Senin, 11 September 2017

Review Novel: Nama Kamu dan Dia


Judul            : Nama Kamu dan Dia

Penulis         : Misaki Aki

Penerbit      : Syifah Publishing

Tebal            : 89 hlm

ISBN             : 978-602-61612-8-4

Blurb:
Perihal jodoh adalah rahasia Sang Pencipta. Kita hanya berusaha dan berdoa untuk menantikan siapa jodoh yang ditakdirkan untuk kita. Tapi bagaimana jadinya jika kita bisa melihat nama jodoh yang muncul di kepala lawan jenis? Seperti perjuangan Emylia dalam cerita ini yang bisa melihat nama jodoh di kepala seseorang dengan bantuan teman-temannya, termasuk Liana, Hitomi, dan David.

Akankah Emylia menemukan jodohnya? Bagaimana ia bisa membuktikan kalau nama itu adalah pertanda jodoh dengan banyaknya nama yang sama di dunia ini? Akankah orang-orang terdekatnya percaya?

Alur Cerita:
Emylia seorang gadis kutu buku yang menjauh dari kata pacaran dan sejenisnya. Menurutnya, buang-buang waktu berbagi kasih sayang dengan seseorang yang belum tentu jodohnya. Hari-harinya di sekolah agak rumit. Ia sering tersudutkan dengan julukan "si kutu buku". Beruntunglah ia masih punya sahabat sebaik Liana.

Suatu hari ia mengalami keanehan. Ia bisa melihat tulisan nama dengan cahaya berbeda-beda di kepala masing-masing orang. Anehnya, di kepalanya pun ada, meski ia belum sempat membacanya. Ia berusaha untuk tidak ambil pusing. Mungkin hanya halusinasi, pikirnya. Tapi ketika tulisan nama bercahaya itu muncul kembali di kepala orang-orang, termasuk sahabatnya, ia mulai terusik. Ada apa ini? Emylia bingung. Ia harus cerita sama siapa? Pasti tidak ada yang akan percaya.

Di sekolah Emylia ada murid pindahan dari Jakarta, namanya Hitomi. Sepintas wajahnya mirip salah satu tokoh anime idolanya. Meski tak pernah berniat untuk dekat dengan cowok yang langsung jadi idola dadakan di sekolah itu, nyatanya mereka kerap bersama dan membuat banyak siswi iri sekaligus berang padanya.

Emylia ingin melakukan penelitian, memastikan maksud tulisan bercahaya yang kerap ia lihat di kepala orang-orang. Benarkah itu adalah nama jodoh mereka?

Di samping itu hubungannya dengan Liana dan Hitomi kurang baik, terjadi kesalahpahaman. Emylia mendapati kenyataan yang mengharuskannya menepis perasaan yang mulai tumbuh untuk Hitomi.

Saat ia merasa kehilangan Liana dan Hitomi, hanya Vino yang selalu menghiburnya, sahabat yang diam-diam ia taksir sejak dulu. Namun semuanya jadi rumit ketika ia melihat tulisan nama bercahaya di kepala Vino, pun di kepalanya.

Kisah kini menjadi rumit dengan adanya usaha pencarian jodoh di tengah persahabatan. Membacanya jadi ingat reality show "Kontak Jodoh". Wkwkwk ....

Di samping memahami kemampuannya bisa melihat nama jodoh seseorang yang tertulis di kepala mereka, pada akhirnya Emylia pun menemukan seseorang yang kemungkinan besar adalah jodohnya. Siapakah orang itu? Mungkinkah salah seorang di antara sahabatnya?

Makin ke belakang, kerumitan cinta dan persahabatan mendominasi pokok pembahasan. Jika penasaran, segera miliki bukunya dan baca sendiri. Hehehe ....

Review:
Ide cerita ini cukup menarik. Dari awal saya langsung penasaran dengan benang merah yang ditanamkan penulis. Tapi sayang, eksekusinya kurang berhasil. Narasi masih kaku, banjir "aku", serta pemborosan kata lainnya.

Di awal-awal sebenarnya cukup enak, ngalir, meski penamaan tokoh agak kurang klop dengan setting. Tapi di tengah-tengah, alur mulai keteteran dan tidak konsisten. Beberapa adegan menurut saya terlalu dipaksakan.

Ending-nya sungguh di luar ekspektasi saya, agak kekanak-kanakan.

Overall, novel ini lumayan untuk teman mengisi waktu luang. Meski menurut saya agak aneh anak SMA membicarakan jodoh. Mungkin lebih baik jika tokoh-tokohnya usia kuliah.

Review Novel: Just be Mine


Judul           : Just be Mine

Penulis        : Pit Sansi

Penerbit      : Bentang Pustaka

Tebal            : 358 hlm

ISBN             : 978-602-430-148-4


BLURB:
Sebagai idola remaja yang namanya tengah naik daun di dunia hiburan, Rakha Arian yakin bisa dengan mudah mendapatkan cewek mana pun. Namun, siapa sangka Adela Kiva berani menolak dan membuat cowok itu malu di hadapan media.

Sejak peristiwa memalukan itu, Rakha bertekad untuk membalas perbuatan Adela. Ada dua skenario yang ia rencanakan. Pertama, ia akan membuat gadis itu jatuh cinta padanya, kemudian mencampakkannya di hadapan media. Kedua, membuat Adela kehilangan beasiswa hingga dikeluarkan dari sekolah. Atau, jika keduanya gagal, Rakha tak akan gentar menyusun rencana baru yang lebih kejam!


Alur Cerita:
“Kenapa juga gue harus suka sama lo?”_(hal 15)

Kalau boleh memilih, tentu Adela tidak ingin berurusan dengan makhluk bernama Rakha, yang menurutnya angkuh dan menyebalkan. Tapi entah inisiatif dari mana, tiba-tiba saja cowok itu mengakuinya sebagai pacar di depan para wartawan yang sedang mengklarifikasi alasan pindahnya ke sekolah baru.

Sebagai artis yang tengah berada di puncak popularitas, ditunjang tampilan fisik yang memang bikin cewek-cewek nelan ludah, Rakha memiliki banyak penggemar yang tergabung dalam "Arlov" (Arian Lovers). Anehnya, Adela malah tidak suka. Semua magnet pesona yang melekat di tubuh cowok itu seolah tak berfungsi baginya.

“Bagi Adela, tidak peduli setampan apa pun Rakha, sikap angkuh dan sombong cowok itu sudah meruntuhkan kekaguman fisik yang ada di kepalanya.”_(hal 13)

Rakha sangat malu setelah Adela terang-terangan menolak diakui sebagai pacar, bahkan tidak segan menepis rangkulan cowok itu dengan kasar sementara banyak kamera mengarah ke mereka. Yang terjadi selanjutnya sudah bisa dipastikan, gosip keduanya langsung memenuhi media pemberitaan infotainment.

Nama Rakha tercoreng, banyak PH yang membatalkan perjanjian kerjasama. Ia harus berhasil menaklukkan Adela dan memintanya mengklarifikasi ke media jika tidak ingin kariernya hancur. Berbagai rencana pun mulai terancang di benaknya. Ia hanya tidak tahu, menghadapi Adela tak semudah yang ia pikirkan.

Adela sendiri merasa hidupnya kacau sejak bertemu dengan cowok menyebalkan itu. Serta merta ia dinobatkan sebagai musuh para Arlov. Berbagai kesialan terus menghampiri. Namun, semakin ia menghindar, ada-ada saja yang membuatnya kembali harus berurusan dengan artis yang memiliki segudang penggemar itu.

Di tengah sikap judes serta sikap super strong demi menghindari kejaran Rakha, diam-diam hati Adela tengah tertawan di keabu-abuan masa silam. Ada kisah menggantung yang membuatnya betah merawat rindu, meski dibumbui kecemasan.

Sumpah, Adela ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Rakha. Hidupnya semakin rumit sejak bertemu dengan cowok itu. Setelah Kehilangan pekerjaan karenanya, Adela memang cepat menemukan gantinya, tapi malah jadi guru les Raya, adik Rakha. Seharusnya Adela tidak menerima pekerjaan itu, tapi ia butuh penghasilan untuk membiayai sekolah Leo, adiknya.

Di awal-awal, aksi kucing-kucingan memang berhasil dimenangkan Adela, berkat bantuan Raya juga yang kompak menyembunyikan sosok guru les barunya itu. Tapi tidak selalu. Suatu hari Rakha pun tahu, bahwa cewek yang sedang ia buru demi meredam pemberitaan tentang dirinya yang telanjur merebak di media, malah ada di rumahnya. Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat Adela mematung seketika saat itu, tapi kemunculan Kevan di saat bersamaan. Kok, bisa pacar LDR-nya itu ada di rumah Rakha?

Masalah baru berawal di malam reuni pengurus OSIS, ketika Adela mau-mau saja menuruti permintaan Kevan yang terbilang konyol. Benar saja, Adela bukannya berhasil membuktikan perasaannya yang masih sama kepada Kevan, melainkan mempermalukan diri sendiri dan memperkeruh polemik antara dirinya dan Rakha.

“"Lo?" Baik Adela maupun Rakha sama-sama terkejut luar biasa. Keduanya kompak saling menunjuk.”_(hal 107)

Pada akhirnya Adela menyadari satu hal, tentang guratan-guratan rindu yang memenuhi buku catatannya, jua pesan-pesan tak berbalas. Semua tentang Kevan, pacar LDR-nya. Ia mengambil keputusan yang mengawali persaingan terbuka antara cowok itu dan Rakha.

Sejak kejadian memalukan malam itu, Adela makin gesit menghindari Rakha. Bukan hanya untuk menghindari gosip, tapi mempertahankan harga diri. Rakha tidak tahu, betapa sulit semua ini untuk Adela.

Namun, keras kepala Adela sesekali diruntuhkan oleh satu hal, perasaan aneh yang tiba-tiba menyesaki dadanya tiap kali harus berurusan dengan Rakha.

“Tanpa sadar, sudut-sudut bibirnya terangkat hingga membentuk sebuah senyuman. Dadanya terasa menghangat. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang aneh di sana. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri.”_(hal 205)

Berbekal tips-tips dari Wira, teman duduknya, Rakha terus mendekati Adela. Ia menjelma jadi sosok pejuang cinta yang rada gombal. Hehehe ....

Di tengah usaha dua cowok yang berjuang menenangkan hatinya, Adela punya masalah lain. Tiba-tiba saja ia merasa kehilangan adiknya--Leo--sejak kemunculan orang-orang yang seharusnya tak perlu ada di kehidupan mereka.

Bagaimana kelanjutannya? Segera miliki bukunya dan baca sendiri, ya! Hehehe ....

Review:
Dari awal baca novel ini saya langsung suka. Temanya cukup umum sebenarnya, tapi penulis piawai mengikat pembacanya. Saya cukup menikmati cara penulis memperkenalkan tokoh-tokohnya pelan-pelan, kita sebagai pembaca jadinya nggak kaget.

Saya betah mengikuti konflik hubungan Rakha dan Adela, rumit tapi ngangenin. Benang-benang merah digabungkan dengan halus tanpa perlu mengerutkan kening. Beberapa bagian malah sengaja dibikin acak dan begitu manis setelah disatukan.

Terlepas dari semua itu, saya merasa plot agak lambat di tengah-tengah, timpang sama awalan yang menggebu-gebu dan ngalir lancar. Bagian-bagian akhir beda lagi, menurut saya agak buru-buru dan terlalu banyak "kebetulan". Sama satu lagi, saya agak terganggu dengan kemunculan spesial part setelah kata "TAMAT". Bila masih di wattpad, mungkin ini sah-sah saja, tapi kalau sudah dalam versi cetak, menurut saya lebih baik tidak ada part tambahan setelah cerita dianggap selesai.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak dinikmati. Di tengah kerumitan hubungan tokoh utama, banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita ini. Tidak seperti novel teenlit pada umumnya, novel ini tidak melulu membahas cinta. Beberapa part menuju ending, cerita diperkuat oleh hubungan persaudaraan yang melibatkan peran batin. Saya sangat terkesan.

Untuk penyelesaian cerita cukup manis, benar-benar dituntaskan tanpa ada yang terlupakan dari sekian kerumitan.

Minggu, 10 September 2017

Review Novel: Gadis Pembungkam Dusta




Judul          : Gadis Pembungkam Dusta

Penulis        : Kusmia Az-Zahra

Penerbit      : Ujwart Media Publisher

Tebal          : 121 hlm

ISBN          : 978-602-60524-1-4

BLURB
Bagaimana mungkin seorang pria populer di kampus terseret kasus kriminal, terlebih menghilangkan nyawa saudaranya sendiri.
Faizal meronta dan menegaskan bahwa dia bukan pelakunya. Namun telinga dan kepercayaan mulai roboh, tak seorang pun yang ingin mendengar. Seorang ibu yang ia hormati, justru dialah yang menyeret putranya ke dalam sel, tanpa belas kasih. Hanya gadis berjilbab misterius yang selalu menundukkan pandangannya hingga tak tampak sosoknya, kini malah hadir dengan identitas baru.

Ya, dia bukan gadis biasa. Dia mampu menghipnotis dan mematahkan analisa penggugat dalam hitungan detik. Lantas, siapakah gadis itu?
_*_

Cerita ini berfokus pada kasus pembunuhan misterius yang melibatkan Faizal sebagai tersangka. Yang terbunuh adalah Faris, adiknya. Ia yang pertama kali menemukan mayat sang adik di ruang dapur rumah mereka, lalu disusul sang ibu, tepat ketika posisi Faizal memungkinkan tuduhan melayang padanya. Maka di sinilah awal musibah di hidup Faizal bermula.
Beruntung ia punya teman baru seperti Khadijah, gadis yang siap membantunya untuk mengungkap kebenaran. Khadijah adalah mahasiswi baru yang dikenalnya semasa ospek. Kebetulan ia tergabung dalam panitia kala itu. Saya suka sosok Khadijah yang misterius dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Di tengah rumitnya masalah yang menimpa Faizal, terkuak fakta baru yang membuatnya semakin tak keruan. Ia mulai frustrasi. Masalah seolah menarik masalah lainnya. Di dalam sel, ia bertemu orang-orang yang menyadarkannya banyak hal. Diam-diam saya turut mengambil banyak pelajaran dari konflik cerita ini.

“Kalau pun aku membusuk dalam penjara itu, hanya ragaku, kebenaran akan tetap hidup. Jika aku dihukum mati, itu hanya ragaku, kebenaran tidak akan mati.” (hal 85)

Secara gagasan novel ini kuat. Meski bukan sesuatu yang baru, saya suka idenya. Cara Khadijah mengungkap kasus pembunuhan itu cukup membuat saya terkesan. Sayangnya tidak ditunjang dengan hal lainnya. Penulis seakan mengabaikan tanda baca, bahkan ada penulisan nama yang tidak diawalai kapital. Ini cukup fatal menurut saya. Cara bertuturnya juga masih kaku, banyak pengulangan kata yang tidak perlu. Dan yang paling saya soroti, terlalu banyak opening yang menampilkan kalimat ini, “angin menerbangkan daun kering”. Setiap penulis punya cara penyampaian tersendiri, tapi menurut saya kurang masuk dengan susunan kalimat selanjutnya.
Tapi terlepas dari catatan di atas, saya salut keberanian penulis menyuarakan hukum, membuat cerita ini berbobot.

“Begitulah, Nak, negara ini seperti monopoli. Siapa yang banyak uang, maka dia yang bebas hukuman dan berhak mengocok dadu lagi. Atau bisa saya katakan hukum ini mirip jarum, semakin ke bawah maka semakin tajam. Maksudnya, semakin hukuman itu dijatuhkan pada rakyat bawah, maka hukumannya semakin tajam juga.” (hal 69-70)

Meski menurut saya masih bisa dieksplor, suasana persidangan Faizal beserta dua tersangka lainnya cukup menegangkan. Penulis menggiring kita ikut menduga-duga pelaku sebenarnya. Dan pada akhirnya kebenaran selalu menang, meski sempat tertatih-tatih. Dari alasan pelaku melakukan pembunuhan itu, lagi-lagi kita bisa mengambil pelajaran.

Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan mengirimkan bantuan seribu kekuatan malaikat kepadamu. (hal 115)

Selasa, 08 Agustus 2017

Review Kumcer: Suatu Pagi di Dermaga




Judul             : Suatu Pagi di Dermaga

Penulis          : Khairani Piliang

Penerbit        : LovRinz Publishing

Tebal             : 169 hlm

ISBN            : 978-602-6652-25-6

BLURB
“Nak apa ke sini, Pipit kecil?” Randu berkata seolah suaranya adalah angin. Setengah menyipit, mata indah Lintang yang berbulu panjang dan lentik menatap tajam Randu.
“Masih bertanya setelah ingin meninggalkanku tanpa pamit, maksudnya apa, hah?” sergah Lintang sengit.
Randu hanya berdiri mematung sesaat. Sedetik kemudian tangannya mulai terangkat meraih jari-jemari Lintang, lalu menyelipkan sesuatu di baliknya.
“Aku tahu kau akan ke sini. Segera simpan dan buka nanti di benteng, aku akan menyuratimu selanjutnya.”
(Suatu Pagi di Dermaga)

Bagi kalian berdiri di tengah keluarga yang masih utuh, mungkin sangat menyenangkan. Tapi kesenangan bagiku adalah ketika aku bisa menghitung jumlah bintang saat langit sedang cerah., meskipun mataku akan berair karenanya. Dan itu sudah kelakukan sejak lama. Sejak aku bisa menggambar wajah kedua orangtuaku dengan kerlip cahayanya. Walau tak sebagus lukisan di kanvas.
(Bukan Cinta Biasa)

Sudah gelas kesekian, kembali kau seduh. Matamu masih nyalang karenanya. Berpuluh puntung beracun masih saja tak henti-henti kau hisap, serupa asap kereta uap yang berjalan di atas rel yang tak putus-putus. Pikiranmu terus saja menerawang dalam malam yang bisu. Ada sebilah rasa sakit di sana. Belum bisa kau urai, namun keangkuhanmu mematikannya.
(Pagi Tanpa Hujan di Musim Hujan)

Cerpen-cerpen Khairani Piliang mengeksplorasi berbagai permasalahan dalam relasi antar manusia; cinta, pengkhianatan, kemarahan—dan nyaris semuanya bernada getir.
(Yetti A.KA, Penulis)

Saya memang tidak terlalu menggilai cerpen sebagaimana menggilai novel, tapi beberapa buku kumpulan cerpen sudah saya khatamkan. Dan menurut saya cerpen-cerpen dalam buku ini tergolong pendek dibanding cerpen pada umumnya. Penulis banyak bermain dengan luka-perih pengkhianatan, disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun berbobot. Cerpen “Bukan Cinta Biasa” dan “Dalam Balutan Usia” sepertinya jadi cerpen favorit saya dalam buku ini. Keduanya menghanyutkan. Sebenarnya secara gagasan ada yang lebih keren, tapi kebetulan kedua cerpen itu sesuai dengan selera bacaan saya.
Meski beberapa cerpen terkesan datar dan alurya mudah ditebak, buku ini cukup berwarna karena penulis berani mengeksplor berbagai genre. Mulai dari yang melow, berbau mistis, hingga fantasy. Ada bagian-bagian yang terkesan “aneh”, sehingga untuk memahaminya tak cukup hanya sekali baca.

Wanita itu perlahan melepaskan kendi itu dari tangan, lali mulai menari mengikuti alunan musik yang tercipta. Kendinya tidak jatuh meski wanita tadi tak lagi memegangnya, dan air masih saja mencipta irama pengiring tarian itu. Tangan wanita itu begitu lentik dan mahir dengan lenggak-lenggok seperti seorang penari profesional. Aku tertegun sesaat, gerakan gemulai dengan kecantikan sempurna memancar dari wajahnya. Yah, patung tadi kini menjelma wanita seutuhnya. (kutipan cerpen “Patung Tangan” hal 33)

Yang saya rasakan, penulis berusaha menunjukkan totalitasnya, meski tak sepenuhnya berhasil. Di samping itu, penulis cukup peka dalam mengangkat tema cerita. Terbukti dengan diceritakannya kembali kisah Pinokio dalam versi baru berjudul sama yang lagi-lagi berbau pengkhianatan. Cerpen yang satu ini alurnya cukup mengecoh, dan menurut saya sangat unik.
Saya juga sangat terkesan dengan cerpen “Gaun Merah”, sebuah kerumitan yang dieksekusi secara cerdas. Mantap! Meski beberapa cerpen lainnya masih lemah, seperti ada yang mengganjal, bahkan terkesan belum kelar. Sah-sah saja jika itu salah satu siasat penulis untuk membangun ceritanya, hanya saja saya gagal menikmatinya. Mungkin balik lagi ke selera masing-masing.
Salah satu keunikan buku ini, hampir semua cerpen diawali sealenia kalimat pembuka yang mengundang minat baca. Semacam prolog, yang susunan tiap katanya dipertimbangkan matang-matang.

Merpati itu terbang membawa pesan yang kutitip kemarin. Berisi potongan kata, irisan pelangi, seikat bintang dan beberapa pucuk rindu untuk kekasihku. Tapi bukan potongan senja milik Seno Gumira, karena aku benci senja. Sebab dia telah menenggelamkan mentari dari matanya. (Kutipan cerpen “Kantung Cinta Untukmu” hal 143)

Sebagai penutup, penulis menyajikan intuisi yang dipersembahkan spesial untuk hubby-nya. Kata-kata yang tersusun di sana bikin mata tak berkedip sepanjang membacanya. Saya sedikit kecanduan, hingga mengulang tiga kali membacanya. Memang tidak begitu puitis, tapi makna di setiap kalimatnya begitu dalam.

Aku melukismu di secangkir kopi hitamku yang nyaris tandas. Kopi pahit tanpa gula, tapi kusuka. Kepulan hangatnya menyelimutiku dari gigil suasana. Dan manis yang tersirat setelah pahit yang kutelan mengajarkanku untuk bisa sedikit lebih lama mempermainkan rasa. (Kutipan intuisi 1 hal 163)

Terakhir, buku ini cocok untuk kamu penikmat cerpen yang ingin menyesapi banyak genre dalam satu genggaman.

Jumat, 04 Agustus 2017

Review Novel: Prince Blue Safir




Judul             : Prince Blue Safir

Penulis          : Angel El Cherid

Penerbit        : Histeria

Tebal             : 218 hlm

ISBN            : 978-602-6595-89-8

BLURB
Prince Blue Safir mengisahkan tentang seorang pemuda yang kembali dari California setelah sepuluh tahun menimba ilmu. Ia membuktikan bahwa waktu bisa merubah segalanya, termasuk sifat. Ia yang saat kecil dikenal dengan kebaikan dan kelembutan, kini kembali dengan keangkuhan dan kesombongan. Menjadi pengusaha kerajaan bisnis di usia muda membuat pemuda berparas rupawan itu menjadi sangat dingin dan semaunya sendiri.

Safir tidak dekat dengan siapa pun kecuali Alfa, sahabatnya sejak kecil sekaligus rekan bisnisnya. Hanya bersama Alfa, ia bisa tertawa dan bersifat konyol. Hingga suatu ketika, takdir mempertemukannya dengan Chaty, putri mantan rekan bisnis ayahnya yang bangkrut. Sikap Chaty yang berani mempermalukannya di depan semua orang, membuat Safir berang. Pemuda itu menginginkan Chaty menjadi pelayan pribadinya, dan dengan segala cara, akhirnya keinginannya terwujud. Tapi, dari situlah kisah ini bermula. Pertengkaran konyol mereka, sikap jaim dan keras kepala yang mereka miliki perlahan tumbuh menjadi perasaan yang sulit diartikan. Diam-diam mereka saling menyukai, hanya saja, Safir terlalu angkuh untuk mengutarakan perasaannya. Chaty merasa tersiksa dengan sikap Safir yang terkadang sangat manis, tapi juga temperamen, seolah ia memiliki kepribadian ganda. Safir selalu marah berlebihan jika Chaty dekat dengan Alfa dan Safir tidak segan memperlakukannya dengan kasar. Sikap itulah yang membuat Chaty memilih pergi dari rumah itu dan menetap bersama Alfa sementara waktu.

Tapi malang, ternyata Alfa tidak sebaik yang ia kira. Nasib Chaty justru berakhir di tangannya. Gadis malang itu meninggal setelah mengalami pemerkosaan keji dan siksaan bertubi-tubi. Tubuhnya bahkan dibuang begitu saja. Alfa ingin menghancurkan semua yang dekat dengan Safir karena dendam masa lalu. Sayangnya, Safir sangat percaya padanya.

Waktu pun melompat jauh. Empat tahun kemudian, tidak disangka ternyata Safir benar-benar mencintai Chaty. Ia mencari Chaty sepanjang waktu dan menyesali semua perbuatannya. Safir bahkan seolah lalai dalam bisnis hingga akhirnya perusahaannya mengalami masa sulit. Safir meminta bantuan pada Damitri Company, perusahaan yang dimiliki seorang gadis bernama Aleya Damitri. Gadis arogan, berkuasa, dan sangat dihormati, yang membuat Alfa dan Safir tercekat karena ia sangat mirip dengan Chaty.
Mungkinkah ia Chaty?

-*-

Di perjumpaan pertama, saya pikir ini novel terjemahan fantasy, nyatanya salah besar. Sebelum membahas isi novel ini secara keseluruhan, pertama-tama saya mau bilang bahwa saya suka cara penulis memberikan kata pengantar. Bahasa yang digunakan cukup puitis dan manis untuk ukuran kata pengantar. Kita seolah dijanjikan sesuatu yang menarik, membuat tak sabar untuk lekas menikmati sajian ceritanya.

Seperti hujan yang menyatukan langit dan bumi
Cinta ibarat napas yang mengikat ….
Melebur di setiap nama, dan hilang menjadi rasa ….
Rasa yang tak pernah menua, ataupun binasa
Yang menyatukan … setiap kisah yang berbeda …. (hal 1)

Bab pertama dibuka dengan sebait puisi yang manis, berlanjut dengan kepulangan Safir, seorang pemuda berparas rupawan selepas menimba ilmu di Standford University, California. Meski memiliki tampilan fisik yang nyaris sempurna, tapi hati Safir tak demikian. Ada sebuah rahasia yang membuatnya bersikap dingin. Rahasia apa itu? Tentu tidak akan saya bongkar di sini. Silakan baca dan temukan sendiri. Hehehe ….
Awal-awal membaca novel ini saya tidak mendapatkan ruhnya. Saya tidak merasa terlibat dalam cerita, serta kurang bisa membayangkan di mana tempat kejadian. Mungkin karena penulis terlalu fokus menggambarkan sosok Safir yang teramat sempurna, hingga lupa mengeksplor bagian lain. Terus terang, ketampanan Safir yang dipaparkan berkali-kali menurut saya berlebihan.
Di malam launching perusahaan baru milik Alfa, teman masa kecil sekaligus rekan bisnisnya, Safir tak sengaja bertemu dengan Chaty, gadis yang berani melawan dan mempermalukannya di depan umum. Sial, selama ini tak ada gadis yang berani bersikap demikian, bahkan mereka rela diapakan saja. Hal itu membuat Safir berang dan diam-diam ingin tahu apa pun tentang Chaty.
Karena tidak terima dipermalukan di depan umum, singkat cerita Safir menjadikan Chaty pelayan pribadi. Tentu saja setelah mendapatkan kartu mati yang membuat Chaty tak mampu berkutik. Di sinilah hubungan yang motifnya banyak juga kita temukan di film India dan drama Korea bermula. Penulis menggambarkan sosok Chaty yang terpaksa menjalani perannya, ingin melawan namun tak berdaya, bahkan diam-diam mulai mencintai pemuda yang memperlakukannya semaunya. Hal ini sukses membuat saya muak dengan sosok Chaty, beberapa bagian membuat saya tak habis pikir.

Sementara Chaty mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia hanyut dalam permainan Safir yang memalukan. Walaupun tak bisa ia pungkiri ada sesuatu dalam dirinya yang begitu menginginkan Safir. Bukan seperti perasaannya pada mantan pacarnya selama ini, tapi jauh seperti rasa bahagia. Benar-benar perasaan yang aneh. (hal 32)

Setelah tidak tahan dengan semua perlakuan Safir, pada akhirnya Chaty memilih kabur, mencoba mencari perlindungan pada Alfa. Nahas, pemuda itu menyimpan dendam berkarat pada Safir yang memicu berbagai perbuatan keji hingga tega menghabisi nyawa Chaty. Di sinilah Safir mulai luluh, ketika ia merasa kehilangan. Kehilangan yang memaksanya mengakui sebuah perasaan yang tanpa sepengetahuannya telah merumpun dalam hatinya.

“Chaty, mengapa aku merasa ada yang salah denganmu, tak seharusnya kau menyiksaku seperti ini. Mengapa kau tak pernah pulang padaku. Jangan membuatku cemas,” bisik hati Safir. Bayangan Chaty seolah menari-nari di pelupuk matanya. (hal 89)

Menurut saya beberapa plot novel ini terkesan buru-buru, menyisakan bagian-bagian yang seolah tidak tuntas. Selain itu perpindahannya juga agak kaku. Ditambah penggunaan banyak sudut pandang dengan sesekali memunculkan sudut pandang para tokoh yang menurut saya kurang pas.
Empat tahun setelah Safir kehilangan Chaty, ia terus mencari. Hal itu membuat konsentrasi kerjanya berkurang hingga membawa kerajaan bisnisnya di ambang kebangkrutan. Di sinilah takdir mempertemukan Safir dengan Aleya, gadis pemilik Damitri Company yang diharapkan bisa menyelamatkan perusahaannya. Bukan sikap arogan Aleya yang membuat Safir tercengang, tapi wajahnya yang sangat mirip dengan Chaty. Di awal-awal Safir sempat sangat yakin bahwa ia memang Chaty.
Kali ini Safir seolah menghadapi karmanya, menempati posisi Chaty dulu ketika ia memperlakukannya semena-mena. Ia membiarkan Aleya menginjak-injak harga dirinya demi sebuah perjanjian kerjasama. Bahkan menyeretnya masuk dalam permainan yang sepenuhnya dikendalikan oleh Aleya. Dari sinilah hubungan rumit selanjutnya bermula. Safir hanya tidak tahu, di balik semua itu ada dendam yang terbalut dengan rapi.

Kematian tak harus dibayar dengan kematian
Tapi cukup dengan memberikan tekanan dan luka yang membuatmu bahkan tak ingin hidup lagi, Safir Alvaro. (hal 109)

Baik Safir ataupun Aleya, hubungan tak jelas mereka pada akhirnya menyadarkan keduanya akan hal besar yang selama ini membuat mereka salah langkah. Di bagian ini cerita semakin dramatis dan agak melow. Terlebih setelah Safir sadar sepenuhnya akan semua kesalahannya selama ini.

Safir benar-benar hancur, bahkan ia tidak peduli pandangan orang-orang yang berbisik melihat seorang Safir Alvaro terduduk lemah tak berdaya dan menangis karena seorang wanita. (hal 193)

Terlepas dari beberapa kekurangan, membaca novel ini cukup menegangkan. Konfliknya cukup tajam dan menanamkan rasa tak sabar untuk mengungkap misteri yang ditanam penulis di setiap bab. Meski kehadiran tokoh Karina menurut saya tidak penting. Dihilangkan pun sepertinya tidak terlalu berpengaruh pada cerita.
Terakhir, sebaiknya novel ini diberi label “Dewasa”. You know-lah! Hehehe ….