Jumat, 26 Januari 2024

Belahan Jiwa dari Dunia Lain (Bab 1)


 

Keenam orang yang sedang mengitari meja bundar dalam ruangan ini pasti merasakan hal yang sama: bangga, senang, tidak sabar, dan mungkin sedikit tegang. Buktinya, beberapa kening tampak dihiasi bintik-bintik keringat, sementara AC dalam kondisi on dan berfungsi dengan baik.

Berkali-kali Indah menarik napas panjang. Sejak tiga minggu yang lalu, sejak Prof. Hamdani akhirnya mengumumkan nama-nama yang dipilihnya untuk bergabung dalam tim ekspedisinya kali ini, sampai detik ini euphoria dalam diri Indah belum reda. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan langka ini.

Bergabung dengan tim ekspedisi yang dibentuk per dua tahun ini adalah impian semua mahasiswa Arkeologi di Universitas Kencana, terlebih untuk penghuni semester akhir seperti Indah. Indah sering dengar dari senior, bahwa ilmu yang dipaparkan Prof. Hamdani di kelas tidak ada apa-apanya dibanding apa yang didapatkan setelah terlibat langsung di lapangan. Itu yang membuat Indah sangat menantikan kesempatan ini.

Diam-diam Indah mengamati ekspresi kelima rekan yang akan diajaknya bekerjasama di ekspedisi pertamanya ini. Di antara mereka hanya Raya yang sudah pernah terlibat di ekspedisi Prof. Hamdani sebelumnya. Bisa dibilang, ia paling berpengalaman. Kendati demikian, ekspresinya terlalu kaku untuk dibilang santai. Sedang untuk Eva dan Dian, pengalaman pertama ini membuatnya lebih pendiam dari sebelumnya. Indah yakin, Tio juga sama tegangnya. Hanya saja lelaki kribo yang terkenal kocak itu punya gesture andalan agar bisa terlihat biasa-biasa saja. Yang terakhir, Kevin. Ah, Indah malas membahasnya. Kenapa juga Prof. Hamdani harus memilihnya?

Indah dan Kevin dulunya sahabat, sebelum Kevin menghancurkan segalanya dengan sebuah pengakuan yang membuat Indah memilih menjauh. Menurut Indah, cinta yang tumbuh dalam persahabatan adalah kekonyolan. Sedang menurut Kevin, kekonyolan yang dimaksud Indah adalah sesuatu yang berhak tersampaikan. Sampai sekarang mereka masih sahabatan. Ya, setidaknya itu yang terlihat dari luar. Karena sejatinya hubungan mereka tidak bisa sehangat dulu lagi.

Keenamnya kompak menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Prof. Hamdani. Kehadiran profesor paling tersohor di kampus itu, lelaki jangkung yang tetap gagah di usianya yang hampir berkepala lima, membuat suhu ruangan kian meningkat. Pandangan mereka tak lepas dari sosok Prof. Hamdani, hingga lelaki berkacamata itu mengisi kursi kosong di salah satu sisi meja.

Prof. Hamdani mengeluarkan sebuah buku lusuh yang pinggiran sampulnya mulai mengelupas dari tas kerjanya, lalu membenarkan posisi kacamatanya dan mengedarkan pandangan sebelum mulai bicara.

"Apa kabar semuanya?"

"Baik, Prof," jawab mereka serentak.

"Jadi, persiapan apa yang sudah kalian lakukan selama tiga minggu ini?"

Mereka bersitatap, tapi tidak ada yang menjawab dengan tegas. Hanya terdengar gumaman berisi jawaban klise.

"Saya harap kalian sudah memanfaatkan waktu dengan baik, karena jadwal keberangkatan kita dimajukan."

Karena sudah lelah memangku rasa tidak sabar, tentu saja mereka menyambut perubahan jadwal itu dengan senang hati. Meski tak dipungkiri mereka pun lebih tegang di saat bersamaan. Mereka khawatir persiapan yang telah dilakukan belum cukup. Dan berbagai pemikiran-pemikiran tidak penting yang sangat manusiawi untuk sebuah pengalaman pertama.

"Saya, dibantu beberapa teman, sudah mengunjungi lokasi untuk meminimalisir hambatan yang akan kita temui nantinya. Karena semuanya dirasa sudah beres, lusa kita berangkat."

Deg!

Rasa tidak sabar yang dibalut ketegangan kian jelas memancar di wajah mereka.

"Pada ekspedisi kali ini kita akan melakukan penelitian terhadap benda ini." Prof. Hamdani memperlihatkan sebuah gambar cincin di salah satu halaman buku tadi.

Semua tatapan mengarah ke gambar itu.

"Cincin naga berkepala manusia ini tersemat di jari manis patung putri di sebuah gua yang berlokasi di pedalaman hutan Papua."

"Putri?" Eva, gadis bertubuh ceking yang pertama kali mengikis tumpukan tanda tanya dalam kepalanya.

"Ya, putri. Sosok gadis berparas cantik, sesuai yang tertulis dalam buku ini."

"Lalu, apa keistimewaan cincin itu, Prof?" timpal Dian, gadis yang dikenal berwatak keras.

"Konon, barang siapa yang berhasil mencabutnya, maka berhak mengucapkan satu permintaan yang pasti terkabulkan."

Mereka tercengang mendengar penuturan Prof. Hamdani. Beberapa memasang tampang sangsi.

"Satu permintaan yang pasti terkabul? Apakah seperti dalam dongeng Jin Lampu?" Tio bermaksud serius, tapi tetap saja tampangnya terlihat kocak.

"Mungkin. Tapi ini jelas-jelas bukan dongeng. Sejarah lengkapnya terpapar dalam buku ini." Prof. Hamdani mengangkat bukunya. "Sudah banyak arkeolog yang tertarik untuk menemukan cincin itu. Mereka datang dari berbagai belahan dunia. Tapi selalu gagal. Bahkan masuk ke guanya pun tidak bisa."

"Apa yang menyebabkan kegagalan mereka, Prof?" tanya Kevin, lelaki berwajah oriental dengan aroma farfum kelas dunia yang selalu melekat di tubuhnya.

"Itu yang harus kita temukan jawabannya."

Mereka bersitatap. Rasa tidak sabaran semakin pekat.

"Kita akan melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan zona nyaman. Jangan pernah berpikir ini akan mudah. Tolong persiapkan diri kalian. Fisik maupun mental!"

Mereka mengangguk samar.

"Saya harap, saya tidak salah pilih orang."

"Siap, Prof!" seru mereka serentak.

***


Meski gambar cincin naga berkepala manusia dalam buku Prof. Hamdani terus terbayang di benak Indah, keluar dari ruangan itu langkahnya begitu riang dengan senyum mengembang sempurna. Sejak Prof. Hamdani mengumumkan akan membentuk tim baru, sejak itu pula hara-harap cemas memenuhi dada Indah. Mengingat sudah semester akhir, ia sangat berharap bisa terpilih, atau tidak sama sekali. Wajar setelah keinginannya terwujud, ia sangat bahagia.

Entah apa yang membuat Indah sangat tertarik dengan dunia arkeologi. Padahal penampilannya yang super girly sama sekali tidak menampakkan ketertarikannya pada benda-benda kuno. Menurutnya, benda-benda kuno menyimpan sejarah tersendiri yang selalu menarik untuk dikaji.

Sepertinya minat itu turunan dari almarhum papanya, yang semasa hidup merupakan arkeolog terkenal yang sukses dalam berbagai ekspedisi besar. Dunia berkali-kali memberitakannya. Meskipun pada akhirnya nyawanya harus melayang sebagai bayaran dari sebuah ekspedisi yang gagal. Namun Peristiwa itu sama sekali tak mengurangi semangat Indah dalam menekuni dunia arkeologi. Bahkan sebaliknya, ia malah terpacu untuk mengulang kesuksesan Papa suatu hari nanti.

"Woe, tungguin." Tanpa menoleh Indah tahu, itu suara Rina. Indah memelankan langkahnya hingga gerakan setengah berlari gadis bertubuh mungil itu berhasil menyajarinya.

"Eh, serius lusa lo berangkat?" tanya Rina setelah pola napasnya kembali teratur.

"Tahu dari mana?"

"Anak-anak pada ngomongin."

"Terus?"

"Prof. Hamdani itu selalu ngadain ekspedisi di tempat-tempat aneh. Kalau nggak terpencil, ya serem. Lo nggak takut, apa?" Rina bergidik.

"Please, deh, Rin. Gue ini mahasiswi arkeologi semester akhir, tapi selama ini cuma berada di dalam kelas dan bergelut dengan teori dan teori. Ini benar-benar kesempatan emas agar gue bisa bersentuhan langsung dengan dunia arkeologi yang sesungguhnya." Indah sengaja melakukan penekanan di beberapa kata.

"Lo seantusias ini bukan karena Kevin juga gabung, kan?"

Indah memutar bola mata malas.

"Kabar tentang dia nembak lo minggu lalu jadi topik hangat seantero kampus, loh."

"Bukan nembak, Rin. Cuma biar gue tahu aja."

"Bedanya apa?"

"Terserah lo, deh." Indah mempercepat langkahnya.

"Eh, gue nebeng sama lo, ya."

"Mobil lo ke mana lagi?"

"Masih di bengkel pas habis nabrak pagar kemarin."

Seketika Indah terpingkal mengingat kejadian lucu beberapa hari yang lalu. Sahabatnya itu memang belum terlalu lancar mengemudikan mobil. Berbagai kecelakaan-kecelakaan kecil pun mewarnai hari-harinya. Terakhir, ia menabrak pagar kampus.

***


Rasa bahagia yang berbaur dengan kemisteriusan cincin naga berkepala manusia itu mengiringi perjalanan pulang Indah. Setelah mengantarkan Rina, sengaja ia tidak mampir ke mana-mana, langsung ke rumah. Ia sudah tidak sabar menyampaikan jadwal keberangkatannya kepada Ranti, mamanya. Setelah memarkir mobil di garasi, Indah berlari-lari kecil memasuki rumah berlantai dua bergaya minimalis kontemporer itu.

"Ma ... Mama! Ma ...!" panggil Indah setengah teriak. Ia menemukan Mama tengah bersantai di ruang tengah sambil membaca majalah perempuan favoritnya. Ia langsung mengambil posisi bersisian.

Ranti sekaligus merangkap sebagai ayah untuk Indah sejak beberapa tahun terakhir. Selaku single parent, wajar jika ia agak over protectif. Sebenarnya ia tidak pernah setuju Indah kuliah di jurusan arkeologi, karena hal itu seolah mendekatkannya pada musibah yang pernah menimpa almarhum papanya. Terlebih saat Indah mengabarkan keterlibatannya di tim ekspedisi tiga minggu yang lalu. Saat itu juga Ranti langsung menyatakan tidak setuju. Tapi Indah bersikeras. Dan Ranti paling tidak berdaya untuk menolak keinginan putri bungsunya itu.

"Ada apa, Sayang? Kok, tumben pulang kuliah nggak langsung ke kamar?" Ranti merangkul Indah.

"Lusa aku berangkat." Sepasang mata cerlang Indah ditemani senyum sedemikian lebar.

Ranti langsung paham keberangkatan apa yang dimaksud putrinya. Ya, ekspedisi yang sampai detik ini masih ia harap agar batal. Perlahan Ranti melepas rangkulannya. Ia mendadak lesu. Duka yang ia rasakan beberapa tahun silam kembali berkelebat.

Indah menyadari perubahan yang terjadi pada ekspresi Mama.

"Mama masih belum bisa ngizinin aku, ya?"

"Bukan gitu, Sayang! Tapi ...." Ranti tercekat.

"Karena aku perempuan, atau karena Mama takut aku bernasib sama seperti Papa? Itu, kan, yang ada di pikiran Mama?" Suara Indah meninggi. "Dari dulu selalu seperti itu. Tolong beri aku kesempatan, Ma." Indah memelas.

"Kamu tidak akan mengerti bagaimana perasaan Mama." Ranti kalut. Ia sungguh tidak rela Indah terlibat dalam ekspedisi itu.

Indah bangkit dari duduknya. "Tolong, Ma, jangan rusak kebahagiaan Indah hari ini!" tegasnya, lalu beranjak pergi.

Ranti hanya bisa terdiam melihat Indah menjauh dengan segenap kekecewaan. Ia paham sebenarnya. Ia pasti mendukung apa pun cita-cita Indah di luar dunia arkeologi. Ia hanya tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya dengan kasus yang sama. Sebagai seorang ibu, posisinya sangat sulit.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Kamis, 25 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 10)

 


Haruskah aku diam selamanya?


---


Aku benar-benar tidak tidur tadi malam. Pemandangan Mama bergelayut di lengan Ruwanta, juga ketika mereka berdampingan di meja makan, menghantuiku tanpa jeda. Kupaksa otakku berpikir hingga titik yang belum pernah dicapainya selama ini. Membuat kepala pening serta napas tak beraturan. Aku belum pernah merasa setersiksa ini.

Ruwanta yang harus bertanggung jawab atas kehamilanku sudah tampak di depan mata. Aku bisa saja langsung menggaet dan tak akan melepasnya lagi. Namun, kenapa ia harus muncul sebagai pacar Mama? Aku takut Mama akan semakin hancur setelah mengetahui hal sebenarnya. Namun, aku tidak yakin bisa cukup tangguh untuk menyembunyikannya lebih lama.

Pagi ini, sebelum sinar matahari sempurna menyapu embun, aku sudah membuat sebuah keputusan. Perihal keseriusan Ruwanta, entah apa pun alasannya mendekati Mama, bagiku terlalu drama. Aku yakin, kabar yang berembus benar; ia hanya mengincar harta Mama. Betapa bodoh jika aku membiarkannya. Aku akan menjelaskan kepada Mama. Semuanya. Aku harus mendapatkan pertanggungjawaban dari ayah biologis penghuni rahimku.

Aku keluar kamar, masih dengan pakaian yang sama tadi malam. Mataku perih, tapi sama sekali tidak mengantuk. Aku menuruni tangga dengan cepat. Langsung mencari Mama ke setiap ruangan. Langkah tegesa-gesa tadi terhenti setelah menemukan Mama di ruang makan. Mama yang ditemani Bibi tengah sibuk menyiapkan sarapan. Pemandangan itu membuatku tercengang. Aku mengira akan menemukan Mama terkapar di kamar, tidur bersama botol-botol kosong minuman keras. Tapi nyatanya, aku seolah menemukan sekeping memori usang yang dipaksa terputar ulang. Sosok anggun, senyum tulus itu ... kembali.

"Sayang, kok, mukanya berantakan gitu? Belum cuci muka, ya?" tanya Mama seraya merapikan posisi beberapa piring di hadapannya.

Suara barusan benar-benar hangat seperti dulu.

"Tadi malam ngapain? Kok, langsung tidur nggak ganti baju dulu?"

Aku mematung, masih belum yakin dengan pemandangan yang ada.

"Kok, malah bengong? Ayo sini, sarapan dulu."

Kali ini Mama yang mendekat setelah melihatku tak bergeser sedikit pun. Ia langsung meraih kedua tanganku, menggenggamnya. Ada kehangatan yang mengalun perlahan di sana. Membasahi kuncup, memekarkan sejumput kenangan di masa kecil, ketika Mama masih sering membacakan dongeng pengantar tidur. Aku benar-benar merasa kembali ke sana. terlebih ketika salah satu tangannya membelai pipiku kemudian. Genangan bening perlahan mengaburkan pandangan.

"Mama minta maaf, Sayang, atas semua waktu yang terbuang selama ini. Mulai hari ini, kita akan menemukannya lagi. Mari sepakat melupakan kejadian kemarin. Masa berkabung, masa menjahit luka telah berlalu. Mama telah sembuh dan berhasil lebih kuat." Suara Mama bergetar. Aku tak bisa membaca mimik wajahnya. Kepiluan masih terpancar di sana.

Tak satu pun kata mampu terucap. Dadaku belum cukup lapang untuk memaafkan dan melupakan semua kegilaan Mama selama ini. Namun, genangan tadi luruh saat Mama menarikku ke dalam dekapannya. Sangat erat. Hangat. Belaian tangannya menjamah setiap helai rambutku.

"Tolong, beri Mama kesempatan untuk memperbaiki semuanya, kembali menjadi ibu seutuhnya buat kamu." Mama memperdengarkan kesungguhan. Air mataku menderas.

Mama membawaku ke meja makan. Kemudian menarik kursi dan mempersilakan duduk. Ia menuang susu hangat untukku, juga meletakkan sepotong roti bakar yang sudah dilumuri selai kacang di atas piring kecil di hadapanku. Suasana seperti ini ... sudah lama tidak terjadi. Lamat-lamat kudengar isak tangis Bibi yang berusaha ia sembunyikan dengan pura-pura sibuk mengerjakan hal yang tidak terlalu penting. Sepertinya Bibi terharu, ikut bahagia.

"Ayo dimakan, Sayang!" pinta Mama setelah melihatku masih mematung.

Aku meraih gelas tadi, menuntun secuil isinya merayapi tenggorokanku. Hangat. Sehangat suasana yang mendadak kembali ini.

Aku memerhatikan Mama yang tengah sibuk mengoleskan selai pada roti yang baru dikeluarkannya dari alat pemanggang. Make up menor ia singkirkan, kecantikan alaminya kembali. Namun, benarkah? Sungguh, Mama yang dulu sudah kembali? Lantas, setega apa jika aku harus mengacaukannya lagi?

Aku lega telah menemukan Mama kembali, meski diam—menyembunyikan masalah sebenarnya—bukan keputusan yang tepat.

***


Hari ini semuanya terasa kacau. Aku tidak bisa fokus ke materi yang disampaikan dosen. Hubungan Mama dan Ruwanta membentuk lingkaran hitam di benakku. Semakin membesar dan bertambah pekat. Akhirnya aku izin ke toilet, padahal ingin melarikan diri ke taman untuk mencari udara segar. Aku merasa semakin penat!

Aku belum sempurna merelakan hubungan Mama dengan Ruwanta. Lebih tepatnya, aku tengah memilah langkah serta kalimat yang tepat untuk membeberkan semuanya. Diamku hanya bersifat sementara. Pagi ini aku memang menemukan sosok Mama yang dulu, setelah berhari-hari tidak pulang dan kembali bersama Ruwanta yang kemudian diakuinya sebagai pacar baru. Di balik kehangatan senyum Mama tadi pagi ada fakta yang tersirat: perubahannya berkat Ruwanta. Lelaki yang telah menyemai benih di rahimku itu memang pandai membuat nyaman dan mengembalikan semangat hidup seseorang. Buktinya, aku betah ia tawan bertahun-tahun tanpa kepastian. Sama Mama, entah jurus macam apa yang ia lancarkan.

Betapa pun bahagianya aku melihat Mama kembali sehangat dulu, aku tidak mungkin mengabaikan janin di dalam kandunganku yang terus berkembang. Ia harus segera mendapatkan pengakuan dari Ruwanta. Terlebih setelah mencoba kembali untuk mengerti motif di balik keputusan Ruwanta memacari Mama. Dari sekian kemungkinan yang berseliweran di dalam kepala, kesimpulannya cuma satu; ujung-ujungnya duit.

Aku tidak sepenuhnya egois jika memilih merebut Ruwanta dari Mama. Di sisi lain, aku justru menyelamatkannya. Bagaimana jika Ruwanta benar-benar hanya mengincar harta Mama? Bukankah ia bisa jauh lebih hancur setelahnya? Aku tidak akan membiarkannya!

"Petunia sedang bermekaran di pertingaan, kamu malah murung di sini." Yudit tiba-tiba datang mengisi kekosongan di sampingku, selalu dengan cara sopan dan terkontrol.

Perihal ucapan barusan, aku mengernyit ke arahnya kemudian. Petunia bermekaran di pertigaan?

"Di ujung jalan ada pedagang bunga keliling sedang mangkal. Ia menjual petunia dalam pot kecil yang cocok banget buat dijadikan suvenir atau dibawa ke mana-mana kalau kamu mau."

Entahlah. Sejak insiden di Bogor, terlebih setelah kemunculan Ruwanta bersama Mama kemarin, reaksiku tidak sedahsyat dulu saat mendengar apa pun yang bersinggungan dengan petunia. Ada bagian dari diriku yang layu dan merapuh perlahan-lahan.

"Ke sana, yuk! Kamu pasti gemas melihat warna ungunya." Senyum Yudit mengembang sempurna di ujung kalimatnya.

Selama ini aku selalu menampik segala tawaran lelaki berkulit putih bersih ini. Tapi kali ini, aku malah beranjak mendahuluinya setelah mengangguk perlahan. Sekilas kulihat ekspresinya, sempat tercengang beberapa saat sebelum rona bahagia memenuhi pancaran matanya. Bukan masalah besar jika sesekali membahagiakan orang yang telah begitu baik terhadapku selama ini. Lebih tepatnya, mencintaiku sepenuh hati. Tulus. Lagipula, sepertinya aku memang butuh hiburan.

Kami tiba di tempat yang dimaksud. Benar, petunia bermekaran di pertigaan. Bermodal mobil pickup bertendakan terpal, pedagang itu menghiasi pertigaan dengan aneka bunga yang ditata sedemikian rupa. Hal ini jadi pemandangan tersendiri di tengah riuh kendaraan yang lalu-lalang. Kenapa tidak setiap hari saja seperti ini?

Pandanganku tercuri sempurna oleh petunia-petunia yang bergelayut manja dalam pot kecil. Digantung, berjajar rapi pada tiang pipa yang disediakan khusus. Seolah tak sabaran, aku langsung memilih beberapa untuk dibawa pulang. Benar kata Yudit, petunia-petunia ini sangat menggemaskan. Sejenak aku mampu melupakan Ruwanta, juga segenap kerumitan yang ada. Hanya ada Yudit bersamaku saat ini, kembali meyadarkan akan keindahan yang tersemat di setiap helai kelopak petunia.

***


Dari pertigaan yang mendadak berhiaskan aneka bunga tadi, Yudit mengajakku menikmati es krim buah-buahan di salah satu kedai yang berposisi di Jalan Setiabudi. Lagi-lagi aku mengangguk. Aku benar-benar membuatnya bahagia sekaligus heran hari ini. Padahal aku tidak begitu suka dengan sajian dingin berhiaskan potongan-potongan buah segar itu. Hanya saja, dulu, Yudit sering mengajakku ke sana. Lebih tepatnya aku terpaksa menuruti ajakan lelaki penggemar es krim itu demi kelancaran berbagai tugas sekolah yang kerap ia kerjakan untukku. Tapi hari ini, aku sama sekali tidak merasa terpaksa. Malah semangkuk es krim ini ampuh meredam gemuruh di dada. Meski hanya sesaat.

"Sudah lama, ya, tidak main ke sini."

Aku hanya tersenyum lemah.

"Tempat ini tidak berubah. Sama seperti kita, dari dulu tetap sama." Ada nada sumbang di kalimat barusan. Aku yakin, Yudit berusaha menyampaikan sesuatu. Sesaat air wajahnya mendadak asing, bukan yang selalu kulihat selama ini.

Dari kedai es krim, aku minta diantar kembali ke kampus untuk mengambil mobil. Aku langsung pulang dan benar-benar melalaikan semua mata kuliah hari ini. Aku tiba di rumah sekitar pukul satu. Cuaca lumayan panas siang ini. Di dalam kamar, aku meletakkan kelima petunia—yang kubeli dari pedagang keliling tadi—di bingkai jendela. Kelimanya tentu saja berwarna ungu, meski tekstur warna dan bentuk kelopak tidak sama persis. Dua di antaranya adalah pilihan Yudit. Kuberi jarak yang cukup agar mereka leluasa bernapas. Aku dan petunia sudah sehati. Aku paham apa yang mereka butuhkan. Namun, mengapa aku tidak cukup mengerti apa yang dibutuhkan Ruwanta, setelah bertahun-tahun merasa telah sangat memahaminya? Ah, sudahlah! Petunia dan Ruwanta jelas-jelas tidak bisa disamakan.

Setelah memastikan posisi petunia tadi sudah pas, aku turun untuk menemui Bibi. Perutku mulai terasa lapar. Aku memang selalu menyempatkan diri untuk membantu pekerjaan Bibi di dapur, memintanya mengajariku berbagai resep masakan tradisional yang katanya turun temurun di keluarganya. Meski tak jarang aku malah merepotkannya. Kebiasaan Bibi di dapur, ia sering menceritakan semua gosip-gosip murahan selebriti tanah air yang ditontonnya sambil mengepel ruang tengah setiap pagi. Pernah sekali ia membuatku terbahak hingga mulas. Ia memeragakan gaya bicara presenter-nya yang katanya sengaja me-mayun-kan bibir untuk terlihat seksi. Begitulah Bibi, sesekali suka bertingkah ajaib. Kami memang sangat dekat. Ia sudah kuanggap keluarga sendiri.

Tapi hari ini, ada pemandangan janggal di dapur. Bibi sudah tampak sibuk ketika aku tiba. Bukan kesibukan itu yang janggal, tapi kehadiran Mama yang tampak jauh lebih sibuk.

"Eh, Sayang. Kok, jam segini sudah pulang? Dosennya nggak masuk, ya?" Mama berbasa-basi sambil tetap cekatan mengerjakan ini-itu.

Sejak kapan Mama peduli dengan jam pulangku?

"Kamu datang tepat waktu. Hidangan istimewa Mama sebentar lagi siap disajikan. Tinggal tunggu beberapa menit lagi agar dagingnya empuk sempurna. Benar, kan, Bi?"

Bibi menyambut tatapan Mama dengan anggukan antusias.

Aku duduk, menyaksikan kesibukan keduanya tengah menyiapkan hidangan istimewa yang masih dirahasiakan namanya. Aku mulai mencium aroma yang sungguh menggugah selera. Tak lama kemudian, Mama mematikan kompor. Ia membuka tutup panci. Asap tipis beraroma sedap langsung mengepul, memencar ke sudut-sudut ruangan. Kemudian Mama menyajikan masakan yang sepertinya belum pernah kucoba itu ke dalam tiga mangkuk kaca berukuran kecil untuk kami nikmati bersama.

"Nah, cium aromanya, kamu jadi nggak sabar, kan?" Mama menyodorkan mangkuk berisi kuah pekat dengan potongan-potongan daging menyerupai dadu. Pemukaannya sudah ditaburi bawang goreng.

Aku mencicipi kuahnya terlebih dahulu, kemudian potongan daging yang benar-benar lembut di mulut. Aku takjub, rasanya luar biasa. Aku banyak mencoba makanan hasil olahan daging, tapi belum pernah ketemu yang seperti ini. Aku bisa saja langsung memuji kepiawaian Mama memasak makanan ini. Hanya saja ... perihal hubungannya dengan Ruwanta, serta niat untuk menceritakan masalah yang tengah menerpaku, sungguh mengurangi kedamaian suasana. Andai saja pacar baru Mama bukan Ruwanta, 90% hidupku yang dulu pasti sudah kembali.

"Nama makanan ini Coto Makassar, makanan khas dari tanah kelahiran Ruwanta."

Aku langsung tersedak. Apa? Tanah kelahiran Ruwanta?

"Kamu kenapa, Sayang?" Mama berhenti menyendok makanannya.

Aku hanya menggeleng, kemudian melegakan tenggorokan dengan beberapa teguk air putih.

"Mama merasa beruntung, ibu Ruwanta berkenan mengajari cara memasak makanan ini sedetail-detailnya. Makanya bisa seenak ini." Mama jeda, sesendok makanan masuk ke mulutnya. "Tapi yang terpenting, beliau bisa menerima Mama sebagai calon menantu. Itu yang paling membuat Mama betah di Makassar," lanjutnya setelah menelan makanan tadi.

Ekspresi bahagia, nyaman, damai, dan entah apa lagi tampak jelas di wajah Mama ketika mengucapkan kalimat barusan. Sedang aku? Ada sesuatu yang kurasakan semakin hancur. Bisa kusimpulkan, selama beberapa hari menghilang Mama berada di Makassar—tanah kelahiran Ruwanta. Lebih tepatnya, ia diajak oleh Ruwanta untuk diperkenalkan ke orangtuanya. Sudah sejauh itukah hubungan mereka? Fakta ini sketika mengubur selera makanku.

Aku tahu Ruwanta, ia tidak akan mengajak seorang perempuan ke rumahnya untuk diperkenalkan ke orangtuanya, kecuali ia benar-benar serius dengan perempuan tersebut. Artinya, hubungan Mama dan Ruwanta bukan main-main. Lantas, aku harus bagaimana?

Aku benar-benar nyaman saat ini, setelah Mama kembali seperti dulu. Terlepas dari hubungannya dengan Ruwanta yang serupa racun dan menjalar di dalam tubuh perlahan-lahan. Tapi, haruskah aku diam selamanya? Melahirkan tanpa suami? Membayangkannya saja aku tidak sanggup!

***


[Bersambung]




Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA 

Rabu, 24 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 9)

 


Aku lebih merasa dipermainkan daripada dikhianati.


---


Usia kandunganku memasuki bulan ketiga. Masih belum ada titik terang perihal keberadaan Ruwanta. Aku mulai panik, gelisah, dan sedikit takut. Bagaimana jika Ruwanta benar-benar tak menampakkan diri hingga kandungan ini tak dapat lagi kusembunyikan? Sekarang saja, aku mulai ekstra hati-hati memilih pakaian jika hendak keluar rumah. Terutama ke kampus. Jangan sampai mereka menyadari bentuk perutku yang mulai tidak rata. Meski pipi yang bertambah tembam tak bisa kusembunyikan—efek susu formula yang rutin kuminum sesuai anjuran yang tertera pada kemasan.

"Kamu lagi proses penggemukan, ya?" tukas Nila suatu hari. "Ngapain? Bentuk tubuh kamu sebelumnya sudah bagus," imbuhnya.

"Ah, enggak, kok!" elakku sambil merapikan ujung sweterku.

Akhir-akhir ini aku memang lebih nyaman mengenakan sweter ke mana-mana. Dengan begini, lekuk tubuh di bagian perut bisa tersamarkan. Nila pernah protes dengan penampilan baruku. Aku hanya menganggapinya dengan senyum iseng. Entahlah, hingga detik ini aku belum siap menceritakan masalah ini padanya.

***


Kau pernah tidak percaya terhadap sesuatu yang nyata-nyata terpatri di depan mata, berharap semua itu hanya mimpi dan kau akan segera terbangun? Aku pernah membaca hal semacam ini di sebuah novel, juga menemukannya di beberapa film. Dan sekarang, aku mengalaminya.

Aku sedang berada di ruang tengah bersama Bibi, menikmati program talk show di salah satu stasiun tivi swasta. Bibi tampak serius. Ia memang suka dengan acara ini. Demi menyaksikan acara yang dipandu oleh host botak bersetelan hitam itu, ia akan menunda semua pekerjaannya, atau buru-buru menyelesaikannya di awal. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Selama ini Bibi sudah bekerja sangat baik.

Tiba-tiba seseorang di luar sana memencet bel, minta segera dibukakan pintu. Aku beranjak, membiarkan Bibi bersama acara favoritnya.

Maka di sinilah aku, seperti yang kubilang di awal. Mama berdiri di depan pintu bersama seorang lelaki. Ia bergelayut manja di lengan lelaki itu. Teman atau pacar baru? Ia berusaha memberikan senyum terbaik. Pergi tanpa kabar dan tak pulang selama berhari-hari seolah bukan kesalahan. Hal itu terbukti dengan tidak adanya pancaran rasa bersalah di matanya.

Kemudian Mama memperkenalkan lelaki tadi sebagai pacar barunya. Aku tersentak. Selama sekian detik aku kesulitan menarik napas. Bukan lantaran Mama berganti pasangan lagi, bukan pula karena lelaki yang dipilihnya kini tampak sebaya denganku. Lebih dari itu, lelaki yang kini sedang mengulurkan tangan dan baru saja menyebutkan namanya adalah Ruwanta, orang yang kucari selama ini demi pengakuan untuk bakal malaikat kecil di rahimku.

Lantas, kenapa jadi seperti ini? Aku beku, memelototi Ruwanta yang tampak sangat santai dengan senyum palsunya. Bahkan saat aku menyambut tangan kekarnya, aku masih berharap, ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.

Maka tak ada pilihan selain mengikuti alur permainan Ruwanta—pura-pura tidak saling kenal di depan Mama. Di adegan perkenalan itu—saat menyebutkan nama—aku mendadak merasa sangat konyol. Bodoh! Tolol!

Drama ini berlanjut di ruang tamu. Tengah duduk pun, Mama tak hentinya bergelayut di lengan Ruwanta. Sesekali ia akan menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu yang seharusnya lebih pantas menopang masalah yang tengah menerpaku. Sedang Ruwanta, ia tampak nyaman dengan kepura-puraannya, ahli dalam perannya. Aku sempat mengira ia sedang amnesia. Ada sesuatu yang terbakar di dalam dada. Bila tak kucegah, seketika akan menghanguskan sepasang bola mataku juga.

Dengan nada riang, Mama bercerita tentang Ruwanta, mengenalkannya lebih jauh. Sebagian besar cerita Mama sudah kudengar langsung dari Ruwanta. Semua sifat-sifat Ruwanta yang dijelaskan Mama, aku lebih tahu. Sudah sejauh itukah Mama mengenal Ruwanta? Sudah berapa lama mereka berhubungan?

"Iya, kan, Sayang?"

Ruwanta hanya akan mengangguk seraya tersenyum setiap kali Mama meminta penegasan. Senyumnya kali ini dibaluri kepalsuan. Menyeramkan! Aku muak!

"Ruwanta juga kuliah di Advent, loh! Masa kalian nggak pernah ketemu, sih?" Dengan gamblang Mama melontarkan pertanyaan barusan. Tidakkah ia risi tengah memacari lelaki yang lebih pantas jadi anaknya? Kematian serta perselingkuhan Papa benar-benar membuatnya gila. Tapi kali ini kurasa Ruwanta jauh lebih gila.

"Kampus kami luas, Ma. Mahasiswanya bukan cuma satu dua orang," kilahku seraya menahan perih di tenggorokan. Aku benar-benar tersiksa dengan situasi ini.

Lebih dari sekadar ketemu, Ma. Kami akan punya anak.

Saat di meja makan pun, Mama masih berceloteh tentang Ruwanta. Kali ini Mama bercerita seputar pertemuannya dengan Ruwanta. Perkenalan singkat yang berujung hubungan serius. Aku tidak begitu menyimak, tidak penting. Pikiranku mendadak dipenuhi gosip tentang Ruwanta yang merebak di kampus akhir-akhir ini.

"Eh, kamu tahu kenapa Ruwanta nggak pernah kelihatan batang hidungnya?" tanya Nila pada suatu siang, saat tengah menikmati semangkuk bakso di kantin langganan kami.

Aku mengernyit.

"Dia jadi gandengan tante-tante. Kabarnya, mereka tengah liburan ke luar kota." Bukan Nila namanya jika ekspresinya tidak berlebihan saat bicara.

Seketika mataku membola, tapi tak lantas percaya begitu saja.

"Serius? Kamu tahu dari mana?" Aku meletakkan sendok dan garpu, mendadak tidak berselera.

"Astaga! Kamunya aja yang belum tahu. Padahal seantero kampus tengah membicarakannya."

"Masa, sih?" Aku masih memasang tampang tak percaya.

"Sadisnya lagi, ia melakukan itu semata-mata demi uang. Kabarnya, tante-tante gandengannya sangat tajir.

Aku terdiam. Entah bagaimana harus merespons omongan Nila. Jujur, aku sama sekali tidak percaya. Aku mengenal Ruwanta lebih dari siapa pun. Aku tahu latar belakang keluarganya. Ia memang kerap bercerita perihal kesulitan ekonomi yang melanda mereka. Tapi aku yakin, Ruwanta bukan tipe orang yang akan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan permasalahan apa pun. Terlebih dengan menggadaikan harga diri.

Setelah Nila menyampaikan gosip itu, aku makin sering mendengarnya dari teman-teman yang lain. Demi menemukan kejelasan, aku menemui Tio. Di luar dugaan, lelaki berambut kribo itu pun membenarkan kabar itu. Lucunya, aku masih saja belum percaya. Bahkan hingga malam ini, ketika semuanya terpampang nyata di depan mata, aku masih berusaha untuk tidak percaya. Kalau memang benar, kenapa harus Mama? Takdir terlalu kejam!

"Senja, bukannya makan, kok, malah ngelamun?" Teguran mama menghentikan gerakan tanganku yang sedari tadi mengaduk makanan tidak jelas.

Sesaat Ruwanta berhenti menguyah makanannya. Memerhatikanku. Kemudian tersenyum aneh. Masih senyum palsu yang sedari tadi memperburuk keadaan.

"Sebenarnya ... aku masih kenyang, Ma, dan sedikit capek. Maaf, aku istirahat duluan." Aku beranjak, tak bisa bertahan lebih lama dalam sandiwara ini. Sekilas aku masih sempat melirik Ruwanta. Entah ilmu apa yang ia gunakan hingga bisa setenang itu. Apa jadinya jika aku tiba-tiba membeberkan sejauh mana hubungan kami di depan Mama?

Setibanya di kamar, kabut yang sedari tadi menggantung di pelupuk mataku pun luruh. Tumpah sejadi-jadinya. Aku benar-benar merasa sendiri dalam masalah ini. Siapa yang harus kuajak berbagi? Siapa yang harus kusalahkan? Aku dan Ruwanta hanya pernah terjebak dalam kesalahan atas dasar suka sama suka. Selebihnya, ia hanya pemilik pesona, sedang aku tawanannya. Ikatan, janji, atau apa pun yang merujuk ke suatu hubungan serius tidak pernah ada. Maksudku, Ruwanta tidak pernah memulainya. Aku lebih merasa dipermainkan daripada dikhianati.

Sebenarnya tidak terlalu aneh jika Ruwanta tergoda oleh Mama. Meskipun umurnya sudah berkepala empat, Mama sangat menjaga penampilan. Ia rutin melakukan berbagai rangkaian perawatan kecantikan. Sebelum Papa membuatnya gila, kami sering dikira kakak-adik jika jalan berdua. Hanya saja ... perihal Ruwanta serius atau tidak, itu yang sedari tadi bercokol di benakku. Aku masih tidak habis pikir.

Suara Nila kembali terngiang di sela isak tangisku ....

"Ia melakukan itu semata-mata demi uang."

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Senin, 22 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 8/

 


Aku tiba di puncak rindu, akan semua hal-hal kecil yang kerap ia warnakan di hari-hariku.


---


Hari-hariku kacau. Tak ada hal menarik yang bisa kunikmati. Waktu terasa lebih lambat. Meski demikian, dua purnama telah terjalin sejak insiden di Bogor. Kesehatanku menurun akhir-akhir ini. Beberapa minggu terakhir sering mual. Masuk angin. Hal ini disebabkan makan serta tidur tidak teratur. Tugas kuliah menumpuk. Ditambah sosok Ruwanta yang sering merangsek dan mengacaukan pikiranku semaunya. Belum lagi Mama yang semakin jarang pulang. Semoga saja ia tak jadi pelakor. Aku mulai malas memikirkannya. Tidak peduli.

Dan hari ini, babak baru kerumitan kisah ini sedang dimulai. Dokter berkacamata yang baru saja memeriksaku menyampaikan, bahwa di rahimku ada janin berumur delapan minggu. Hal yang kutakutkan setelah dua kali tamu bulananku mangkir, benar-benar terjadi. Kemampuan berpikirku seketika melesat entah ke mana. Persendianku tidak berfungsi. Otot-ototku lemas. Aku bahkan tak punya kekuatan untuk sekadar membalas perkataan dokter tadi.

Sesuatu yang perih berlaga di tenggorokan. Genangan bening menghiasi tepian mata. Bibirku gemetar. Rasa takut, bersalah, bodoh, bingung, dan banyak lainnya mencekam bersamaan. Aku benar-benar merasa sendiri sekarang. Entah kepada siapa harus kubagi beban ini.

Pesan dari Nila menggetarkan ponsel di dalam tas jinjing yang kupangku. Dokter tadi tampak sibuk menulis sesuatu. Mungkin semacam resep.

Nila: Kamu di mana?

Wajar Nila mencari, atau mungkin mengkhawatirkanku. Ia tahu, kesehatanku tidak baik akhir-akhir ini. Sedang tadi, aku buru-buru meninggalkannya selepas jam kuliah dan menolak untuk diantar. Aku juga tidak bilang tentang rencana memeriksakan diri hari ini. Benar saja, untung ia tidak di sini—mendengar hasil pemeriksaan dokter. Ini masalah pertama yang kusembunyikan dari sahabatku itu.

Aku beranjak, berjalan gontai meninggalkan klinik. Aku mendapati langit berwajah suram, biru baru saja berpaling darinya. Setelah berada di dalam mobil, wajah suram tadi serta-merta menumpahkan isinya. Hujan kali ini serupa gemuruh dalam dada.



***


Aku mulai memerhatikan kesehatan. Aku membeli susu formula khusus untuk menjaga kesehatan janin, sesuai yang kubaca di internet. Sebisa mungkin kuatur pola makan dan tidur. Sekalut apa pun aku menghadapi masalah ini, aku tidak akan terang-terangan berbuat dosa besar kedua dengan menggugurkannya. Bakal malaikat kecil dalam rahimku suci tak berdosa. Ia berhak lahir dalam keadaan sehat. Sudah kuputuskan untuk mempertahankannya, apa pun yang terjadi.

Namun untuk itu, tentu saja aku harus menemukan Ruwanta secepatnya. Aku harus memintanya bertanggung jawab. Aku tak ingin melahirkan tanpa suami. Tapi, seisi asrama tidak ada yang tahu keberadaan Ruwanta, termasuk Tio yang selama ini tidur sekamar dengannya. Menurut teman sekelasnya, sudah hampir sebulan ia bolos kuliah.

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjing, bermaksud menghubungi Ruwanta.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan coba beberapa saat lagi!"

Lagi-lagi yang kudapati hanya suara operator. Selalu seperti ini.

Ruwanta ... kamu di mana?

Setelah mengikuti mata kuliah terakhir hari ini, aku menenangkan pikiran di kantin Empok Ratih. Di kampus ini ada beberapa kantin, tapi kantin ini yang paling sering kutongkrongi bersama Nila. Juga Ruwanta, dulu. Selain karena tempatnya bersih dan harga terjangkau, jaraknya juga paling dekat dari fakultasku. Kali ini aku sendiri. Nila pamit pulang duluan. Ia harus mengantarkan mamanya check up.

Aku duduk di pojok, sengaja agak menjauh dari keramaian. Pelayan baru saja mengantarkan pesananku—roti bakar saus kacang dan segelas cola float. Bila sudah duduk bersama makanan seperti ini, biasanya Ruwanta akan muncul dari arah tak terduga. Mengagetkan, lalu mencomot makananku tanpa permisi. Sesukanya. Tapi tidak kali ini. Di saat aku sangat mengharapkan kehadirannya, ia malah sempurna menghilang.

Mataku kembali memanas, meski tenggorokan sudah kubasahi dengan minuman dingin di depanku. Aku tiba di puncak rindu, akan semua hal-hal kecil yang kerap ia warnakan di hari-hariku. Tentang omongan-omongan melantur, tingkah konyol, alunan melodi, cerita tentang bintang, aku ingin semuanya kembali. Lebih dari itu, aku ingin ia tahu, aku tengah mengandung bintangnya.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya:

KBM

KARYAKARSA

Minggu, 21 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 7)

 


Lihatlah, betapa bodohnya aku. Bahkan sekadar tersenyum atau mengangguk untuk sedikit menyenangkan lelaki berhati malaikat ini pun tidak becus.


---


Liburan selesai. Untunglah. Jika tidak, sepertinya aku akan menciptakan kasus kematian terlangka pertama di muka bumi ini. Ada banyak hal yang kurasakan di balik peralihan sikap Ruwanta. Apa pun alasannya, sadar atau tidak, bagiku sakit.

Tadi malam aku punya kesempatan baik untuk mendekatinya. Berduaan, bicara dari hati ke hati. Tapi setelah kutemani kesendiriannya di dipan, ia langsung sibuk menerima telepon-yang entah dari siapa. Benarkah ia tengah menelepon? Atau mendadak menjelma jadi aktor andal? Dan sekarang ia memilih tempat duduk paling belakang, menjauh dariku. Udara di dalam bus mendadak panas, meski sudah dilengkapi alat pendingin khusus.

Bibi tergopoh-gopoh menyambutku di halaman. Ia langsung mengambil alih barang-barangku.

"Mama ada?" tanyaku lesu.

Bibi tidak menjawab, hanya menunjukkan ekspresi yang sudah kuhafal, yang berarti Mama tidak ada.

Aku menghela napas berat, seberat langkah yang seolah menolak untuk dilanjutkan. Beberapa kelopak petunia di beranda berguguran. Sehelai dua helai daunnya tampak menguning. Kali ini aku sama sekali tidak berselera menyentuhnya.

Kamar Mama yang terpaksa kulewati jika hendak ke kamar, kudapati pintunya setengah tertutup, menampakkan isi yang super berantakan. Pakaian kotor berserakan di mana-mana, seprai tidak terpasang pada tempatnya, ditambah aroma alkohol yang menelisik hidung. Isi kepalaku sukses dibuatnya semakin kacau.

Setibanya di kamar, aku langsung mengempaskan diri dan lara di ranjang. Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana, bermaksud menghubungi Nila untuk menceritakan semuanya. Sesak yang ada pasti akan berkurang jika kubagi dengan sahabat yang punya segudang solusi itu. Namun, urung. Aku belum siap siapa pun mengetahui kebodohan ini.

Jadinya, aku malah mengamati foto Ruwanta yang diam-diam kujadikan wallpaper selama ini. Melihat senyum di dalam foto, tak seharusnya ia membuatku gelisah seperti ini. Tangga kepastian harusnya sudah kami jajaki setelah kejadian terlarang itu.

Suara bel pintu bertamu di pendengaranku, ketika hening dan sepi larut mencumbu malam. Setelah kejadian itu dan menyadari perubahan sikap Ruwanta, sudah pasti aku jadi susah tidur. Aku lekas turun. Bibi tampak tergopoh-gopoh, tapi aku tiba duluan untuk membuka pintu. Amarah seketika berkecamuk melihat Mama di depan pintu. Ia dipapah oleh lelaki berkumis tebal. Kondisinya sangat berantakan. Selalu seperti itu.

Genangan bening serta-merta mengaburkan pandangan. Lelaki tadi hendak berkata sesuatu ketika lebih dulu kubanting pintu sekuatnya. Aku berlari kembali ke kamar. Sekilas, kulihat bibi lekas membuka pintu itu kembali, mengambil alih nyonyanya dari tangan si lelaki.

***


Musim semester baru tiba. Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Selalu ada yang terasa kurang, sekeras apa pun usahaku untuk terlihat baik-baik saja. Suasana kampus kurasakan lebih damai dibandingkan rumah sendiri yang dilingkupi kesepian. Hanya ada bibi yang tak pernah letih membersihkan bangunan berlantai dua itu, meski tubuhnya semakin menua. Di kampus, setidaknya aku merasa dekat dengan Ruwanta, berharap bisa menemukan sepenggal dua penggal kata dari mulutnya yang mampu binasakan resah di hati. Namun saat ketemu tadi ....

"Hai, Ta!" tegurku saat berpapasan.

"Hai!" Senyumnya masih sama, meski kurang lebar.

"Mana gitarmu?" Aku memancing obrolan.

"Ada di kelas."

Aku kembali memikirkan hal yang bisa membuat obrolan ini lebih panjang. Namun, ia malah pamit. Katanya ada janji dengan teman-teman komunitas. Komunitas apa? Sejak kapan Ruwanta bergelut di komunitas? Kok, aku baru tahu? Aneh! Aku beku memandang punggung Ruwanta menjauh. Tampak tergesa-gesa.

Di beberapa kesempatan lain, Ruwanta hanya menampilkan senyum datar saat kami berpapasan. Biasanya ia selalu meluangkan waktu untuk sekadar berceloteh hal-hal lucu atau memeragakan tingkah-tingkah konyolnya. Aku merindukan itu. Aku kehilangan.

Di bangku taman ini kami pernah membahas perihal rumah impian. Entah bagaimana mulanya. Tapi jika bersama Ruwanta, segala bahan obrolan memang selalu jadi menyenangkan. Meski kadang dibuatnya ngawur.

"Aku nggak mengidamkan rumah mewah. Yang penting ada kolam renang, studio musik, dan ruang khusus yang dilengkapi berbagai macam teropong untuk mengamati bintang."

Aku tergelak. Rupanya yang ia idamkan memang bukan rumah mewah, tapi lebih dari sekadar mewah. Ada-ada saja.

"Kalau kamu?" tanyanya balik.

Aku berpikir sejenak. "Aku menginginkan konsep hunian sederhana, dengan sebuah kebahagiaan di dalamnya yang akan selalu membuatnya sempurna. Tidak perlu terlalu luas, membersihkannya susah." Aku jeda, tergelak. "Dan yang paling penting, harus ada petunia di beranda. Wajib!"

"Petunia bergelantungan di pinggir kolam renang sepertinya unik. Di dalam studio musik atau ruang khusus untuk mengamati bintang, bisa juga, kan?

"Kamu ngaco. Petunia harus mendapatkan sinar matahari yang cukup. Ia tidak boleh diletakkan di sembarangan tempat. Apalagi di ruang tertutup."

"Aku akan membuatnya bertahan hidup di sana, dengan caraku sendiri." Mendadak tatapan Ruwanta sedikit aneh waktu itu. Ada makna mendalam di balik bidikan mata elangnya. Bisa kurasakan, meski samar-samar. Aku tidak kaget. Ia memang selalu seperti itu, membiarkanku sekadar berharap dan berharap.

Aku kembali teringat saran Nila. Gadis penggemar kelinci itu memintaku untuk menyatakan perasaan lebih dulu. Menurutnya, tipe lelaki seperti Ruwanta memang ada. Lelaki yang terang-terangan memberi sinyal, tapi sulit untuk mengakui. Lelaki seperti itu kadang-kadang memang perlu disadarkan. Perkataan Nila cukup masuk akal. Namun, apa pun kondisinya, aku tidak akan memulai duluan. Terlebih setelah kejadian kemarin. Semuanya terasa lebih kacau.

"Hai! Kok, melamun di sini?" Yudit datang, menempati ruang kosong di sampingku, yang biasanya selalu diisi oleh Ruwanta. Dari caranya menyapa dan duduk, Yudit lebih tenang. Berbeda dengan Ruwanta yang suka menepuk pundakku agak keras. Cara duduknya banyak gaya, serta bicaranya suka melantur. Dari dulu mereka memang berbeda. Ini tentang orang yang sangat mencintai dan kucintai.

Namun selembut apa pun cara Yudit bicara padaku, aku selalu bingung menanggapinya. Lebih tepatnya, aku tidak berselera mengobrol dengannya.

"Nih, oleh-oleh dari Bali. Mama, loh, yang pilihin." Senyumnya mengembang sempurna saat menyerahkan kotak berwarna ungu pucat. Di salah satu sudutnya terdapat kembang pita putih sebagai pemanis. Bukankah ini sempurna untuk ukuran hadiah di luar momen tertentu? Aku telanjur dibutakan oleh pesona Ruwanta. Sepertinya aku perempuan satu-satunya di dunia ini yang tidak bahagia mendapatkan perlakuan semacam ini dari lelaki sesempurna Yudit. Belum lagi bingkisan yang baru saja aku terima ini dipilihkan khusus oleh mamanya. Kurang apa lagi?

Aku bisa saja membalas cinta Yudit sekarang juga dan melupakan obsesiku terhadap Ruwanta yang hanya berisi harapan kosong belaka. Tapi, mengalihkan perasaan ke lain hati tak semudah memotong rumput di halaman.

Sebuah kaus khas Bali bercorak kelopak petunia mengisi bingkisan tadi. Aku ingat, ini kaus yang di foto waktu itu. Benar, kan? Tanpa kurespons pun, ia tahu yang kusuka. Entah ia yang pilih sendiri atau benar-benar mamanya. Maksudku, keluarga mereka benar-benar paham kesukaanku.

Sama seperti pemberian-pemberian sebelumnya, kaus berbahan halus itu menguarkan harapan. Sesuatu yang meredup, namun tak pernah letih untuk berpijar.

"Kamu suka?" Mata cerlang Yudit sebenarnya enak dipandang lama-lama, seolah tak pernah ada luka di sana.

Aku diam sempurna. Lihatlah, betapa bodohnya aku. Bahkan sekadar tersenyum atau mengangguk untuk sedikit menyenangkan lelaki berhati malaikat ini pun tidak becus.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Sabtu, 20 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 6)

 


Lelaki itu ... aku selalu tidak mengerti bagaimana caranya mencintaiku.


---


Aku bangun, mengikuti ritual sarapan bersama mereka. Aku tak yakin benar-benar tidur tadi. Setelah puas menemani Ruwanta menikmati bintang, aku memang kembali ke kamar menjelang pagi, memaksakan untuk tidur. Sepertinya memang berhasil tidur sebentar, meski bayangan senyum si pemilik mata elang itu tak pernah beranjak.

Sarapan pun ada aturannya, tidak boleh makan seenaknya. Sesuatu yang dimakan harus seragam dan serentak, sesuai urutan yang telah ditentukan. Pertama-tama makan buah, minum susu, dan diakhiri sepotong roti bakar tanpa selai. Selainya menyusul setelah rotinya tandas. Gila. Lama-lama liburan ini tak ubahnya sebuah pelatihan militer. Tapi ide yang tercetus entah dari kepala siapa ini, kami berhasil menikmatinya. Ini benar-benar bukan liburan biasa.

Aku mengecek ponsel setelah menghabiskan makananku. Aku hanya menemukan ucapan selamat pagi dari Yudit di WA. Mama benar-benar tidak mencariku.

Agenda hari ini outbound. Karena lokasinya tidak terlalu jauh, kami memilih berangkat menggunakan motor sewaan. Aku berharap bisa berangkat bareng teman berkudaku kemarin. Tapi Tio-si lelaki kribo-sudah lebih dulu meloncat ke boncengan Ruwanta. Aku lekas mengambil alih salah satu sepeda motor yang masih nganggur, alih-alih meredam kekecewaan. Nila serta-merta meloncat ke boncenganku dengan girang. Tangannya langsung melingkar di pinggang, meminta segera berangkat.

"Yuk!" ucapnya, kemudian nyengir.

Kami menyusuri hamparan kebun teh sebelum tiba di jalan raya yang cukup padat. Kami sengaja memilih pusat outbound yang ramai agar bisa berbaur dengan pengunjung lain. Setibanya, kami menyewa pondok berkamar satu untuk sekadar mengamankan barang-barang berharga. Setelahnya, kami langsung berbaur, mencoba berbagai wahana yang ditawarkan. Nila sibuk mengambil gambar dari berbagai sudut, nyaris mengabadikan setiap langkah kami.

Aku tidak begitu suka aktivitas luar ruangan semacam ini. Namun, kali ini mereka berhasil membuatku menikmatinya. Setelah ketagihan dengan beberapa wahana sebelumnya, kecelakaan ringan pun terjadi saat mencoba wahana sky run. Keseimbanganku tidak begitu bagus ketika meniti balok besi yang dipasang setinggi delapan meter. Aku pun terpeleset. Untunglah, tali pengaman yang dipasang oleh instruktur tadi benar-benar berguna.

Meski demikian, sepertinya ada sedikit masalah di kaki kiriku. Kurasakan pergelangannya berdenyut-denyut. Sakit. Ternyata benar, setelah diturunkan, aku kepayahan untuk berjalan. Kakiku terkilir.

"Kamu nggak apa-apa? Bagian mana yang sakit?" telisik Nila saat melihat mimik tak beres di wajahku. Ia memang selalu menyimpan rasa khawatir berlebih terhadap segala hal.

Aku hanya menggeleng, kemudian memintanya memapahku kembali ke pondok penyimpanan barang-barang kami. Sebisa mungkin aku tidak ingin merusak kesenangan teman-teman yang lain.

Melihat tubuh mungil Nila agak kewalahan, Ruwanta berinisiatif menggantikannya. Ia meraih tangan yang kutumpangkan di pundak Nila.

"Sini, biar aku saja," ucapnya kemudian.

Bukannya memapah, Ruwanta malah menggendongku.

"Mau aku temani?" tanya Nila sebelum Ruwanta mengawali langkah, masih dengan ekspresi sekhawatir tadi.

"Nggak usah. Kamu sama yang lain lanjut aja. Setelah baikan, aku gabung lagi, kok."

"Kalau butuh apa-apa, langsung telepon, ya."

Aku mengangguk. Ruwanta mulai melangkah.

Ruwanta menggendongku hingga ke dalam kamar. Kemudian perlahan-lahan mendudukkanku di tepi ranjang. Ia keluar sebentar. Sekembalinya, ia membawa segelas air putih dan kotak P3K. Setelah menyodorkan segelas air tadi, ia langsung beraksi dengan kotak berwarna putih yang entah di mana menemukannya. Barangkali memang sengaja dipersiapkan oleh pihak pengelola.

Ia mengeluarkan sebotol minyak urut dan langsung mengoleskannya ke bagian yang tampak mulai bengkak. Ruwanta mulai mengurut pergelangan kakiku yang terkilir. Lumayan sakit, membuatku meringis.

"Tahan, ya. Ini nggak akan lama," ucapnya sambil menuang beberapa tetes lagi minyak urut tadi ke telapak tangannya.

Setelah beberapa menit terasa sakit, bahkan nyaris tak tertahankan, perlahan-lahan berangsur membaik. Sekarang benar-benar tidak sakit lagi. Lelaki ini cukup berpengalaman rupanya. Ia masih melanjutkan aksinya, dengan senyum yang sesekali ditunjukkan padaku. Entah sengaja atau tidak, senyuman itu terlalu indah untuk seseorang yang tengah mengurut. Setelah melewati rasa sakit tadi, aku baru mampu membalas senyumannya. Terima kasih yang tersirat.

Tatapan kami terpaut kemudian. Waktu mendadak terasa lambat, seiring gerakan tangan Ruwanta di pergelangan kakiku yang terasa berbeda dari sebelumnya. Ada hal aneh yang mengaliri tatapan kami, dengan cepat menyesaki rongga dada. Sesuatu yang tak mampu kurangkai dengan kata. Senyum kami redam, meski tatapan masih saling mendalami. Tarikan itu merangsek tanpa aba-aba, seketika mempertemukan bibir kami. Entah bagaimana mulanya. Selanjutnya, kami punya cara untuk menepis hawa dingin yang setia menunggangi Kota Bogor.



Perih itu, tak seharusnya kurasakan sekarang. Air mataku meleleh. Penyesalan dan sejumput rasa bahagia mengilhaminya di saat bersamaan. Aku merasakan tubuhku dilumuri dosa paling akut.

Ruwanta baru saja beranjak ke kamar mandi. Tampak tergesa-gesa setelah berhasil mencapai puncak permainan. Ia sedang membersihkan diri. Dari sini, suara guyuran air terdengar jelas. Aku bangkit, meski masih letih. Kupunguti pakaianku yang berserakan di lantai. Setelah terpasang rapi, aku kembali menjatuhkan diri ke pembaringan. Aku tidak berselera melanjutkan aktivitas hari ini. Aku benar-benar kalut. Semuanya terjadi begitu cepat dan di luar kendali.

Bagaimanapun terpesonanya aku sama Ruwanta, tak seharusnya kuserahkan kado terindah yang kupersiapkan untuk lelaki yang menikahiku di malam pertama nanti. Lantas, siapa yang harus disalahkan? Ruwanta sama sekali tidak memaksaku. Aku? Cinta jelas-jelas menolak untuk disalahkan.

"Aku minta maaf. Seharusnya aku bisa mengontrol diri." Ruwanta berucap sambil berpakaian sekembalinya dari kamar mandi.

Posisiku memunggungi Ruwanta. Aku menutup wajah dengan bantal. Ada dua hal yang kusembunyikan di sana: tangis dan malu. Tak perlu kulihat raut penyesalan, rasa bersalah, atau apa pun yang ingin ia tunjukkan. Semuanya sudah terjadi. Aku tak mampu berkata apa-apa.

Kudengar derap kaki Ruwanta menjauh. Entah akan kembali bergabung dengan rombongan, atau sekadar keluar untuk menenangkan pikiran.

***


"Bagaimana kakimu?"

"Udah nggak apa-apa, kok." Aku memaksakan tersenyum.

"Kirain parah. Sampai-sampai kamu nggak bisa gabung lagi."

Udara tidak terlalu dingin malam ini. Aku dan Nila tengah menikmati teh hangat di balkon. Yang lain sedang nonton tivi di bawah. Aku melirik dipan di pojok halaman. Kali ini tak ada Ruwanta di sana. Sedang apa ia sekarang? Apa yang ia pikirkan? Rasa ingin tahuku segala hal tentang Ruwanta berlipat ganda dari sebelumnya, sebelum kejadian tadi siang.

"Padahal tadi seru banget, loh. Masih banyak banget wahana yang sayang jika dilewatkan."

Bukan Nila namanya jika tak heboh. Ia hanya tak tahu bencana yang telah menimpaku tadi. Aku yakin, ia membaca ketidakberesan di wajahku, makanya lebih memilih menemaniku ketimbang ikut seru-seruan dengan yang lain di bawah. Mungkin di pikirannya, penyebab murungku masih sisa insiden terkilir tadi siang. Benar, semua memang berawal dari insiden itu. Ah, sudahlah. Sebisa mungkin kucoba untuk tidak menyesal, atau aku akan hancur dengan sendirinya.

***


Kupastikan gagal menikmati hari libur yang tersisa, seperti apa pun agenda yang telah disusun. Rasanya mau pulang saja. Butuh waktu untuk merenung, memahami dosa besar yang telah kuperbuat. Terlebih hari ini. Kami mengunjungi salah satu pasar tradisional untuk hunting berbagai jajanan khas penduduk setempat. Aku suka kue-kue tradisional, hanya saja perubahan sikap Ruwanta membuatku hilang selera. Meski tak terbaca oleh yang lain, ia seolah menghindariku. Ia mendadak asing, bukan si pemilik mata elang yang kukenal selama ini.

Aku membayangkan ia akan menawariku beberapa jenis kue untuk dicicipi bersama, meminta pendapatku sebelum memutuskan untuk membeli. Biasanya selalu seperti itu. Tapi kali ini, melihatku saja jarang. Ia tampak jaga jarak dan keseringan sok sibuk dengan hal-hal yang tidak penting. Aku juga kehilangan tingkah konyolnya. Liburan ini tidak asyik lagi.

Di hari berikutnya, di berbagai kesempatan aku berusaha mendekati Ruwanta. Aku mulai muak. Tingkahnya sangat biasa. Ia berhasil menganggap kejadian itu tidak pernah ada. Semudah itukah? Setelah sesuatu paling berharga dari diriku ia koyak, tidak bisakah ia memedulikan perasaanku? Yang kami perbuat itu bukan permainan, yang setelah usai lantas dilupakan atau beralih ke permainan lain. Aku harus mengajaknya bicara serius, tentang aku di matanya setelah ia menyesapi keindahan tubuhku. Tapi susah, ia tak pernah terlihat sendiri. Sedang aku tak ingin siapa pun tahu masalah ini. Termasuk Nila.

Aku menyendiri di balkon, tempat yang semakin kusuka sejak Ruwanta membuatku kalut dengan sikapnya yang tak biasa. Senja segera tiba, meracuni langit dengan semburat jingga yang memesona. Pikiranku melambung jauh, kembali ke awal pertemuan dengan Ruwanta. Namun, sulit kutemukan awal ia menjadikanku tawanan pesonanya. Serentetan kenangan lucu, manis, dan segala hal berkelebat kemudian. Kurasa kisah kami telah memasuki babak baru setelah sama-sama larut dalam dekapan setan. Setelah ini ... entahlah! Aku tak menemukan titik terang untuk hubungan kami. Lebih tepatnya, ikatan yang kuperjuangkan selama ini.

Ponselku bergetar. WA dari Yudit mengangkatku dari lamunan.

Yudit: Bagaimana liburannya? Semoga menyenangkan. Cuaca di Bogor tentu selalu dingin. Kalau mau beraktivitas di luar ruangan, jangan lupa pakai sweter, ya! Ditambah syal pemberianku juga boleh. Hehehe .... Jaga diri kamu baik-baik!

Dari mana Yudit tahu aku ada di sini? Ah, sudahlah. Ia memang selalu tahu segala hal tentangku. Lelaki itu ... aku selalu tidak mengerti bagaimana caranya mencintaiku. Ia tetap baik dan perhatian seperti dulu, bahkan setelah jelas-jelas aku membohongi sekaligus menolak ajakannya ke Bali. Sepintas aku teringat syal yang ia maksud. Syal ungu bermotif kelopak petunia. Entah kusimpan di mana benda malang itu. Aku tidak pernah memakainya.

Kali ini jemari tanganku tergerak untuk mengetik pesan balasan.

Senja: Terima kasih!

Terkirim. Tiba-tiba air mataku menderas.

Aku gagal jaga diri, Yud ....

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Jumat, 19 Januari 2024

Benih Terlarang (Bab 5)

 


Terima kasih wahai sepasang mata, telah terjaga dan mengantarkanku pada momen ini.


---


Cahaya sore merekah sempurna di Kota Bogor. Dingin masih geming di beberapa sudut. Ini waktu yang tepat untuk memulai agenda liburan yang telah kami rancang. Untuk sore ini kami akan berkuda mengelilingi perkebunan teh. Semua langsung memilih pasangan. Aku berpasangan dengan Ruwanta. Bukan kami yang menentukan, mereka yang menyisakan kami berdua. Padahal aku bermaksud berpasangan dengan Nila. Ini kesempatan emas untuk mengerjainya. Ia takut kuda, terlebih untuk menungganginya. Tapi berpasangan dengan Ruwanta juga tidak buruk. Malah lebih baik. Maka tanpa kupinta, ribuan kuntum petunia bermekaran di hati.

Sepuluh ekor kuda berjalan berderet. Mereka serupa tengah pawai untuk merayakan hari kebesaran. Aroma daun teh berpadu sejuk, bertamu dengan sopan ke rongga hidung. Aku dan Ruwanta menunggangi kuda urutan ketiga. Tepat di depanku ada Nila bersama Tomo, lelaki bertubuh gempal yang terkenal usil. Sepertinya ia salah pilih pasangan. Tubuh mungil Nila tampak tenggelam di belakang tubuh Tomo. Ia berpegangan erat, sedang wajahnya tenggelam di punggung lelaki yang tak hentinya tergelak itu. Sesekali ia memekik, ketika dirasa langkah kuda kurang seimbang. Nila benar-benar menjadi hiburan tersendiri buat kami.

"Kamu suka?" Ruwanta bertanya. Jarak antara mulutnya dan telingaku sangat dekat. Aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat.

"Suka banget," jawabku disertai anggukan.

"Suka kudanya, alamnya, atau orang yang bersamamu?" Nada jail mengental di kalimat barusan.

Aku menyikut pinggangnya. Kami terkekeh.

Tanpa persetujuan, Ruwanta memasang sebelah earphone di telingaku. Jadilah kami menikmati bersama alunan lagu Ada Cinta, lagu lawas romantis milik Acha Septriasa dan Irwansyah.

Mengapa berat ungkapkan cinta
Padahal ia ada
Dalam rinai hujan, dalam terang bulan
Juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta
Padahal ia terasa
Dalam rindu dendam, hening malam
Cinta terasa ada

Aku terhanyut. Kuda-kuda lain mendadak hilang di pandanganku. Lebih tepatnya, aku merasa tengah berdua saja dengan Ruwanta. Hamparan hijau daun teh perlahan menjelma ungu. Lagi-lagi aku melihat petunia di mana-mana. Semburat jingga mulai muncul di ujung langit, menambah efek dramatis suasana. Seperti inikah rasanya dunia milik berdua? Konyol. Maka, apa lagi maksud semua ini, Tuhan?

***


Aktivitas berkuda ternyata tidak bisa dianggap enteng. Meskipun hanya sekitar dua jam tadi sore, cukup mengundang pegal bersarang di badan. Mungkin karena tidak terbiasa. Akibatnya kami tidur lebih awal.

Aku terjaga setelah badan terasa lebih ringan. Sejenak, lagi-lagi bibirku melengkung indah saat mengingat kebersamaan dengan si mata elang tadi sore. Tangan kananku meraba ponsel yang selalu kuletakkan di sisi bantal saat tidur. Kedua mata memicing saat benda itu kuangkat di depan wajah dan layarnya mengeluarkan cahaya. Penunjuk waktu di sudut kanan atas menampilkan angka 2. Terlalu larut untuk malam, terlalu dini untuk pagi.

Di bagian tengah, aku menemukan nama Yudit. Tiga panggilan tidak terjawab. Tidak hanya itu, lelaki yang selalu tampil rapi itu juga mengirimkan foto di WA. Beberapa gambar kaus khas Bali yang disertai pertanyaan singkat, "kamu suka yang mana?" Sepertinya ia habis mengunjungi salah satu pusat suvenir di Pulau Dewata sana. Aku tidak berniat membalasnya. Meski kubilang tidak suka, ia pasti tetap akan membeli salah satunya.

Lagian tanpa kuberitahu pun, ia pasti bisa memilih sesuai seleraku. Ia sudah hafal mati. Ia mengirimkan foto-foto itu tadi sore, ketika aku tengah berkuda bersama Ruwanta. Ia pun bermaksud menelepon sekitar lima jam yang lalu. Aku memang selalu seperti ini. Mengabaikannya.

Aku memilih beranjak daripada mencoba untuk tidur kembali. Jika terjaga di jam segini biasanya susah tidur lagi. Aku tiba di balkon, bertemankan bintang menyesapi aroma malam. Saat mengecek ponsel tadi, sebenarnya aku mengharapkan notification dari Mama. Entah pesan atau panggilan tidak terjawab. Lagi-lagi pikiranku berhasil dikuasai tentang Mama. Perempuan glamor itu benar-benar tidak memedulikanku lagi. Ia sama sekali tidak khawatir setelah aku pergi tanpa pamit. Malam mendadak terasa lebih dingin, ketika tunas-tunas kebencian kurasakan mulai tumbuh di balik tulang rusuk.

"Jam segini, kok, belum tidur?" Suara bas barusan mengagetkanku.

Aku menoleh dan mendapati Ruwanta sedang menenteng gitar, melangkah mendekat.

"Tadi sudah tidur. Tapi aku emang kebiasaan bangun jam segini kalau tidur lebih awal."

Ruwanta duduk di railing balkon yang terbuat dari bahan stainless. Kaki kanannya masih menyentuh lantai untuk menjaga keseimbangan.

"Lah, kamu sendiri?" tanyaku balik.

"Belum ngantuk."

"Jam segini?"

Ia hanya tersenyum melihat ekspresiku.

"Tadinya aku di dipan sana." Gerakan mata elang itu mengarah ke dipan di pojok halaman, tempat favoritnya sejak tiba di vila ini. "Aku suka menatap bintang. Terkadang sampai lupa waktu. Menikmatinya berdua dengan seseorang, tentu lebih menyenangkan. Kebetulan ada kamu di sini," lanjutnya tanpa kupinta. Sepanjang kalimat tadi, ia menengadah. Menatap langit. Memantapkan rasa sukanya terhadap objek yang sedang dibicarakannya. Membuatku leluasa menikmati setiap keindahan yang Tuhan titipkan di wajahnya. Terpesona untuk kesekian kalinya.

"Ternyata dilihat dari sini bintangnya lebih terang." Ia kembali berucap, masih dengan senyum yang sama. "Kamu suka bintang?" Secepat kilat tatapannya berpindah ke mataku.

Aku lekas mengangguk, tanpa sempat berpikir benar-benar suka atau tidak.

"Kelak setelah menikah, anak pertamaku akan kuberi nama "Bintang". Tak peduli ia lelaki atau perempuan."

Apakah ia serius? Entahlah. Intinya ia benar-benar menyukai bintang. Detik selanjutnya kebersamaan ini dilatarbelakangi alunan melodi yang terlahir dari permainan gitarnya. Sempurna. Terima kasih wahai sepasang mata, telah terjaga dan mengantarkanku pada momen ini. Melanjutkan keinginan lelaki hitam manis di sampingku, seutas doa mengalun lirih dalam hati: semoga akulah ibu dari bintangnya.

***


[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA