Senin, 04 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 2)

 


Masih sambil mengenakan mukena selepas shalat Duhur, Tiara terpaku menatap novel-novel karyanya yang berjejer rapi di rak paling atas. Dia pikir masa kelamnya sudah berlalu. Dia pikir hidupnya akan terus baik seperti kemarin, ketika mimpinya menjadi penulis terwujud. Tiara juga tidak paham bagaimana tangan Tuhan bekerja. Namun, kemarin itu, apa-apa yang dia tulis langsung disukai. Orang-orang seolah begitu mudah mencintainya.

Akan tetapi, sekarang dunia seolah jungkir balik. Mereka yang tadinya mendukung seratus persen, kini mulai melontarkan kalimat-kalimat negatif. Tiara sampai logout dari sosial media karena tidak sanggup membaca komen-komen netizen. Semua prestasinya selama ini terlupakan dalam sekejap. Saat ini fokus orang-orang hanya ke satu hal, bahwa dia anak pelacur.

Haruskah kariernya berhenti di sini?

Akankah hidupnya lebih hancur dari sebelumnya?

"Eh, kok, Duta belum update, sih?" Tiba-tiba Karni menyelonong masuk setelah mengetuk pintu. Duta yang dimaksudnya adalah tokoh dalam cerita terbaru Tiara yang masih on going dan tayang berkala di salah satu platform.

Tiara menghela napas berat. Tanpa dijelaskan pun Karni pasti bisa paham alasannya.

"Oh ya, kata Nenek kamu belum makan, ya?"

Tiara hanya bergumam.

"Nih, aku bawain tahu goreng kesukaan kamu." Karni memperlihatkan kantongan yang dibawanya. "Aku ambil piring dulu," imbuhnya, lalu lekas keluar. Dia memang sudah menganggap rumah ini seperti rumah sendiri.

Rumah Karni sendiri di seberang jalan, pas berhadapan dengan rumah Nenek Hamida. Orangtuanya buka usaha toko kelontong. Selain sahabat sekaligus tetangga, dia juga pembaca setia Tiara.

Beberapa saat kemudian Karni masuk lagi. Kali ini dia langsung duduk melantai dan sibuk menuang tahu goreng beserta sambalnya ke piring yang sudah disiapkan.

Tiara merosotkan tubuhnya untuk ikut melantai.

"Galau boleh, tapi kelaparan jangan. Kamu nggak kasihan sama Nenek? Dia sedih kalau kamu kayak gini," ceramah Karni sambil meraih tisu di atas nakas.

"Loh, ini beli di Ikbal?" tebak Tiara setelah mencium aroma tahu goreng yang sangat dihafalnya itu.

Karni mengangguk sambil mencomot satu gorengan.

"Tumben jam segini udah buka."

Karni mengedik. "Kejar setoran uang panai[1] kali," ujarnya setengah terkekeh.

Untuk pertama kalinya banyolan Karni terasa hambar di telinga Tiara. Bukan tidak lucu, tapi karena saat ini isi kepalanya terlalu rumit.

"Kar ... kamu beneran masih mau temenan sama aku?"

Karni urung menyuap gorengannya. Dia menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut samar. "Kok, nanya gitu, sih?"

Saat hendak berucap lagi, tangis Tiara malah kembali pecah.

Karni meletakkan gorengannya, lalu mencabut tisu dan mengelap tangannya buru-buru. Dia lekas berpindah duduk tepat di sebelah Tiara, merangkul dan mengelus pundaknya perlahan. "Hei, kenapa?" tanyanya lembut. Tanya yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.

"Tiba-tiba seisi dunia seolah benci sama aku." Tiara tergugu. "Aku takut banget ...."

Karni meraih kepala Tiara, merebahkan ke pundaknya. "Nggak gitu, kok. Yang benci hanya orang-orang yang berpikiran pendek. Sementara kami, yang dekat dan benar-benar kenal kamu, tetap akan support dalam keadaan apa pun."

"Sayangnya Haikal nggak."

Mendengar nama itu, Karni langsung mengangkat kepala Tiara. "Maksudnya?"

"Tiba-tiba dia ingin menunda pernikahan."

"Astaga! Gara-gara kabar itu?"

"Sepertinya."

"Sialan, tuh, orang."

"Padahal udah sampai cek-cek lokasi segala."

"Masih mending. Gimana kalau udah lamaran dan sebar undangan? Nggak kebayang malunya."

"Tapi kalau dipikir-pikir ... wajar, sih. Cowok mana yang mau menikahi anak pelacur?" Suara Tiara kembali bergetar.

"Please, Ra, jangan menghakimi diri kamu seperti ini. Ini yang bikin kamu lemah."

Tiara juga tidak ingin seperti ini, tapi sangat sulit untuk bersikap baik-baik saja.

"Soal Haikal lupain aja. Anggap aja belum jodoh. Meskipun harus dengan cara seperti ini, setidaknya Tuhan udah nunjukin muka aslinya. Cowok cemen kayak gitu nggak bisa diajak berjuang bersama."

"Apa aku bisa melewati semua ini?"

"Pasti bisa. Ini akan berlalu, kok. Lambat laun orang-orang akan kembali mencintai karya-karya kamu, tanpa peduli kamu anak siapa, dari mana, dan apa pun itu."

"Semoga ...." Tiara tahu, prosesnya tidak akan semudah itu. Namun, dia sangat bersyukur masih ada seseorang yang berkenan mengucapkan kalimat semacam itu di saat dia memang butuh penyokong.

"Bisa dilacak nggak, sih, siapa yang pertama kali nyebarin kabar itu?"

Tiara hanya mengedik.

"Awas aja kalau ketemu, pengen aku tonjok sampai mukanya pecah seribu." Karni benar-benar geram.

Bagi Tiara, tidak penting mencari tahu siapa pelakunya. Karena kabar itu memang benar, dan cepat atau lambat orang-orang akan tahu. Dia tidak mungkin sembunyi selamanya. Sekarang yang lebih penting adalah, bagaimana menata hari-harinya setelah ini.

"Pokoknya, kamu harus tetap semangat."

"Makasih, ya."

Mereka berpelukan.

***

Tiara berusaha melupakan semuanya dengan mencoba menulis. Namun, hampir sejam berlalu halaman word di monitornya masih kosong. Padahal, malam-malam begini biasanya idenya selalu lancar. Ternyata tidak semudah itu mengalihkan pikiran. Rasa takut akan kehilangan semuanya tetap berkelebat, pun dengan komentar-komentar miring yang membanjiri postingannya.

Tiara mengempaskan punggungnya di sandaran kursi seraya menghela napas berat, pertanda menyerah. Diupayakan dengan cara apa pun, saat ini otaknya benar-benar lagi tidak bisa diajak merangkai kata. Yang ada pikirannya malah terlempar jauh ke belakang. Tepatnya pada Ibu yang dia tinggalkan tanpa pernah memberi kabar sama sekali. Meski kebencian yang bersarang di dadanya tidak serimbun dulu, belum sekali pun terlintas di benaknya untuk kembali, atau sekadar mengetahui kabarnya. Dia seolah ingin menghapus masa lalunya seperti halnya lupa ingatan.

Nenek Hamida datang membawa sepiring kue cella ulu. Dia langsung meletakkannya di atas nakas, lalu duduk di tepi tempat tidur.

"Tadi kamu makannya sedikit sekali, makanya Nenek buatkan ini."

Tiara menoleh dan tersenyum lemah. "Makasih, Nek."

"Sehebat apa pun badai yang sedang terjadi di luar sana, kamu harus tetap jaga diri. Harus tetap makan banyak dan istirahat yang cukup."

Tiara mengangguk lemah tanpa menoleh. Tatapannya tertuju ke kue berbahan dasar beras ketan itu. Entah seperti apa cara Tuhan menuliskan skenario-Nya. Setelah Tiara meninggalkan ibu kandungnya dengan segunung kebencian, di sini malah ada seorang nenek tanpa ikatan darah yang menyayanginya dengan tulus.

"Sepertinya Tuhan sedang menegurmu. Barangkali sudah waktunya kamu kembali."

Tatapan Tiara langsung tertancap di manik mata Nenek Hamida.

"Setelah semua urusanmu dimudahkan, sekarang Tuhan lagi membentangkan rintangan. Mungkin semacam rambu-rambu agar kamu putar balik."

Kening Tiara berkerut samar, matanya mulai berembun. Pembahasan ini sangat sensitif baginya. "Putar balik?"

"Barangkali ada jawaban yang tertinggal."

Tiara menggeleng samar. Dia sungguh tidak ingin berurusan dengan masa lalunya lagi.

"Kamu pernah memberikan ibumu kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Atau berusaha mencari tahu kenapa dia sampai memilih jalan itu?"

"Untuk apa lagi?" Tiara tidak sadar berucap lebih lantang.

Nenek Hamida sengaja memberi jeda, membiarkan Tiara menenangkan diri.

"Di umur segini, Nenek sudah sering berhadapan dengan kehilangan. Dan masing-masing dari mereka punya luka yang berbeda. Namun, Nenek sama sekali tidak bisa membayangkan luka kehilangan yang disertai benih kebencian."

Pola napas Tiara mulai tidak teratur. Ada sesak yang mengimpit.

"Enam tahun bukan waktu yang singkat, Nak. Entah sudah sebesar apa kerinduan yang dipendam ibumu. Sekali saja, kamu pernah tidak membayangkan betapa terlukanya hatinya ketika terbangun di pagi hari dan tidak ada kamu lagi di hidupnya?"

Setetes bening lolos di sudut mata Tiara.

"Mungkin kamu tidak sadar, tapi bisa jadi semua pencapaian kamu selama ini berkat doa-doa baik darinya."

Tiara sungguh tidak tahan kali ini. Dia turun dari kursinya, lalu merebahkan kepala di pangkuan Nenek Hamida. Air matanya tumpah ruah.

"Pulanglah, Nak." Nenek Hamida mengelus kepala Tiara dengan lembut. "Barangkali ada yang ingin Allah tunjukkan. Ingat, ridho Allah adalah ridho ibu."

Tiara sama sekali tidak meragukan kalimat itu. Namun, dia masih ingat hari itu. Setelah berusaha keras menepis semua yang mereka katakan tentang Ibu, Ibu malah membenarkannya. Anggukan pelan yang disusul cucuran air mata kala itu seolah menyudahi segalanya. Bukan hanya tameng dalam diri Tiara yang runtuh, harga diri dan cita-cita pun turut melebur. Tiba-tiba gelap seketika. Dan tanpa diundang, bibit kebencian mulai tumbuh. Lantas, masih adakah ridho dari ibu yang seorang pelacur?

Meninggalkan Ibu adalah jalan terbaik saat itu. Setidaknya menurut Tiara pribadi. Dia takut gagal bertahan dalam situasi yang membuatnya menarik diri dari pergaulan. Kabur lebih baik daripada bunuh diri.

"Siapa pun dia, seburuk apa pun kehidupannya, Ibu tetap perempuan yang melahirkanmu. Jangan lupakan rahim di tubuhnya yang pernah jadi rumah pertamamu. Satu hal yang pasti, seorang Ibu akan melakukan apa pun demi anaknya. Sekalipun dengan cara yang salah." Nenek Hamida terus mengelus kepala Tiara.

Ini bukan kali pertama Tiara mendengar nasihat Nenek. Namun, mendengarnya lagi di saat hancur seperti ini rasanya sungguh beda.

***

[Bersambung]

Catatan kaki:

[1]Uang panai - Mahar.


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya:

KBM

KaryaKarsa

Minggu, 03 Desember 2023

Bukan Anak Pelacur (Bab 1)

 


"Halo, Kal ...." Tiara menjawab telepon calon suaminya dengan nada serak. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.

"Ra, kita tunda dulu, ya, nikahnya."

Tenggorokan Tiara mendadak kering. "Maksudnya, nggak jadi?"

"Jadi. Tapi kayaknya nggak bisa tahun ini."

"Kok, tiba-tiba?" Tiara meremas ujung kaosnya. Hal yang dia takutkan akhirnya terjadi.

"Kemarin aku nggak sengaja dengar percakapan atasanku, katanya bakal ada promosi ke kantor pusat dalam waktu dekat. Berhubung aku yang paling senior di tim, besar kemungkinan aku yang bakal dapat promosi itu."

Kalimat panjang itu serupa hanya dengungan di telinga Tiara. Karena, pada dasarnya dia tahu pasti kenapa lelaki yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya itu tiba-tiba berubah pikiran. Padahal, rencana pernikahan sudah mereka bahas sejak setahun yang lalu. Bahkan, bulan lalu sudah sempat keliling cari gedung dan melobi beberapa wedding organizer untuk menemukan konsep yang paling pas.

Akan tetapi, lelaki bernama Haikal itu tiba-tiba berubah pikiran sejak merebak kabar bahwa Tiara adalah anak pelacur.

"Kok, lama banget ngomongnya?"

Tiara mendengar suara perempuan samar-samar. Sepertinya itu ibunya Haikal yang tiba-tiba ikut nimbrung dari kejauhan.

"Ngomong apa adanya aja. Nggak usah basa-basi. Pokoknya, Ibu nggak mau besanan sama pelacur!"

Tiara menggigit bibir menahan tangis.

"Ra, udah dulu, ya, atasanku nelpon." Haikal pun buru-buru mematikan teleponnya, berharap Tiara tidak mendengar omongan ibunya.

Tiara tergugu sambil memegang dadanya. Rasanya sakit sekali. Padahal dia sudah sangat yakin bahwa Haikal adalah lelaki yang tepat untuknya. Dia tidak menyangka lelaki yang berprofesi sebagai manager di salah satu perusahaan ritel itu juga akan terdampak oleh merebaknya kabar yang serupa kiamat di hidup Tiara.

Tiga hari yang lalu, tiba-tiba muncul postingan yang secara gamblang mengatakan bahwa Tiara anak seorang pelacur. Postingan dari akun tak dikenal itu juga memuat desa tempat kelahiran Tiara, nama ibunya, latar belakang singkat, dan beberapa hal lain yang berhasil meyakinkan publik bahwa informasi itu memang berasal dari sumber terpercaya.

Lamat-lamat terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran dari masjid kompleks. Tiara menyeka air matanya dan bangkit untuk mengambil wudhu. Namun, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Melihat nama salah satu editornya di layar, dia kembali duduk di tepi tempat tidur dan menerima panggilan itu.

"Halo, Mbak ...."

"Ra, sebelumnya maaf banget, nih, tapi barusan aku dapat kabar kalau penggarapan novel terbaru kamu harus ditunda untuk waktu yang belum ditentukan." Suara dari seberang terdengar berat mengatakan itu.

Tiara menelan ludah kelat. Padahal dia sudah mencurahkan waktu dan pikiran untuk menyempurnakan naskah itu. Ketika semua tantangan berhasil dia lalui, ujung-ujungnya malah seperti ini. Namun, kondisi sekarang benar-benar membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha untuk ikhlas.

"Aku tahu kamu pasti kecewa banget. Tapi aku juga nggak bisa bantu apa-apa. Ini keputusan manajemen."

"Nggak apa-apa, Mbak. Aku ngerti, kok."

"Sekali lagi maaf banget, ya."

Tiara mengangguk, meski sadar lawan bicaranya tentu saja tidak bisa melihatnya.

"Kalau memang kamu mau narik naskahnya untuk ditawarkan ke penerbit lain, boleh, kok. Atau kalau semisal kamu tetap mau nunggu di sini, aku pasti langsung hubungi kalau ada kabar terbaru."

"Oke, Mbak."

"Ya udah. Tetap semangat, ya."

"Makasih, Mbak." Tiara menutup teleponnya dibarengi helaan napas panjang. Saat hendak meletakkan benda pipih itu, matanya tidak sengaja menangkap notifikasi email masuk. Dan ketika dibuka, isinya membuat Tiara kian terenyuh.

Email itu datang dari salah satu penerbit yang bekerjasama dengannya, mengabarkan bahwa rumah produksi yang tadinya berniat mengangkat salah satu novel Tiara ke layar lebar tiba-tiba berubah pikiran tanpa alasan yang jelas.

Tiara tebak, kabar semacam ini pasti masih akan berdatangan. Bahkan, bisa jadi orang-orang di sekitarnya tidak sudi lagi bergaul dengannya. Rasanya baru kemarin semua hal di hidup Tiara terstruktur dengan baik. Dia terbilang sukses sebagai seorang penulis. Pembacanya di salah satu platform terus bertambah dari hari ke hari. Penghasilannya puluhan juta setiap bulan. Belum lagi beberapa naskahnya sudah diterbitkan dan selalu best seller. Salah satunya bahkan nyaris difilmkan, andai latar belakangnya sebagai anak pelacur tidak menyebar ke publik.

Dunia Tiara seolah runtuh dalam sekejap.

"Sudah shalat?" tanya Nenek Hamida sambil berdiri di depan pintu kamar Tiara yang memang tidak tertutup.

Tiara menggeleng sambil mengelap air matanya.

Nenek Hamida sangat prihatin melihat kondisi cucu angkatnya itu. Sejak kabar itu menyebar, dia sangat hancur.

"Ya udah, buruan shalat. Habis itu makan. Dari kemarin kamu belum makan."

Tiara mengangguk lemah.

Enam tahun sudah cewek bertubuh ramping itu menetap di Makassar, meninggalkan Bone-kampung halamannya-beserta sebuah kenyataan yang ingin dia lupakan. Dia tidak punya sanak keluarga di Makassar, hanya seorang teman bernama Rani yang dikenalnya lewat Facebook. Mereka sering terlibat di event kepenulisan yang sama. Waktu itu, Tiara antara modal nekat dan benar-benar tidak tahan lagi berada di tengah-tengah kenyataan yang berhasil mengguncang jiwanya.

Melalui arahan Rani, dia kemudian bekerja di sebuah toko pakaian yang mengharuskannya berjaga dari pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam. Libur yang hanya diberikan dua kali sebulan dengan gaji yang tidak seberapa membuat pekerjaan itu terasa berat. Namun, dia harus menjalaninya sukacita. Mencari pekerjaan hanya bermodalkan ijazah SMA tentu bukan hal mudah.

Daripada hanya berdiam diri ketika tidak ada pengunjung, Tiara makin giat menekuni hobi menulisnya. Dan selama setahunan bekerja di toko pakaian itu, dia berhasil merampungkan beberapa naskah novel. Awalnya hanya ditulis tangan di buku tulis, sebelum dia mampu membeli laptop bekas.

Begitu menerima gaji pertamanya, Tiara lekas mencari indekos yang dirasa cocok. Tidak enak menumpang terus.

Tahun pertama jauh dari kampung halaman dilalui Tiara penuh tantangan. Berbagai upaya dia lakukan demi bertahan kala itu. Dia yakin, seiring berjalannya waktu keadaan akan membaik. Benar saja, berkat Rani lagi, dia mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe dengan jam kerja dan gaji yang jauh lebih bersahabat. Merasa punya waktu luang dan tabungan yang sudah cukup, dia memutuskan untuk kuliah, melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti. Selain menjadi penulis, cita-citanya untuk menjadi seorang dokter masih tersimpan rapi di ruang harap. Meski kenyataannya dia hanya mampu kuliah di Universitas Hasanuddin, mengambil jurusan bahasa, bukan kedokteran yang tentu butuh biaya selangit. Setidaknya masih bisa kuliah. Ini jauh lebih baik. Karena itu, dia sangat berterima kasih kepada Rani. Cewek berhijab itu telah banyak membantunya.

Akan tetapi, tiga tahun yang lalu cewek bersahaja itu meninggal dunia karena penyakit asma. Sejak saat itulah Nenek Hamida yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, tiba-tiba meminta Tiara untuk tinggal bersamanya. Bukan untuk menggantikan posisi sang cucu, tapi sekadar teman berbagi cerita. Dia sungguh tidak ingin melalui masa-masa senja seorang diri.

Tiara langsung menerima ajakan Nenek Hamida. Karena sebelum meninggal, Rani memang pernah menitipkan perempuan renta itu kepadanya. Mewujudkannya adalah salah satu cara Tiara membalas semua kebaikan Rani selama ini.

***

[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya:

KBM

KaryaKarsa


Minggu, 19 Desember 2021

Review Kumcer "Perempuan yang Menanggung Rindu"

 


Judul        : Perempuan yang Menanggung Rindu

Penulis    : Ede Tea, Uda Agus, dkk

Penerbit : AG Publishing

Editor      : Uda Agus

Layout     : Ahmed Ghosseen A.

Cover       : Siti Roykhanah

Cetakan   : Pertama, September 2021

Tebal        : 136 hlm

ISBN          : 978-602-396-181-8

Blurb:


Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu. Jika diibaratkan sebuah pohon mungkin sudah menjulang dan kokoh. Namun, harapan Laksmita tidak pernah pudar. Harapan-harapan itu berhasil mengalahkan rasa lelah pada dirinya. Meski seringkali sebuah cairan bening berkubang di sudut mata Laksmita. Seolah ada hantaman kepedihan yang menimpanya.


Sejak tahun pertama Masuro merantau, ia belum sekalipun pulang. Pada tahun pertama ia gagal pulang karena kehabisan tiket kereta. Laksmita hanya tersenyum di ujung telepon. Tahun kedua, Tio anak pertamanya yang baru berumur 5 tahun jatuh sakit. Laksmita memaklumi sambil mendoakan cucu pertamanya agar cepat sembuh. Demikian juga dengan tahun ketiga dan seterusnya. Selalu saja ada halangan untuk pergi ke kampung halaman. Masuro hanya bisa membayangkan tubuh ibunya yang semakin ringkih.


***


Review singkat:

Kumcer ini merupakan Antologi Pemenang LMBUA #11, sebuah ajang tahunan yang sudah berdiri lebih dari satu dekade dan digawangi oleh sosok berkompeten. Tak heran jika buku-buku yang dilahirkan selalu memukau.

Demikian pula dengan kumcer ini. Karena tergolong tipis, bisa diselesaikan sekali duduk. Namun, pengalaman membaca yang ditawarkan sangat beragam. Dari cerpen satu ke cerpen lainnya selalu ada decak kagum tersendiri.

Aku paling suka cerpen "Ayahku Sepiker Ibuku Musik Dangdut Pengiring". Ini jenis cerpen yang mampu membuat kita terenyuh dan menyita rasa empati teramat dalam. Tema yang dihadirkan adalah sesuatu yang sangat dekat tapi kadang tak terlihat. Aku suka banget gambaran hidup yang "benar-benar hidup" yang digambarkan dalam cerita ini.

Overall, kumcer ini recommended banget untuk jadi salah satu penyemarak rak bukumu.

Senin, 13 Desember 2021

Review Novel "Penjara Cinta"

 


Judul       : Penjara Cinta

Penulis   : Uda Agus

Penerbit : Indiva Mitra Pustaka

Layout     : Abdur Rozaq

Cover       : Rudy Setiawan

Cetakan   : Pertama, 2021

Tebal        : 168 hlm

ISBN          : 978-632-253-072-0

Blurb:


Sejak tinggal di rumah sang paman, satu pertanyaan yang selalu muncul di benak Hayati adalah, mengapa sang paman memperlakukannya sangat istimewa? Tapi bagaimanapun baiknya perlakuan sang paman, tetap saja semua ada dalam kendali pamannya. Ia sama sekali tidak diberi kebebasan. Ia tak lebih bagaikan seorang tahanan. Rumah sang paman tak ubahnya penjara. Penjara yang dipenuhi oleh cinta. Mengapa pamannya bersikap sebaik itu? Mengapa ia seperti dibelenggu oleh kasih sayang? Apakah untuk menebus sebuah kesalahan di masa lalu?


Belum lagi seribu tanda tanya itu dijawab, Hayati semakin terpojokkan karena adiknya diculik orang tak dikenal yang meminta tebusan ratusan juta rupiah. Apa yang akan dilakukannya untuk menyelamatkan sang adik? Berhasilkah ia keluar dari belenggu kasih sayang pamannya? Dan bagaimana nasib ibu dan adiknya di kampung halaman?


***


Review singkat:

Novel ini termasuk bacaan ringan penyejuk jiwa. Kisahnya sangat membumi hingga tidak perlu imajinasi yang terlalu tinggi. Tokoh Hayati dan Hafis semacam alarm bagi siapa saja, agar kita senantiasa bersyukur dan tidak boleh menyerah dengan keadaan.

Menelusuri lembar demi lembar novel ini sangat menyenangkan. Bahasanya mudah dipahami dan penulisannya sangat rapi. Narasinya jelas, terperinci, tapi tidak berlebihan.

Di awal-awal mungkin memang agak terasa lambat, tapi makin ke belakang suhu cerita makin meningkat. Sampai-sampai kita tidak dibiarkan untuk berpaling. Dari tengah hingga tamat kepiawaian penulis meramu konflik benar-benar terasa. Banyak sekali kejutan yang membuat kita makin tidak sabaran untuk tahu ending-nya. Dan begitu saya menyelesaikannya, seketika saya bergumam, "Wah, nggak nyangka bakal sebagus ini."

Dengan ketebalan di bawah 200, tokoh novel ini terbilang banyak. Namun, saya acungi jempol buat penulisnya karena dia mampu bertanggung jawab hingga akhir. Semua tokoh yang dimunculkan diberi porsi yang pas hingga berhasil menyajikan jalinan cerita yang apik. Sama sekali tidak ada yang ditelantarkan.

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang sedang mencari bentuk bahagia yang sesungguhnya.

Senin, 01 November 2021

Review Novel "Bacot Tetangga"

 


Judul        : Bacot Tetangga

Penulis    : inag2711

Penerbit : Mediakita

Editor      : Juliagar R. N.

Layout     : Widuri Dwi Astuti

Cover       : Budi Setiawan

Cetakan   : Pertama, 2021

Tebal        : 256 hlm

ISBN         : 978-979-794-635-7

Blurb:

Ini sebuah cerita tentang keseharian Nurul, seorang wanita berusia 26 tahun, lulusan SMA, belum berkeluarga, dan bekerja sebagai guru les. Pernah bertunangan selama 7 tahun, tetapi kandas dengan mengenaskan; diselingkuhi, dan ditinggal nikah tunangannya yang telanjur menghamili wanita lain.

Nurul suka mager dan rebahan. Telinganya setara sensor seharga satu miliar. Daripada marah karena bacot tetangganya yang suka bikin sakit hati, mending ia tulis jadi diary. Siapa tahu memberi motivasi, juga materi, kalau-kalau diary-nya ini dicetak jadi buku, film, atau mungkin sinetron TV.

Buat yang senasib sama Nurul: sabar.
Buat yang enggak: jangan lupa bersyukur.
Ini cuma fiksi, bukan based on true story. Cuma sebatas imajinasi yang kadang nyata terjadi.

***


Review:

Pertama, aku mau bilang kalo cover-nya mood banget. Sekali lirik, langsung terbayang bakal sebacot apa isinya.

Di awal-awal aku masih meraba-raba konsep cerita seperti apa yang ditawarkan novel ini. Setelah beberapa bab, aku mulai sadar, setiap lembar novel ini semacam bahan introspeksi diri yang soft banget. Pokoknya jauh dari kesan menggurui.

Cerita bergulir dari sudut pandang orang pertama (Nurul) dengan kesehariannya yang tak luput dari bacotan tetangga. Apa pun yang dia lakukan selalu saja ada yang siap mengomentari. Di bagian ini aku berhenti sejenak, lalu mikir, dan sialnya aku juga punya tetangga yang seperti itu.

Emang, setiap tokoh yang dihadirkan dalam novel ini terasa sangat dekat. Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan besar ada di sekitar kita. Terutama Tante Iri, yang kalo aku bilang "bintangnya" novel ini. Hehehe ...

Meskipun terkesan datar, cerita ini tetap bikin betah sampai akhir karena setiap babnya mengangkat satu isu tertentu yang sering mewarnai kehidupan bertetangga. Dan yang paling aku suka, babnya selalu ditutup dengan kalimat pamungkas. Kadang bikin merenung, manggut-manggut, atau ngakak nggak ada obat.

Sesuai konsep, romance di novel ini hanya semacam bumbu pelengkap. Namun, entah kenapa aku suka banget cara penulis menggambarkan percintaan Nurul dan Ace. Sederhana, membumi, tapi tetap aja bikin baper. Rintangan yang mereka hadapi pun benar-benar realistis.

Aku nyaris tidak menemukan kekurangan di novel ini, selain satu dua typo yang masih dalam batas wajar.

Selesai baca, aku bergumam, wah, ternyata novel ini menjebak. Secara kemasan terlihat ringan, tapi ternyata di dalamnya penuh petuah-petuah hidup. Dunia literasi Indonesia butuh lebih banyak karya sejenis ini.

Overall, ini novel ini cocok banget menemanimu bersantai di teras rumah sambil memantau kelakuan para tetangga. Hehehe ....

Jumat, 30 Juli 2021

Review Film "Ghibah"

 


Takut gak, jijik iya.

Film ini terasa banget usahanya untuk memukau. Efek CGI-nya mantul. Namun, saya pribadi gagal menikmatinya. Entah yang mana konflik utamanya. Rasanya kek tumpukan adegan yang dipaksa sambung menyambung biar mencukupi durasi untuk satu film. Unsur ghibahnya sendiri gak jelas. Penyampaiannya kurang "cantik". Komedinya juga nanggung, malah kadang terasa salah tempat. Padahal premisnya sangat relate dengan kehidupan zaman now. Judulnya juga lumayan memancing. Tadinya saya pikir bakal mendapatkan pengalaman nonton yang segar, tahu-tahunya gak jauh beda sama FTV hidayah. Btw, adegan kutbah-nya pas Idul Adha kek ada yang aneh. Nonton, deh, pasti langsung ngeh. 😁

Senin, 05 Juli 2021

Review Singkat Film "Devil on Top"

 


Saya gak mau bilang film ini buruk, karena untuk pertama kalinya Angga beradegan ciuman. Jadi, ya, patut dihargailah. Hehehe ....

Namun ... aduh, gimana, ya? Kalau bukan buruk, entah apa nama lainnya.

Angga dipasangkan dengan Cinta menurut saya gak banget. Chemistry-nya gak dapet. Entah karena image Cinta yang ketuaan, atau kita yang telanjur terbiasa lihat Angga tampil sebagai anak SMA.

Film ini kayak kita lagi ulangan, masih banyak soal belum terjawab, terus pengawas teriak, "Waktunya habis. Selesai tidak selesai kumpul!" Jadi, hasilnya begitulah. Landasan konfliknya terkesan diada-adain, arahnya mudah ditebak, khas FTV. Dan lagi, penyelesaiannya kek jalan pintas banget.

Intinya, film ini hambar banget. Habis nonton ya udah, lewat gitu aja. Sama sekali gak ada kesan yang membekas. Mungkin lebih baik kalau dibikin full komedi sekalian.