Kamis, 29 November 2018

Review Novelet: Tangismu


Judul            : Tangismu

Penulis        : Iksan Mahar

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Yoga Permana Wijaya

Layout          : Tim Jejak CV

Cover            : Meditation Art

Cetakan        : Pertama, September 2017

Tebal             : 231 hlm

ISBN               : 978-602-5455-10-0

Blurb:
Pernah menangis karena kisah asmara? Semua insan pasti pernah merasakan masa-masa terpuruk itu. Dan, setiap insan memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi setiap kesedihan yang hadir dari kekasih hati.

Patutkah kita terpuruk dalam kesedihan? Atau harus segera bangkit untuk melanjutkan kehidupan? Seluruh jawaban itu menjadi pilihan setiap insan. Menangis adalah hal terbaik untuk meluapkan kesedihan. Tetapi, bangkit dari keterpurukan sesungguhnya adalah jawaban pamungkas untuk tetap menjalankan roda kehidupan.

Tangismu berisi tiga novelet yang menyadarkan kita bahwa setiap musibah dan kesedihan selalu menyembunyikan hikmah yang tersirat. "Jangan larut dalam sedihmu itu, Sayang. Bangkit dan terus kejarlah mimpi-mimpimu ...."

Nukilan:
Buku ini terdiri dari 3 novelet yang sungguh menyayat.
Novelet pertama berjudul "Pesan tertinggal", berkisah tentang perjuangan Sandi menyelesaikan pendidikan masternya di UM Malaysia. Saat Sandi hampir meraih gelar masternya, seseorang dari masa lalu tiba-tiba kembali menyapa lewat email.

Indah, sahabat sekaligus teman duduk Sandi saat SMA. Mereka sangat akrab waktu itu, dan sebenarnya mereka memendam perasaan yang sama. Namun, Sandi punya alasan kuat hingga memilih menyimpan perasaannya untuk nanti, sampai ia merasa benar-benar siap.

Ketika Indah kembali menghubunginya, Sandi berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakannya kali ini. Karena itu, setibanya di tanah air, Sandi langsung menemui Indah. Sayang, apa yang ditemuinya sungguh memilukan.

"Sandi sadar duka itu pasti akan sangat menyiksa batinnya. Bahkan hingga saat ini, Sandi belum mampu memecahkan segala teka-teki yang menghantui pikirannya selama ia di Kuala Lumpur. Teka-teki yang menyimpan rahasia akan keadaan Indah saat ini."_(hal 60)

Novelet kedua berjudul "Arrivederci, Amore!", mengisahkan persahabatan Dani dan Bunga yang juga tetanggaan. Dalam keseharian, Dani selalu ada untuk Bunga. Bahkan, Dani membantu Bunga untuk mendapatkan lelaki idamannya. Sayangnya, sampai bunga berhasil mendapatkan keinginannya, ia belum sadar bahwa sebenarnya tidak ada yang lebih ia butuhkan selain Dani.

Hingga suatu hari Bunga tersadar, setelah hubungannya bersama sang lelaki impian kandas. Namun, segala sesuatunya sudah berbeda. Ada yang tak bisa diperbaiki meski Bunga begitu ingin. Kendati demikian, Bunga tidak ingin menyesal sedikit pun.

"Terkadang apa yang tak pernah kita harapkan kehadirannya, malah itu yang kita raih. Semua itu telah menjadi suratan takdir yang telah ditentukan, dan tugas kita sebagai seorang hamba hanya menjalani dan mensyukuri apa yang telah kita dapatkan."_(hal 106)

Novelet ketiga berjudul "Pelerai Lara", bercerita tentang Andri yang depresi setelah ditinggal nikah oleh kekasihnya. Berbulan-bulan ia larut dalam kesedihan, hingga nyaris menghancurkan hidupnya. Hingga suatu hari, atas anjuran dokter, pihak keluarga sepakat untuk mengasingkan Andri ke Makassar, menjauh dari segala kenangan tentang Aristi. Di sanalah ia ketemu Gina, psikiater yang bertugas membantu kesembuhannya.

Di bawah penanganan Gina, perkembangan Andri cukup signifikan, hingga ia berhasil menemukan dirinya yang dulu. Sepanjang kebersamaan itu, keduanya pun menyadari perasaan istimewa yang tumbuh di antara mereka. Namun sebelum semuanya telanjur jauh, Gina memaparkan sebuah fakta tentang masa lalunya yang cukup membuat Andri terkejut.

"Kamu yakin bisa menerimaku dengan semua yang ada di diriku? Dengan apa yang telah terjadi dan apa-apa yang akan terjadi padaku?"_(hal 206)

Sumpah, saya benar-benar larut mengarungi kesedihan yang seolah tidak ada akhir dalam cerita ini. Kamu penasaran? Yuk segera dapatkan bukunya.

Review:
Dari judul dan nuansa kover, kita sudah bisa menebak akan seperti apa cerita dalam buku ini. Betul, kisah-kisah yang disajikan penuh air mata, juga sayatan pilu yang akan membekas di hati pembaca. Buku ini tidak disarankan untuk kamu yang tidak kuat dengan cerita sad ending. Takut nggak kuat. Hehehe ....

Saya suka diksinya, terkesan smart. Ketiga cerita yang disajikan memiliki kemiripan konsep, yang tentu saja punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan jika boleh memilih, saya paling suka cerita ketiga.
Meskipun cerita-cerita ini dipenuhi air mata, penulis menyampaikannya jauh dari kesan cengeng. Di beberapa bagian kita disuguhi petuah yang cocok untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sayang, cara penulisan yang salah masih banyak saya temukan. Penggunaan kata juga kurang efisien, masih terdapat pengulangan tidak penting di beberapa bagian. Di salah satu cerita, opening-nya juga terlalu pasaran. Tapi saya suka narasinya, terlebih penggambaran setting-nya. Penulis juga piawai menghidupkan tokoh, hingga mereka terasa nyata.


Overall, buku ini cocok banget untuk kamu penyuka sad ending. Ingat, buku ini tidak hanya mengajak kita untuk bersedih, tapi juga mengandung banyak banget pesan moral. Setelah membaca buku ini, mungkin kamu bisa lebih memahami cara menghadapi setiap masalah yang datang.

Senin, 10 September 2018

Review Novel: My Real Boy


Resensi ini tayang di koran Singgalang edisi 9 September 2018

Judul buku           : My Real Boy

Penulis                  : Ansar Siri

Penerbit                 : Buku Pintar Indonesia (Bupindo)

Cetakan                 : I, Agustus 2018

Jumlah halaman   : x + 221 halaman

ISBN                         : 978-602-5849-21-3

Ansar Siri --penulis pendatang baru asal Makassar—hadir meramaikan kancah literasi nasional dengan menelurkan sebuah novel remaja berjudul My Real  Boy. Novel yang awalnya diposting di Wattpad ini akhirnya berhasil mencuri perhatian salah satu penerbit untuk diterbitkan secara mayor. Memang benar adanya naskah itu sudah punya jodohnya masing-masing, novel ini membuktikan. Tak perlu jutaan pembaca seperti naskah-naskah dunia orange lainnya untuk berhasil menembus penerbit, novel ini bahkan belum tayang 100% di wattpad.

My Real Boy bercerita tentang sosok Gilang Rendra, seorang pemuda yang mendadak menjadi idola baru kaum hawa --karena puisi-puisinya di akun wattpad diterbitkan oleh penerbit ternama-- termasuk oleh Alea, seorang gadis yang hobi membaca. Tapi tidak seperti gadis-gadis lain, ketertarikan Alea pada sosok Gilang bukan karena cowok tampan itu memiliki wajah mirip artis Korea, melainkan karena puisi-puisi romantisnya yang sanggup melelehkan hati Alea. Namun apa jadinya, jika tak lama berselang, sosok Gilang tiba-tiba muncul menjadi siswa baru di sekolahnya dan secara nyata malah mengungkapkan perasaan sukanya pada Alea? Apakah Alea masih bersikap sama, hanya mengagumi puisinya?

Jangan mengira ini adalah konflik dari cerita, karena sesungguhnya, Ansar Siri baru saja memulai kisahnya. Sebuah pembuka kisah yang tentu akan membuat pembaca semakin penasaran, menghadirkan konflik di awal-awal cerita. Penulis kelahiran Bone Sulawesi Selatan ini ternyata mulai memainkan kepiawaiannya dalam meramu cerita, itu baru konflik pembuka, masih banyak konflik-konflik lain yang kemudian bermunculan dalam cerita yang tentu akan membuat kita sebagai pembaca enggan meninggalkan buku ini sebelum mengakhirinya.

My Real Boy tidak melulu bercerita tentang kisah cinta Gilang dan Alea. Naskah setebal 220 halaman ini mengandung kisah-kisah cinta lain yang diusung tak hanya sebagai pelengkap, tapi merupakan  bagian penting dalam novel. Ada kisah tentang indahnya persahabatan antara Alea, Ratih, dan Delon, yang sempat retak karena kehadiran Gilang. Tapi tak berlama-lama, cinta akhirnya menyatukan persahabatan itu kembali. Ada kisah tentang indahnya jalinan kasih sayang yang dibangun oleh Hadi dan Rahma dalam membesarkan Alea yang ternyata bukanlah anak kandung mereka. Juga kisah alasan dibuangnya Alea oleh sang ibu kandung yang lagi-lagi bukan tanpa alasan, semua karena cinta.

Menariknya lagi dari novel ini, kita akan disuguhkan quote-quote menarik yang terlontar dalam dialog-dialog antar pemerannya. Kata-kata puitis yang dirangkai penulis dengan indah itu tentunya akan semakin membuat kita terhanyut membacanya. Berikut adalah beberapa kutipannya:

“Gue mampu menulis ribuan bait puisi, tapi lenyap seketika jika harus gue ucapkan di depan lo. Karena perasaan gue bukan sesuatu yang butuh dimanipulasi, tidak perlu dimanis-maniskan. Ini kesungguhan.” (halaman 46)

“Bukankah dari dulu teori persahabatann selalu sama? Senang bareng, susah bareng, gila juga bareng.” (halaman 70)

“Gue nggak akan nyuruh lo belah dada gue biar bisa percaya, itu terlalu mengerikan.” Gilang menyingkirkan kapas yang terapit di jemari Alea, lalu meletakkan tangan itu di dadanya. “Tapi coba rasakan ini, adakah detak keraguan?” (halaman 80)

“Jauh sebelum aku mengenal cinta, dia pernah menjadi satu-satunya sinar dalam gelap, reda dalam kecamuk, dan teman dalam sepi. Berkat dia, aku mengenal dunia baru yang kusebut bahagia.” (halaman 218)

Hampir lembar demi lembar dalam novel ini berisi kata-kata puitis yang merupakan ciri khas penulis yang memang konsen dalam menulis novel romance ini.
Pun begitu, tak berarti novel ini tidak mempunyai kekurangan. Kekurangan pertama yang langsung terlihat sepertinya terdapat pada cover. Entahlah, mungkin ini hanya soal selera, tapi saya benar-benar tidak menyukai cover yang terlihat terlalu sederhana itu. Warna background-nya terlalu suram untuk ukuran anak remaja yang menyukai hal cemerlang dan terang benderang. Menurut saya alangkah baiknya background kelabu itu diganti warna putih –tentu saja tulisan putih pada cover diganti dengan hitam atau yang lain—yang akan membuat buku ini punya daya tarik sebelum pembaca mengetahui isinya yang memang jauh lebih  menarik.

Kesalahan ketik juga masih terdapat di beberapa tempat dalam buku ini. Seperti book stagramer yang ditulis book stragmer, jogging yang ditulis jongging, atau nangis yang ditulis nagis. Mengingat buku ini sudah mendapat sentuhan editor, tentunya kesalahan-kesalahan seperti itu tidak boleh dibiarkan terjadi.

Terlepas dari semua itu, secara keseluruhan, saya menilai buku ini layak untuk diapresiasi. Penulis berhasil memulai, mengembangkan, dan pada akhirnya mengakhiri cerita ini dengan baik. Satu dari sekian banyak pesan yang tersirat dalam novel ini adalah bahwa jodoh itu sudah ada yang atur. Orang yang kita sayang belum  tentu akan menjadi jodoh kita, sebaliknya, orang yang kita benci, bisa jadi adalah jodoh yang telah disiapkan-Nya untuk kita.

Buat kamu yang penasaran siapa sebenarnya The Real Boy-nya Alea dalam cerita ini, buruan datangi toko buku terdekat, ambil novelnya dan segera bawa ke hadapan kasir. Percayalah, setelah membaca novel ini, kalian akan merindukan karya-karya lain dari Ansar Siri.


Perensesi: uda_agus27

Rabu, 15 Agustus 2018

Review Novel: Lucky and The Luck of Star Stone


Judul            : Lucky and The Luck of Star Stone

Penulis        : Ergina Nugraheni

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Tim CV Jejak

Layout         : Tim CV Jejak

Kover           : Rendi Saiful Azid

Cetakan       : Pertama, September 2017

Tebal            : 188 hlm

ISBN             : 978-602-5455-26-1

Blurb:
Dia seorang bocah laki-laki berumur 14 tahun. Keluarganya hanya sepasang manula yang gila menulis. Dia tidak memiliki teman, hanya dengan waktu dia habiskan bersama. Berkeliling dunia, beradaptasi dengan kota-kota baru dan aneh. Mencari kehangatan pelukan ayah dan ibu. Mencari teman, mencari kepingan ingatan yang hilang. Seorang bocah amnesia yang terseret dalam lautan waktu masa lalu, kini, dan masa depan. Bersama kawan kecilnya yang seekor kelelawar, kehidupan gersangnya pun berubah. Kini ia harus mengakhiri pencarian 14 tahun lamanya untuk menemukan cahaya dan melawan kegelapan yang merenggut kebahagiaan hidup anak-anak pada umumnya, kehidupannya. Namanya Lucky, dia yang terjebak di sebuah kota tanpa warna, The Coral City.

***

Alur Cerita:
Lucky merasa aneh dengan dunia di sekitarnya. Di sekolah, ia tidak punya teman. Entah kenapa mereka menjauhinya. Di kelasnya, ada seorang siswa yang menarik perhatiannya. Entah, ia merasa siswa itu sama seperti dirinya, manusia normal yang pura-pura berbaur dengan siswa yang lain.

“Sikapnya berbeda dengan siswa-siswa yang lain. Aku merasa dia adalah manusia normal yang terjebak dalam lingkungan orang-orang aneh dan misterius di kota kecil ini, Kota Coral.”_(hal 8)

Pada akhirnya Lucky penasaran untuk menyelidiki kota tempat tinggalnya itu lebih jauh. Rasa penasaran itu membawanya menemukan sebuah buku tentang sejarah Kota Coral di perpustakaan sekolah.

Suatu hari, Lucky berkeliling, hendak memastikan kebenaran buku itu. Namun, keadaan yang ia temukan sangat berbanding terbalik dengan isi buku. Ia malah masuk ke hutan dan bertemu makhluk mengerikan.

Lucky kembali ke rumah dengan pikiran yang semakin rumit. Ia berusaha mengenal kota itu, tapi apa yang ia temukan di hutan tadi semakin membuatnya bingung.

Di tengah kebingungan itu, seekor kelelawar aneh yang bisa bicara memasuki kamarnya. Lucky ingat, itu kelelawar yang sama dengan yang dilihatnya di hutan. Sebelum pergi tanpa sepengetahuan Lucky, kelelawar itu menulis pesan misterius di cermin.

“Empat belas tahun umurmu sekarang. Waktunya telah tiba. Bulan telah bersinar kembali. Cari buku mengenai kota ini. Temukan lembaran buku yang hilang. Temukan semua yang kau cari. Waktumu tak banyak. Cepatlah!”_(hal 36)

Meski tak paham dengan isi tulisan itu, Lucky merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Pasti ada yang tidak beres di sini. Ia harus segera bertindak.

Karena terus kepikiran isi pesan misterius itu, Lucky mengendap-endap keluar rumah. Ia harus ke perpustakaan sekolah, menemukan buku sejarah Kota Coral. Nahas, aksinya ketahuan oleh si penjaga perpustakaan yang ternyata bersekutu dengan Matrik, manusia setengah kelelawar yang juga ditemuinya di hutan.

Lucky ditawan, dengan alasan yang tidak ia pahami. Kata Matrik, Lucky sebuah ancaman yang bisa membawa perubahan buruk untuk Kota Coral yang menurutnya sudah damai. Lucky memiliki nama yang sama dengan penulis buku sejarah Kota Coral. Umurnya pun tepat 14 tahun ketika bulan kembali bersinar, seperti dongeng kuno yang dipercayai penduduk Kota Coral. 14 tahun setelah buku itu ditulis, akan datang seseorang yang akan membawa perubahan. Dan menurut Matrik, orang itu adalah Lucky.

“The Coral City adalah buku karangan penulis Lucky Luck. Tidak ada yang tahu dia sekarang ada di mana. Di buku ini juga tidak tertulis seluk-beluk tentang dirinya.”_(hal 49)

Belum sempat mengerti apa yang terjadi di kota ini, Lucky sudah terjebak di posisi yang sulit. Benarkah ia orang yang dimaksud dalam dongeng itu? Apa hubungan Lucky dengan buku sejarah Kota Coral?

Segera miliki buku ini dan temukan sendiri jawabannya.

Review:
Saya selalu salut dengan penulis yang berani mengambil genre fantasi. Terlebih jika berhasil membangun dunia fantasi yang baru. Benang merah dalam novel ini bukan baru-baru amat, tapi unik.

Di awal, penulis berhasil membangun rasa penasaran. Buku sejarah Kota Coral yang tak sengaja ditemukan  Lucky menarik perhatian. Tentang  siapa sebenarnya penulis  buku itu, di mana bagian yang hilang,  kenapa bisa hilang, dan banyak lagi. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu, mengikuti kisah Lucky jadi sangat asyik, seru dan menegangkan.

Story telling-nya lumayan enak, hanya saja tata cara penulisan masih agak berantakan. Banyak juga pemborosan kata. Hal ini tertolong dengan cara penulis mengeksekusi ceritanya, yang menurut saya cukup berhasil.


Overall, novel ini lumayan menghibur. Kisah fantasi yang ringan dengan konflik yang tidak terlalu padat.

Senin, 13 Agustus 2018

Review Film: Serendipity


Sinopsis:
Setelah ayahnya wafat, Rani harus berjuang untuk hidupnya sendiri dan ibunya. Rani terpaksa menjadi Lady Escort untuk sebuah klub malam.

Namun, tidak ada yang tahu persis kisah Rani sebenarnya. Termasuk Arkan, pacarnya. Kisah hidup Rani di sekolah dengan di luar sekolah sangat berbeda.
Nasib sial menghampiri Rani, Arkan mengetahui apa yang dikerjakan Rani setelah pulang sekolah. Kejadian ini kemudian menyebar cepat, dan membuat kehidupan Rani semakin perih. Jean, teman baiknya pun menjauhinya.

Di tengah kesendiriannya, Rani bertemu dengan anak baru bernama Gibran. Kehidupan Rani jadi semakin rumit setelah Gibran merasa begitu dekat dengan Rani. Sementara itu, Arkan seperti masih menyimpan rasa pada Rani. Seperti apa kelanjutan hidup Rani setelah itu?

Sumber:
Lihat info apa yang saya bagikan: Sinopsis Film Serendipity, Drama Remaja yang Segera Tayang di Bioskop @MIUI | https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/sinopsis-film-serendipity-drama-remaja-yang-segera-tayang-di-bioskop/

_*_

Kesan setelah nonton:
Menghanyutkan.

Saya berhasil diajak masuk ke kehidupan Rani. Saya turut merasakan sepelik apa kondisi yang dihadapinya.
Yang saya acungi jempol adalah akting para pemainnya. Sebab, konfliknya sebenarnya bukan hal baru, tapi mereka berhasil memerankannya sangat apik hingga lekat di benak saya.

Dibanding Arkan, saya lebih suka Gibran. Karena itu, saya rada kecewa sama ending-nya. Bukan nggak setuju, tapi mungkin bisa dibuat sedikit lebih adil untuk Gibran dan penonton yang simpatik padanya. Emang ending-nya gimana? Ah, nonton saja, ya. 😁

Yang agak janggal hanya di bagian konflik orangtua mereka, yang di awal tampak menggebu-gebu, namun diselesaikan dengan sangat enteng. Tidak ada pembantahan yang bisa menaik-turunkan suhu cerita. Satu lagi, menurut saya, karakter Gibran agak ngambang. Tiba-tiba pindah sekolah dan femes. Latar belakangnya apa? Terus, kita tidak pernah diperkenalkan dengan keluarganya. Emang nggak harus, sih, tapi dibanding Rani dan Arkan, Gibran berasa berdiri sendiri.


Overall, film ini lumayan keren. Pesannya, jangan sok menilai kehidupan orang lain. Sebab yang terjadi sesungguhnya belum tentu sesuai dengan apa yang terlihat.

Senin, 06 Agustus 2018

Review Film: Mission Impossible Fallout


MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT masih mengisahkan tentang Ethan Hunt (Tom Cruise). Ethan lagi-lagi harus menghadapi masalah yang melibatkan masa lalunya sebagai mantan anggota Impossible Mission Force (IMF). Petualangan Ethan dimulai ketika misi IMF gagal dan dunia terancam hancur karena adanya perebutan benda yang bisa mengancam terjadinya perang nuklir.

Ethan pun harus bisa menyelesaikan misi penyelamatan dunia dengan diburu waktu serta harus menghadapi hadangan dari pembunuh dan mantan rekannya yang ingin dia gagal. Bukan cuma itu masih ada campur tangan dari agen CIA bernama August Walker (Henry Cavill). Maklum kali ini loyalitas Ethan memang dipertanyakan oleh CIA.

Tentu saja Ethan pun tak sendirian dalam menjalankan misi mustahilnya. Ia dibantu oleh teman-temannya seperti Benji Dunn (Simon Pegg), Adan Luther Stickeel (Ving Rhames), dan si cantik Ilsa Faust (Rebecca Ferguson). Mereka pun bersatu untuk mencegah terjadinya perang nuklir.

Selain ceritanya yang bikin tegang, aksi heroik Tom Cruise seperti melompat dari satu gedung ke gedung dan bergelantungan lain masih akan bisa ditonton di seri keenam ini. Henry Cavill yang sebelumnya dikenal lewat perannya sebagai Superman pun juga akan menunjukkan kemampuan yang sama, nggak mau kalah dengan seniornya. Buat para wanita, ketampanan para aktor ini juga akan sangat memanjakan mata.

Sumber: Lihat info apa yang saya bagikan: Sinopsis 'MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT', Cegah Nuklir Hancurkan Bumi | M.Kapanlagi.com @MIUI | https://m.kapanlagi.com/showbiz/film/internasional/sinopsis-mission-impossible-fallout-cegah-nuklir-hancurkan-bumi-20e7f8.html?utm_source=GoogleAMP&utm_medium=after-content&utm_campaign=AMP-referal-track&utm_content=Baca-Selengkapnya

***

Kesan setelah nonton:
Seru dan menegangkan.

Selain aksi menantang maut dari sang jagoan, apa lagi yang diharapkan dari film action setipe ini?

Meski sempat bosan dengan opening yang menjelaskan benda yang sedang diperebutkan, dengan sedemikian rinci, pada akhirnya saya terpukau dengan kekacauan yang disajikan kemudian. Aksi kejar-kejaran di jalan raya, lompat antar gedung, pertarungan, kebut-kebutan di udara, semuanya menakjubkan.

Ending-nya sudah ketebak, sih. Meski judulnya impossible, pada akhirnya jagoan kita akan berhasil sesuai harapan. Kendati demikian, ada sedikit plot twist di tengah-tengah yang cukup keren.


Durasinya terbilang panjang. Jadi buat kamu penggila action, dijamin puas.

Minggu, 05 Agustus 2018

Review Kumcer: Bias Cinta dari Mukalla


Judul            : Bias Cinta dari Mukalla

Penulis        : Balqis Aziziyah

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Desy Lestari

Layout          : Tim CV Jejak

Kover            : Andi Tri Saputra

Cetakan        : Ketiga, Januari 2018

Tebal             : 166 hlm

ISBN              : 978-602-5455-20-9

Beginning:
Semua orang selalu ingin berbahagia dengan cinta yang mereka rasakan, walaupun tak jarang cinta membawa air mata dan menyisakan sesak di dada. Buku ini kumpulan kisah dan catatan tentang cinta, yang disaksikan, ditangkap, ditulis, dan dikenang oleh penulis dari sebuah kota romantis di pesisir semenanjung Arab, Mukalla, provinsi Hadhramaut, negara republik Yaman.

Mari mengenal lebih jauh tentang cinta dengan mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya yang terkadang bahagia, namun tak jarang menguras air mata. Semoga kita dapat berbahagia kumpul bersama yang dicinta dalam rida-Nya, dunia dan akhirat.
Amin.

***

Nukilan:
Buku ini dibuka dengan cerpen penuh luka. Ketika hati seorang perempuan yang gampang terpikat oleh pesona lelaki, menemukan pelabuhan yang dianggapnya paling tepat, namun akhirnya harus berjuang membesarkan hati ketika takdir berkata lain.

“Benarkah yang kudengar tadi? Aku langsung terjatuh duduk di lantai kamar. Telepon sudah lepas dari genggamanku dari tadi. Kakiku serasa tak berpijak. Pikirku serasa tak berputar. Hatiku seakan tak merasa. Mataku bisa melihat, tapi akalku tak bisa mencerna apa yang aku lihat. Malah jadi seakan-akan gelap.”_(Kutipan cerpen "Kisah Ana”_hal 36)

Di cerpen selanjutnya, aroma luka masih menguar. Penyebabnya hampir serupa, namun lebih sesak.

“Cinta itu memang penuh pengorbanan. Tapi kalau kita mau mencerna lagi, kita bisa belajar banyak dari peristiwa yang terkisah dengan asas cinta. Pukulan ini sekaligus menjadi guru terhebat dalam kehidupan saya. Satu hal yang pasti: kita benar-benar butuh petunjuk dan kekuatan-Nya ketika ingin menggenggam cinta.”_(Kutipan cerpen "Luka yang Kembali Terbuka"_hal 157)

Teori tentang cinta mungkin bisa kita temukan di banyak bacaan. Namun, di sini penulis menyuarakannya secara lebih logis.

“Bahwa teori-teori tentang cinta akan jatuh telak ketika dihadapkan langsung dengan kenyataan tentang cinta. Aku merasakannya, aku mengalaminya, dan aku mencoba untuk menghadapinya dengan sepenuh hati, setulus hati, dan sekuat jiwaku. Karena aku punya masa depan dengan yang lain, yang berhak menerima cintaku dengan murni.”_(Kutipan cerpen "Cerita Cinta"_hal 90)

Penulis tak lupa mengangkat hambatan yang umum terjadi di kehidupan sehari-hari. Perihal restu yang tak kunjung datang hanya karena sang tambatan hati pernah gagal di kesempatan sebelumnya.

“Aku jadi heran, apa surga dunia yang terbingkai dalam mahligai suci pernikahan tidak bisa diraih oleh orang-orang yang pernah gagal membinanya? Serendah itukah mereka memandang orang-orang yang menyandang status duda atau janda?”_(Kutipan cerpen "Kau Ajarkan Aku Cinta"_hal 103)

Kejutan yang saya temukan belakangan, ternyata tidak hanya bercerita, di buku ini penulis juga mempersembahkan kajian cinta dari segala aspek dengan cukup rinci.

“Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.”_(Kutipan Catatan Cinta: Orientasi Cinta Ilahi_hal 143)

Tidak cukup sampai di situ. Bahkan, penulis tak lupa menyinggung soal pernikahan.

“Dalam pernikahan, sepasang suami istri berbagi semua rasa, tanpa terkecuali. Tidak hanya merasakan senang tanpa susah, merasakan bahagia tanpa sedih, atau menikmati tampan/cantik tanpa menerima kejelekan lainnya.”_(Kutipan Catatan Akhir: Cinta dan Pernikahan_hal 163)

Seperti apa buku ini secara keseluruhan? Langsung miliki aja, ya.
***

Review:
Seluruh cerpen dalam buku ini berkisah seputar lika-liku cinta hingga berujung pada kebahagiaan sejati, atau malah luka yang tak berkesudahan. Kisah yang diceritakan Sebenarnya cukup umum, bahkan dengan mudah kita temukan di kehidupan sehari-hari. Tapi di sini penulis sukses membangun karakter yang kuat, sehingga pembaca dengan mudah diajak terlibat dalam cerita dan turut merasakan konflik yang dihadapi si tokoh. Bahasanya cukup sederhana, tapi memikat.

Asyik sekali membaca buku ini. Selain baperin, kisah yang disajikan penuh pelajaran. Banyak petuah yang bikin adem dan membuat kita lebih mengerti seperti apa itu cinta. Dalam buku ini sedikit banyak digambarkan, bagaimana seorang muslimah yang taat menjaga perasaannya. Penulis berhasil meniupkan ruh di setiap goresannya. Yang paling saya suka, meski porsinya kecil, buku ini bisa menambah pembendaharaan kata bahasa Arab.

Jika ada buku fiksi dan non fiksi, khusus untuk buku ini berdiri di tengah-tengahnya. Di bagian akhir penulis menambahkan catatan tentang cinta dan pernikahan yang cukup informatif.

Namun, selain peletakan "ku" kurang tepat, masih terdapat beberapa typo. Ada bagian yang rasanya terlalu mirip curhatan. Jadinya kayak baca buku diary.


Overall, saya suka buku ini. Benar-benar paket cinta super komplit yang sayang jika dilewatkan.

Minggu, 29 Juli 2018

Review Kumcer: Merayu Langit


Judul            : Merayu Langit

Penulis        : Gunung Mahendra

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Iis Tentia Agustin

Layout          : Tim CV Jejak

Kover            : Ivan Eliansyah

Cetakan        : Pertama, September 2017

Tebal             : 148 hlm

ISBN              : 978-602-5455-16-2

Testimoni:
"Cinta, kenangan, dan mimpi disuguhkan dengan sederhana tapi tak kehilangan makna. Manis! Tulisan ini cocok untuk pembaca yang sedang mencari sesuatu dalam hidupnya."
(Sinta Yudisia, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP), Psikolog, Penulis)

"Sekumpulan cerpen dalam Merayu Langit adalah bukti kepiawaian Gunung dalam mengolah kata-kata menjadi hidup dan berenerji, kata-kata yang melompat menghias dirinya. Karya yang sangat layak dibaca!"
(Rafif Amir Ahnaf, Ketus Wilayah Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur)

"Sebagaimana galibnya cerita fiksi, Merayu Langit, merambah dunia yang bahkan tidak pernah ada sesungguhnya, meski dengan nama-nama tempat yang bisa dikenali di dunia nyata. Ketertarikan penulisnya kepada daerah yang penuh gejolak karena ketidakadilan politik dunia, menjadi salah satu benang merah yang muncul dalam antologi ini. Pilihan yang menarik karena potongan-potongan kejadian, pertanyaan-pertanyaan yang muncul sesudahnya menyentuh siapa saja yang masih punya nurani. Siapa pun yang masih mau mendengarkan hati kecilnya."
(Antariksawan Jusuf, Ketua Organisasi Budaya Sengker Kuwung Belambangan)

"Membaca buku ini kita serasa masuk di sebuah restoran nan mewah. Segala menu siap disantap namun risiko harganya selangit. Buku yang kaya ide dan ketika membacanya terasa berat hingga dahi berkerut. Ceritanya beda, istimewa dan disajikan dengan sangat apik. Jagad sastra Indonesia harus waspada pada penulis pemula yang brilian ini. Buku pertama dan pantas disejajarkan dengan para peraih nobel sastra. Sungguh. Terakhir, 'kok bisa dia nulis cerita seperti ini?' Jika sudah larut ke dalam cerita, sensasinya sungguh dahsyat, sehingga tidak terasa ketika sudah sampai pada baris terakhir."
(Eko Cahyono, Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa Malang)

***

Nukilan:
Buku ini dibuka dengan cerpen yang sangat unik. Penulis berhasil membuat kita terhanyut, bagaimana ketika sebuah benda mati menjadi saksi seorang pria menanggapi gejolak cinta di dadanya. Meski poin yang disembunyikan berhasil saya tebak, namun cerpen ini sangat menghibur.

“Paling tidak, aku telah menyelesaikan misiku dengan baik, sebelum dia menggeletakkanku, meninggalkanku sendiri dengan isi perut yang tak lagi tersisa, dan mencari pengganti yang lain.”_(Kutipan cerpen "Menyulam Pemanas Semesta"_hal 15)

Cerpen selanjutnya, penulis menonjolkan kepiawaian mendeskripsikan situasi di sekitar tokoh. Saya berhasil digiring ke terminal tempat Gunawan bernostalgia. Cara penulis menuangkan suasana hati tokoh pun terasa hidup. Melonya terasa.

“Mengingat-ingat rentetan kejadian itu, Gunawan merasakan berbagai perasaan yang saling berkelindan satu sama lain di dadanya. Senang, sedih, gundah, atau bahkan sukacita. Semua perasaan itu tidak dapat tergambarkan dengan utuh, abstrak.”_(Kutipan cerpen "Terminal Nostalgia”_hal 29)


Yang berhasil saya raba sejauh ini adalah, penulis beberapa kali membuka ceritanya dengan penggambaran situasi yang cukup dramatis dengan permainan kata yang tidak hanya enak dibaca, tapi juga penuh makna.

“Hentakan ribuan kaki menggetarkan permukaan bumi. Begitu panas, begitu pengap. Bahkan, pikiran terlalu sakit untuk berpikir. Tak ada tempat untuk bersandar. Berkeluh kesah. Menyelamatkan harta benda. Menolong sesama. Semua sibuk memikirkan cara meneruskan hidup yang tanpa arti itu. Tanpa arti, bila tak ada kepedulian sosial. Satu per satu jatuh bak daun berguguran.”_(Opening cerpen "Merpati dan Ribuan Matahari"_hal 82)

Menurut saya, beberapa opening sangat sukses memancing minat untuk lanjut membaca.

“Sayup-sayup terdengar bahana derap kaki yang menggetarkan unsur dasar penciptaan manusia. Mengiringi kepalan kehidupan yang kian menyiksa dada. Menyambut peluh yang kian membanjiri sekujur raga. Letupan berona merah jingga yang berkelap-kelip, seakan menjadi pengantar surat menuju Sang Sutradara Semesta. Kabut kepedihan, gelora kepiluan, semilir perih silih berganti menusuk kalbu.”_(Opening cerpen "Syahadat di Bawah Atraksi Dirgantara"_hal 94)

Makin ke belakang, penulis seolah mempertontonkan kebolehannya bercerita. Beberapa cerpen, untuk saya pribadi, butuh lebih dari sekali membacanya untuk benar-benar paham maksudnya. Bukan buruk, tapi karena benang merah yang diletakkan penulis memang agak misterius.

“Satu-satunya petunjuk paling mudah dia mengerti, yang dibeberkan Ibu dengan cara yang mengejutkan Jun, adalah dengan mempertemukannya denga Rara. Seorang gadis sepantarannya yang menjadi anak gadis seorang ibu-ibu penjual gorengan di Pasar Utama.”_(Kutipan cerpen "Merekahnya Cendawan Terakhir"_hal 133)

Di tengah rentetan kalimat dengan kandungan makna sedemikian pekat, sesekali penulis menyelipkan nuansa manis. Ini yang bikin gereget.

“Pacaran? Sepertinya tidak, karena Kumara telah mewanti-wanti bahwa dia tidak ingin menggunakan istilah itu untuk kedekatan mereka. Sahabat? Juga sepertinya tidak. Mungkin, lebih tepatnya sebuah pertemanan istimewa.”_(Kutipan Cerpen "Merayu Langit”_hal 144)

Bagaimana buku ini secara keseluruhan? Yuk, segera miliki dan temukan pengalaman membaca yang baru.

***

Review:
Pertama-tama, izinkan saya memuji perpaduan desain cover, warna, dan judul yang sangat menenangkan. Kedua, mengetahui seluruh cerpen dalam buku ini pernah tayang di media, tak heran jika saya dibikin jatuh cinta sedemikian mudah.

Tema yang diangkat cukup beragam, hingga pada perpindahan dari cerpen satu ke cerpen berikutnya punya peralihan rasa, semacam petualangan dalam aktivitas membaca yang menyenangkan.

Meski penulis banyak menggunakan perumpamaan, bahasanya tetap renyah, tanpa mengurangi makna dari kalimat itu sendiri.

Namun, (barangkali) terbuai kepiawaian meracik kata, dalam mendeskripsikan sesuatu terkadang terlalu datail hingga cerita terasa lambat. Selain tata cara penulisan yang kurang tepat, beberapa kata keseleo, saya juga menemukan peletakan tanda baca yang kurang tepat.

Overall, buku yang tergolong tipis ini lumayan sukses menghibur saya. Banyak hal baru yang belum pernah saya temukan di buku lain.