Senin, 05 Agustus 2019

Review Novel: Lost



Judul          : Lost

Penulis      : Febriani Puspita

Editor        : Purindraswari

Layout       : Vindya Puspasari R.

Cover         : Ferryan Nugroho P.

Tebal          : 300 hlm

ISBN           : 978-623-7122-06-7

"Menghilang dan kehilangan adalah sepaket keputusan"

Blurb:

"Aku bulan dan kamu langitnya. Jika matahari meminta haknya untuk bersinar dan aku harus menyingkir, tak apa. Karena sejatinya, bulan tidak pernah benar-benar meninggalkan langitnya. Dia selalu di sana, namun tak ada yang menyadarinya."

Yang jatuh cinta pada Revi Prameswari sejak hari pertama masa orientasi siswa.
--Zarradam Anduarsa

***

Apa ada yang pernah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri? Kurasa banyak, termasuk aku. Aku jatuh cinta padanya. Pemuda sederhana yang selalu memberiku semangat di saat aku terpuruk, gagal SNMPTN dan SBMPTN misalnya. Namun, kisahku tak seindah persahabatan yang berakhir jadi cinta. Di saat suatu tragedi besar menimpaku, Adam menyuruhku pergi dan berpisah dengannya. Karena keadaan yang tidak memungkinkan kami untuk bersama, aku mengikuti apa yang dia katakan.

Aku pergi. Tak tentu arah. Tak tentu waktu. Hanya berpasrah kepada apa yang digariskan Tuhan padaku, dengan harapan agar suatu hari aku dan Adam kembali dipersatukan dalam suatu momen bahagia.

Akan tetapi, siapa yang bisa menyangka bahwa runtutan kejadian di kota orang membuatku benar-benar jauh dari Adam. Dan harapanku ... tidak terealisasikan. Kami memang bertemu pada akhirnya, tapi dalam keadaan yang tidak pernah kami inginkan.

Dipertemukan hanya untuk kembali dipisahkan.

***

Alur cerita:

"Ini hidupku. Ini masa depanku. Orang lain hanya bisa berbicara, tapi akulah yang menjalani dan menentukannya."_(hal 52)

Kondisi keluarga Revi memang jauh dari kesan harmonis. Pada akhirnya Revi kabur demi tidak meladeni perjodohan tidak masuk akal dari kedua orangtuanya. Dan lagi, Revi ingin menjauh dari sesuatu yang sewaktu-waktu bisa membuat hatinya koyak. Tentang perasaan yang masih mengambang, tentang Adam, sahabat yang diam-diam menumbuhkan perasaan lebih.

"Hidup itu mengalir. Ikuti saja arusnya. Namun, tetap ingat bahwa di sepanjang aliran itu pasti terdapat banyak batu yang menghadang. Jangan terlalu terlena hingga membuatmu tergores dan menyebabkan luka."_(hal 53)

Dalam pelarian itu, beruntung Revi bertemu orang sebaik Bu Marni yang kemudian langsung mempekerjakannya di warung makannya.

"Tidak peduli kamu berasal dari keluarga yang bagaimana, asalkan pribadimu menunjukkan seseorang yang berbudi pekerti, maka masyarakat akan menerima dengan senang hati."_(hal 62)

Tahun bergulir, keadaan Revi membaik. Ia semakin terbiasa dengan semua hal yang ditemuinya di kota orang. Tapi tiba-tiba Revan muncul, pemuda misterius yang perlahan-lahan mengusik ketenangan Revi.

"Harapan kepada manusia mungkin bisa mengecewakan, tetapi berharap kepada Tuhan tidak akan pernah membuatmu kecewa."_(hal 160)

Revi tak pernah menyangka, di balik hidupnya yang mulai baik-baik saja ada konspirasi besar-besaran. Hingga pada akhirnya Revi harus kembali ke titik awal, mengorek apa-apa yang luput dari pantauannya selama ini.

Revi harus menyiapkan hati yang kuat, ketika satu per satu fakta mulai terkuak.

***

Review:

Saat membaca blurbnya, saya agak sangsi. Takutnya disuguhi cerita bertema friendzone yang begitu-begitu saja. Nyatanya saya salah besar. Perihal jatuh cinta pada sahabat sendiri, di novel ini diceritakan dari sudut pandang yang baru. Jika kebanyakan cerita friendzone mengangkat warna-warni kebersamaan mereka, cerita ini malah dimulai dengan perpisahan. Tidak ada lagi kebersamaan, semua tinggal kenangan yang serupa benang kusut di kepala tokoh utama dalam menemui hari-hari baru.

Opening-nya cukup berhasil memicu rasa penasaran, terhadap tokoh utama yang langsung disodorkan ke kita dalam kondisi luntang lantung. Kita dibuat bertanya-tanya, ada apa dengannya?

Novel ini dituturkan dengan bahasa yang ringan, sedikit puitis dan quotable. Diksinya sederhana, tapi terstruktur dengan baik. Yang paling saya suka, banyak banget petuah-petuah yang disampaikan secara cerdik, jauh dari kesan menggurui. Novel ini membahas persoalan cinta sewajar-wajarnya. Penulis tidak hanya menyoroti perihal hati, tapi bagaimana penerimaan terhadap lingkungan di sekitarnya.

Untuk tipe pembaca yang suka dikejutkan seperti saya, tempo novel ini terbilang lambat. Bahkan ada beberapa bagian berisi sekian paragraf narasi yang tidak memajukan cerita.

Saya suka alur maju mundur yang digunakan penulis, hanya saja saya kurang nyaman dengan peralihan POV1 ke POV3 yang terjadi beberapa kali. Tidak masalah, sih, banyak novel yang seperti itu. Hanya saja di novel ini menurut saya perpaduannya kurang luwes. Mungkin karena saya pribadi memang tidak begitu suka sama tipe cerita yang sudut pandangnya "tidak konsisten".

Overall, novel ini saya rekomendasikan untuk kamu yang menyukai cerita bertema friendzone tapi mendambakan sesuatu yang baru. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari sini.

Rabu, 10 April 2019

Review Novel: Harta Kaitu


Judul            : Harta Kaitu

Penulis        : SahrialPratama1777

Penerbit      : AT Press Lombok

Editor           : Mulya Indah Lestari

Layout         : ND Aohana

Cover           : ND Aohana

Cetakan       : Pertama

Tebal            : 336 hlmn

ISBN             : 978-602-0745-58-9

Blurb:
Demi mengganti rugi roti yang telah dicurinya dan untuk membantu kebutuhan keluarga, Asher menerima tawaran Fabio. Bersama dengan seorang pesuruh Fabio bernama Vittor, ketiganya menuju Pegunungan Kaitu. Meski beranggapan harta kaitu hanyalah mitos, Asher tetap mengikuti ke mana Fabio pergi demi bayaran yang dijanjikan. Hingga di tengah perjalanan, Asher menyadari kalau pilihannya adalah sebuah kesalahan.

Perjalanan menuju Pegunungan Kaitu ternyata sangat berbahaya, terutama setelah ia mengetahui kalau ada sosok Sang Kegelapan yang mengikuti mereka. Ditambah lagi ramalan menakutkan yang dibacakan seorang gadis peramal bernama Aryana, membuat Asher sadar tidak seharusnya ia menerima tawaran Fabio.

Bagaimanakah nasib Asher, Fabio, dan Vittor? Apakah mereka akan berhasil mendapatkan harta Kaitu?

***

Alur cerita:

Asher tidak menyangka, setelah dua tahun menyembunyikan aksinya mencuri roti atau mainan untuk adiknya, akhirnya ketahuan juga. Masalah ini semakin rumit ketika pemilik toko meminta ganti rugi sepuluh keping emas. Ayah Asher meradang. Dari mana ia bisa mendapatkannya? Jangankan memiliki, menyentuh sekeping emas saja belum pernah. Hal itu membangkitkan amarahnya, hingga ia mengusir Asher dari rumah.

Sebenarnya sang ayah tidak bersungguh-sungguh mengusir, ia hanya ingin memberi anak itu pelajaran. Karena apa pun alasannya, tindakannya tidak bisa dibenarkan. Diam-diam ia berharap Asher segera pulang.

Namun, malam itu Asher menerima tawaran Fabio untuk menemaninya melakukan perjalanan menuju Pegunungan Kaitu. Awalnya Asher menolak dengan tegas tawaran pemuda angkuh itu, tapi bayaran seratus keping emas yang dijanjikan sangat menggiurkan.

"Aku tidak punya waktu untuk bergurau. Kau tinggal menjawab setuju atau tidak. Semudah itu."_(hal 39)

Akhirnya, Asher mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Malam itu juga ia memulai perjalanannya bersama Fabio dan seorang pesuruhnya, Vittor.

Sebelum memasuki hutan mereka membeli beberapa keperluan. Salah satunya senjata. Perasaan Asher mulai tidak enak. Keharusan membawa senjata menandakan mereka akan menghadapi banyak bahaya. Namun demi bayaran tinggi yang dijanjikan Fabio, Asher menepis ketakutannya. Akhirnya ia memilih belati.

Di tengah hutan, mereka bertemu pria misterius bermantel hitam, yang sepertinya sangat berbahaya. Meski berhasil kabur, Asher mulai meragukan pilihan senjatanya. Seharusnya ia memilih senjata yang lebih menjanjikan dari sebilah belati.

Semakin jauh perjalanan, Asher mulai paham tugasnya ikut dalam perjalanan itu, melindungi Fabio. Ia dan Vittor harus menghadapi seekor singa yang menghalangi jalan mereka, membiarkan Fabio menghindar ke tempat yang aman.

Lolos dari singa, mereka harus menuruni jurang, menyeberangi sungai untuk menuju sebuah desa kecil. Di sanalah mereka bertemu Aryana, gadis peramal dengan perkataan yang menakutkan. Merasa gadis itu bisa mempermudah perjalanan mereka, Fabio mengajaknya bergabung dengan bayaran 200 keping emas. Aryana setuju. Bukan karena bayarannya, tapi sepertinya ada hal lain.

"Aku setuju, tapi dengan satu syarat. Kalian harus mendengarkan apa yang kukatakan. Apa pun itu, kalian harus menurutinya. Sebagai gantinya, kau tidak perlu memberiku bayaran."_(hal 104)

Perjalanan ke Pegunungan Kaitu berlanjut. Asher lebih sering merasakan hal-hal aneh. Meski jarang menampakkan diri, Asher yakin, Sang Kegelapan mengikuti mereka.

Mereka tiba di Pegunungan Kaitu. Berkat bantuan Aryana, mereka berhasil menemukan harta kaitu. Meskipun harta itu dijaga seekor naga yang dikutuk, mereka bisa menanganinya dengan baik. Namun, rupanya rintangan tidak sebatas ini. Perjalanan pulang mereka akan jauh lebih berbahaya. Sebab dengan status harta sudah ditangan tentu tidak akan membuat Sang Kegelapan tinggal diam.

Benar saja, sang Kegelapan tidak hanya menghalangi perjalanan mereka, tapi juga mengacaukan hubungan mereka. Keadaan semakin menegangkan karena naga Kaitu berhasil lolos.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Mampukah mempertahankan harta kaitu hingga tiba di desa? Lalu, bagaimana jika ada pengkhianat di antara mereka?

"Apa kau lupa waktu kita pertama kali bertemu? Aku sempat menegang tangan kalian. Saat itulah aku tahu bagaimana dia. Dan, karena itu juga aku memutuskan ikut dalam perjalanan ini."_(hal 161)

Cari tahu sendiri, ya. Yuk, segera miliki buku fantasi lokal kece ini.

***

Review:

Kisah fantasi memang terlalu identik dengan petualangan. Hal itu membuat beberapa jadi membosankan karena terlalu klise. Namun tidak dengan novel ini. Meski plot utamanya masih seputar petualangan, di dalamnya terselip makna kehidupan dari berbagai sisi. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Tentang perjuangan, pengorbanan dan mengikhlaskan melebur dalam balutan kisah pencarian harta kaitu.

Sejak awal saya cukup terhibur dengan cerita ini. Penulis membuka ceritanya berangkat dari kegelisahan seorang kakak yang ingin membahagiakan adik kecilnya. Dari sini titik haru saya mulai tersentuh. Kemudian konflik berkembang cukup cepat tapi tidak berlebihan. Semuanya mengalir dalam takaran yang membuat kita tetap enjoy menikmatinya.

Penulis berhasil meniupkan ruh ke dalam setiap adegan, memimbulkan refleksi yang terasa nyata di dalam kepala.

Saya juga suka bumbu asmara yang sempat melintas di tengah ketegangan. Meski porsinya sangat kecil, tapi itu cukup sebagai pemanis. Kepiawaian penulis menggambarkan adegan pertarungan patut diacungi jempol. Harus menyampaikan adegan itu berkali-kali dengan bahasa yang tidak monoton tentu bukan hal yang mudah.

Menurut saya, kekurangannya hanya pada pemborosan kata di beberapa bagian. Penggunaan tanda baca terkadang juga masih keliru. Selebihnya sudah oke.


Overall, novel ini cukup menghibur. Tingkat ketegangannya memang tidak sampai bikin jantungan, tapi sisi kemanusiaannya bikin berkaca-kaca. Dari sini kamu bisa belajar pentingnya saling menghargai dan sahabat itu harusnya seperti apa.

Minggu, 17 Februari 2019

Review Novel: Ablasa


Judul            : Ablasa

Penulis        : AlfianBudiarto

Penerbit      : AT Press

Editor            : Tim AT

Layout          : Tim AT

Cover            : Tari Chan

Cetakan        : Pertama, November 2018

Tebal             : 140 hlm

ISBN              : 978-602-0745-04-6

Blurb:

Semakin lama, wujud bayangan itu semakin solid. Begitu nyata. Rupa asli Ablasa semakin jelas. Sosoknya begitu menyeramkan. Tubuhnya diliputi api yang menyala-nyala. Di punggungnya, sayap lebar mengepak-ngepak membara. Mata dan mulutnya merekah dengan sembarang. Ia lalu memandang ke arah Airin dengan tatapan tajam.

***

Alur cerita:
Perjalanan Kapal Pengayoman yang hendak menyeberangi Segara Anakan menuju Pulau Nusakambangan, mendadak terhenti setelah diduga menabrak kapal kontainer. Namun yang aneh, tidak biasanya kapal besar berada di jalur itu. Kabut tebal juga tiba-tiba menyelimuti kawasan itu. Penumpang yang tadinya berjumlah puluhan, kini hanya tersisa 9 orang yang berkumpul di ruang kemudi.

Beberapa laki-laki mencoba memeriksa keadaan kapal, mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menemukan belasan mayat dengan kondisi mengerikan tergeletak di lantai geladak. Darah merembes ke mana-mana. Suasana kian mencekam.

Mereka berpikir keras untuk keluar dari situasi itu. Airin, perempuan aneh berpakaian serba hitam, satu-satunya penumpang tersisa yang tampak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, ucapan-ucapannya malah membuat yang lain semakin panik.

"Kematian. Aku mencium aroma Kematian!"_(hal 24)
Mereka yang masih hidup punya cara masing-masing untuk melalui tiap detik mencekam di tengah situasi yang tak menentu. Beberapa mulai membuka diri, menceritakan secara singkat siapa diri mereka. Ada pula yang masa bodo, menganggap memikirkan solusi jauh lebih penting ketimbang berbasa-basi.

Tak ingin hanya menunggu, Kun, Hans dan Ical beranjak untuk memeriksa keadaan di dalam kapal muatan kontainer yang mereka tabrak. Namun, bukannya menemukan petunjuk, di sana mereka malah menemukan hal buruk.

Situasi semakin pelik ketika Rebeca yang tadinya habis buang air kecil di pojok dek, menghilang secara misterius. Samuel yang tadinya menemani tentu saja langsung panik.

"Hitungan detik, makhluk tadi sudah mampu menggapai ujung kakiku yang kaku. Sungguh aku ingin berteriak, tapi yang keluar hanya embus udara kosong dari bibir."_(hal 56)

Satu per satu korban berjatuhan. Mereka mati secara mengenaskan. Sosok misterius mencabik-cabik tubuh mereka seolah itu permainan yang sangat menyenangkan. Keadaan semakin memburuk saat Kapal Pengayoman mulai tenggelam. Retakan akibat benturan tak mampu lagi menahan tekanan air. Samuel, Pamela, Nindya dan Airin--yang tidak sadarkan diri--harus segera berpindah ke kapal kontainer.

Di lain dimensi, sementara raganya terkulai tak berdaya, jiwa Airin terdampar ke suatu tempat. Tempat yang mungkin sama, namun dengan kondisi yang lebih mengerikan. Di sana sedang terjadi sesuatu yang mungkin melatarbelakangi atau menjadi cikal bakal peristiwa aneh yang menimpa kapal mereka.Di tengah ketegangan itu, Airin menyadari, sesuatu yang tidak lazim sedang terjadi padanya.

"Aku berharap setelah melakukan ini, aku bisa kembali ke tubuh asliku. Kurasakan sensasi air asin membasahi tubuh dan memenuhi paru-paruku."_(hal 109)

Misteri apa sebenarnya yang sedang terjadi? Sanggupkah mereka memecahkannya dan keluar dari situasi itu? Yuk, segera diorder dan temukan sendiri jawabannya. 😁
***

Review:
Mengetahui novel ini ditulis hanya dalam waktu lima hari, saya shock. Kemudian saya pikir, ah, pasti alurnya ngaco. Tapi ternyata ... mantap.

Ketertarikan pertama ada pada judul, penggunaan kata tidak lazim yang berhasil mengundang rasa penasaran. Covernya juga kece, simpel dan cukup mewakili isi cerita.

Ini novel horor yang mengedepankan sisi misteri dan atmosfer ketegangan. Jadi penampakan hantu yang tiba-tiba dan tanpa penjelasan detail sama sekali tidak ada dalam cerita ini. Itu poin plus yang bikin novel ini tampil elegan dan tidak terkesan ikut-ikutan. Hal itu diperkuat dengan pemilihan setting pada sebuah kapal. Di kapal itulah kemudian penulis menebar teka-teki dan diselesaikan dengan baik. Hampir semua tokoh punya sisi misterius masing-masing, yang kemudian membuat pembaca terjebak dalam labirin "asal tebak" yang berbuah twist mencengangkan.

Saya acungi jempol untuk keberanian penulis bercerita dari sudut pandang banyak tokoh. Sambil tetap memperhatikan keharmonisan cerita, itu jelas tidak mudah. Meski ini juga agak berpotensi membingungkan untuk pembaca yang kurang fokus.
Penulisan yang rapi membuat kita nyaman mengikuti cerita ini, meski alurnya bergerak cepat dan menggebu-gebu. Yang saya soroti, penulis masih sempat menuang bait-bait kehidupan di tengah ketegangan yang terbangun cukup apik.

Saya hanya kurang suka ending-nya, semacam kue tart yang terlalu banyak hiasan, jadi terkesan berlebihan dan tidak istimewa lagi. Saya lebih suka kalau Hans dan Pamela tidak seperti itu. Cukup Airin saja. Memangnya kenapa? Baca sendiri, ya. 😁


Overall, novel ini cocok buat kamu yang menyukai cerita horor yang tidak melulu soal penampakan hantu. Alur padat dan tidak berbelit-belit pas untuk sekadar teman bersantai di waktu luang. Di sini ada nilai-nilai kehidupan yang dibidik dari sudut berbeda.

Kamis, 07 Februari 2019

Review Novel: Sepucuk Relikui


Judul            : Sepucuk Relikui

Penulis         : AlfianBudiarto

Penerbit       : AT Press Surabaya

Editor            : Ariny Nurul Haq

Layout          : Ratifa Mazari

Cover            : Ratifa Mazari

Cetakan        : Pertama, November 2018

Tebal             : 203 hlm

ISBN              : 978-602-0745-12-1

Blurb:

"Tembilahan, tanah pertama kakimu berpijak. Maka di sana pula kau akan menemukan semua kisah tentangmu, tentang aku, juga tentang bapakmu. Kembalilah, Nak. Kembalilah, maka kau akan menemukan kebenaran."

Di gelap yang kian beranjak pekat, Intan juga diam-diam menambahkan goresan tinta di lembar buku harian bersampul cokelat usang miliknya. Ade tidak pernah menyangka jika buku itu adalah peninggalan terakhir ibunya. Menjadi relikui. Sebab, keesokan harinya, sebelum mentari sempat menyingsing, ibunya itu telah dipanggil Tuhan. Perempuan lemah bertubuh ringkih tersebut kembali menghadap penguasa semesta.

***

Alur Cerita:

Lantaran sebuah peristiwa yang menyisakan luka di masa lalu, Ade beserta ibunya, Intan, meninggalkan Tembilahan, meninggalkan bapaknya dengan segudang bibit kebencian yang kemudian nenyubur seiring ia tumbuh.

Namun, belasan tahun sudah berlalu, barangkali banyak hal yang telah berubah, atau semacam kesalahpahaman yang sudah saatnya diperbaiki. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Intan berpesan kepada Ade, agar anak itu kembali ke Tembilahan untuk menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Pesan itu diperkuat ketika Ken, paman Ade menelepon untuk mengabarkan bahwa Ilham, bapak Ade sedang sakit. Ilham sangat ingin bertemu dengan Ade.

Bukan hal mudah ketika akhirnya Ade memutuskan untuk kembali ke Tembilahan, meski ia tak pernah bisa menebak apa yang akan ditemuinya di tanah kelahirannya itu.

"Bukan hal mudah untuk merajut kisah dari masa lalu yang kusut. Seperti benang yang gagal dipintal, ketika telah melilit dan membelit. Hanya kebimbangan tentang pilihan untuk mulai mengurainya atau malah memutuskannya."_(hal 40)

Begitu bertemu Bapak, kebencian Ade seketika runtuh nyaris tak berbekas. Mendekap tubuh ringkih Bapak yang kian rapuh, Ade mengalirkan segenap kerinduan yang tertampung selama ini. Anak dan bapak itu mulai menapaki kebersamaan perlahan-lahan, bertukar cerita, lalu menyibak apa-apa yang perlu dibenahi.
Dari awal Ade tak pernah bermaksud untuk menetap di Tembilahan. Pemuda itu merasa sudah punya masa depan di Kapuas Hulu, KalBar. Tapi ternyata Bapak sudah merancang banyak perihal kepulangannya ini. Belum sirna keterkejutan Ade setelah dijodohkan dengan gadis berhijab bernama Vivi, Bapak lalu memintanya mengurus madrasah yang selama ini dikelolanya.

Meski Ade belum mengambil keputusan apa-apa, ia tidak menolak untuk mengunjungi madrasah itu. Dan di kunjungan pertamanya itu, ia menemukan alasan untuk menerima permintaan Bapak. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk permintaan lainnya.

"Akhirnya ia merasa menemukan jawaban mengapa Bapak memintanya untuk menggantikan posisi beliau di madrasah ini. Binar kebahagiaan bocah-bocah kurang mampu ini pastilah jawabannya."_(hal 90)

Setelah perjodohan itu, Ade dilema. Pasalnya, ia sudah punya tambatan hati di Kalimantan sana. Antara cinta dan petuah orangtua. Di tengah pergolakan batin itu, sesuatu yang lebih dahsyat terjadi. Bapak mengembuskan napas terakhir di suatu pagi. Tentu saja Ade benar-benar terpukul. Jangankan untuk berbakti, sekadar berada di sisi Bapak untuk melunasi kerinduannya, rasanya belum cukup.

Di tengah kedukaan itu, kisah masa lalu perlahan terkuak, membuka tabir rahasia yang kemudian dijejali fakta-fakta mencengangkan. Bermula dari buku harian Ibu yang berisi penyelesalan telah meninggalkan Bapak, lalu disusul dengan kehadiran Ajeng--perempuan yang disebut-sebut penyebab perpisahan Bapak dan Ibu.

Segalanya menjadi terasa lebih membingungkan setelah tahu status Ajeng yang ternyata ibu kandung Vivi. Ada apa ini? Vivi yang tidak terima ibunya pernah merusak rumah tangga orang di masa lalu, memilih kabur. Ajeng menemui Ade untuk minta tolong mencari Vivi. Di sanalah Ajeng menuturkan semuanya sampai benar-benar tuntas. Mendapati fakta itu, Ade nyaris membeku. Air matanya luruh sejadi-jadinya.

"Ia menyesal karena selama ini telah menganggap Bapak adalah sosok paling jahat di dunia, dan lebih parahnya, selama ini ia anggap lelaki itu telah mati. Ade tergugu dalam kediaman. Dadanya benar-benar dipeluk pengap yang menyesakkan."_(hal 141)

Seperti apa sebenarnya masa lalu Bapak, Ibu, dan Ajeng? Benarkah Ade dan Vivi saudara? Lalu, apakah Ade akan menetap di Tembilahan atau kembali ke Kapuas Hulu? Yuk, segera order buku keren ini agar tidak penasaran. Dijamin suka. 😊

***

Review:

Saya tahu bagaimana perjalanan naskah ini sebelum terbit, terlebih setelah meraih posisi pertama di "Lomba Novel AT Press Surabaya", ekspektasi saya kian melambung. Benar saja, baru menginjak halaman 26, saya sudah dibuat berkaca-kaca. Terlalu dini memang, tapi demikian respons saya terhadap apa-apa yang bersinggungan dengan orangtua.

Salah satu standar novel bagus versi saya, sama sekali tidak ada niatan untuk melompati selembar pun. Itu yang terjadi saat saya membaca novel ini. Saya menyusuri tiap baris kata-katanya penuh kehati-hatian. Sebab narasinya aduhai Indah. Memang ada beberapa yang terkesan jadul, tapi secara keseluruhan justru terasa manis.

Sejak Ade memulai perjalanan pulangnya ke Tembilahan, saya merasa ada di sana. Duduk bersamanya di dalam mobil, mampir makan bareng, turut menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Itu karena penulis berhasil mendeskripsikan suasana dalam cerita teramat detail, tapi sama sekali tidak membosankan. Saya suka unsur lokalitasnya. Terlebih penggambaran sudut-sudut Tembilahan yang seolah menyeret pembaca ke sana.

Awalnya saya pikir cerita ini hanya tentang kesalahpahaman yang kemudian berujung klise. Nyatanya salah besar. Saya mulai tergugah ketika Ade membesarkan hati untuk pulang menemui bapaknya. Saya lalu bersiap untuk disuguhi adegan-adegan mengharukan. Benar saja, hati saya teramat sering bergetar karena banyaknya selipan petuah-petuah yang bisa diambil. Di samping itu kita juga dimanjakan dengan taburan quote yang sarat makna kehidupan.

Saya ikut deg-degan di detik-detik pertemuan Ade dengan Bapaknya. Saya bahkan sampai menahan napas saat Ade memeluk Bapaknya untuk pertama kalinya setelah belasan tahun menganggapnya mati. Untungnya bagian ini diselingi romansa cinta. Meski porsinya kecil, tapi cukup menjadi ruang untuk sejenak menarik napas. Karena di bab-bab selanjutnya penulis menguraikan fakta-fakta yang mencengangkan. Belum lagi sentuhan laga di akhir-akhir cerita. Ketegangan terbangun apik. Dalam hal dinamika, saya kasih dua jempol untuk novel ini. Suhunya terus meningkat hingga akhir. Surat Ibu yang dimaksud di judul, bahkan dipaparkan di akhir cerita. Dan lagi-lagi pembaca disuguhi fakta baru. Keren banget.

Saya suka tokoh Andaru, suka pandangannya terhadap perbedaan. Saya juga suka Ken, yang ternyata ... ah, sudahlah. Intinya, penulis teramat rapi menyimpan rahasia hingga meledak dan membikin dada sesak. Apa yang terjadi di awal benar-benar berbanding terbalik dengan ending. Gak tahu mesti bilang apa lagi. Satu hal, buku ini layak masuk toko buku. Kereeeeennn. 👍

Memang ada beberapa penggunaan kata yang kurang efektif. Kekeliruan penulisan juga ada. Tapi minim banget dan sama sekali tidak mengganggu kita menikmati cerita ini. Ini hanya persoalan kacamata pembaca memang selalu lebih tajam dari penulis. Atau sama halnya penonton selalu sok tahu, kan?

Overall, novel ini recommended banget buat kamu yang nyari cerita bertema keluarga namun tidak membosankan. Tetap dibumbui romance, bahkan laga dan misteri. Novel ini akan mengajarkan kita pentingnya memaafkan dan berpikir panjang sebelum bertindak. Oh ya, siapin tisu sebelum baca novel ini.

Rabu, 06 Februari 2019

Review Novel: Rumah 203


Judul            : Rumah 203

Penulis        : SoeAnn

Penerbit      : Syifah Publisher

Editor           : Syifah Baraq

Layout          : Syifah Baraq

Cover           : Syifah Baraq

Cetakan       : Pertama, Januari 2018

Tebal            : 304 hlm

ISBN             : 978-602-5459-49-8

Blurb:

Deva
Bagiku, rumah 203 bukan hanya sekadar tempat tinggal, tapi cintaku. Yep, rumah itu adalah cinta pertamaku.

Eiliya
Rumah 203 adalah rumah keduaku. Tempatku menemukan sahabat-sahabat terbaik di dunia.

Lena
Aku benci berada di rumah. Tapi sejak aku bertemu Deva dan Ei, aku tahu bahwa aku selalu mempunyai tempat untuk pulang.

Bertahun-tahun Deva, Ei, dan Lena menempati rumah 203. Persahabatan, cerita cinta, juga masa lalu yang menyebabkan pembalasan dendam mengisi kehidupan mereka.

***

Alur cerita:

Deva, Ei, dan Lena selama bertahun-tahun bersahabat sejak menghuni rumah 203. Namun, sejak Ei memergoki Deva terlibat obrolan tak seharusnya dengan Shaqil, kekasihnya, di lokasi shooting, keretakan mulai terjadi. Padahal pada dasarnya Deva sangat membenci Shaqil yang bermulut manis kepada semua perempuan. Bahkan ia tak segan menggoda Deva, yang jelas-jelas sahabat kekasihnya.

Sebenarnya Deva sedang berusaha meyakinkan Ei, bahwa Shaqil bukan laki-laki yang baik untuknya. Selama ini Shaqil bahkan terkesan memanfaatkan kebaikannya. Tapi, Ei terlalu yakin dengan perasaannya dan sekarang lebih percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ayolah, Deva. Kau hanya perlu bilang ya, dan aku akan langsung meninggalkan Ei demi kau." Deva mengepalkan tangan, sementara Shaqil terus mengoceh. "Kau tentu sadar bahwa kau adalah pilihan yang lebih baik dari Eiliya. Seratus kali lebih baik dari gadis bodoh itu."_(hal 27)

Di tengah kekacauan itu, Lena yang berkewajiban jadi penengah untuk mendamaikan kedua sahabatnya, seorang lelaki memasuki kehidupannya. Sagar, lelaki yang menjadi pengunjung tetap perpustakaan tempatnya bekerja, tiba-tiba menjadi lebih dekat setelah lelaki itu membayarkan belanjaan Lena di sebuah minimarket.

Kesalahpahaman antara Ei dan Deva membuat rumah 203 tak lagi sehangat dulu. Ei kabur dan memilih Daffa sebagai tempat curhatnya. Daffa yang masih sepupu Deva salah satu orang yang paling bisa memahami Ei selama ini. Terbukti, dia berhasil membujuk gadis itu untuk bicara baik-baik dengan Deva. Satu hal yang belum disadari Ei, sepertinya Daffa menyimpan perasaan spesial untuknya.

Sementara itu, hubungan Lena dan Sagar semakin menjurus ke upaya untuk mengenal lebih jauh satu sama lain. Jika sebelumnya Sagar sebatas rajin berkunjung ke perpustakaan tempat Lena bekerja, sekarang ia sudah mulai ngajak makan bareng. Lena tidak tahu akan mengarah ke mana hubungan mereka, untuk saat ini ia hanya bisa menikmatinya.

Mengingat pernah hampir dicelakai oleh orang tidak dikenal, Deva mendapat pengawalan pribadi yang dikirim oleh ayahnya. Meski teramat tidak suka privasinya disita, Deva tidak bisa menolak. Adalah Adit, satu dari tiga pengawal yang kemudian dipilih Deva. Kehadiran Adit membuat ruang gerak Shaqil untuk mendekati Deva terbatas, dan itu sangat melegakan. Namun, ada teror lain yang sedang berlangsung, yang direncanakan oleh seorang wanita yang sepertinya punya dendam di masa lalu.

"Baginya gelap bukan lagi mesin mimpi buruk, melainkan inspirasi. Inspirasi yang membawa harapan, memberinya tujuan, serta sebuah rencana pembalasan dendam."_(hal 132)

Setelah sempat merenggang, Lena, Ei, dan Deva berusaha mempertahankan persahabatannya. Masing-masing sudah mengorbankan banyak hal, dengan cara berbeda. Meski kehadiran orang-orang baru kian memperkeruh  suasana, mereka dikuatkan oleh kenangan akan kebersamaan mereka selama bertahun-tahun menghuni rumah 203.

Nahas, Shaqil bersama seseorang yang sangat misterius punya banyak cara untuk memporak-porandakan persahabatan itu. Tentu saja untuk tujuan yang hanya menguntungkan sepihak. Kali ini Shaqil menuduh Ei sebagai pelaku teror Deva beberapa waktu yang lalu. Deva tidak ingin memercayai tuduhan itu, tapi bukti yang ada terlalu kuat. Sekali lagi persahabatan mereka goyah. Mereka hanya tidak tahu, Shaqil yang menyusun semua itu teramat rapi hingga nyaris tanpa celah.

"Ketidakpercayaan yang tampak di mata Deva seakan menamparnya. Mengalahkan Ei dengan telak sehingga akhirnya ia tak lagi membela diri. Kesedihan membekap hatinya, bertransformasi menjadi kemarahan."_(hal 203)

Bagaimana nasib Ei selanjutnya? Akankah hangat persahabatan di rumah 203 berakhir? Yuk, segera miliki buku ini untuk mencari tahu jawabannya.

***

Review:

Pertanyaan pertama yang muncul di benak saya saat pertama kali menegang buku ini, ada apa di rumah 203? Setelah membaca blurb yang merupakan monolog dari ketiga tokoh sentral, yang bisa saya tangkap adalah persahabatan, yang mungkin akan diwarnai beragam konflik.

Di awal-awal memang terasa lambat, namun saya seolah terhipnotis dengan kesederhanaan diksi yang digunakan penulis. Penyampaiannya tidak bertele-tele dan mudah dipahami. Salah satu nilai plus, hampir tidak ada typo di buku ini, penggunaan kata tidak efisien pun sangat minim. Jadi enak banget menyusuri ceritanya dari bab ke bab.

Saya suka tema persahabatan yang diangkat penulis, meski saya kurang menangkap apa yang melatarbelakangi mereka sedekat itu. Maksudnya, saya mencari sesuatu di balik persahabatan itu yang lebih dari sekadar sudah kenal lama lalu tinggal bareng. Terlepas dari itu, saya salut, menggunakan rumah sebagai tema dasar cerita, penulis berhasil menaik-turunkan emosi pembaca dengan jalinan konflik yang cukup rapi di antara ketiga sahabat itu. Di tengah-tengah semakin dramatis dengan dimunculkannya teka-teki yang bikin tangan gatal untuk terus membuka halaman selanjutnya.

Tapi, konflik dari ketiga tokoh sentral untuk buku setebal 300-san halaman menurut saya kurang padat. Jadi beberapa bagian memang terasa lambat dan agak membosankan.


Overall, buku ini cocok banget untuk orang-orang yang sedang menjaga persahabatan di luar sana. Dari sini kamu bisa belajar, bahwa kepercayaan dan saling terbuka adalah pilar utama dalam hubungan apa pun.

Minggu, 09 Desember 2018

Review Novel: Alam Raya


Judul           : Alam Raya
Penulis        : rkyawan
Penerbit      : AT Press
Editor           : Ariny NH.
Layout         : Kesatria
Cover           : Kesatria
Cetakan       : Pertama, Juni 2018
Tebal            : 98 hlm
ISBN             : 978-602-52097-9-6

Blurb:
Kisah bermula saat suatu malam di Tanjung Garam, jatuh benda bercahaya yang menyilaukan. Benda asing yang diduga meteor itu jatuh di sisi timur, merangsek di antara rimbunnya hutan bakau.

Alam Raya, bocah laki-laki yang baru saja pulang dari surau ikut kaget dengan datangnya Kilauan cahaya itu. Bersama warga lain, ia ikut berlari ke arah jatuhnya benda asing tersebut. Tak ada yang tidak penasaran atas kejadian ini. Ibu-ibu keluar dari rumah, para bapak berlari mengejar, anak-anak--umumnya laki-laki--ikut membuntut di belakang.

"Meteor-meteor!" Begitu orang berteriak-teriak, melolong bagai kesetanan.

Tentang Raya yang tidak bisa berenang. Tentang Bahri dan Ayuni yang begitu menyayangi anak lelakinya. Tentang Siraid yang selalu bercerita tentang kakeknya. Dan, tentang Djamal yang merindu Tuhan-nya.

***

Alur Cerita:
Suatu malam benda bercahaya jatuh di hutan bakau. Tanjung Garam geger. Semua orang ingin tahu benda apa itu, termasuk Raya. Meski diduga kuat meteor, rasa penasaran itu tidak akan sirna sebelum melihatnya langsung. Namun, setelah mereka mencari, bahkan sampai turun ke air, benda misterius itu tidak ditemukan.

Hari-hari berlalu. Benda misterius itu mulai dilupakan karena tak kunjung ditemukan. Namun tidak dengan Raya. Ia tetap mencari, hingga bertemu sesuatu.

"Semburat jingga menelusup masuk ke dalam rongga-rongga hutan bakau. Seseorang bertubuh kurus berjalan dipandu sepuluh ekor anjing di depannya. Wajahnya pucat pasi, serupa mayat yang telah lama dikubur dan kemudian bangkit."_(hal 21)

Pencarian Raya akan benda bercahaya itu berakhir setelah Djamal--penjaga hutan bakau--menemukannya dalam keadaan tidak sadar. Semua orang jadi bingung dan panik, terlebih Bahri dan Ayuni selaku orangtua Raya.

Dalam kondisi tidak sadar itu, Raya melakukan perjalanan. Perjalanan yang membingungkan sekaligus mengasyikkan. Sementara Djamal terus berusaha mengembalikan kesadarannya.

"Dan seketika itu juga dirinya luar biasa kaget. Wujudnya kali ini adalah seekor cecak yang merayap di bilik kamar seorang gadis."_(hal 47)

Bahri menyalahkan diri sendiri. Setelah petaka yang menimpa Raya, ia merasa gagal jadi orangtua. Rasa bersalah yang berlarut-larut membawanya bergabung dengan Bapak-bapak dan pemuda di balai desa yang tengah berunding untuk sebuah keputusan besar.

Sementara itu, Raya yang tadinya lumpuh, mulai menunjukkan kemajuan setelah beberapa kali Djamal memijatnya dengan nyala api yang melayang-layang.

"Jika kemarin tangan kanannya sudah bisa digerakkan, hari ini kemajuan yang sama ditunjukkan tangan kirinya. Bocah laki-laki itu sudah bisa menggenggam, meski tak kuat genggamannya."_(hal 67)

Berawal dari usul kepala desa, mereka memutuskan untuk membakar hutan bakau yang dianggap telah mencelakai Raya. Namun, tiba-tiba hujan turun sederas-derasnya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Yuk, segera miliki buku keren ini untuk menikmati sajian kisah yang tak biasa. 😊
***

Review:
Jujur, saya bukan penikmat surealis. Makanya, saya agak heran bisa betah menikmati novel ini sampai akhir tanpa melompati selembar pun. Mungkin karena opening yang dijadikan penulis sebagai sandaran ternyaman untuk pembaca, lumayan berhasil. Sejak dikabarkan adanya cahaya yang jatuh di Tanjung Garam, saya langsung penasaran. Terlebih setelah alurnya dibikin muter-muter dan semakin banyak menjejakkan tanda tanya yang berpotensi bikin sesak bila tak ditunaikan.

Penulis menyajikan kisah Raya dengan narasi yang berbobot, rapi dan berkarakter. Terlihat sekali bahwa kemampuannya di atas rata-rata. Kalimat per kalimat dipenuhi percikan misteri, yang butuh fokus khusus agar bisa mendalami cerita dengan baik. Kendati demikian, novel ini jauh dari kesan membosankan. Secara tidak langsung penulis pandai menjanjikan sesuatu yang menarik di akhir.

Saya paling suka penggambaran setting-nya yang benar-benar berhasil tergambar jelas di benak. Tiap-tiap adegan terputar seperti film dalam kepala. Sampai-sampai saya merasa pernah melihat langsung suasana Tanjung Garam saat diterjang badai.

Yang perlu kehati-hatian, lompatan-lompatan adegannya cukup padat, beberapa bagian berpotensi membingungkan kalau kita tidak cermat. Terlebih kalau dibaca sambil lalu. Tapi dari sinilah banyak tikungan yang menghasilkan kepingan puzzle yang sungguh menarik untuk disatukan.

Salah satu nilai plus, novel ini minim typo. Nyaris tidak ada. Saya hanya terganggu dengan "ya, ya, ya" yang lumayan sering muncul. Mungkin ini ciri khas penulis, atau siasat agar cerita yang terbilang berat ini terkesan lebih santai. Saya juga kurang nyaman dengan kalimat "Masuk ke dalam" yang juga digunakan berkali-kali. Pasalnya, kalau sudah masuk, otomatis ke dalam. Jadi mungkin cukup "masuk" saja. Kecuali (mungkin) pada konteks tertentu.


Overall, bagi kamu pencinta surealis, wajib banget baca buku ini. Temanya terbilang sederhana, lalu dieksekusi sedemikian pelik. Ini memang bukan bacaan ringan, tapi setelah mencicipi bab-bab awal, dijamin kamu akan terbuai.

Minggu, 02 Desember 2018

Review Novel: Oranye


Judul          : Oranye

Penulis      : Ann Soe

Penerbit    : Pena Borneo

Editor         : Nani Sumarni

Layout        : Tim Pena Borneo

Cover          : Wahyudi

Cetakan      : Pertama, Desember 2017

Tebal           : 202 hlm

ISBN            : 978-602-50239-6-5

Blurb:
Brusssh!
Haidar melakukan dunk dengan sempurna, bertepatan dengan peluit tanda kuarter kedua berakhir. Rupanya, tak hanya memasukkan bola ke keranjang dengan tepat, Haidar juga berhasil masuk ke hati Aika.

Sebuah keterpaksaan menonton pertandingan basket membuat Aika jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pemuda itu adalah Haidar, yang berhasil membuat Aika berusaha habis-habisan untuk pedekate, sampai harus memanfaatkan kakak sepupunya, Alfan. Tapi siapa sangka, sesuatu yang disangka Aika hanya cinta monyet pengisi masa SMA menjadi pembelajaran berharga untuknya.

Tak hanya menemukan cinta, Aika juga mendapatkan sahabat, menemukan kembali arti sebuah keluarga, dan yang paling utama ia mendapati bahwa masa remaja tak melulu mengenai cinta, tapi juga tentang menemukan impian dan waktu menyusun pondasi yang kuat untuk menghadapi masa depan.

Alur Cerita:
Aika tidak suka aktivitas outdoor, terlebih sampai harus berpanas-panasan dan berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan pertandingan basket persahabatan antar dua sekolah. Tapi demi sepupunya, kali ini ia menurut.

Namun siapa sangka, di tengah permainan Aika terpikat pesona pemain nomor 19 dari SMA Nusa. Terlebih saat pemuda itu berhasil melakukan dunk yang sukses membawa timnya meraih kemenangan di detik-detik terakhir.

Melalui Risti, cewek berkacamata  yang kebetulan bersebelahan dengannya, Aika mulai mengorek informasi tentang si nomor 19 perlahan-lahan, yang ternyata bernama Haidar. Entah, Aika begitu yakin dengan perasaannya. Karena itu ia bertekad untuk memperjuangkannya.

"Rupanya, tak hanya memasukkan bola ke keranjang dengan tepat, Haidar juga berhasil masuk ke hati Aika lewat dunk-nya."_(hal 22)

Aika tidak main-main dengan perasaannya. Ia rela mendatangi sekolah Haidar hanya untuk menyaksikan pemuda itu latihan basket bersama timnya. Beruntung di sekolah itu juga ada Alfan, kakak sepupu Aika, yang kemudian sering dimanfaatkan oleh Aika.

Setelah berhasil berkenalan dengan Haidar, Aika mulai kepikiran untuk menyatakan perasaannya lebih dulu. Ia tetap bersikukuh saat Alfan melarangnya. Bahkan, ia mengajak kakak sepupunya itu taruhan.

"Nggak ada salahnya usaha, kan? Siapa tahu aku bakal jadi cewek pertama yang bisa naklukin si nomor 19."_(hal 78)

Aika berhasil memenangkan taruhan. Dengan kata lain ia jadian dengan Haidar. Hari-hari selanjutnya pun begitu manis, sangat membahagiakan bagi keduanya. Namun, ada satu masalah yang tidak disadari keduanya, yang membuat mereka terpaksa berhadapan dengan hal buruk. Baik Haidar maupun Aika, mereka kemudian dihadapkan dengan rasa bersalah, yang membuat hubungan mereka merenggang.

"Jantung Aika melewatkan satu degupan. Matanya menatap Haidar tak percaya. Mulutnya bahkan tak bisa melakukan apa pun selain ternganga. Ia sungguh tak menyangka Haidar akan melakukan ini padanya."_(hal 133)

Di tengah ketidaknyamanan itu, masalah besar menimpa keluarga Aika, yang membuat kehidupan mereka berubah drastis. Kini, Aika harus berjuang untuk menerima kenyataan, lalu memperbaikinya perlahan-lahan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana akhir kisah ini? Yuk segera miliki bukunya dan temukan sendiri jawabannya.

Review:
Asyik sekali membaca novel ini. Opening-nya keren, ditambah lagi sosok Aika yang supel, berhasil membawa kita memasuki dunia remaja yang penuh warna.

Temanya sangat sederhana, tapi penulis berhasil mengeksekusinya dengan baik. Bahasanya ringan, santai, dan meremaja banget.

Awalnya saya pikir pembahasannya hanya seputar cinta, ternyata cukup kompleks. Saya paling suka kisah persaudaraan dan persahabatan yang ikut dipaparkan di sini. Semua dikupas dari sisi berbeda yang menampakkan banyak pesan moral untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dialog antar tokohnya juga elegan, tidak bertele-tele. Pokoknya enak banget dibaca.

Saya juga suka bagian yang membahas pentingnya kekompakan sebuah tim dan bagaimana menjaganya agar tetap utuh. Yang lebih keren lagi ketika Haidar, Alfan dan teman-temannya menyadari, bagaimana sewajarnya laki-laki menerima kekalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Top banget!

Menurut saya novel ini cukup berhasil. Selain beberapa typo, saya tidak menemukan kekurangan lain. Porsinya pas.


Overall, novel ini cocok banget untuk kids zaman now, agar paham, bahwa masa remaja tak melulu soal cinta. Dan cinta yang sehat adalah cinta yang bisa saling mendukung ke arah yang lebih baik, bukan malah menjatuhkan.