue bilang, lo pasti nggak mau ikut."

"Tapi kejadiannya nggak akan kayak gini." Alea menuang lagi cairan pembersih ke kapas di tangannya.

"Kalau dengan bonyok gini lo jadi perhatian, gue rela, kok."

Gerakan tangan Alea berhenti, lalu menggantung di udara ketika Gilang menikamnya dengan tatapan penuh makna. Alea ingin berpaling, tapi susah.

"Gue nggak akan nyuruh lo belah dada gue biar bisa percaya, itu terlalu mengerikan." Gilang menyingkirkan kapas yang terapit di jemari Alea, lalu meletakkan tangan itu di dadanya. "Tapi coba rasakan ini, adakah detak keraguan?"

Alea bisa merasakan debaran jantung Gilang, yang sebenarnya tidak seberapa dibanding debaran jantungnya sendiri.

"Gue serius sayang sama lo, meski cara gue menyampaikannya mungkin terlihat main-main."

Alea menarik tangannya. "Jangan ngaco!" lalu pura-pura sibuk mengambil kapas baru dan kembali membasahinya dengan cairan pembersih.

Kali ini Gilang benar-benar kesakitan, sebab Alea melakukannya tak selembut tadi.

"Nanti lo nganterin pulang sampai pagar aja, ya. Nggak usah masuk."

"Kok...?"

"Kalau Mama lihat lo bonyok gini, bisa panjang urusannya. Lo nggak mau, kan, izin keluar sama lo diblokir sama Mama?"

Gilang manggut-manggut. "Terus, jawaban lo?"

"Muka bonyok gini masih mikirin cinta." Alea bersungut sambil memasang plester luka di ujung alis kiri Gilang.

Gilang tersenyum geli. Ia paham betul, cewek di depannya ini sedang berjuang keras mengatasi salah tingkah, yang sepertinya kurang berhasil.

***

Gilang ingin masuk, tapi teringat perkataan Alea tadi. Lebih baik menurut kali ini, daripada izin keluar Alea diblokir. Ia memegang pagar besi rumah Alea yang hanya setinggi dada, sambil memerhatikan langkah kecil cewek itu yang membawanya perlahan-lahan menjauh.

Selangkah lagi tiba di teras, tiba-tiba Alea berbalik, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya menegakkan kepala dan mempertemukan tatapannya dengan Gilang.

"Thanks untuk malam ini."

"Karena gue bonyok?" Gilang menunjuk wajahnya, lalu terkekeh.

Alea mulai menyukai sepasang mata Gilang yang nyaris berupa garis saja ketika terkekeh seperti itu.

"Lo bonyok karena tidak terima cowok tadi ngatain gue. Jujur, gue terharu." Intonasi suara Alea sangat berbeda kali ini, ada sedikit getaran di ujungnya. Hal itu memaksa Gilang menghentikan kekehannya. Menyadari telah berbuat sesuatu yang bernilai di mata Alea, tiba-tiba Gilang merasakan hatinya dihuni ribuan kupu-kupu, penuh warna.

"Lo masih nunggu jawaban, kan?"

Deg!

Gilang yakin, sekian detik jantungnya berhenti berdetak. Tanpa sadar ia mencengkram pagar besi di depannya lebih kuat. Ia butuh pegangan lebih dari sekadar pagar jika Alea menolaknya.

"Ya!"

"Ya?" Gilang mengernyit.

Alea mengangguk.

"Lo, gue ...?"

Alea kembali mengangguk, disertai senyum lebar kali ini.

Maka lihatlah Gilang, ia langsung memeragakan tarian yang entah dipelajarinya dari suku mana. Ia belum pernah sekonyol itu sebelumnya.

Alea terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Tanpa sadar Gilang melangkah melewati pintu pagar, tapi Alea buru-buru meluruskan tangannya ke depan, stop, katanya lewat tatapan.

Gilang menurut. Yang penting ia sudah berhasil memenangkan hati satu-satunya cewek yang mampu membuatnya bertingkah konyol seperti tadi. Ia berjalan mundur sambil melayangkan ciuman jauh.

Alea merespons, pura-pura menangkap lalu meletakkan di dadanya. Hal itu lagi-lagi membuat Gilang bertingkah konyol di samping mobilnya.

***

"Tahu, nggak, pagi-pagi matahari ngaduh sama Papa." Hadi berucap santai sambil mengoles rotinya dengan selai kacang.

Alea mengernyit, berhenti menyendok nasi gorengnya. Papa memang sering menggodanya, tapi kali ini ucapannya benar-benar absurd.

"Katanya, wajahmu mengalahkan sinarnya hari ini."

"Apaan, sih, Pa?"

"Papa senang, deh, lihat kamu senyum-senyum terus. Ada apa, sih? Habis dapat banyak paket buku, ya?"

Alea meletakkan sendoknya, meneguk isi gelas di sampingnya, lalu menepuk-nepuk pipinya. Ia juga tidak menyadari kalau sedari tadi senyum-senyum sendiri.

"Bukan karena dapat paket buku, Pa, tapi tadi malam habis jadian," sela Rahma yang muncul dari arah dapur bersama tiga gelas susu hangat. Meski sudah berpakaian dinas, Rahma tetap gesit menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.

Alea mendadak kenyang, lalu salah tingkah. Padahal ia bermaksud menyembunyikan fakta jadian itu dari kedua orangtuanya untuk beberapa waktu. Bukan karena belum diizinkan pacaran, tapi tidak ingin di-bully seperti yang akan berlangsung.

"Masa, sih?" Saraf-saraf kepo Hadi langsung beraksi.

"Mama ngintip, ya?" Alea memasang tampang pura-pura sewot.

"Bukan ngintip, tapi nggak sengaja lihat Gilang kasih ciuman jauh. Terus kamu tangkap, Hap ...." Rahma mempraktekkan gaya Alea tadi malam. "Terus kamu taruh di dada seperti ini." Rahma menjelma jadi pemain teater yang sengaja mendramatisir adegannya, membuat Alea mual.

Alea buru-buru meminum susu yang tadi diletakkan Mama. Semoga susu ampuh mengusir rona merah yang pasti memenuhi pipinya saat ini.

"Pokoknya, Papa kalah romantis dari Gilang."

Sepasang suami istri itu tertawa puas, sedang Alea merasa ditelan hidup-hidup.

Alea memutuskan mundur dari serangan Papa-Mama ketika ponsel di saku seragamnya bergetar. WA dari Gilang.

Gilang : Sayang, aku udah di depan.

Sayang? Aku? Ya, sepertinya memang tidak perlu perundingan khusus untuk kedua perubahan kecil itu. Alea hanya merasa geli, belum terbiasa.

"Gilang udah jemput, ya? Suruh masuk dulu, dong. Sekalian sarapan bareng," usul Rahma sambil main mata dengan suaminya.

"Nggak! Bisa-bisa sarapan ini berubah jadi acara talkshow." Alea mengantongi kembali ponselnya, lalu meraih tas selempang yang disampirkan di sandaran kursi. "Pa, Ma, Alea duluan, ya." Alea beralih mencium tangan kedua orangtuanya, lalu berlari-lari kecil ke luar, mengabaikan senyuman mereka yang seolah sedang merencanakan sesuatu yang berpotensi mengganggu ketentramannya.

***

"Jujur, deh, yang ngeroyok lo sampai bonyok gitu anak-anak SMK Garuda lagi, kan?" Delon ketemu Gilang di pertigaan koridor saat jam pulang, tampak sedang menunggu seseorang.

"Gue harus ngomong berapa kali, sih? Serius, ini hanya masalah kecil di pesta Aira tadi malam. Namanya juga cowok."

Padahal mereka sudah membahas hal ini tadi malam. Delon hanya tidak suka kalau sepupunya itu masih berhubungan dengan anak-anak SMK Garuda, musuh bebuyutan sekolah lamanya. Karena itulah Delon bersikeras membujuk Gilang pindah ke sekolah ini agar terhindar dari rutinitas tawuran yang pernah hampir melenyapkan nyawanya.

"Hei, ternyata udah pada nungguin di sini." Dari jarak lima meter Ratih berlari-lari kecil sambil menyeret Alea. "Kita jadi jalan, kan? Nonton. Makan. Gilang yang traktir," sembur Ratih kegirangan. Ia benar-benar sudah melupakan perasaannya terhadap Gilang. Semoga benar-benar hanya emosi sesaat.

"Ada apa, nih?" Delon mengernyit. "Perasaan, ultah lo masih jauh, deh."

"Lo, mah, emang selalu kudet. Gilang sama Alea, kan, baru jadi ...." Ucapan Ratih tenggelam dalam bekapan Alea.

Ratih menggeliat dan menepis tangan Alea. "Kenapa, sih, lo?"

"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya!"

"Malu? Masa punya cowok sepopuler Gilang nggak diumumin ke dunia?" cerocos Ratih sambil merapikan posisi bandananya yang agak geser selepas aksi pembekapan tadi.

"Kalian pacaran?" Delon menatap Alea dan Gilang bergantian.

Gilang mengangguk antusias dengan tatapan berbinar. Sedang Alea, buru-buru jongkok merapikan tali sepatu yang baik-baik saja.

"Aduh, nanti aja ngobrolnya. Udah lapar, nih!" Ratih mengerucutkan bibir.

"Oke. Pakai mobil gue aja, ya." Gilang hendak beranjak.

"Eh, gue nggak ikut, ya. Kebetulan ada jadwal latihan futsal."

"Bukannya lo latihan dua kali seminggu? Senin Rabu kemarin, kan, udah." Ratih menatap curiga, merasa ada yang disembunyikan sahabat yang lebih mirip partner perangnya itu. Ratih memang tipikal sahabat yang langka. Omongannya memang kadang nyelekit, tapi diam-diam sangat perhatian. Lihat saja, ia sampai hafal jadwal latihan Delon.

"Sekarang jadi tiga kali seminggu," jelas singkat Delon yang ditutup cengiran lebar.

"Sejak kapan?" timpal Ratih masih belum yakin.

"Sejak rapat panitia kemarin sore."

Ratih memicingkan mata, mencium aroma kebohongan.

"Udah, ah, debat mulu." Gilang menengahi. "Kali ini lo boleh nggak ikutan, tapi next time, nggak ada alasan!" Gilang menepuk pelan pundak Delon. "Kita duluan, ya."

"Yakin, lo nggak mau gabung?" Akhirnya Alea bersuara. Sedari tadi ia merasa aneh dengan sikap Delon yang tidak biasanya terlihat kikuk seperti itu.

Delon hanya menaikkan alis sambil memaksakan tersenyum lebar.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA