Minggu, 13 Mei 2018

Review Film: Assalamualaikum Calon Imam


Sinopsis:

Kepercayaan merupakan barang yang cukup langka bagi Fisya (Natasha Rizki), apalagi karena pernah punya masa lalu yang kelam tentang ayahnya. Di satu sisi, Fisya kecil ternyata mengalami perasaan yang bernama cinta.

Cinta itu ditujukan untuk Jidan (Andi Arsyil ), tentangga dan teman bermainnya di masa kecil. Sayangnya kisah cinta monyet ini tidak berakhir. Jidan memilih wanita lain sebagai pelabuhan cintanya.

Ketidakpercayaan Fisya terhadap seorang pria pun semakin menjadi-jadi, membuat separuh dirinya seakan putus asa jika berdekatan dengan seorang pria.

Lain kisah, Alif (Miller Khan) seorang dokter yang kemudian bertemu dengan kasus kecelakaan yang ternyata melibatkan Fisya.

Pertemuan keduanya semakin menjadi nyata ketika ternyata Alif merupakan salah satu dosen pengajarnya di kampus. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Alif terkesan dingin, sementara Fisya merupakan sosok yang cuek karena rasa tidak percayanya pada seorang pria.

Keduanya bahkan sering berseteru di kampus karena hal-hal konyol. Namun dibalik semua itu, Alif ternyata memendam rasa kepada Fisya. Apa yang selanjutnya terjadi?

Bisakah Fisya kembali percaya pada sosok seorang pria?

***

Kesan setelah nonton:

Bukannya jelek, hanya kurang puas.

Karena bernuansa religi, saya mengharapkan tema mencintai karena Allah, bisa dieksplor di sini. Ekspektasi saya makin melambung ketika di awal disuguhi insiden hape Fisya kebawa sama Alif saat sama-sama berusaha menolong seorang anak kecil korban tabrak lari. Saya mulai membayangkan interaksi lucu setelahnya, cinta diam-diam, dan bagaimana rasa itu dijalankan supaya tetap sesuai syariat. Nyatanya, di tengah-tengah hinggah menjelang akhir, masa lalu orang tua Fisya, yang membuatnya membenci abinya, lebih mendominasi.

Selain di luar ekspektasi, bagian ini sudah terlalu sering kita temukan di film lain.

Yang membuat kening saya berkerut, kemunculan Gubernur Sulawesi Selatan di salah satu scene yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita. Sumpah, menurut saya maksa banget. Padahal di bagian ini harusnya ketegangan lebih ditonjolkan, mengingat tim dokter sedang merembukkan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Fisya setelah divonis mengidap penyakit kronis. Sayang, kemunculan Pak Gubernur mengacaukan segalanya (untuk saya pribadi sebagai penikmat film).

Overall, saya cukup terkesan di bagian Fisya mulai jatuh cinta pada Alif setelah tidak sengaja mendengarnya membacakan surah Ar-Rahman.  Terima kasih kepada segenap tim produksi film ini sudah memilih Makassar sebagai salah satu setting dalam cerita. Melihat kampung halaman tampil di layar lebar, punya sensasi tersendiri. Hehehe ....

Review Film: Ananta


Judul                        : Ananta

Jenis Film               : Drama

Durasi                      : 90 menit

Negara Asal            : Indonesia

Produser                 : Manoj Punjabi

Sutradara                : Rizki Balki

Penulis Naskah      : Alim Sudio

Produksi                  : MD Pictures

Pemain                     : Michelle Ziudith, Fero Walandouw, Nino Fernandez, Jihane Almira, Anjasmara, Nova Eliza, Asri Wlas, Astrid Tiar, Josephine Firmstone, Adi Danoe

Rilis                           : 3 Mei  2018

***

Sinopsis:

Film ‘ANANTA’ bercerita tentang perjalanan kisah kasih sepasang remaja yang berbeda kelas status sosialnya.

Tania (Michelle Ziudith) adalah cewek anti sosial yang dibenaknya dipenuhi khayalan dan selalu ia tuangkan ke dalam kanvas lukisnya. Tania adalah tipe cewek pemberontak.

Ananta (Fero Walandouw) hadir dalam kehidupan Tania. adalah cowok kampung, lugu dan polos yang sering dihina dan diperlakukan tidak selayaknya oleh Tania. Namun Ananta tetap bertahan menemani Tania dalam kesehariannya.

Ananta memperkenalkan Pierre (Nino Fernandez) ke Tania, cowok tampan berdarah Indo Perancis. Ananta lakukan dengan niat membuat Tania bahagia.

Kehadiran Pierre membuat perubahan pada diri Tania. Namun saat Tania menyadari Ananta menghilang, dirinya pun berubah. Tania stress berat, ia sangat menrindukan sosok pria udik yang kerap dicaci-makinya.

Bagaimana perjalanan kisah kasih Tania dan Pierre? Dan, apa yang terjadi pada Ananta?

Sumber: https://posfilm.com/sinopsis-film-ananta-2018-biar-cinta-yang-menentukan-pilihan/

***

Kesan setelah nonton:

Keren banget. Saya hampir dibikin nangis.

Yang menarik dari film ini, keluguan Ananta yang mampu menetralisir segala pemberontakan Tania. Dari awal interaksi keduanya berhasil mencuri perhatian. Lucu, gemes, terkadang baper, semuanya dapet. Di samping itu, rahasia di balik setiap lukisan Tania yang ternyata berhubungan dengan masa lalunya bersama Papa, juga melibatkan Ananta, menjadi kesatuan epic menjelang ending.

Dinamika film ini keren banget. Saya tidak menemukan adegan sumbang. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di awal terjawab dengan baik.

Selain alur cerita yang sukses mengaduk emosi, memilih daerah puncak sebagai latar, menyajikan keindahan tersendiri dalam film ini. Saya suka hutan pinusnya, sungainya, bangunannya, pokoknya semuanya.

Review Film: Halo Makassar


Judul                         : Halo Makassar

Jenis Film                : Komedi

Durasi                       : 102 menit

Negara Asal             : Indonesia

Produser                  : Amril Nuryan, Andi Ashari Arraniri

Sutradara                : Ihdar Nur

Penulis Naskah      : Matamatahari, Ihdar Nur

Produksi                  : Finisia Production

Pemain                     : Rizaf Ahdiat, Anggu Batari, Bimbi Mellonk, Tri Indah Budiastuti, Khanza Najwa Thohira, Fitriani, Afrizal Sadiq

Rilis                           : 12 April 2018

***

‘Halo Makassar’ merupakan film nasional karya sineas Makassar, Sulawesi Selatan. Film bergenre komedi ini digarap oleh rumah produksi Finisia Production. Disutradarai oleh Ihdar Nur yang juga menulis skenarionya bersama dengan Matamatahari.

Film ‘Halo Makassar’ berlatar kota Makassar, ceritanya berfokus pada seorang kompuser musik yang demi mendapatkan hasil maksimal melakukan perjalanan ke Makassar.  Namun, di sana ia jatuh hati pada seorang wanita yang bertugas sebagai operator taksi. Dibumbui komedi dari Mellonk dan Bimbi, supir taksi yang selalu mengantar Diat keliling kota Makassar, film Halo Makassar menjadi lebih segar dan jenaka.

Sinopsis:

Film ‘Halo Makassar’ kisahnya bercerita tentang seorang pria bernama Diat, seorang komposer musik yang mendapatkan project dari kliennya di Kota Makassar. Demi mendapatkan hasil yang maksimal, Diat harus melakukan perjalanan ke Makassar untuk menyelesaikan project tersebut.

Diat yang sehari-harinya menggunakan taxi dalam menyelesaikan projectnya, ajtuh cinta pada suara Anggu, operator taksi yang selalu ia dengan ketika menumpangi taksi. Selama di Makassar, Diat diberi pilihan antara menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tujuan utamanya atau mengejar cinta dengan segala kemungkinan yang tak bisa ia prediksi,

Cinta pada pandangan pertama? Biasa, cinta pada suara pertama?

Sumber: https://posfilm.com/sinopsis-film-halo-makassar-2018-cinta-pada-suara-pertama/

***

Kesan setelah nonton:

Cukup menghibur, namun konfliknya kurang tajam dan terkesan monoton.

Karena saya asli Makassar, rasanya wajib nonton film ini. Secara kemasan cukup unik, ditambah lokalitas Makassar yang sangat kental. Namun secara konten menurut saya masih kurang. Terbukti, opening ternyata diambil dari tengah-tengah, hingga saat terjadi pengulangan, rasanya sangat hambar dan "nggak banget".

Seperti film komedi kebanyakan, film ini pun banyak menyelipkan adegan tambahan yang tidak terlalu memajukan cerita, murni untuk melucu.

Overall, saya cukup terkesan dengan premisnya, jatuh cinta pada suara pertama. Kalo ini patut diacungi jempol, karena suara Anggu saat jadi operator taxi memang sangat memorable. Musik yang akhirnya diselesaikan Diat pun keren banget.

Sabtu, 12 Mei 2018

Review Film: Teman Tapi Menikah


Judul                   : Teman Tapi Menikah

Tanggal rilis      : 28 Maret 2018

» Genre               : Drama, Romance

» Sutradara        : Rako Prijanto

» Penulis             : Johanna Wattimena dan Upi

» Produser          : Hb Naveen dan Frederica

» Rating Usia      : R (13 tahun keatas)

» Durasi               : 1 jam 42 menit

» Pemeran di film Teman tapi Menikah
·         Adipati Dolken sebagai Ditto
·         Vanesha Prescilla sebagai Ayudia Bing Slamet
·         Cut Beby Tshabina
·         Denira Wiraguna
·         Diandra Agatha
·         Rendi John
·         Shara Virrisya
·         Sari Nila
·         Sarah Sechan
·         Iqbaal Ramadhan

***

Sinopsis:

Film Teman tapi Menikah bercerita tentang Seorang lelaki bernama Ditto (Adipati Dolken) yang semenjak pertama kali bertemu dengan Ayu (Vanesha Prescilla) sudah suka setengah mati karena Ayu yang bergaya gahar seperti preman.

Sayangnya selama 11 tahun bersahabat, Ditto selalu gagal keluar dari friendzone (Zona Pertemanan). Apa pun yang diusahakannya, dari PDKT ke Ayu berkedok nge-band sampai akhirnya menjadi musisi perkusi professional. Di mata Ayu, Ditto adalah seorang teman makan dan teman curhat semata. Namun untungnya, kehidupan percintaan Ayu yang berliku-liku memastikan Ditto selalu ada di dekatnya sebagai tempat curhat.

Suatu hari, Ayu bercerita kepadanya bahwa ia akan menikah dengan pacarnya, seorang pria sempurna luar dan dalam. Pada kesempatan kali ini, Ditto harus memilih untuk menyatakan perasaannya selama ini atau merelakan cinta pertamanya jadi sahabat seumur hidup.

Sumber: https://film.mbahsinopsis.id/2018/03/sinopsis-film-teman-tapi-menikah-2018.html?m=1

***

Kesan setelah nonton:

Asyik banget. Fresh dan kekinian.

Meskipun dari judul sudah sangat jelas seperti apa kisah ini akan berakhir, namun mengikuti setiap proses perjalanan cinta mereka sama sekali tidak membosankan. Mulai dari Ditto kecil mengagumi Ayu lewat layar kaca, ketemu di SMP, SMA, kuliah terpisah, saya menikmati semuanya.

Terlepas dari uniknya persahabatan mereka, film ini juga mengajarkan bahwa kita harus berjuang jika punya keinginan. Di sini ditegaskan, bahwa selalu ada hasil untuk setiap usaha.

Review Film: Ayat-Ayat Cinta 2


Judul                       : Ayat-Ayat Cinta 2

Jenis Film              : Drama

Durasi                     : 102 menit

Negara Asal           : Indonesia

Sutradara               : Guntur Soeharjanto

Penulis Naskah      : Alim Sudio, Ifan Ismail

Produser                  : Manoj Punjabi

Produksi                  : MD Pictures

Pemain                     : Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Pandji Pragiwaksono, Nur Fazura, Dewi Irawan

Rilis                            : TBA Desember 2017

***

Sinopsis:

‘Ayat Ayat Cinta 2’ yang merupakan kelanjutan dari film sebelumnya bercerita Fahri Abdullah (Fedi Nuril) saat ini hidup sendiri di Edinburgh, bersama asistennya Hulusi (Pandji Pragiwaksono). Fahri telah kehilangan Aisha tujuh bulan lalu, saat Aisha menjadi sukarelawan di jalur Gaza. Sejak saat itu Fahri tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Aisha.

Fahri terus menunggu dalam kesedihan yang mendera hatinya. Kesedihan yang coba dia atasi dengan kesibukannya sebagai seorang dosen dan juga pengusaha sukses di kota tersebut. Fahri juga disibukkan dengan kehadiran Misbah (Arie Untung), sahabat lamanya, yang ingin menumpang tinggal bersamanya.

Fahri seringkali dihadapkan pada persoalan tetangga-tetangganya yang beragam. Ada nenek asal Yahudi, Catarina (Dewi Irawan) yang sedang mengalami permasalahan dengan anak tirinya. Ada juga Keira McGills (Chelsea Islan) seorang pemain biola berbakat yang sangat membenci Fahri, karena dianggap sebagai teroris yang telah menyebabkan kematian ayah mereka akibat bom di London.

Fahri mencoba untuk terus menjalankan amanah Aisha agar dia bisa membantu orang-orang di sekelilingnya. Niat baik Fahri ini seringkali malah membuat salah paham dan menyeret ke persoalan yang lebih rumit dan membahayakan hidupnya.

Kehidupan Fahri menjadi semakin rumit ketika hadir Hulya (Tatjana Saphira) keponakan Aisha yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Hulya yang ceria dan dinamis, menunjukkan ketertarikannya pada Fahri.

Hulya bersedia menggantikan peran Aisha dalam kehidupan Fahri.

Fahri ragu untuk membuka hatinya bagi kehadiran Hulya, itu sama saja dia mengakui bahwa Aisha sudah meninggal. Fahri masih berharap setiap malam, Aisha kembali muncul dalam hidupnya.

Semua mendukung Fahri melanjutkan hidupnya bersama Hulya, termasuk Sabina (Dewi Sandra) seorang perempuan terlantar berwajah cacat yang ditampung Fahri untuk tinggal bersama mereka. Sabina yang sudah dianggap saudara oleh Fahri, ternyata tidak saja membantu mengurusi rumah Fahri, tapi juga mampu membuat Fahri melanjutkan hidupnya.

Bagimana akhir ceritanya, Akankah Fahri tetap setia menunggu Aisha, ataukah menerima cinta Hulya?

Sumber: https://posfilm.com/sinopsis-film-ayat-ayat-cinta-2-2017-tetap-setia-atau-buka-lembaran-baru/

***

Kesan setelah nonton:

Agak bingung.

Beberapa bagian penyelesaiannya kurang konkret hingga masih menyisakan tanda tanya. Untuk durasi 102 menit dengan konflik sedemikian padat, kesannya jadi terburu-buru dan dinamikanya tidak terasa. Jujur, saya kurang menikmatinya.

Terlepas dari semua itu, untuk upaya pengayaan jiwa, film ini cocok banget. Hebatnya, meskipun segmennya religi, film ini tidak memojokkan agama mana pun. Sifatnya universal, terbuka, dan cocok menjadi wadah siapa saja.

Sabtu, 07 April 2018

Review Novel: A Love Song from Bunaken



Judul            : A Love Song from Bunaken

Penulis        : Marthino Andries

Penerbit      : Bhuana Sastra

Editor          : Shara Yosevina

Layout         : Astrid Arastazia

Kover           : Yanyan Wijaya

Tebal            : 181 hlm

ISBN             : 978-602-455-375-3

Blurb:
“Dessy itu menyebalkan pun!”

Bisa-bisanya pemuda desa dari Bunaken seperti Adri membuat Dessy--cewek hits ibu kota--tenggelam ke dalam matanya yang teduh hanya dengan petikan gitar dan lagu-lagu cinta ciptaannya.

Tapi juga bisa-bisanya Dessy tega menyakiti Adri, sampai cowok polos itu harus pergi dari Jakarta untuk pulang ke kampungnya, dan meninggalkan jejak hati di pesisir Bunaken.

_*_

Alur Cerita:
Karena berasal dari desa, wajar jika Adri agak kesulitan beradaptasi dengan gemerlap Kota Jakarta. Jangankan untuk hal besar, cara ngomongnya saja super belepotan. Karena itu, ia sering jadi bahan olok-olokan di kelas. Terutama untuk Arjun dan Dessy, pasangan kekasih yang tidak pernah memanusiakannya sedikit pun.

“Sempat muncul teori mengapa Adri bisa menjadi berbeda dibandingkan yang lain. Teori itu kejam luar biasa karena menyimpulkan bahwa sikapnya yang serba aneh, ndeso, kampungan, janggal, dan lain-lain tidak lain karena ia pernah dibesarkan di kerajaan kera gara-gara terpisah dari orangtuanya saat masih bocah.”_(hal 12-13)

Adri mulai mencuri perhatian setelah tidak sengaja tampil di Creative Event sekolah. Arjun yang bermaksud mempermalukannya dengan meminjamkannya gitar akustik dan memaksanya tampil, malah takjub kemudian. Tak seorang pun yang menduga, di balik semua sikap kampungannya, Adri piawai bermain gitar. Suaranya juga merdu dan bertenaga. Sejak saat itu sikap kampungan Adri mulai dipandang sebagai sesuatu yang unik.

Sikap Dessy ke Adri mulai melunak sejak pemuda desa itu menyelamatkannya saat tenggelam waktu ikut kelas eskul renang. Adri bahkan mengantarnya pulang, lalu kenalan dengan orangtuanya.

Dessy terenyuh setelah mendengar cerita Adri soal bapaknya yang sudah meninggal, yang belum sempat ia bahagiakan. Karena itu Adri menasehati Dessy agar bisa lebih menghargai kedua orangtuanya, sebelum merasakan kehilangan. Sebenarnya Dessy paling tidak suka diceramai, tapi sama Adri, entah kenapa ia merasa nyaman-nyaman saja. Kali ini ia melihat sosok kedewasaan dari cowok yang selama ini dianggapnya terbelakang dalam segala hal.

“Hubungan Adri dengan Dessy berubah sejak malam itu. Kendati tak terlalu akrab benar, yang jelas, suasana bermusuhan telah sepenuhnya sirna dari keduanya. Mungkin terlalu jauh jika disebut Dessy dan Adri saling tertarik. Namun, keduanya kini tak malu menunjukkan kekariban.”_(hal 54)

Namun, ketika Adri menolak undangan pesta ulang tahun Dessy karena alasan yang menurut Dessy terlalu kolot, kembali membuat hubungan mereka merenggang. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Yuk miliki bukunya dan jadilah saksi akhir kisah menggelitik ini nan romantis ini.

Review:
Pertama kali lihat kovernya yang mewakili eksotis Pulau Bunaken, ekspektasi saya langsung melambung. Jujur, saya bukan penikmat romcom, tapi novel ini berhasil membuat saya jatuh cinta. Mungkin karena suasana cerita terbangun dengan cepat dan disertai penggambaran adegan yang detail. Bahasanya juga berbobot dan cukup informatif.

Meski sempat terasa lamban di tengah-tengah, saya tetap betah mengikuti alur cerita. Ini karena kepiawaian penulis menyelipkan unsur humor yang nggak garing. Lucunya segar dan sangat menghibur. Saya suka cara penulis menggambarkan latar suasana SMA yang realistis, membuat ruh cerita kian bulat.

Yang paling mencuri perhatian tentu saja sosok Adri. Meski awal-awal dibikin pusing oleh dialognya, lama-lama lucu juga, dan bikin gemes. Siapa sangka, di balik keluguan dan bahasa yang super belepotan, banyak banget pelajaran yang bisa diambil darinya. Beberapa malah sukses menyentuh titik haru saya.

Bagian paling spektakuler dari novel ini tentu saja saat kita diajak jalan-jalan ke Bunaken. Melihat pantainya, model rumah warga di sana, taman lautnya, serta sekelumit tata kramanya. Bonus membaca romcom yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Oh ya, saya suka banget bagian dialog yang menggunakan aksen khas Bunaken, klop banget dengan taste humor yang diusung penulis.

Meski pertemuan kembali Adri dan Dessy terlalu dramatis dan agak maksa, adegan-adegan eksotis di Pulau Bunaken menutupinya kemudian. Yang membuat saya salut, penulis membuat satu peristiwa berkeping-keping lalu disatukan dengan perekat yang bikin melongo. Keren. Di samping semua itu, di akhir-akhir saya terbuai dengan diksi yang digunakan penulis. Padanan katanya mewah.

Saya tidak menemukan kekurangan apa pun di novel ini, atau mungkin lupa mencatat saking asyiknya mengikuti kisah Adri dan Dessy. Yang saya tahu, saya terhibur.

Overall, novel ini cocok banget buat kamu yang butuh bacaan penghilang stres. Selain ceritanya memang mendukung, mengintip keindahan Bunaken melalui tulisan ternyata lumayan asyik.

Selasa, 13 Maret 2018

Review Novel: Replace



Judul            : Replace

Penulis        : Arumi_e

Penerbit      : Falcon Publishing

Editor          : Dyah Rinni

Layout         : Abdul M

Kover           : Abdul M

Cetakan       : Pertama, Februari 2018

Tebal            : 378 hlm

ISBN             : 978-602-6714-16-9

Blurb:
Sepanjang hidupnya, Rara berada di bawah bayang-bayang Sasi. Kakaknya itu nyaris sempurna: fisik menawan, otak brilian, dan jadi putri kesayangan ayah mereka. Bahkan Sasi diberi kepercayaan memimpin perusahaan keluarga, sementara Rara hanya menjadi bawahannya. Derita Rara semakin lengkap saat harus menghadapi kenyataan Sasi bertunangan dengan Sava, cinta pertama Rara

Suatu malam, di Kafe Second Chance, Rara meluapkan kemarahannya kepada Sasi. Dia berharap kakaknya lenyap ditelan bumi. Siapa sangka, harapannya menjadi nyata. Sasi hilang secara misterius. Bukan hanya fisiknya, sosoknya pun lenyap dari semua foto keluarga. Tak seorang pun mengenal Sasi lagi, termasuk orang tua mereka. Sava pun mengaku tidak mengenal Sasi. Awalnya Rara syok, tetapi hilangnya Sasi memberi keuntungan baginya

Rara pun memanfaatkan keajaiban itu. Dia menjadi pemimpin perusahaan keluarga dan punya kesempatan mendapatkan cinta Sava. Namun, semua menjadi kacau. Para klien kecewa, proyek terancam gagal, dan cinta Sava sungguh sulit diraih. Rara menyadari dia membutuhkan sang kakak. Masalahnya, Rara sendiri tidak tahu kenapa dan bagaimana Sasi menghilang. Rara harus membuat Sasi kembali, tetapi bagaimana caranya? Apakah perjuangannya akan berhasil?

_*_

Alur Cerita:
Rara tak pernah berniat membenci Sasi, hanya saja posisinya sebagai pimpinan yang super cerewet terkadang membuat kakaknya itu super menyebalkan. Keinginan Rara sederhana, hanya ingin hasil kerjanya dihargai dan keberadaanya di perusahaan keluarga lebih dianggap. Sayang, pola brrpikir Rara yang memang agak berseberangan dengan kakak dan ayahnya--selaku pemilik perusahaan--masih sulit diterima.

Sasi cerewet bukan tanpa sebab. Ia menjaga citranya selaku pimpinan perusahaan. Ia ingin semua bawahannya memberikan dampak positif terhadap perusahaan. Tak peduli orang itu adiknya sekali pun. Hal inilah yang secara tidak langsung membentuk image kejam didirinya, hal yang paling membuat Rara muak.

Suatu hari Rara butuh pelampiasan selepas dimarahi Sasi. Ia meminta beberapa temannya untuk menenani. Mereka ke tempat karaoke, makan, dan berakhir di kafe Second Cance yang bergaya vintage. Di sebuah lorong menuju toilet di kafe itu, Rara menemukan cermin berbingkai oval dengan ukiran rumit. Tak ada yang istimewa dengan cermin itu. Rara sekadar bercermin dan merapikan tatanan rambutnya ketika Sasi menelepon dengan omelan yang sungguh sudah membuat Rara tidak tahan. Saat itulah, sambil menatap bayangan matanya di dalam cermin, Rara mengumpat.

“Kalau Sasi nggak ada, mungkin nasibku bakal berbeda. Ayah akan lebih menghargai pemikiranku. Ide-ideku bakal diterima ayah, karena nggak ada Sasi yang selalu meremehkan. Bisa jadi aku yang akan duangkat ayah jadi pimpinan di Ascarya.”_(hal 41)

Setelahnya, Sasi benar-benar menghilang. Tak satu pun yang tahu keberadaannya. Tahu-tahu Rara jadi pimpinan Ascarya Konsultan. Ruangan Sasi tiba-tiba jadi ruangannya, beserta tugas-tugas yang memenuhinya. Semua orang di kantor memanggilnya "Bu", sungguh membuat Rara sebal.

Tentu saja Rara bingung setengah mati dengan kasus lenyapnya Sasi tanpa bekas. Ia berharap semua ini hanya mimpi, dan ia akan segera terbangun.

Rara teringat Sava, tunangan Sasi. Semua orang boleh tidak tahu keberadaan Sasi, tapi lelaki itu pasti tahu. Nahas, Sava malah menganggap Rara stres setelah bersikeras menanyakan soal Sasi. Tidak mungkin Sava tidak mengenal Sasi, tapi gelagat yang ia tunjukkan memang demikian.

Usaha menemukan satu petunjuk saja tentang Sasi berlanjut ke Ibu. Sebagai perempuan yang telah melahirkan Sasi, Bu Herjanti tidak mungkin ikut-ikutan lupa. Sungguh di luar dugaan, Bu Herjanti pun sama saja dengan yang lain, mengaku sama sekali tidak pernah mengenal Sasi.

“Andaikan kamu punya kakak, harusnya Ibu sebagai yang mengandung dan melahirkannya akan mengingatnya. Tapi ibu sama sekali nggak ingat pernah melahirkan anak selain kamu. Ibu cuma pernah melahirkan sekali, dan itu melahirkan kamu.”_(hal 85)

Puncak dari semua keanehan ini adalah setelah Rara menyadari satu hal, Sasi tidak hanya menghilang secara fisik dan di ingatan orang-orang, tapi semua foto-fotonya pun entah ke mana. Di foto keluarga sosoknya lenyap, pun di galeri-galeri ponsel, tak ada jejak Sasi sedikit pun. Sasi seolah memang tak pernah ada di dunia ini.

Untuk sementara Rara tak ingin dipusingkan dengan keanehan lenyapnya Sasi. Ia anggap ini keajaiban, kesempatannya untuk menunjukkan kinerjanya. Dan tidak menutup kemungkinan ia bisa meraih cinta Sava.

Namun tentu saja tak semudah itu. Beban yang sebelumnya ditangani oleh Sasi tak mampu ia pikul. Baru menangani proyek kecil saja ia sudah gagal. Klien komplain besar-besaran dan berbuah teguran keras dari ayahnya. Beruntung, ia masih diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.

Rara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, jangan sampai ia berbuat kesalahan lagi. Karena itu ia mengajak Ampera bekerjasama, bawahan yang di awal bantuannya ia tolak mentah-mentah hanya karena gengsi.

Ampera senang bukan main menerima tawaran kerjasama Rara, bos yang sebenarnya ia taksir sejak dulu. Perlahan-lahan mereka jadi dekat demi kenyamanan kerja, menepis batasan atasan dan bawahan. Ampera bahkan mengajak Rara ke suatu tempat, membuat Rara belajar banyak hal.

“Hari ini Ampera membawanya ke satu pengalaman baru yang memperkaya hatinya. Satu lagi sisi Ampera yang dia tahu. Sisi humanis laki-laki yang mulai dipercayainya itu.”_(hal 168)

Hari itu untuk pertama kalinya ada lelaki yang membuatnya merasa berarti.

Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Mampukah Rara menjalankan Ascarya Konsultan tanpa Sasi? Benarkah Sasi tidak akan kembali selamanya? Segera miliki novel kece ini untuk tahu semua jawabannya.

_*_

Review:
"Replace" adalah bagian dari Second Chance Series yang mendapuk artis-artis remaja yang tengah naik daun untuk menjadi model kovernya. Terobosan yang sangat marketable. Terlepas dari kemasan, sentuhan light fantasy menjadikan series ini pilihan bacaan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Khusus untuk novel "Replace" ini, saya merasakan suasana yang ingin disampaikan penulis terbangun dengan cepat. Sejak awal cerita mengalir lancar dengan narasi yang simpel dan tidak bertele-tele. Meski demikian, tokoh-tokoh tetap dihadapkan pada rintangan yang masuk akal hingga cerita terasa berbobot, bukan sekadar seonggok fiksi belaka.

Awalnya saya lumayan kaget dengan sentuhan fantasy yang dibubuhkan penulis. Saya sempat ragu bisa tereksekusi dengan baik. Saya khawatir jatuhnya malah terkesan norak dan aneh. Tapi, wow. Buru-buru saya menarik anggapan itu. Dibalut pesan yang ingin disampaikan penulis, efek fantasy ini jadi sangat elegan ketika semua elemen yang ditabur di awal mampu dipadukan dengan baik hingga akhir. Makin ke belakang suhu cerita semakin panas dan bikin nggak bisa berpaling. Satu pertanyaan yang berhasil mengikat, ke mana Sasi? Demi menemukan jawaban dari pertanyaan itulah tanpa sengaja kita terhanyut dalam setiap kalimat yang dituang penulis. Menelusurinya enak, perpindahan adegannya halus. Saya cukup terkesan dengan kejutan-kejutan kecil namun membekas yang disuguhkan di akhir-akhir cerita.

Bagi penyuka romance bersiaplah mendapat hal lebih dari novel ini. Sebab bahasannya bukan sebatas lika-liku cinta, tapi juga persaudaraan, perjuangan, kesempatan, mimpi, dan banyak lagi. Yang paling penting, membaca novel ini kita bisa sedikit kecipratan ilmu desain arsitektur dan interior, hal yang jarang banget bisa ditemukan di bacaan sejenis.

Persaudaraan Rara dan Sasi sangat menarik dan membumi. Dari sana kita bercermin arti penting seorang saudara, semenjelkelkan apa pun dia. Soal impian Rara, semacam cambuk agar kita tak pernah lelah berjuang. Bahwa sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang sesuai passion kita. Yang tak lupa saya soroti, tentang kesempatan kedua, tentang bagaimana kebijakan kita menghadapinya.

Dalam novel ini saya sangat terkesan dengan sosok Ampera. Hadirnya semacam penyegar. Ia mampu mengimbangi sikap keras kepala Rara dengan caranya sendiri. Pribadinya unik. Genit-genit kalem. Hehehe .... Bersama Ampera kita juga diajak terlibat dalam kegiatan sosial yang sungguh mulia. Dari sini banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Ada bagian-bagian yang mampu menyentuh titik haru--semacam warna tersendiri untuk cerita ini. Namun sebagai pembaca, sejujurnya saya lebih senang kalau latar belakang kehidupan sosok semenyenangkan Ampera lebih dieksplor.

Selain salah menuliskan nama sebanyak dua atau tiga kali, saya tidak menemukan cacat lain dalam novel ini. Oh ya, mewakili seluruh warga Makassar, terima kasih kepada penulis sudah memilih Makassar sebagai salah satu setting cerita ini.

Overall, novel ini cocok banget untuk siapa pun yang masih suka labil. Bahwa betapa pengendalian diri itu sangat penting, dan segala sesuatunya punya batasan. Yang paling penting, terus perjuangkan impianmu.