Minggu, 29 Juli 2018

Review Kumcer: Merayu Langit


Judul            : Merayu Langit

Penulis        : Gunung Mahendra

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Iis Tentia Agustin

Layout          : Tim CV Jejak

Kover            : Ivan Eliansyah

Cetakan        : Pertama, September 2017

Tebal             : 148 hlm

ISBN              : 978-602-5455-16-2

Testimoni:
"Cinta, kenangan, dan mimpi disuguhkan dengan sederhana tapi tak kehilangan makna. Manis! Tulisan ini cocok untuk pembaca yang sedang mencari sesuatu dalam hidupnya."
(Sinta Yudisia, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP), Psikolog, Penulis)

"Sekumpulan cerpen dalam Merayu Langit adalah bukti kepiawaian Gunung dalam mengolah kata-kata menjadi hidup dan berenerji, kata-kata yang melompat menghias dirinya. Karya yang sangat layak dibaca!"
(Rafif Amir Ahnaf, Ketus Wilayah Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur)

"Sebagaimana galibnya cerita fiksi, Merayu Langit, merambah dunia yang bahkan tidak pernah ada sesungguhnya, meski dengan nama-nama tempat yang bisa dikenali di dunia nyata. Ketertarikan penulisnya kepada daerah yang penuh gejolak karena ketidakadilan politik dunia, menjadi salah satu benang merah yang muncul dalam antologi ini. Pilihan yang menarik karena potongan-potongan kejadian, pertanyaan-pertanyaan yang muncul sesudahnya menyentuh siapa saja yang masih punya nurani. Siapa pun yang masih mau mendengarkan hati kecilnya."
(Antariksawan Jusuf, Ketua Organisasi Budaya Sengker Kuwung Belambangan)

"Membaca buku ini kita serasa masuk di sebuah restoran nan mewah. Segala menu siap disantap namun risiko harganya selangit. Buku yang kaya ide dan ketika membacanya terasa berat hingga dahi berkerut. Ceritanya beda, istimewa dan disajikan dengan sangat apik. Jagad sastra Indonesia harus waspada pada penulis pemula yang brilian ini. Buku pertama dan pantas disejajarkan dengan para peraih nobel sastra. Sungguh. Terakhir, 'kok bisa dia nulis cerita seperti ini?' Jika sudah larut ke dalam cerita, sensasinya sungguh dahsyat, sehingga tidak terasa ketika sudah sampai pada baris terakhir."
(Eko Cahyono, Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa Malang)

***

Nukilan:
Buku ini dibuka dengan cerpen yang sangat unik. Penulis berhasil membuat kita terhanyut, bagaimana ketika sebuah benda mati menjadi saksi seorang pria menanggapi gejolak cinta di dadanya. Meski poin yang disembunyikan berhasil saya tebak, namun cerpen ini sangat menghibur.

“Paling tidak, aku telah menyelesaikan misiku dengan baik, sebelum dia menggeletakkanku, meninggalkanku sendiri dengan isi perut yang tak lagi tersisa, dan mencari pengganti yang lain.”_(Kutipan cerpen "Menyulam Pemanas Semesta"_hal 15)

Cerpen selanjutnya, penulis menonjolkan kepiawaian mendeskripsikan situasi di sekitar tokoh. Saya berhasil digiring ke terminal tempat Gunawan bernostalgia. Cara penulis menuangkan suasana hati tokoh pun terasa hidup. Melonya terasa.

“Mengingat-ingat rentetan kejadian itu, Gunawan merasakan berbagai perasaan yang saling berkelindan satu sama lain di dadanya. Senang, sedih, gundah, atau bahkan sukacita. Semua perasaan itu tidak dapat tergambarkan dengan utuh, abstrak.”_(Kutipan cerpen "Terminal Nostalgia”_hal 29)


Yang berhasil saya raba sejauh ini adalah, penulis beberapa kali membuka ceritanya dengan penggambaran situasi yang cukup dramatis dengan permainan kata yang tidak hanya enak dibaca, tapi juga penuh makna.

“Hentakan ribuan kaki menggetarkan permukaan bumi. Begitu panas, begitu pengap. Bahkan, pikiran terlalu sakit untuk berpikir. Tak ada tempat untuk bersandar. Berkeluh kesah. Menyelamatkan harta benda. Menolong sesama. Semua sibuk memikirkan cara meneruskan hidup yang tanpa arti itu. Tanpa arti, bila tak ada kepedulian sosial. Satu per satu jatuh bak daun berguguran.”_(Opening cerpen "Merpati dan Ribuan Matahari"_hal 82)

Menurut saya, beberapa opening sangat sukses memancing minat untuk lanjut membaca.

“Sayup-sayup terdengar bahana derap kaki yang menggetarkan unsur dasar penciptaan manusia. Mengiringi kepalan kehidupan yang kian menyiksa dada. Menyambut peluh yang kian membanjiri sekujur raga. Letupan berona merah jingga yang berkelap-kelip, seakan menjadi pengantar surat menuju Sang Sutradara Semesta. Kabut kepedihan, gelora kepiluan, semilir perih silih berganti menusuk kalbu.”_(Opening cerpen "Syahadat di Bawah Atraksi Dirgantara"_hal 94)

Makin ke belakang, penulis seolah mempertontonkan kebolehannya bercerita. Beberapa cerpen, untuk saya pribadi, butuh lebih dari sekali membacanya untuk benar-benar paham maksudnya. Bukan buruk, tapi karena benang merah yang diletakkan penulis memang agak misterius.

“Satu-satunya petunjuk paling mudah dia mengerti, yang dibeberkan Ibu dengan cara yang mengejutkan Jun, adalah dengan mempertemukannya denga Rara. Seorang gadis sepantarannya yang menjadi anak gadis seorang ibu-ibu penjual gorengan di Pasar Utama.”_(Kutipan cerpen "Merekahnya Cendawan Terakhir"_hal 133)

Di tengah rentetan kalimat dengan kandungan makna sedemikian pekat, sesekali penulis menyelipkan nuansa manis. Ini yang bikin gereget.

“Pacaran? Sepertinya tidak, karena Kumara telah mewanti-wanti bahwa dia tidak ingin menggunakan istilah itu untuk kedekatan mereka. Sahabat? Juga sepertinya tidak. Mungkin, lebih tepatnya sebuah pertemanan istimewa.”_(Kutipan Cerpen "Merayu Langit”_hal 144)

Bagaimana buku ini secara keseluruhan? Yuk, segera miliki dan temukan pengalaman membaca yang baru.

***

Review:
Pertama-tama, izinkan saya memuji perpaduan desain cover, warna, dan judul yang sangat menenangkan. Kedua, mengetahui seluruh cerpen dalam buku ini pernah tayang di media, tak heran jika saya dibikin jatuh cinta sedemikian mudah.

Tema yang diangkat cukup beragam, hingga pada perpindahan dari cerpen satu ke cerpen berikutnya punya peralihan rasa, semacam petualangan dalam aktivitas membaca yang menyenangkan.

Meski penulis banyak menggunakan perumpamaan, bahasanya tetap renyah, tanpa mengurangi makna dari kalimat itu sendiri.

Namun, (barangkali) terbuai kepiawaian meracik kata, dalam mendeskripsikan sesuatu terkadang terlalu datail hingga cerita terasa lambat. Selain tata cara penulisan yang kurang tepat, beberapa kata keseleo, saya juga menemukan peletakan tanda baca yang kurang tepat.

Overall, buku yang tergolong tipis ini lumayan sukses menghibur saya. Banyak hal baru yang belum pernah saya temukan di buku lain.

Sabtu, 28 Juli 2018

Review Film: Bodyguard Ugal-Ugalan


Jenis Film            : Drama, Komedi

Durasi                  : 90 menit

Negara Asal        : Indonesia

Produser             : Dhamoo Punjabi

Sutradara            : Irham Acho Bahtiar

Penulis Naskah  : Ferdy K

Produksi              : MD Pictures

Pemain            : Syahrini, Tamara Bleszynski, Boris Bokir, Muhadkly, Lolox, Anyun Cadel, Melayu Nicole, Ririn Ekawati

Rilis                       : 5 Juli Juni  2018

***

Sinopsis:
Menjadi selebriti terkenal tentu memiliki banyak konsekuensi. Begitu juga dengan Syahrini. Menjadi penyanyi terkenal dengan jutaan penggemar membuatnya sering mengalami hal-hal yang tidak nyaman.

Salah satunya adalah keamanan dan kenyamanan. Pada suatu waktu, Syahrini yang sedang merencanakan konser tunggalnya mulai waspada tentang keselamatannya. Syahrini teringat dengan sosok temannnya, Erin (Tamara Bleszynski).

Bukan sembarang wanita, Erin ternyata bos dari perusahaan keamanan yang bernama “The Guardians”. Setelah bertemu dan bicara banyak hal, Erin sepakat untuk menyiapkan beberapa pengawal pribadi untuk Syahrini.

Nama-nama seperti Acho, Boris, Anyun, Jessica dan Lolox akhirnya terpilih sebagai pengawal pribadi dari perusahaan Erin. Pengamanan super ketat selalu dikerahkan oleh para pengawal pribadinya.

Ketika pelaksanaan konser digelar, tiba-tiba sebuah kejadian aneh terjadi. Syahrini menghilang. Kuat dugaan, Syahrini diculik oleh kelompok kriminal. Para bodyguard yang seharusnya bertugas menjaga Syahrini kecolongan.

Untuk bisa menyelamatkan Syahrini, para bodyguard berdiskusi mematangkan strategi. Strategi yang dijalankan sudah siap, hanya saja semua aksi nyata penyelamatan Syahrini dilakukan secara ugal-ugalan.

Bahkan, operasi penyelamatan Syahrini dilakukan dengan alat-alat ala kadarnya. Bisakah para bodyguard ini menyelamatkan Syahrini? Siapa orang jahat yang ingin menyakiti penyanyi pop terkenal?

Sumber: https://posfilm.com/sinopsis-film-bodyguard-ugal-ugalan-2018-usaha-menyelamatkan-syahrini/

***

Kesan setelah nonton:
Lucunya cetar membahana. Sangat menghibur.

Untuk penggemar Syahrini, pasti puas banget dengan sajian film ini. Bagaimana tidak, sepanjang film, kita banyak dimanjakan ulah Syahrini yang ada-ada aja.

Namun dari segi plot menurut saya terlalu datar dan kurang menggigit. Twist yang coba dihadirkan pun terlalu cemeng. Beberapa adegan lucunya agak maksa. Tingkah laku Syahrini yang "manja", ada beberapa bagian yang menurut saya kurang masuk sehingga mengurangi estetika film.

Review Film: Insya Allah Sah 2


Jenis Film           : Drama, Komedi, Aksi

Durasi                 : 90 menit

Negara Asal       : Indonesia

Produser            : Manoj Punjabi

Sutradara           : Anggy Umbara, Bounty Umbara

Penulis Naskah : Anggy Umbara, Herry B. Arissa

Produksi             : MD Pictures

Pemain                : Pandji Pragiwaksono, Donny Alamsyah, Luna Maya, Nirina Zubir, Miller Khan, Ray Sahetapy, Tanta Ginting, Meriam Bellina, Dewi Yull

Rilis                       : TBA Juni  2018

***

Sinopsis:
Jalan cerita film Insya Allah Sah 2 masih mengisahkan sosok Raka (Pandji Pragiwaksono) yang terjebak dalam  bersama Gani (Donny Alamsyah). Raka yang tidak mengenal Gani, ternyata merupakan seorang buronan polisi yang tengah kabur dari penjara.

Tidak hanya itu, permasalahan Gani ternyata masih banyak, karena dirinya sedang dikejar oleh kelompok kriminal yang dipimpin Freddy Coughar (Ray Sahetapy).

Ketika sedang berada di posisi terjepit, Gani meminta bantuan Raka untuk bisa lolos bahaya. Raka sepakat membantu Gani, dengan syarat, teman barunya ini harus bertaubat.

Sejak saat itulah, keduanya kemudian saling dekat. Meskipun Gani mengesalkan, namun Raka tetap menagih janji taubat teman barunya.

Sial bagi Raka, karena terjebak diantara janji-janji taubat Gani. Bahkan tidak jarang Gani sering bersikap kasar kepada Raka. Meskipun begitu, Raka tetap mengingatkan Gani akan nazar taubatnya ditepati dan mulai berubah menjadi orang baik.

Namun, ditengah-tengah konflik mereka berdua, Gani ternyata punya sebuah rahasia. Yaitu mencari sahabat lamanya yang bernama Yoga. Selain itu, Gani ternyata punya kisah cinta yang pernah berhubungan dengan Mutia (Luna Maya).

Apalagi, Gani akhirnya mengetahui bahwa Mutia (Luna Maya) sedang hamil. Raka pun berusaha membantu Gani. Namun, ada saja tingkah-tingkah konyol yang dilakukan Raka ketika membantu Gani mencari Mutia dan Yoga.

Sumber: https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/sinopsis-film-insya-allah-sah-2-tayang-di-bioskop-15-juni-2018/

***

Kesan setelah nonton:
Lucu, menghibur, dan mendidik. Perpaduan unik yang layak dinikmati.

Saya sangat menikmati aksi kejar-kejaran yang jadi pembuka cerita. Kalau saja tanpa dibalut unsur humor, pasti bagian ini sangat menegangkan. Namun karena ada tingkah lugu Raka di dalamnya, jadinya terasa beda dan segar.

Di awal-awal kita pasti tidak begitu suka dengan Gani, Si Buron yang seolah hanya bisa berbuat masalah di hidupnya. Namun, setelah terungkap latar belakang dari semua itu, Gani tampil sebagai sosok yang keren banget. Laki banget.

Di balik sisi humor dan sekelumit ketegangan aksi, banyak pelajaran hidup yang bisa didapat dari film ini. Terutama soal kepercayaan. Beberapa bagian sukses membuat saya terharu.

Rabu, 25 Juli 2018

Review Film: Jurassic World: Fallen Kingdom


Sinopsis:
Taman wisata dinosaurus yang dikelola oleh Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) sudah hancur total. Keberadaan dinosaurus liar masih terdeteksi. Claire yang mendirikan organisasi kembali membujuk Owen Grady (Chris Pratt) dalam sebuah misi.

Owen yang punya pengalaman sebagai pelatih raptor menjadi alasan Claire dalam mengajaknya untuk misi ini. Namun, misi ini menjadi kacau ketika kejutan dan ancaman menyatu, sehingga menyulitkan Claire dan Owen.

Jalan cerita Jurassic World: Fallen Kingdom berlanjut dengan rumor terjadinya peristiwa bencana alam. Namun, Claire dan Owen terkejut karena bukan bencana alam yang menjadi permasalahan. Sebuah konspirasi besar sedang dirancang untuk tujuan tertentu dan tampa sadar melibatkan Claire dan Owen.

Sumber: https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/sinopsis-jurassic-world-fallen-kingdom-tayang-di-bioskop-6-juni-2018/

***

Kesan setelah nonton:
Sangat menegangkan. Tidak disarankan untuk orang jantungan.

Keren banget. Berhubung ini serial terbaru, tentu saja efek-efeknya paling mutakhir. Setiap adegan yang melibatkan kemunculan dinosaurus benar-benar terasa real, berhasil membangun atmosfer ketegangan yang terkadang memaksa kita menahan napas. Sepanjang film, saya nyaris tidak pernah sandaran, takut tiba-tiba dinosaurusnya melompat keluar dari layar bioskop. Hehehe ....

Selain aksi para dinosaurus yang mencengangkan, alur cerita juga keren. Ada beberapa bagian yang berbalut haru.

Minggu, 03 Juni 2018

Review Novel: Story of Mya



Judul             : Story of Mya

Penulis         : Aby Myu

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor           : Iis Tentia Agustin

Layout          : Tim CV Jejak
Kover            : Muhammad Gustiar Perdana

Cetakan        : Pertama, September 2017

Tebal             : 142 hlm

ISBN              : 978-602-5455-27-8

Blurb:
Yusa adalah seorang gadis yang baru lulus SMA. Ia merasa bosan melakukan apa pun di dunia ini. Mungkin karena dirundung kesedihan atas kematian kedua orangtuanya. Pamannya begitu perhatian, lalu menyuruhnya kuliah di Jakarta agar menemukan suasana baru. Yusa pun menerima tawarannya dan meninggalkan Bandung dengan harapan dapat menenangkan kesedihan hatinya.

Sesampainya di sana, ia menemukan sebuah buku berdebu yang terkurung dalam kotak kaca di kamar kosnya. Ia berusaha membukanya, lalu mulai membacanya. Yusa seakan tersambar kobaran semangat dari buku itu. Rasa ingin tahu yang besar telah membangkitkan gairahnya untuk mulai melangkah lagi. Ia pun belajar banyak hal dari Mya. Tentu saja, itu adalah nama penulis buku yang ditemukan Yusa.

Belajar adalah sesuatu yang harus kita lakukan sebagai proses dalam menggapai ilmu pengetahuan. Kebanyakan orang bilang bahwa itu membosankan. Tapi tidak bagi Yusa, karena ia telah menemukan cara-cara menakjubkan untuk tetap belajar dengan senang hati. "Jika buku adalah jendela dunia, maka internet adalah pintunya. Mengapa kita tidak membukanya kemudian berlari?" Itulah yang ditulis Mya dalam bukunya.

***

Alur Cerita:
Berharap bisa melupakan kesedihan atas kematian kedua orangtuanya, dan mendapatkan pelangaman baru, Yusa meninggalkan Bandung untuk kuliah di Jakarta. Di kosnya, Yusa menemukan sebuah buku harian yang terkurung dalam kotak kaca. Setelah tak sengaja mendapatkan kuncinya dari pemilik kos, Yusa mengeluarkan buku itu, yang ternyata ditulis oleh seseorang bernama Namina Mya.

“Sampul cokelatnya terbuat dari kain dan memiliki serat yang lebih tebal daripada umumnya. Warna cokelat kain itu seakan membuat rasa penasaran Yusa menjadi-jadi. Yusa berpendapat, bahwa sesuatu yang ada di dalamnya pasti hal yang berharga. Entah itu sebuah informasi, atau hal-hal yang menakjubkan seperti di kebanyakan kisah-kisah fantasi.”_(hal 10)

Buku itu berisi catatan harian Mya, terkait semua keingintahuannya yang terkadang melampaui batas normal. Pertanyaan dalam benaknya seolah tak berujung, dan ia tak pernah puas sebelum menemukan jawabannya. Ia ingin tahu semua asal dari tiada menjadi ada. Uniknya, terkadang ia menemukan jawabannya dari hal-hal sederhana.

“Itulah hari-hari menyenangkan penuh kegilaan. Aku belajar dari sebuah komik anime Jepang, playstation game, dan sebuah film. Entah apa lagi yang akan kutemukan di depan sana.”_(hal 30)

Itulah Mya, yang secara tidak langsung menularkan semangat belajarnya ke Yusa.

Melalui buku itu, Yusa benar-benar diajak bertualang, menyentuh banyak sisi pengetahuan yang mungkin lalai dari pikiran kebanyakan manusia selama ini. Dari dasar-dasar filsafat, sejarah, hubungan manusia dengan Tuhan, hingga keberadaan dunia paralel, semua dipaparkan Mya dari sudut pandangnya pribadi.

“Banyak tanda tanya yang masih berkeliaran dalam otak, dan aku rasa itu sangat mustahil. Untuk sekarang aku lebih percaya bahwa dunia paralel itu fiktif, dan mesin waktu tak akan pernah tercipta. Jika pun mesin waktu tercipta, itu sama sekali tidak berguna. Karena kita tetap tidak bisa mengubah keadaan yang sudah berlalu.”_(hal 99)

Ada satu bagian dari buku itu yang cukup misterius, yaitu terdapatnya lembaran kosong berjudul Rabu. Siapa sangka, lembaran kosong ini akhirnya menghadirkan teka-teki dengan makna yang cukup dalam.

Apa sebenarnya maksud lembaran kosong itu? Segera miliki buku ini untuk tahu jawabannya.

***

Review:
Buku ini sangat unik. Kalau menurut saya, ini rangkuman sedemikian banyak tanya yang bisa saja sama liarnya di kepala banyak orang, lalu diberi sentuhan fiksi demi menghindari penyajian yang membosankan.

Tidak hanya informatif, ada makna mendalam yang terselubung di setiap segmen. Terkadang saya melongo takjub. Lalu lupa sedang baca buku fiksi. Rentetan ilmu pengetahuan yang dituang penulis sangat menarik untuk diselami. Pembahasannya pun cukup variatif dan menyentuh banyak sisi. Selesai baca buku ini, rasanya seperti habis baca setumpuk buku berbobot.

Sekilas buku ini memang agak berat untuk sekadar bacaan teman bersantai, sebab inti sarinya nggak akan ketemu bila dibaca sambil lalu. Buku ini harus diluangkan waktu khusus, agar rasa keingintahuan penulis yang teramat tinggi, nyampe ke kita. Namun, sentuhan fiksinya lumayan menarik, kok. Lama kelamaan serupa candu. Penulis berhasil menggiring kita masuk ke kepala Mya dan melihat semua yang dipikirkannya.

Membaca buku ini, kita semacam melakukan perjalanan batin (dalam skala kecil) untuk menemukan apa-apa yang belum ada selama ini. Di dalamnya banyak banget hal unik yang mau tidak mau membuat kita menyukainya.

Satu hal yang paling misterius, yaitu terdapatnya lembaran kosong dalam buku ini. Bukan hanya satu-dua, tapi lumayan banyak. Tadinya saya pikir cacat produksi. Saya hampir komplain ke penerbitnya. Tapi, ternyata eh ternyata, itu unsur kesengajaan, bagian dari buku Mya, yang maksudnya tentu saja tidak akan saya bongkar di sini.

Buku ini berpotensi memukau, kalau disertai tata cara penulisan yang baik dan benar. Jujur saja, penggunaan tanda baca, penempatan partikel "di" dan "ke", serta peletakan "ku", masih banyak yang keliru. Banyak padanan kata yang terlalu kaku. Openingnya juga terlalu biasa.

Overall, buku ini cocok banget buat kamu yang memiliki keingintahuan tinggi, namun malas membaca banyak buku. Buku tipis ini semacam rangkuman dari berbagai sumber yang sangat praktis. Dari sini kamu juga bisa sadar, bahwa ilmu pengetahuan itu tidak terbatas. Maka betapa pentingnya untuk terus belajar dari berbagai hal di kehidupan ini.

Kamis, 24 Mei 2018

Review Novel: My Ice Girl



Judul            : My Ice Girl

Penulis        : Pit Sansi

Penerbit      : Bentang Belia

Editor           : Ikhdah Henny & Dila Maretihaqsari

Kover           : Nocturvis & Musthofa Nur Wardoyo

Cetakan       : Pertama, Februari 2018

Tebal            : 386 hlm

ISBN             : 978-602-430-239-9

Blurb:
"Gue nggak suka sama cowok player!"
"Gue nggak suka sama cowok yang suka bikin onar!"
"Intinya, gue nggak suka sama lo!"

Tiga alasan Dara untuk menolak Malik sudah lebih dari jelas dan tegas. Namun, bukan Malik namanya kalau ia menyerah. Cowok itu merasa mampu meluluhkan hati Dara. Malik bahkan yakin bisa membuat Dara menyukai apa yang sebelumnya ia benci.

Sayangnya, jalan yang ditempuh Malik memang nggak mudah. Di tengah usaha mendapatkan perhatian Dara, Malik dikejutkan dengan fakta yang tak disukainya. Ternyata Dara punya hubungan dengan kematian Manda, adik Malik. Cowok itu jadi ragu, apa masih bisa ia mencintai orang yang mungkin saja terlibat menyakiti adiknya?

***

Alur Cerita:
Malik yang baru tiga bulan pindah ke SMA Gemilang langsung jadi idola cewek-cewek. Pasalnya, gantengnya memang tidak terelakkan. Berbekal suara yang cukup merdu, ia dan teman-temannya sering menggelar konser dadakan di koridor sekolah yang memberi peluang pesonanya kian luber ke mana-mana.

Namun sayang, pesona itu tidak mempan untuk Dara. Ia tahu persis reputasi buruk cowok itu. Playboy kelas kakap. Di sekolah itu aja ia punya sederet mantan, belum di tempat lain. Daripada nantinya sakit hati, Dara memilih tidak berurusan dengan makhluk bernama Malik.

Tapi, semua sikap Dara justru membuat Malik tetantang. Dan sejujurnya ia memang terpikat dengan cewek berlesung pipit itu. Namun sesuai dugaan, Dara menolak mentah-mentah ketika Malik terang-terangan memintanya jadi pacar. Anehnya, penolakan itu membuat Malik kian bersemangat. Bahkan ia berani jamin, Dara nggak akan nolak jika ia tembak sekali lagi.

Maka usaha merebut hati Dara pun dimulai. Tentu saja tidak semulus jalan tol, sebab ada Gino--kapten tim futsal yang sepertinya ditaksir Dara, pun sebaliknya--di antara mereka. Namun, melalui pertandingan dadakan satu lawan satu di lapangan futsal, pada akhirnya Malik memperoleh peluang lebih untuk memperjuangkan Dara.

“Kalau gue menang, lo nggak boleh nembak Dara sampai kelulusan nanti. ”_(hal 14)

Meskipun sudah menang dari Gino, bukan berarti perjuangan Malik deketin Dara langsung mulus. Dara tidak berubah, tetap bersikap dingin.

Tak ada yang tahu, bahwa tujuan Malik pindah sekolah adalah untuk menyelidiki kasus kematian Manda, adiknya. Di samping usaha dekatin Dara, perlahan-lahan Malik menemukan potongan-potongan petunjuk yang justru membuatnya semakin bingung. Terlebih saat petunjuk itu mulai mengarah ke Dara. Mungkinkah Dara terlibat?

Semakin giat usaha Dara untuk menjauh dari Malik, entah kenapa takdir malah selalu mendekatkan mereka. Dara tak pernah tahu bahwa ternyata mereka tetanggan di kompleks barunya. Parahnya, Malik itu anak teman lama bundanya. Fakta ini jelas menguntungkan Malik. Pintu pedekate-nya terbuka lebih lebar.

Sejutek-juteknya Dara, pada dasarnya ia juga gadis tulen yang suatu saat bisa saja tiba-tiba tergelincir dalam pesona Malik. Buktinya, setelah pertolongan kecil yang dilakukan Malik di malam ulang tahun sahabat Dara, Dara mulai merasakan jantungnya bereaksi aneh tiap menatap cowok itu.

“Karena menurut gue, nggak ada yang paling membahagiakan selain merasa dilindungi oleh kakak cowok.
Dara teringat kata-katanya sendiri. Dia benar-benar merasakannya sekarang, merasa benar-benar dilindungi. Namun, ada yang aneh dengan perasaannya. Mengapa jantungnya berdebar hebat saat ini?”_(hal 88)

Pelaku di balik kasus kematian Manda semakin mengerucut. Bahkan, kecurigaan Malik sudah condong ke seseorang, seiring dengan bermunculannya petunjuk baru yang saling berkaitan. Tapi Malik tidak boleh gegabah. Jangan sampai penyelidikannya bocor sebelum membuahkan hasil.

Kekesalan Dara pada semua tingkah laku Malik jadi berlipat ganda karena Bunda seolah berpihak pada cowok itu. Perhatian Bunda ke Malik sepintas malah sudah melebihi perhatiannya ke Dara. Hal yang sangat menguntungkan di sisi Malik, namun bencana di sisi Dara.

Meski kadar juteknya belum berkurang, Malik mulai merasakan sisi lunak Dara, yang diam-diam sebenarnya tipe perhatian dan nggak tegaan.

Di samping itu, penyelidikan Malik atas kasus kematian adiknya terus berlanjut. Petunjuk-petunjuk yang ia temukan membuat Malik takut, takut kehilangan kebersamaan kalau sampai salah seorang di antara sahabatnya terlibat.

“Tawa Malik perlahan mereda. Dia memperhatikan temannya satu per satu dalam diam. Dia sungguh tidak ingin keceriaan seperti ini berakhir di antara mereka. Dan, bila saja bisa, dia tidak ingin mencurigai satu dari teman-temannya atas kepergian Manda. Dia sama sekali tidak ingin mereka semua terlibat dalam kasus Manda. Seandainya saja bisa.”_(hal 148)

Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Malik meminta Dara menjauhi Gino. Jelas saja Dara menolak dengan tegas. Karena menurutnya, cegahan Malik sangat tidak beralasan.

Bagaimana kisah selengkapnya? Mampukah Malik memenangkan hati Dara? Siapa pelaku kasus Manda yang sebenarnya? Segera miliki buku ini dan rasakan serunya terlibat dalam teka-tekinya.

***

Review:
Kalau yang baca novel ini sudah berumur, pasti berasa kembali muda. Bahasanya renyah banget. Dari segala aspek sangat menonjolkan sisi keremajaan. Kendati demikian, bukan berarti novel ini tidak cocok dibaca kalangan dewasa, sebab konfliknya sangat kompleks dan enak banget disesapi pelan-pelan.

Benang merah yang diangkat cukup umum sebenarnya, perjuangan seorang cowok naklukin cewek dingin. Namun, itu hanya kemasan luar. Setelah digiring masuk ke dalam cerita, kita disuguhi teka-teki yang seolah tak berujung. Dari part ke part, penulis sangat lihai menyuburkan rasa penasaran, membuat kita menerka-nerka, yang ujung-ujungnya jadi gemes sendiri.

Bisa dibilang novel ini memiliki sisi kocak yang lumayan besar. Namun yang perlu saya garisbawahi, lucunya segar, nggak garing, dan yang penting nggak lebay. Konflik-konflik pendamping pun nggak cengeng. Porsinya pas dan dikemas kekinian.

Saya salut sama penulis. Konflik yang sedemikian padat bisa disampaikan cukup enteng. Bahasa yang dipilih pun sangat disesuaikan dengan target pembacanya.

Secara keseluruhan, jerat utama dalam novel ini adalah kasus kematian Manda yang seolah melibatkan orang-orang terdekat sang kakak, Malik. Penulis mengurai misteri ini pelan-pelan, sambil menanam jebakan-jebakan yang sukses membuat cerita kian hidup. Di beberapa bagian unsur tegangnya cukup terasa, bikin nggak mau berhenti baca. Misteri ini dilengkapi dengan interaksi Malik dan Dara yang bikin senyum-senyum sendiri. Perpaduan dua taste yang terjalin sungguh jadi candu.

Khusus soal misteri kematian, dari part ke part, dugaan saya selalu berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain, sebab petunjuknya pun silih berganti. Dan ujung-ujungnya tebakan saya salah. Sumpah, racikan teka-teki yang dituang penulis dalam novel ini keren banget. Bikin nagih.

Kekurangannya nyaris tidak ada. Saya hanya merasa ada beberapa adegan yang kesannya agak maksa. Secara konten masih masuk dalam cerita, hanya saja jalinan emosinya kurang mulus pas baca bagian itu.

Overall, novel ini terobosan baru di rana teenlit. Untuk membuat orang yang tadinya nggak suka teenlit, bisa banget. So, yang masih memandang teenlit sebelah mata, coba baca ini, deh.

Minggu, 13 Mei 2018

Review Film: Assalamualaikum Calon Imam


Sinopsis:

Kepercayaan merupakan barang yang cukup langka bagi Fisya (Natasha Rizki), apalagi karena pernah punya masa lalu yang kelam tentang ayahnya. Di satu sisi, Fisya kecil ternyata mengalami perasaan yang bernama cinta.

Cinta itu ditujukan untuk Jidan (Andi Arsyil ), tentangga dan teman bermainnya di masa kecil. Sayangnya kisah cinta monyet ini tidak berakhir. Jidan memilih wanita lain sebagai pelabuhan cintanya.

Ketidakpercayaan Fisya terhadap seorang pria pun semakin menjadi-jadi, membuat separuh dirinya seakan putus asa jika berdekatan dengan seorang pria.

Lain kisah, Alif (Miller Khan) seorang dokter yang kemudian bertemu dengan kasus kecelakaan yang ternyata melibatkan Fisya.

Pertemuan keduanya semakin menjadi nyata ketika ternyata Alif merupakan salah satu dosen pengajarnya di kampus. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Alif terkesan dingin, sementara Fisya merupakan sosok yang cuek karena rasa tidak percayanya pada seorang pria.

Keduanya bahkan sering berseteru di kampus karena hal-hal konyol. Namun dibalik semua itu, Alif ternyata memendam rasa kepada Fisya. Apa yang selanjutnya terjadi?

Bisakah Fisya kembali percaya pada sosok seorang pria?

***

Kesan setelah nonton:

Bukannya jelek, hanya kurang puas.

Karena bernuansa religi, saya mengharapkan tema mencintai karena Allah, bisa dieksplor di sini. Ekspektasi saya makin melambung ketika di awal disuguhi insiden hape Fisya kebawa sama Alif saat sama-sama berusaha menolong seorang anak kecil korban tabrak lari. Saya mulai membayangkan interaksi lucu setelahnya, cinta diam-diam, dan bagaimana rasa itu dijalankan supaya tetap sesuai syariat. Nyatanya, di tengah-tengah hinggah menjelang akhir, masa lalu orang tua Fisya, yang membuatnya membenci abinya, lebih mendominasi.

Selain di luar ekspektasi, bagian ini sudah terlalu sering kita temukan di film lain.

Yang membuat kening saya berkerut, kemunculan Gubernur Sulawesi Selatan di salah satu scene yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita. Sumpah, menurut saya maksa banget. Padahal di bagian ini harusnya ketegangan lebih ditonjolkan, mengingat tim dokter sedang merembukkan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Fisya setelah divonis mengidap penyakit kronis. Sayang, kemunculan Pak Gubernur mengacaukan segalanya (untuk saya pribadi sebagai penikmat film).

Overall, saya cukup terkesan di bagian Fisya mulai jatuh cinta pada Alif setelah tidak sengaja mendengarnya membacakan surah Ar-Rahman.  Terima kasih kepada segenap tim produksi film ini sudah memilih Makassar sebagai salah satu setting dalam cerita. Melihat kampung halaman tampil di layar lebar, punya sensasi tersendiri. Hehehe ....