Selasa, 31 Maret 2020

Review Novel: Always be in Your Heart


Judul            : Always be in Your Heart

Penulis         : Shabrina Ws

Penerbit       : Qanita

Editor            : HP Melati

Layout          : Nono

Cover            : Agung Wulandana

Cetakan        : Pertama, Februari 2013

Tebal             : 236 hlm

ISBN              : 978-602-9225-77-8

Blurb:

Marsela

Aku selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat, hingga terbit lagi.
Aku telah melewati musim yang berganti berulang kali.
Tapi, kau tak pernah hadir di sini.
Kini setelah sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi, bahkan pada hatiku sendiri.

Juanito

Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah bicara.
Bahkan, sungai bisa saja berubah muara, sekuat apa pun aku bertahan, sepuluh tahun telah mengubah banyak hal.
Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama.

***

Alur Cerita:

Sela dan Juan tumbuh bersama. Mereka tetangga, bahkan halaman rumah mereka menyatu. Juan yang lebih tua tiga tahun selalu memosisikan Sela sebagai adik. Sela tidak keberatan. Meski terkadang Juan penuh aturan dan suka memaksa, nyatanya gadis itu aman dan nyaman berada di sisi Juan. Begitu seterusnya, hingga Juan sadar dan menemui batasan untuk memulai atau memastikan sesuatu yang baru.

"Kamu bukan anak-anak lagi. Aku tidak bisa lagi menjagamu seperti dulu, dan mengenalkan kepada semua teman-temanku kalau kamu adalah adikku."_(hal 60)

Namun, rencana yang sudah disusun rapi terpaksa dilupakan. Semuanya berantakan di balik referendum 99. Bentrok di mana-mana mengharuskan semua orang mengambil keputusan dengan cepat dan tegas, termasuk Sela dan ayahnya.

"Pilihan keluarga mereka berbeda. Kini jelas sudah."_(hal 77)

Perpisahan tiba-tiba membentangkan jarak, rindu, serta puing-puing harapan yang tidak menentu.

"Ermera telah jauh tertinggal di belakang sana. Kebun kopi, koto, Royo, Sungai Gleno, dan semua impiannya bersama Juanito. Semua menjelma menjadi satu nama, kenangan."_(hal 81)

Di tanah pengungsian, Sela berusaha menjalani kehidupannya senormal mungkin, termasuk menerima kehadiran Randu, lelaki yang seringkali membuat Sela tercengang akan kebaikannya.

"Ayahnya sesekali mengatakan pada Marsela bahwa Randu adalah laki-laki yang baik dan sopan. Marsela tak pernah menanggapi, dia tak ingin semakin lama pembicaraan tentang Randu semakin jauh."_(hal 93)

Sepuluh tahun berlalu, Sela masih saja mendapati aroma kopi dari Ermera sana memanggil dengan bahasa paling tulus. Ia harus menetapkan pilihan sekali lagi. Kembali? Atau menjauh dan melupakan segalanya? Dan kalau pun ia akhirnya kembali, apa yang akan ditemuinya? Masihkah keadaan tetap sama?

"... Yang pasti aku ingin menengok tanah kelahiranku."_(hal 164)

Penasaran?
Yuk, temukan novel ini, baca sendiri dan temani Sela menetapkan pilihan.


***

Review:

Di awal membaca prolog, aku agak tertatih. Tapi pas tahu yang sedang bercerita adalah seekor anjing, wah, antusiasme naik beberapa tingkat.

Di bab pertama masih selow, tapi setelah ketemu jalan utama cerita ini, selanjutnya hanyut dan tahu-tahu udah ending. Astaga, semelenakan itu?

Permainan alur maju mundur cantik sekali, meski rasanya ada beberapa bagian yang buru-buru. Masih ingin berlama-lama dengan kebersamaan Juan dan Sela tapi penulis udah berganti topik.

Entahlah, aku selalu merasa akan lebih baik kalo masa lalu Juan dan Sela ditampilkan lebih banyak. Tapi segini aja udah cukup, kok. Sensasinya lumayan mematikan untuk pembaca yang baperan. Hehehe ....

Uniknya, kisah ini dilatarbelakangi masa-masa saat Timor Leste akan memisahkan diri, sampai sepuluh tahun setelahnya. Jadi nggak hanya kisah romance, tapi novel ini juga menyuguhkan salah satu sejarah penting. Aku yang tidak begitu tahu peristiwa referendum 99 sangat berterima kasih kepada penulis.

Ohya, tadi aku udah singgung soal anjing, kan? Di sini ada dua anjing, Lon dan Royo. Pada akhirnya mereka paling membekas di benakku. Bagaimana penulis memosisikan mereka di cerita ini keren banget. Mungkin penulis lain akan berpikiran sama, tapi nggak yakin akan sedetail ini. Anjing-anjing itu dibikin bukan sebatas figuran.

Soal kekurangan, aku tidak menemukannya. Mungkin saking asyiknya atau memang tidak ada. Aku hanya kepikiran Randu setelah cerita ini selesai. Lah, kenapa? Baca, deh. Kamu akan tahu. Kekeliruan kecil pasti ada, tapi itu umum banget.

Overall, novel ini recommended banget buat kamu yang menyukai kisah romance berlatar sejarah. Meski kerusuhan di balik referendum tidak ditampilkan secara brutal, tapi nuansa mencekamnya cukup terasa. Dan aku nyesel banget baru baca sekarang.

Senin, 23 Maret 2020

Review Novel: Hati yang Berbalut Sutra di Pangkuan Sengkang




Judul             : Hati yang Berbalut Sutra di Pangkuan Sengkang

Penulis         : Ammy Nurrahmi

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor            : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : Meditation Art

Cetakan        : Pertama, Januari 2020

Tebal             : 243 hlm

ISBN              : 978-623-247-048-4

Blurb:

Berbekal selembar sutra peninggalan sang bapak, Nadiyah Halim nekat ke tempat yang belum pernah dia kunjungi. Dia harus bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi walinya saat menikah nanti dan juga demi mendapat restu akan hubungannya dengan sang kekasih, Aliff Imran.

Pencarian Nadiyah membawanya bertemu dengan Alfandy Shidqy, sepupunya yang merupakan hafidz yang akhirnya banyak membantu proses hijrahnya. Kedekatan itu berbuah perjodohan dari pihak keluarga mereka.

Diam-diam Aliff juga memulai proses hijrahnya. Memantaskan diri untuk menjadi pendamping dan pemimpin yang ideal bagi Nadiyah.

Dan Tuhan pun menunjukkan kasih sayang-Nya, menyatukan hati yang tertaut oleh doa, menciptakan alur cerita tanpa melukai hati hamba-Nya. Lalu, kepada hati siapakah kasih sayang itu tercurah?

***

Alur Cerita:

Nadiyah sama sekali tidak punya gambaran akan kampung halaman bapaknya di Indonesia. Tetapi untuk sebuah tujuan mulia, dia harus ke sana. Banyak hal yang memberatkan langkahnya untuk meninggalkan Singapura, salah satunya Aliff, kekasihnya. Dia harus meyakinkan lelaki itu terlebih dahulu, akan maksud kepergiannya.

"Jika Abang serius dan nanti kita akan menikah, harus ada yang menjadi wali Nadiyah menggantikan Bapak."_(hal 23)

Berkat paket pelayanan lengkap sebuah homestay yang dipesannya sebelum berangkat, Nadiyah berhasil tiba di Sengkang tanpa hambatan. Selanjutnya dia akan mencari keberadaan keluarga almarhum bapaknya.

"Butuh waktu sekitar lima jam menempuh jarak Makassar ke Sengkang. Tepat pukul 01.00 dini hari, Nadiyah tiba di Sengkang."_(hal 30)

Kota Sengkang tidak begitu besar. Dengan mengandalkan identitas pusat produksi sutra--ikon kota itu--Nadiyah berhasil menemukan keluarga bapaknya, meski sempat diwarnai insiden kecil.

"Belum Nadiyah mengucapkan sepatah kata, wanita di depannya terkejut sambil memegang dada saat melihat benda yang dipegang Nadiyah."_(hal 42)

Nadiyah bersyukur, keluarga almarhum bapaknya menyambutnya dengan hangat. Mereka keluarga besar yang sangat rukun dan religius. Hal ini berdampak besar terhadap Nadiyah. Di tengah keluarga yang sangat membudayakan makan bersama itu, dia menemukan banyak hal yang belum disadarinya selama ini. Dan terkhusus untuk Fandy, sepupunya, Nadiyah memendam sebentuk kekaguman yang berbeda. Lelaki itu tipe imam idaman.

"Dia yang jadi imam salat Subuh tadi. Lantunannya indah, kan? Wajahnya juga tidak mengecewakan. Fansnya banyak, loh."_(hal 55)

Lantas, bagaimana keseharian Nadiyah di kampung halaman bapaknya? Masihkan dia ingat tujuan utamanya? Dan bagaimana dengan semua hal yang ditinggalkannya di Singapura?

Jangan cuma menduga-duga, ya, karena kisah ini punya plot twist yang cukup menjebak tapi manis. Yuk, segera miliki novel ini.


***

Review:

Novel ini dipaparkan dengan sederhana. Ibarat jalanan, tikungannya nggak banyak. Konfliknya juga bukan tipe yang bikin kening berkerut, tapi dari semua itulah keunggulannya. Di setiap bab aku menemukan letupan-letupan yang membikin betah. Semacam keberanian melangkah, kehangatan keluarga besar, hati yang diam-diam terketuk hidayah, dan penafsiran cinta dengan cara yang agung. Sungguh, semua itu melenakan.

Aku bangga sama penulisnya, cukup peka untuk mengangkat sutra yang menjadi ikon kotanya menjadi benang merah cerita. Idenya sederhana tapi berdampak luar biasa. Dia seolah menegaskan kembali sesuatu yang mulai redup dari Kota Sengkang. Karena kebetulan kota kelahiranku bertetangga dengan Sengkang, jadinya cukup tahu, bahwa dulu pemaknaan sutra memang sesakral itu. Meski porsinya kecil, penulis berhasil mengeksplor Kota Sengkang dan menghidupkannya dengan aura sutra dalam cerita ini.

Hal yang paling Kusuka dari cerita ini adalah gambaran kehangatan sebuah keluarga besar. Kalau kamu bacanya pas lagi di perantauan, dijamin langsung kangen pulang kampung. Selain itu nuansa religinya cukup kental dan tidak dipaksakan. Setiap tokoh digambarkan secara wajar, sehingga kita pun mudah diajak terlibat dalam setiap adegan.

Menurutku kekurangannya cuma satu, penulis kurang hati-hati menyimpan senjata pamungkasnya sehingga berpotensi ketahuan sebelum waktunya. Aku sendiri bisa menebak, tapi makin ke belakang makin banyak hal yang membuat kita betah. Ohya, untuk para cewek, siap-siap jatuh cinta sama sosok Fandy. Hehehe ....

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang butuh siraman rohani secara tidak langsung. Tidak ada kalimat menggurui dalam novel ini, semuanya tersampaikan dengan halus dan sesuai porsi latar belakang parah tokohnya. Sepanjang cerita, ada bagian-bagian yang membuat hati bergetar dan tiba-tiba ingat Tuhan.

Sabtu, 22 Februari 2020

Review Novel: Atambua, Cukup Luka Itu yang Terakhir




Judul            : Atambua, Cukup Luka Itu yang Terakhir

Penulis         : Ferdiansyah Soenaryo

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor            : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : M. Gustiar Perdana

Tebal             : 237 hlm

Cetakan        : Pertama, Januari 2020

ISBN              : 978-623-247-050-7

Blurb:

Tidak ada yang lebih diinginkan Hanan Ardinata selain segera menyelesaikan program internsip di Atambua. Terlebih adanya Resti Karenina, gadis super cerewet yang membantunya dan terkadang menyuruh melakukan hal-hal yang sangat membosankan.

Tapi senyum Resti membuat Hanan bertanya-tanya, bagaimana ia bisa berpikir pemilik senyum pelangi itu sangatlah membosankan.

Resti beranggapan tidak ada yang lebih buruk dari bekerja membantu dokter asing maha cuek dan menyebalkan.

Tapi senyum Hanan Ardinata terkadang membuat jantung Resti seolah berhenti berdegup, sampai-sampai ia takut kehilangan lengkungan manis yang membuatnya kembali punya harapan.

***

Alur Cerita:

Meski menjadi dokter bukanlah cita-cita Hanan sejak kecil, tapi sekarang ia sudah meraihnya dan merasa wajib untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Termasuk saat ia harus menempuh program internsip di Atambua. Meninggalkan zona nyaman, memasuki kehidupan baru, tentu tidak sepenuhnya menyenangkan. Belum apa-apa ia sudah jengkel. Pesawat delay, belum lagi orang yang akan menjemput dan mengantarnya ke tempat tinggalnya di Atambua, terlambat.

"Hanan tidak menyukai membuang-buang waktu hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, menunggu salah satunya."_(hal 14)

Resti sangat menyesal karena lupa menjemput dokter yang akan ditugaskan di klinik kesehatan dekat tempat tinggalnya. Ia ditunjuk langsung oleh Bupati Belu untuk mendampingi dokter itu selama bertugas. Akhirnya, saat ketemu di bandara, dokter itu teramat ketus. Ini bukan pertemuan pertama yang mengesankan, tapi demi tugas, mau tidak mau mereka harus berurusan untuk waktu yang cukup lama.

"Jadi, masihkah saya harus menunggu permintaan maaf dan berdiri di sini lebih lama?"_(hal 20)

Hanan memenuhi gambaran dokter pada umumnya di benak Resti, tinggi, putih, bersih, dan ganteng. Tapi galak. Sementara di mata Hanan, Resti gadis yang cerewet, suka memperdebatkan hal-hal kecil, dan suka menyuruh tiba-tiba. Tapi, dia periang, cerdas, berwawasan luas, dan mungkin juga cantik.

"Gadis itu terlihat lebih kuat dari yang ia lihat semula."_(hal 22)

Di Atambua, akhirnya Hanan menemukan banyak hal baru, yang pada akhirnya mematangkan mentalnya untuk menjadi dokter yang sesungguhnya. Lewat Resti, Hanan belajar bagaimana memahami perasaan orang lain, bagaimana harus mengutamakan kepentingan orang banyak daripada diri sendiri. Seiring semua itu, perlahan-lahan Hanan mengenal sosok Resti, juga mengetahui apa yang selama ini disembunyikan gadis itu.

"Dokter di sampingnya itu kini berangsur menjadi orang paling manis sedunia. Mulai ramah, memedulikan orang lain dengan cara yang hangat, juga komunikasinya yang tidak berlebihan."_(hal 83)

Di saat Hanan mulai merasa tertarik pada Resti, seseorang dari masa lalu gadis itu (Arkha) tiba-tiba hadir. Arkha tentu saja lebih mengenal Resti dalam segala hal, membuat Hanan merasa tersisih. Kendati demikian, waktu yang telah ia lalui bersama Resti juga tidak bisa dianggap tidak ada apa-apanya. Pada akhirnya Resti harus memilih, dan Hanan harus siap dengan segala keputusan, sekali pun itu adalah luka.

"Terima kasih karena mengizinkan saya untuk mengenalmu. Sekali lagi, saya tidak mau kamu terbebani dengan pengakuan ini."_(hal 169)

Bagaimana akhir kisah mereka? Bagaimana Atambua meninggalkan kesan di hidup Hanan? Segera miliki buku ini dan temukan sendiri jawabannya.

***

Review:

Pertama-tama saya mau muji covernya, karena komposisi warna dan ilustrasinya sangat mewakili isi cerita.

Masih ada perasaan yang sulit dibahasakan setelah menyelesaikan cerita ini. Intinya, penulis berhasil menjadikan saya tokoh utama dalam ceritanya.

Novel ini bagian dari ASSP " City Series" yang bisa dibilang dalam pemilihan kota cukup berani. Banyak yang tidak tahu Atambua, termasuk saya, dan akhirnya tahu berkat novel ini. Pada dasarnya City Series bertujuan untuk mengenalkan kota-kota di Indonesia dalam sajian cerita fiksi. Meski masih kurang eksplor, tapi novel ini sudah cukup berhasil mengenalkan Atambua.

Saya jatuh cinta dengan novel ini sejak pertemuan pertama Hanan dan Resti. Interaksi awal mereka benar-benar menjanjikan jalinan cerita yang kuat. Kepribadian keduanya yang bertolak belakang memberi bumbu-bumbu humor yang cukup menggelitik tapi tetap elegan. Kemudian bagaimana kisah mereka bergulir dengan latar kota yang cukup asing, sangat menarik untuk diikuti.

Dari sekian keunggulan novel ini, yang paling saya soroti adalah penokohannya. Penulis berhasil menghidupkan karakter Hanan dengan sangat baik. Mulai dari kegelisahannya saat harus memasuki kota terpencil, sampai kekesalannya saat menghadapi kecerewetan Resti, benar-benar terasa.

Novel ini tidak hanya menghibur, tapi juga memotivasi. Bagaimana seseorang harus berjuang untuk mencapai impian, bagaimana seseorang harus berkorban melewati fase pertumbuhan menuju pribadi yang lebih baik, dan bagaimana seseorang harus merelakan. Kita juga bisa memetik nilai-nilai kehidupan dari profesi Hanan yang diharuskan terjun langsung ke masyarakat. Dari sini sedikit banyak kita bisa menilik pola hidup dari kacamata seorang dokter.

Kekurangan novel ini hanya terdapat pada pengulangan kata yang kurang efektif di beberapa bagian. Ada beberapa narasi juga yang masih perlu dipadatkan agar lebih enak dibaca. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kenikmatan cerita. Sosok Hanan dijamin banget bakal bikin kamu jatuh cinta dan betah diajak keliling Atambua. Percayalah.

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang masih mencari jati diri dan terkadang bingung menentukan sikap. Di sini kamu akan menemukan beberapa hal yang secara tidak langsung merangsang untuk berpikir, bagaimana jika kamu yang di posisi itu.

Jumat, 07 Februari 2020

Review Novel: Too Far to Hold



Judul             : Too Far to Hold

Penulis          : Fifi Alfiana

Penerbit        : Bentang Belia

Editor             : Adham T. Fusama dan Dila Maretihaqsari

Cover             : Dilidita

Cetakan         : Kedua, 2018

Tebal              : 286 hlm

ISBN               : 978-602-430-227-6

Blurb:

Mustahil bisa dapetin hati Wingga! Alana yakin itu. Ia selalu merasa cowok itu terlalu keren untuk dekat dengannya. Jadi, yang bisa Alana lakukan hanyalah mengagumi Wingga diam-diam.

Akan tetapi, rupanya semesta mendekatkan Alana dengan Wingga secara nggak sengaja. Saat Wingga pingsan di perpustakaan, Alana menolongnya. Sejak itu, Alana tahu lebih banyak tentang Wingga. Bukan Wingga yang sering menyabet juara olimpiade sains, melainkan Wingga yang punya rahasia dan luka hati.

Ingin rasanya Alana membantu cowok itu menghadapi kehidupan peliknya. Masalahnya, maukah Wingga mengizinkan Alana memasuki kehidupannya?

***

Alur cerita:

Selama ini Alana merasa cukup dengan menjadi pengagum rahasia Wingga. Semua foto yang ia ambil diam-diam untuk ia nikmati sendiri, tanpa harus orangnya tahu.

"Senyum bak malaikat miliknya praktis membuat aku terpesona, sampai membuatku seolah terbang dibawa angin ke atas awan dan bertemu burung-burung serta pelangi."_(hal 3)

Tapi setelah ditolong saat pingsan di perpustakaan, Wingga jadi punya kesempatan untuk tahu isi kamera Alana. Namun, dasar Wingga emang nggak peka, masih saja tidak paham maksud semua itu. Akhirnya kedekatan mereka sebatas gitu-gitu aja. Tapi Alana bersyukur, itu jauh lebih baik dibanding sebelumnya hanya mengamati sosok Wingga dari jauh. Bahkan, ia jadi tahu apa yang tidak diketahui kebanyakan orang.

"Aku tahu itu egois. Aku tahu aku pernah bilang bahwa aku tidak takut ketahuan mencintai seseorang lebih dari 100%. Tapi, sekarang aku sendiri takut dia tahu aku diam-diam jatuh cinta kepadanya."_(hal 90)

Meski sudah lebih saling mengenal, soal perasaan tidak lantas mulus-mulus saja. Ada-ada saja tikungan yang mesti dilalui. Lantas, bagaimana akhir kisah Alana dan Wingga? Bersatu atau malah belajar untuk saling melupakan?

Yuk, jemput mereka di toko buku terdekat dan temukan sendiri jawabannya.
***

Review:

Membius. Itu yang saya rasakan saat mulai membaca bab satu. Entah karena apa, tahu-tahu saya kesetrum dan nggak mau berpaling. Akhirnya bab-bab selanjutnya saya lahap dengan mudah, ibarat berhadapan dengan makanan sesuai selera.

Bahasanya khas teenlit, ringan dan mudah dipahami. Kedua tokoh utama juga lumayan hidup tanpa harus digambarkan berlebihan. Saya suka interaksi mereka yang sederhana tapi manis.

Saya suka banget penggunaan POV1 bergantian antara Wingga dan Alana, meski agak aneh tiba-tiba Roger nyempil di tengah-tengah. Saya paham, bagian itu memang harus ada, hanya saja agak merusak citarasa yang sudah terbangun sejak awal. Problem seperti ini memang sering muncul di POV1.

Secara garis besar novel ini tidak memiliki kekurangan, hanya saja rahasia dan luka hati Wingga menurut saya kurang nendang. Jadi pas diungkap ekspresi saya datar-datar aja. Padahal sejak dia pingsan di perpustakaan ekspektasi saya sudah melambung. Selain itu, di akhir-akhir menurut saya agak terburu-buru, jadi bacanya juga tidak seenak di awal-awal.

Overall, novel ini salah satu novel teenlit paling nagih yang pernah saya baca. Nggak percaya? Cobain, deh. Di sini kamu bakal disadarin, bahwa nggak ada yang nggak mungkin. Tinggal bagaimana kita mau dan terus mengupayakan yang terbaik.

"Tapi, sulit bukan berarti mustahil. Jauh pun bukan berarti tidak teraih." Ini kalimat penutup sebelum tulisan "The End" yang saya suka banget.

Minggu, 03 November 2019

Review Novel: Rain, Paper Boat and Grey Story on Wednesday



Judul            : Rain, Paper Boat and Grey Story on Wednesday

Penulis        : Aldi.A

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Ansar Siri

Layout         : Tim CV Jejak

Cover           : Freepik

Cetakan       : Pertama, Agustus 2019

Tebal            : 215 hlm

ISBN             : 978-602-474-845-6

Blurb:

Keanu Prasasti, pemuda yang kerap mengarungkan perahu kertas berisi kepedihan setiap kali hujan turun, tak pernah menyangka pertemuannya dengan Naomi Irawan akan berhasil menghadirkan berjuta rasa di antara keduanya: kesetiaan, pengorbanan, luka, juga air mata yang mengiring. Mengenai rahasia hari Rabu kelabu, hujan dan perahu kertas berisi luka milik Keanu, yang lantas terus meramu pahit manis kisah cinta di antara kedua siswa sekolah menengah atas tadi.

Lalu, akankah kisah keduanya kemudian berujung bahagia? Atau malah berakhir tragis dan penuh nestapa?

Sebab, nyatanya cinta hanyalah satu kata dengan lima huruf di dalamnya, namun memiliki ribuan akhir dari kisahnya masing-masing.

***

Alur cerita:

Peristiwa traumatik di masa lalu menjadikan Keanu pribadi yang tertutup dan mungkin agak sulit dipahami. Kesenangannya adalah menyendiri. Dan bila hujan turun, ia tidak mau ketinggalan melarungkan perahu kertas sebagai wadah untuk membuang kesedihannya. Meski kesedihan itu tak pernah benar-benar berkurang. Ia hanya merasa lega sesaat, lalu luka-luka itu bisa kembali memekat sewaktu-waktu.

"Memimpikan Ibu adalah pertahanan terakhir yang memecahkan gelas berisi air mata."_(hal 18)

Namun ceritanya agak berbeda sejak ia bertemu Naomi. Lebih tepatnya sejak gadis itu memergoki ritualnya melarungkakan perahu kertas. Naomi yang sepertinya punya niatan mengenal lebih jauh, awalnya memang agak mengganggu di mata Keanu. Pemuda itu merasa tidak perlu berteman, tidak perlu berbagi apa pun. Hanya saja, lambat laun Keanu menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman. Entah apa yang istimewa dari gadis itu. Bahkan, Keanu tidak segan membagikan kisah kelamnya kemudian, sesuatu yang tidak pernah diungkapkan ke siapa pun.

"Bagiku, kau adalah satu kebetulan yang berlanjut pada satu kebetulan lainnya."_(hal 10)

Sejak awal seluruh gerak-gerik Keanu dinilai Naomi sebagai sesuatu yang mengarah pada kepedihan. Orang jadi pendiam dan setertutup itu tidak mungkin tanpa sebab. Hal itulah yang ingin diketahui Naomi. Dan, entah dengan cara apa Keanu justru sangat menarik dengan sikap anehnya itu. Jujur, Naomi menyukainya.

"Kau tak perlu repot-repot menggali lebih dalam luka yang kau bikin. Sebab, kisahmu sebentar lagi akan tamat."_(hal 25)

Meski dibayang-bayangi Raihan, sang mantan, Naomi berjuang merobohkan benteng pertahanan yang dibangun Keanu. Pada akhirnya ia benar-benar berhasil memasuki hati pemuda itu. Hanya saja, hidup tak sesederhana pemahaman manusia. Takdir selalu saja menghadirkan hal-hal tak terduga.

"Jangan ada dendam di hatimu. Sebab, kau tidak akan tenang jika memilikinya."_(hal 32)

Apa yang terjadi dengan hubungan mereka? Yuk, segera miliki novel ini. Bisa diorder langsung ke penulis atau penerbit.

***

Review:

Unik. Sepertinya itu kata paling tepat untuk menggambarkan novel ini. Berhubung saya menyukai hal-hal berbau puitis, sudah pasti novel ini jadi bacaan yang menyenangkan. Sebenarnya jalan ceritanya bukanlah sesuatu yang bisa mendatangkan decak kagum, atau gelengan tak habis pikir. Tapi, penulis punya cara tersendiri menyajikan cerita ini hingga benar-benar melenakan.

Penulis lebih banyak bermain di narasi, dialog hanya seperlunya. Gabungan antara kalimat-kalimat puitis mendayu-dayu dan POV1, menjadikan novel ini sepintas mirip prosa senandika. Tapi semakin jauh kita digiring menyelami isi kepala Keanu dan Naomi secara bergantian, kita bisa menemukan konflik utama yang ingin diuraikan penulis.

Dari awal langsung terasa bias kepedihan yang coba disuguhkan penulis. Dan yang saya suka, hal ini konsisten hingga akhir. Bahkan, emosi kita ditarik ulur. Rasanya cukup sesak. Untungnya penulis menyematkan bumbu-bumbu asmara khas remaja, membuat kita punya ruang untuk menghela napas sejenak sebelum kemudian kembali disuguhi hal yang mencengangkan.

Endingnya bikin merinding, sih, dan yah ... lagi-lagi menyesakkan. Secara garis besar saya tidak menemukan kekurangan apa pun. Hanya saja, mungkin lebih baik jika ada sedikit perbedaan antara part Keanu dan Naomi. Misal dari segi susunan kalimat. Karena logikanya, cerita bergulir dari dua orang yang berbeda secara bergantian, otomatis ada sedikit perbedaan, dong. Sekecil apa pun harusnya ada. Tapi di sini saya belum menemukannya.

Overall, novel ini cocok banget buat kamu yang suka kalimat-kalimat puitis ala prosa senandika. Terus, di sini kamu juga bisa menemukan arti penting dari sebuah penerimaan terhadap setiap masalah. Dan yang paling utama, jangan pernah menutup diri dalam kondisi apa pun. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Review Buku: One Mind One Heart One Commitment




Judul       : One Mind One Heart One Commitment

Penulis   : Gunadi Getol Ph.D.

Penerbit : Elexmedia

Tebal       : 102 hlm

ISBN        : 978-602-02-0581-6

Secara tampilan, penggunaan font judul warna-warni plus tumpang tindih antara bahasa asing dan bahasa Indonesia, menurut saya kurang eye catching. Karena pada dasarnya judul sebuah buku haruslah memikat bahkan sebelum calon pembaca menyentuhnya. Ini malah agak sulit terbaca.

Untuk ukuran non fiksi, buku ini cukup ringan. Meskipun pembahasannya seputar dunia perusahaan, tapi penulis menghindari pengolahan kata yang berpotensi membingungkan. Dari awal hingga akhir tiap pembahasannya mudah dipahami. Selain itu, susunan babnya benar-benar ditata dari hal yang paling mendasar hingga level-level krusial untuk kesuksesan sebuah perusahaan.

Secara keseluruhan, buku ini membahas hubungan timbal balik antara pemilik perusahaan dengan karyawan, pun antara perusahaan itu sendiri dengan potensi diri seseorang. Perusahaan butuh karyawan untuk kelangsungan operasional mereka, sementara karyawan butuh perusahaan untuk mengembangkan karier mereka. Hal ini akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama hingga tidak menutup kemungkinan akan tumbuh rasa saling memiliki.

Dari sekian banyak pembahasan, inti yang paling menonjol adalah, ketika seseorang sudah terikat janji dengan pihak mana pun, harusnya janji itu dipegang teguh. Kedua belah pihak harus bersetia hingga akhir, melawan banyak godaan yang menang akan selalu ada di setiap langkah perjuangan. Karena pada akhirnya, tidak ada kesuksesan tanpa kerjasama yang nyata.

Saya nyaris tidak menemukan kekurangan apa pun di buku ini. Bahkan, buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Tidak mesti mereka yang berstatus karyawan atau pemilik perusahaan.

Rabu, 11 September 2019

Review Novel: Thursday Challenge No Make Up-Make Up Day!



Judul             : Thursday Challenge: No Make Up-Make Up Day!

Penulis         : Dita Anggita

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor           : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : Freepik

Cetakan        : Pertama, Agustus 2019

Tebal             : 273 hlm

ISBN              : 978-602-474-848-7

Blurb:

Gista adalah gadis remaja masa kini. Aktif di berbagai sosial media dan menjadi salah satu beauty influencer remaja yang memiliki ratusan ribu pengikut. Berbeda dengan komentar-komentar di laman Youtube yang selalu penuh pujian ketika ia mengunggah video tutorial make up-nya, di sekolah ia selalu mendapat dark comment, terutama oleh guru BK-nya. Hampir setiap hari, ia selalu dipanggil ke ruang BK dengan alasan yang sama, make up yang berlebihan.

Namun gadis itu tidak pernah memedulikannya. Baginya, ber-make-up adalah hak setiap wanita. Sampai suatu hari, ia ditantang oleh guru biologinya. Jika nilai biologi Gista tidak sesuai target, maka gadis itu tidak boleh menggunakan make up lagi ke sekolah.

Apakah Gista dapat menaklukkan tantangan itu? Atau justru ia malah takluk dengan tantangan hari Kamis guru biologinya?

***

Alur cerita:

Bagi Gista penampilan adalah nomor satu. Ia akan melakukan segala hal demi mempertahankannya, termasuk keluar masuk ruang BK karena tidak ingin menanggalkan kebiasaan menggunakan make up berlebihan ke sekolah. Jika selama ini Gista bisa menghadapinya, tidak lagi setelah sekolahnya kedatangan guru biologi baru, Melki. Sebenarnya Melki tidak berbuat yang tidak-tidak. Ia murni menjalankan perannya sebagai guru yang kebetulan diberkahi murid seajaib Gista. Tapi semua tindakannya terkesan 'sok' di mata Gista dan tentu saja berhasil mengusik ketenangan cewek itu.

"Hanya Tuhan yang tidak punya masalah, jadi curhat sama Tuhan aja. Sudah pasti didengar dan dikasih bonus penyelesaian masalah."_(hal 9)

Setelah hampir putus asa, Melki menemukan cara jitu untuk memisahkan Gista dari make up-nya. Tapi bukan Gista namanya jika menyerah tanpa perlawanan. Tapi pada akhirnya cewek itu kalah, dan harus takluk pada aturan Melki.

"Nggak bisa. Nggak bisa. Nggak bisa. Hidup Gista tak bisa tanpa warna."_(hal 68)

Tapi dasar Gista, ia masih saja terus berulah. Untungnya Melki punya stok kesabaran lebih untuk menghadapinya. Seiring berjalannya waktu, guru dan murid itu semakin dekat. Bahkan tanpa keduanya sadari, lebih dekat dari hubungan sewajarnya. Terlebih setelah Melki pelan-pelan mengerti alasan di balik sikap Gista yang rada brutal itu.

"Kamu boleh tetap pakai make up ... kecuali hari Kamis!"_(hal 73)

Melki sendiri, di balik tampilan elegannya sebagai sosok pendidik, ia tak lebih dari seorang pengecut yang lari dari masalah. Memilih pindah tempat mengajar demi berdamai dengan kenyataan yang selalu berhasil membuat hatinya berdenyut sakit. Lalu bertemu Gista, perlahan-lahan hari-harinya kembali terasa hidup. Di sisi lain ada Alvin, pacar Gista yang tentu saja tidak rela pujaan hatinya semakin dekat dengan si guru baru yang memang masih sangat muda dan tampan itu. Mereka terjebak pada kisah yang rumit.

"Lagi-lagi senyum wanita itu membuat Melki menjerit. Wanita itu tidak pernah tahu seberapa keras ia menahan perasaannya."_(hal 76)

Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Mampukah Melki berdamai dengan masa lalunya? Lalu, sanggupkah Gista terpisah dari make up tebalnya? Dan siapa yang akhirnya ia pilih? Setia pada Alvin, atau memulai kisah baru bersama Melki? Yuk, segera miliki novel ini dan temukan sendiri jawabannya.

***

Review:

Segar, satu kata yang menurut saya tepat untuk mewakili novel ini. Premisnya sebenarnya lumayan pasaran, tapi karena dibungkus dengan situasi yang sangat real dengan kehidupan anak zaman now, bikin cerita ini terlihat beda. Terlebih konsep make up yang kemudian dijadikan tema, berhasil membuat novel ini informatif di bidang kecantikan. Para beauty influencer dijamin bakal suka dengan cerita ini.

Di samping penggunaan bahasa ala remaja banget, dengan memunculkan istilah-istilah yang memang akrab dengan dunia mereka, sosok Gista akan sangat mudah dicintai pembaca. Ia berhasil tampil sebagai perwakilan remaja masa kini untuk menyuarakan uneg-uneg.

Saya sangat suka dengan cara penulis mengenalkan sosok Gista yang meledak-ledak. Untuk sebagian pembaca, termasuk saya, di awal mungkin kurang suka dengan Gista, mengingat bagaimana ia bersikap di depan gurunya. Tapi di sisi lain hal ini pun jadi nilai plus yang bikin cerita ini mudah diterima, karena sosok seperti Gista memang banyak di dunia nyata. Lalu seiring konflik yang berkembang perlahan-lahan, kita jadi tahu alasan Gista bersikap seperti itu. Di sinilah ia berhasil menarik simpati pembaca.

Dari semua hal, saya paling suka dengan pesan dan pelajaran yang ingin disampaikan penulis.

Tapi, meski ini cuma fiksi, ada beberapa bagian yang menurut saya sikap Gista berlebihan untuk ukuran murid. Selain itu, saya merasakan plotnya kurang rapi sehingga masih berpotensi menimbulkan tanda tanya di benak pembaca.

Overall, novel ini pas banget buat kamu yang mencari cerita remaja dengan konsep kekinian. Tentang bagaimana terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik, peran penting keluarga, usaha meraih mimpi, pentingnya untuk tidak terlalu percaya dengan orang-orang di sekitar kita, semuanya dikupas habis di sini. Kamu harus baca!