Selasa, 08 November 2016

Review Novel: Terlalu Cinta





Judul                        : Terlalu Cinta

Penulis                      : Pelantan Lubuk

Penerbit                    : Mazaya Publishing House

Tebal                        : 310 hlm

ISBN                        : 978-602-72920-6-2

Terima kasih, pernah membuatku terlalu cinta.

BLURB:
Cinta begitu traumatik: di mana cinta tak sanggup menjadi apa pun selain rindu, dan rindu hanya bisa dilampiaskan dengan menunggu. Menanti dengan lugu. Menanti dengan segumpal rasa yang menyiksa dan membuat hati membiru.
Meski hanya segenggam, meski hanya sebentar, mereka harus bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menunjukkan cinta mereka dari dekat.

            Aku mendapatkan novel ini sebagai reward lomba menulis novel yang diadakan Mazaya Publishing House bulan Juli-Agustus 2016, kemarin. Jadi, aku tidak menyangka akan sejatuh cinta ini. Novel ini sangat pas untukku yang memang penyuka genre roman dengan taburan diksi yang sederhana namun memikat. Membaca novel ini, aku merasa menemukan tempat ternyaman untuk bersandar (dalam kegiatan membaca). Novel ini menggunakan alur maju mundur dengan gabungan dua sudut pandang yang cukup unik. Di awal dan akhir, penulis menggunakan sudut pandang pertama, mempersilakan tokoh utama bercerita langsung. Di bagian alur mundur, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Tapi sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu kupaparkan kata pengantar dari penulis yang menurutku teramat puitis untuk ukuran kata pengantar.

SEBUAH PENGANTAR
            Apakah kisah ini nyata?
            Seharusnya kisah ini nyata. Tapi, karena ditulis dalam bentuk novel, hampir 90% kisah ini menjadi fiktif. Otak-atik. Dikarang demi menyembunyikan berbagai tokoh sebenarnya, disesuaikan demi menciptakan efek dramatis, dikhayal demi mendapatkan akhir yang menyenangkan hati.
            Namun, 10% kisah ini nyata. Malah, 10% inilah yang menjadi penentu dari kisah ini. Dia adalah alur waktu, rentetan kenangan, dan rindu yang tak bisa dilupakan.
            Membuat novel ini berarti melunasi rindu. Pernah ada suatu ketika, di mana rindu itu menggeliat di dada dengan begitu hebatnya. Sampai sesak. Sampai insomnia. Akhirnya aku menulis. Menulis semuanya sampai akhir.
            Setelah novel ini selesai, rindu itu telah lunas. Rindu itu telah jinak. Tak lagi menagih-nagih. Tak lagi mencakar-cakar.
            Hatiku telah bebas sekarang. Dan aku senang.

            Demi menikmati novel ini, aku membacanya pelan-pelan, meresapi kata demi kata. Bab pertama berhasil mencuri perhatian, dan sejak saat itu, aku jatuh cinta.

            Besok malam, waktu untuk menunaikan janji itu tiba. Tidak ada kesepakatan apa pun, selain empat tahun yang lalu, ketika jalan cerita dua anak manusia menemui titik buntunya, dan keduanya putus asa dengan kesempatan yang telah tiada. Tidak ada janji apa pun, selain mereka anggukkan empat tahun yang lalu, untuk bertemu di tempat pertama mereka menyudahi semuanya. Mereka berjanji akan mengingatnya, bahwa empat tahun lagi mereka akan bertemu. Empat tahun itu adalah dua hari lagi. Mereka saling meyakinkan bahwa mereka akan datang, bila memang mereka ingin tetap pada angan-angan semula: untuk kelak hidup bersama.
            Jika memang sama-sama datang, berarti kisah telah memilih tetap pada lembaran yang sama. Tak perlu ada keraguan lagi. Tak perlu ada penegasan apa pun.
            Jika di antara mereka ada yang tidak datang, berarti kisah telah memilih lembaran yang berbeda. Tak perlu ada kabar lagi. Tak perlu ada penegasan apa pun.
            Tapi … hari ini aku datang. Aku telah memilih tetap pada lembaran yang sama.
            Tapi aku tak tahu, besok malam, apakah aku akan duduk di bangku kosong, atau duduk bersamanya.
-aku terlalu cinta-
(full hal 8)

            Dari satu halaman di atas, bisa disimpulkan bahwa inti cerita ini adalah sepasang anak manusia yang berjanji akan bertemu kembali empat tahun kemudian setelah perjalanan hidup yang pelik mereka lalui bersama. Apakah mereka sepasang kekasih? Lantas, kenapa harus berpisah dan memilih empat tahun kemudian untuk bertemu kembali? Itulah yang diramu oleh sang penulis menjadi keutuhan cerita yang sangat dramatis.
            Ah, sepertinya sudah banyak jenis cerita seperti ini. Eits, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, karena kisah cinta dalam novel ini berbeda dari kebanyakan. Sebuah kisah yang sederhana, menginspirasi, serta dibumbui berbagai aktivitas komunitas yang mungkin sudah jarang zaman sekarang ini.
            Penulis mengajak kita untuk menemani aktivitas kemahasiswaan Izzat (tokoh utama), serta keterlibatannya dalam berbagai komunitas. Tanpa paksaan, karena memang menarik untuk ditelusuri. Dari situ, aku pribadi yang memang tidak pernah bersentuhan dengan komunitas apa pun, sedikit banyak jadi tahu aktivitas-aktivitas yang ada dalam dunia itu. Bagaimana mereka bergaul, kepemimpinan, sumber dana, dan lain-lain.
            Dari sekian banyak komunitas yang dilibatkan dalam cerita ini, aku sangat terkesan dengan komunitas “Jaring Pena”. Anggota komunitas ini saling berkirim surat tanpa boleh bertukar nomor telepon, mereka murni berkomunikasi hanya melalui surat yang ditulis tangan. Komunitas ini melestarikan surat menyurat yang sudah tenggelam, dan tentu saja melatih kecekatan menulis. Andai ada di dunia nyata, aku ingin bergabung dengan komunitas ini. Heheheh … Dari komunitas Jaring Pena inilah penulis memunculkan tokoh Laras yang merupakan peri penolong kegalauan Izzat. Dan percayalah, kemunculan komunitas Jaring Pena membuat cerita semakin unik.
            Terlepas dari berbagai aktivitas komunitas yang memang sangat kental dalam novel ini, kita juga dimanjakan dengan berbagai hal baru yang lahir dari permainan diksi sang penulis, tentu saja didasari ilmu pengetahuan yang dalam. Salah satunya persepsi dua realitas bulan yang unik berikut:

            Kini Izzat sudah semester tiga. Sudah dua tahun ia di Kota Malang. Telah banyak yang ia jalani. Ia pernah menjadi bulan, yang punya dua realitas. Realitas pertama menampilkan dirinya sebagai pencerah malam, yang cahayanya menemani mereka yang buta karena kegelapan. Realitas kedua, tetap saja, bulan hanya benda langit dengan banyak topeng di permukaan, yang bisanya hanya berpura-pura terang karena menumpang cahaya benda langit yang lain. Ia dipuji karena kepalsuan. Di tengah cahayanya, sebenarnya ia merajalela dengan kegelapan. (hal 38-39)

            Aku menemukan persamaan dengan tokoh Izzat. Dia hanya menyukai perempuan yang manis, pun denganku. Untuk yang satu ini hanya kebetulan manis. Hehehehe ….

            Ia hanya suka yang manis. Kecantikan yang unik. Di mana kecantikan tersebut hanya perempuan itu saja yang punya. Kecantikan yang tak menguap dipanggang bosan, dan tak luntur dibasuh zaman. (hal 41)

            Salah satu keunikan novel ini, penulis membagi cerita dalam banyak bab. Tak kurang dari 50 bab cerita dengan paragraf awal yang selalu memukau. Jika tidak dengan diksi yang mendayu-dayu, pasti dengan konflik yang membuat mata terus melek untuk membacanya hingga akhir. Berikut salah satu paragraf pembuka bab:

            Sementara langit menghadirkan tenangnya senja di Kota Batu yang sederhana, aku menulis puisi tentang dia. Takkan dunia temukan, karena kutulis ia di lembaran hati yang paling rahasia. Aku berdoa agar cinta ini berarti menuju, bukan menjadi. (hal 48)

            Di luar permainan diksi yang amboi, penulis juga berhasil mengajak menikmati keindahan Kota Batu. Meski hanya melalui tulisan, aku bisa melihat lampu remang di malam hari, taman kota, dan tentu saja turut merasakan dinginnya.
            Selain itu, kita juga disuguhkan ilmu Tata Wicara yang ternyata merupakan seni yang bisa dilatih oleh siapa saja. Ia bukan anugerah pada orang-orang tertentu. Siapa pun, boleh dan bisa mempelajarinya. Kuncinya hanya dua: ketekunan berlatih dan keberanian memperaktikkan. Ada tiga bukti bahwa kita semua bisa melatihnya, bukti bahwa kita sebenarnya berbakat.

1.      Kita tidak mungkin lahir tanpa menangis. Menangis adalah komunikasi pertama kita dengan dunia, dan ketika kita menangis, kita sepenuhnya menarik perhatian semua orang.
2.      Kita pasti pernah berbohong. Waktu kita berbohong, kita merekayasa semuanya. Ekspresi tenang, cara memandang, argument yang logis, dan suara yang meyakinkan.
3.      Kita pasti pernah curhat. Ketika kita currhat, kita benar-benar berbicara selepas-lepasnya tanpa ada beban dan pikiran apa-apa. Kita bisa sepenuhnya mempengaruhi kawan curhat. Kita mengekspresikan isi hati dengan amat jujur, dan ekspresi tanpa rekayasa itu mempengaruhi siapa saja. (hal 55-56)

            Masih pada adegan yang sama, saat Izzat mengisi kelas Tata Wicara, kita mendapatkan sentakan untuk bisa lebih percaya diri. Aku seakan duduk di tengah-tengah mereka, menjadi salah satu kader.

            “Asal kalian tahu,” suara Izzat mendadak meninggi, mantap, “Hilter yang satu pidatonya mampu membakar semangat ribuan pasukan Jerman dan membuat panas dingin bangsa lain, dulunya hanya seorang gagap. Gagap! Tidak seperti teman-teman di sini, yang mengaku tidak berbakat tapi masih bisa bicara! Lihatlah Hilter kini: ia dikenang sebagai siapa. Ada juga King George V, yang dikenal sebagai orator peperangan paling andal, juga dulunya gagap total. Apa yang mereka telah lakukan?”
            Suara tinggi Izzat menggantung, putus. Meninggalkan sunyi dan tatap mata yang serius. Sempurna tersihir. Izzat tersenyum, lembut. “Mereka sekuat tulang melatih kekurangan mereka. Mereka tidak malu dianggap gila ketika latihan. Mereka percaya diri, dan berani mempraktikkan apa yang sudah mereka latihkan. Merekalah contoh pejuang sejati.” (hal 57)

            Keunggulan lain novel ini adalah: penulis pandai menyematkan hal kecil, tapi kemudian berpengaruh besar dan menjadi daya pikat. Contohnya kehadiran Eyang Tulip yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap inti cerita, tapi melalui kalimat-kalimatnya yang menyihir, cerita ini justru akan mati tanpa kehadiran Eyang Tulip.

            “Kalian menjadi korban karena waktu liburan kalian pasti akan disita Izzat untuk pergi mengajar. Kalian berpanas-panas menghabiskan bensin, lelah memeras otak mempersiapkan rencana mengajar, dan tanpa dibayar. Semua itu demi mencerdaskan orang yang bukan siapa-siapanya kamu. Kalau kalian tidak menganggap semua itu sebagai tabungan pahala kebaikan di masa depan, maka kalian sebenarnya korban. Tapi jika kalian ikhlas, artinya, hari ini Eyang masih melihat pahlawan.” (hal 84-85)
            Sejak TK, nelayan hanya tergolong sebagai jenis mata pencaharian, bukan cita-cita. Cita-cita hanya untuk golongan pekerjaan yang berpenghasilan terjamin, seperti dokter, guru, polisi, presiden, pilot. Petani, penjual kue, nelayan, montir bengkel, tidak dianggap cita-cita. Seakan-akan, mata pencaharian adalah golongan pekerjaan alternatif yang terpaksa dijalani seseorang  setelah gagal meraih cita-cita. Memangnya, sejak kapan cita-cita harus selalu berarti “pekerjaan bergengsi dan bergaji tinggi?” (hal 86)
            Lagipula, mungkin Tuhan bête karena seringkali didekati manusia dengan berurai air mata ketika ada maunya saja. Padahal, Tuhan hanya butuh satu: manusia yakin sepenuhnya pada-Nya. Berserah bulat-bulat. Kelak, harapan itu pasti akan dikabulkan. (hal 96)

            Semakin jauh kita menikmati kisah ini, kita akan mengerti, bahwa Izzat adalah pribadi yang terbentuk dari komunitas. Selain itu, Izzat juga gemar menulis. Berikut salah satu puisi yang ditulisnya pada waktu luang.

            Langit tak selamanya berawan
            Mungkin antara kita tak selamanya sebagai kawan
            Mungkin kelak jadi musuh
            Mungkin kelak serupa bulan
            Yang tak mungkin dipisah dari malam (hal 158-159)

            Izzat berhasil menerbitkan sebuah buku setelah puasa pesbuk dalam kurung waktu yang cukup lama. Hal ini menegaskan, jika ingin serius menulis (atau pekerjaan apa pun), sebaiknya kurangi aktivitas yang tidak penting dan mulai fokus pada tujuan itu sendiri. Aku mencatatnya di kepala.
            Aku yakin, penulis yang menyamarkan identitas dan memakai nama pena “Pelantan Lubuk” adalah seseorang yang berkecimpung di berbagai komunitas. Jika tidak, tidak mungkin tokoh Izzat berhasil dibuatnya sangat hidup.
            Selain nuansa komunitas yang kental, cerita ini tentu saja tidak lepas dari unsur percintaan. Adalah Fidza, perempuan yang berhasil menggetarkan hati Izzat di tengah kesibukannya dalam berbagai komunitas. Kisah cinta mereka dibuat sangat sederhana. Pertemuannya, ketika rasa itu timbul, konfliknya, semua sederhana namun bikin gereget. Bahkan, penulis mengulur-ulur pertemuan mereka dan sukses membuatku tak ingin lepas membacanya. Aku suka banget adegan ketika Izzat dan Fidza berdua mengendarai motor dalam perjalanan ke Mojokerto. Mereka disuguhkan pemandangan indah yang membuat keduanya tak sengaja bersenandung.

            Tuhan, maafkan diri ini, yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
            Izzat bersenandung.
            Merdu. Lirih.
            Entah kenapa, Izzat ingin sekali mendendangkan lagu itu.
            Namun, apalah daya ini, bila ternyata, sesungguhnya, aku terlalu cinta dia
            Fidza menyambungnya.
            Merdu. Indah.
            Semakin ke sini, tanpa keduanya sadari, Izzat dan Fidza sedang memekarkan bunga yang sama. Dan nyanyian itu adalah dua perasaan yang tanpa mereka sadari, telah lama mereka pilin berdua. (hal 212)

            Saat itu Izzat lupa, perempuan di boncengannya, yang ia ajak bernyanyi bersama, adalah kekasih sahabatnya. Sampai di sini kau mulai mengerti, betapa rumit dan menyenangkannya kisah mereka untuk ditelusuri, bukan?
            Di luar kisah asmara Izzat dan Fidza, penulis memaparkan narasi tentang cinta yang menggelitik namun penuh makna.

            Mungkin memang tabiat cinta, selalu merecoki para penyandangnya tanpa kenal kompromi. Jika cinta ditaruh di mata, ia akan merayap ke dompet dan membuyarkan semua uang. Jika ia ditaruh di kepala, ia malah membuyarkan logika dan membuat manusia bodoh. Jika ditaruh di hati, di lubuk yang dalam sekali, ia akan melompat ke langit, kemudian menerbitkan matahari pukul dua belas malam, dan menenggelamkannya pukul dua belas siang: menjadikan semua hal serba tidak pasti, serba tak tertebak. Adapun jika cinta disimpan di dalam celana, seringkali ia sanggup menahan bulan agar terlambat datang, membuat frustrasi seorang perempuan, dan membuat heboh dua keluarga. (hal 172)

            Kehilangan, kesedihan, juga mewarnai beberapa bagian cerita. Tapi yang paling membekas, saat kematian Mak Fat, tante Izzat. Aku menemukan kalimat ajaib di sana.

            Ia baru datang ke pemakaman saat semua orang sudah tidak ada. Duduk di samping makam Mak Fat yang masih basah. Ia berbisik: “Izzat datang saat semuanya pulang, Mak. Izzat akan ingat saat semuanya lupa. Izzat sayang Mak Fat.” (hal 134)

            Di tengah-tengah cerita, muncul sosok Tari dengan segenap kemisteriusannya. Perempuan bertubuh ringkih dengan tatapan yang menampung segudang beban. Izzat merasa terpanggil untuk membebaskan perempuan itu dari apa pun yang membelenggunya selama ini. Hingga waktu malah menghadirkan sesuatu yang lain di antara mereka. Kenyataan kelam kehidupan Tari cukup membuatku tersentak dan bergumam: semoga hal semacam itu hanya ada di novel ini, tidak di dunia nyata. Kehadiran Tari cukup memberi warna dan membuat kita mengenal sosok perempuan tangguh. Bahkan, setelah waktu tak menyatukan ia dan Izzat, ia berjanji untuk tidak menikah selamanya. Ini di luar dugaan. Entah bagaimana jadinya jika sosok Tari benar-benar ada di dunia nyata.
            Setelah mengikuti perjalanan panjang Izzat, kita tiba di titik paling nendebarkan. Ketika penantian panjang, perjuangan setia, janji empat tahun silam, menemui ujungnya.

            Paralayang, 17 November 2018. Pukul delapan malam.
            Di tanggal itu, tujuh tahun lalu, aku melihat Fidza pertama kali. Jatuh cinta dengan begitu dahsyatnya, sampai tak tahu harus bilang apa. Di tanggal yang sama. Di tempat ini pula, empat tahun lalu, aku dan Fidza memutuskan untuk menyudahi segalanya. Di tanggal itu, di tempat ini, kami berjanji akan bertemu lagi. (hal 298)
            Aku melirik jam tangan yang menyala berwarna biru di kegelapan. Lima belas menit lagi pukul dua belas, dan tanggal tujuh belas akan berakhir sudah. Dan keputusan sudah jelas ujungnya.
            Fidza … jika memang begini akhirnya ….
            Terima kasih buat semuanya ….
            Aku bangga …. Aku bangga, punya cinta yang tak mati dikunyah waktu. (hal 301)

            Apakah Fidza benar-benar tidak datang? Tentu saja bagian ini tidak akan kubongkar di sini, karena bagian inilah salah satu penyebabku terlalu cinta dengan novel ini. Kalaupun Fidza akhirnya datang, percayalah, ini tak seperti akhir yang kau bayangkan. Ini tentang kesetiaan, komitmen, ketegasan, pilihan, dan banyak hal yang akan membuatmu berpikir keras. Dan semakin menyadari, terkadang cinta itu memang menduduki posisi paling rumit.
            Terlepas dari semua keindahan itu, sebuah karya tentu tak lepas dari cacat, pun dengan novel ini. Terdapat typo di beberapa halaman: 12, 38, 172, 216, 235, 287, 297, 299. Tapi, itu sama sekali tak mengurangi kenikmatan cerita.
            Ini review terpanjang yang pernah kutulis. Sebab, begitu banyak yang menarik untuk dipaparkan. Bahkan, aku serasa ingin menuliskan semuanya saja agar semuanya tahu, bahwa novel ini memang layak dinikmati (meskipun hanya terbitan indie).
            Sewaktu akan menerbitkan naskah ini, selaku pimred, Mbak Tiara Purnamasari dengan bijak menyarankan agar naskah ini diajukan saja ke penerbit mayor karena dirasa sangat potensial. Tapi, sang penulis tetap kukuh menerbitkannya secara indie di penerbitan sahabatnya (Mazaya Publishing House). Lagipula, novel ini ditulis sebagai kado ulang tahun seseorang yang jatuh di tanggal 12 Desember. Sebagai ungkapan terima kasih karena telah membuat sang penulis terlalu cinta.
            Pelantan Lubuk, siapa pun kamu, di mana pun berada, terima kasih karena—juga—telah membuatku terlalu cinta. Sejak membaca novel ini, aku punya mimpi, suatu saat bisa berkenalan denganmu walau hanya di dunia maya. Syukur-syukur bisa bertemu langsung. Benar kata Mbak Tiara Purnamasari, jadilah penulis yang tidak hanya lebih terkenal dari Tere Liye dan Andrea Hirata, tapi juga lebih inspiratif dari mereka.
            Nah, bagi Anda yang berminat menikmati kisah ini, bisa langsung order ke penerbitnya (Mazaya Publishing House)

Minggu, 09 Oktober 2016

Cerpen Read Zone: Tradisi Nikah Massal

             Angkot yang kutumpangi ini sebentar lagi akan membawaku tiba di pondok Pesantren Al-Hidayah, tempatku dilahirkan, tumbuh, mengenyam pendidikan dari tingkat paud hingga madrasah aliah. Aku ada di pesantren itu benar-benar hal yang tak bisa ditawar lagi. Kedua orang tuaku alumnus pesantren itu juga, kemudian menikah dan tinggal di sana. Butuh pergolakan batin yang panjang sebelum akhirnya aku memutuskan meninggalkan pondok pesantren yang sudah seperti bagian dari jiwaku itu demi kuliah di Jakarta, masuk ke universitas yang kurasa cocok untuk menunjang cita-citaku menjadi seorang arsitek. Sejak mondok di sana, tak jarang aku kena ta’zir[1], karena saat diminta menyelesaikan hafalan, aku malah sibuk menggambar desain bangunan pencakar langit. Rasanya lucu bila terkenang masa itu. Entah sejak kapan aku tergila-gila dengan dunia arsitek, padahal kurikulum di pesantren tidak mengajarkan itu.

            Aku mengambil napas dalam-dalam, membiarkan aroma khas Gunung Tembak—salah satu pedesaan di kota Balikpapan—memenuhi rongga dada. Senyumku tersungging tipis, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu abi dan umi, serta semua teman-teman dan warga di pesantren. Sibuk mengamati setiap sudut kampung halaman yang telah lama kutinggalkan ini, tiba-tiba pandanganku terpaku pada seorang perempuan yang duduk tepat di belakang sopir.
            “Mondok di Al-Hidayah, Neng?” tanyaku setelah sekilas melihat stiker logo pesantren yang cukup tersohor itu di sampul depan notebook yang dipegangnya.
            Ia hanya tersenyum yang kemudian kuartikan “iya”. Ya, hanya tersenyum. Para santriwati di pesantren itu sepertinya memang sudah terlatih untuk tidak banyak bicara, terlebih terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Aku bukan tipe orang yang pandai menggambarkan kecantikan seorang perempuan, hanya saja, seutas senyum tadi mampu membuat jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya.
---
            Tak banyak yang berubah dengan pondok pesantren ini. Mungkin yang berubah hanya statusku saja yang tak lagi menjadi santri di dalamnya. Masa-masa indah saat jadi santri yang rada nakal, kini mengundang sekelebat kerinduan. Ghosob[2], gojlogan[3], setoran[4], lengseran[5], aku pernah melalui dan kini merindukan semua itu.
            Seminggu sudah sejak kepulanganku dari Jakarta. Ada hal yang sulit kujabarkan sejak pertemuanku dengan perempuan itu di atas angkot. Hari-hari setelah perjumpaan itu, aku sibuk menerka, bagaimana kuasa Tuhan menyelipkan keindahan pada makhluk bernama perempuan. Bahkan hanya dengan seutas senyum, ia mampu menguasai memori otakku. Senyumnya abadi, membentuk semacam gumpalan mengambang yang hanya berjarak sejengkal dari keningku.
            Umi baru saja keluar dan menutup pintu kamarku setelah menyampaikan hal yang sebenarnya sudah kuprediksi jauh-jauh hari sebelum aku memutuskan untuk kembali ke pondok pesantren ini. Bahkan di hari pertama kepulanganku pun, umi mulai menyelipkan hal itu sebagai wacana tersirat di sela-sela obrolan kami. Dan barusan, mulai ada penekanan di suara umi saat mengutarakannya lagi.
            Karena lahir di lingkungan pesantren, aku dibesarkan dalam naungan ilmu agama yang sangat kental. Wajar jika aku menjadi anak yang penurut dan tidak pernah melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Tapi akhi-akhir ini, naluri membangkang kurasakan mulai bertunas dalam hati, lebih tepatnya sejak umi menyampaikan hal itu.
            Aku bangga menjadi bagian dari pesantren ini. Aku menyukai alamnya yang masih asri, serta ketentraman warga di dalamnya. Kecuali satu hal, aku benci tradisi nikah massal yang seolah menjadi image pesantren ini. Ya, nikah massal yang tak lama lagi sepertinya akan menjadi cerita tersendiri di hidupku juga. Setiap santri yang telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik, akan dinikahkan dengan salah seorang santriwati yang dianggap cocok. Para warga yang tinggal di kawasan pondok pesantren ini adalah pelakon nikah massal itu, termasuk abi dan umi. Bagi mereka, salah satu pilar Pesantren Al-Hidayah adalah menikah dengan sesama kader.
            “Kamu sudah menyelesaikan pendidikan, Nak, apalagi selanjutnya selain menikah?”
            “Bagaimana mungkin aku berumah tangga dengan kondisi seperti ini, Umi? Aku belum siap!” sanggahku dengan nada memelas bercampur kesal.
            “Menikah itu membuka pintu rezeki dan akan menyempurnakan agamamu. Dan yang paling penting, kamu akan terhindar dari niatan zina yang mulai bergejolak di usiamu ini.”
            “Aku masih punya mimpi yang panjang, Umi! Aku tidak ingin hidupku hanya berkutat di sekitaran pesantren ini saja.” Aku memunggungi umi.
            “Apakah dengan menikah lantas memutuskan jalanmu untuk meraih cita-cita? Setelah menikah, kamu masih bisa mengejar apa pun mimpimu itu.”
            Aku memilih diam, aku tidak pernah menang dari umi jika membahas masalah ini. Hanya saja … kurasa abi dan umi paham akan agama, tapi bagaimana mereka mendesak seseorang yang belum siap lahir batin untuk segera menikah? Ini menjadi pemikiran terumit yang menghuni kepalaku saat ini.
            Umi tidak lagi di kamarku, ia pergi setelah kubalas semua ucapannya dengan diam. Tapi kata-kata umi tadi masih betah berputar-putar di benakku. Apa pun yang kujadikan alasan belum ingin menikah, hal yang paling menjurus adalah ketidaksukaanku pada tradisi nikah massal itu. Apa jadinya, momen bersejarah yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup itu malah dirayakan ramai-ramai. Membayangkannya saja … aku enggan!
---
            Hari ini ada seminar dari pemerintah setempat yang mengangkat tema “Pentingnya Kepedulian Sosial”. Dari temanya saja, aku sudah bisa menebak akan jadi apa seminar itu. Pasti sangat membosankan untuk orang sepertiku yang memang tidak betah duduk lama-lama. Tapi lagi-lagi karena senyuman itu, aku malah paling semangat mengikuti seminar hari ini. Aku mengambil tempat di tengah-tengah barisan kursi yang telah diatur sangat rapi di aula pesantren. Dulu, jika ada seminar semacam ini, kami artikan sebagai ajang bertemunya para santri dan santriwati dalam satu ruangan. Di hari lain, tembok tinggi pembatas asrama berdiri kokoh, menjadikan kami seolah hidup di dua dunia yang berbeda. Dan hari ini, aku berharap bisa bertemu dengan pemilik senyuman itu.
            Acara akan dimulai lima menit lagi. Aku duduk dengan tenang sambil mengamati para santriwati yang memasuki aula satu persatu. Hingga barisan kursi di zona akhwat terisi penuh, aku mulai mencari sosok yang diinginkan kedua mataku. Tapi … bagaimana mungkin aku mendapati senyuman itu? Mereka kompak mengenakan burqa. Entah sejak kapan adat itu berlaku. Jika ada pertemuan semacam ini para satriwati diwajibkan mengenakan penutup wajah, padahal jika mereka keluar dari lingkungan pesantren tidak sampai segitunya. Aku terus celingukan, hingga tak sadar sang MC sudah membuka acara. Aku lekas merapikan posisi duduk setelah beberapa pasang mata memicing ke arahku.
            “Bismillahirahmanirahim! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatu!” suara MC yang kemudian disusul riuh ketika para hadirin menjawab salamnya. Detik itulah, ketika aku mengenali sepasang mata milik perempuan yang tengah berdiri di tengah panggung itu. Sepasang mata itulah, yang menemani senyum pelumpuh yang ia arahkan padaku kala itu. Mataku terpasung, tak mau lagi menjamah yang lain, selain sepasang mata itu.
            Setelah selesai membuka acara, ia berjalan pelan hendak turun dari panggung. Sekilas, ia melihat ke arahku. Kantung matanya dihiasi kerutan halus. Detik itu, aku yakin, ada senyum di balik cadarnya.

            Aku merebahkan tubuh yang sebenarnya tak lelah di atas sofa panjang di ruang tamu. Setelah senyuman, kini suaranya. Semakin lengkap untuk memenjarakanku seperti ini. Untuk pertama kalinya, aku berpikir hendak menyetujui keinginan abi dan umi untuk mengikutkanku nikah massal, tapi jika perempuan itu yang dipasangkan denganku. Ah … pikiranku mulai nakal.
            “Sudah selesai seminarnya?”
            Aku lekas bangkit kemudian duduk bersandar ketika abi dan umi menghampiriku. Mereka mengambil posisi di sebelahku. Abi meletakkan map cokelat di atas meja, lebih tepatnya bermaksud diperlihatkan kepadaku. Aku hanya melirik map itu, dan seketika perasaanku jadi tidak enak.
            “Abi sudah mendaftarkanmu ke panitia nikah massal tahun ini.”
            Deg! Sesaat, detak jantungku berhenti, kemudian disusul gemuruh di dada yang mewakili berbagai rasa. Aku mau berontak, tapi seperti apa cara berontak seorang anak yang tetap sopan di depan orangtua yang telah membesarkannya selama ini? Akhirnya aku hanya diam, seolah tak terjadi apa-apa.
            “Kenapa, Nak, kok, murung?” umi menangkap perubahan mimik wajahku.
            “Aku tidak ingin nikah massal, Umi. Aku ingin menikah dengan caraku sendiri,” lirihku.
            “Tapi nikah massal sudah jadi tradisi di pesantren ini. Apa kata orang jika kamu enggan melakukannya?”
            “Memang bukan sekarang, tapi kelak, kamu akan mengerti mengapa kami melakukan ini.” abi menambahkan.
            “Perempuan yang kami pilihkan untukmu adalah perempuan yang diidamkan banyak kaum adam. Kamu beruntung bisa meminangnya. Ia adalah Ustadzah Annisa, putri bungsu Kiai Manshur,” ucap umi setelah hening sesaat.
            “Ustadzah Annisa?” pekikku tak terkontrol.
            “Iya. Kiai Manshur sendiri yang pertama kali mengusulkan perjodohan ini kepada Abi.”
            Aku beranjak ke kamar, meninggalkan abi dan umi. Ini memang tidak sopan, tapi lebih baik daripada aku mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diperdengarkan seorang anak kepada orangtuanya.
            Kurasakan semakin berat pikiran yang bersarang di kepalaku. Ini bukan lagi sebatas nikah massal, tapi aku dijodohkan dengan Ustadzah Annisa, putri pengasuh pesantren ini. Semasa aku di tahun terakhir madrasah aliah, ia baru pulang dari Cairo setelah meraih gelar S1-nya di sana. Ia kembali dan mengabdikan diri di pesantren ini. Aku banyak mendengar cerita tentangnya. Solehah sudah pasti, baik tidak diragukan lagi, cantik … entahlah, aku belum pernah bertemu langsung. Tapi … bukankah ia lebih pantas jadi kakakku? Entah apa yang ada di benak abi dan umi. Dulu, aku pernah menentang abi dan umi yang menginginkanku kuliah di universitas milik lembaga—masih di bawah naungan Al-Hidayah—yang menurutku kurang sejalan dengan cita-citaku. Entah apa jadinya jika aku terpaksa menentang mereka lagi.
---
            Sudah tiga hari ini aku aktif bantu-bantu ngajar di tingkat tsanawiah sambil menunggu hasil wawancara di sebuah perusahaan ternama di Jakarta yang kulakukan sehari sebelum kembali ke sini.
            “Baiklah, Abi, Umi, aku bersedia menikah dengan Ustadzah Annisa,” ucapku pagi ini sebelum berangkat ngajar. Kalimat itu terlontar setelah aku melakoni salat istiqarah tiga malam berturut-turut. Tentu saja kalimat tadi disambut mereka dengan senyum sumringah.
            “Tapi aku tidak ingin nikah massal. Aku ingin pernikahan itu digelar terpisah,” imbuhku sejurus kemudian dan sukses membuat mereka terkesiap.
            “Aku lebih baik kembali ke Jakarta daripada harus nikah massal,” tandasku mengakhiri percakapan singkat itu lalu beranjak pergi.
            Seminggu kemudian, kami bertandang ke kediaman Kiai Manshur. Persiapan pernikahanku dengan Ustadzah Annisa telah dibicarakan sebelumnya, tentu saja setelah menyetujui ketidakinginanku nikah massal. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku akan dipertemukan dengan calon istriku. Sebelum mengucapkan ijab qabul, aku berhak melihat wajahnya secara langsung tanpa balutan cadar. Sumpah, aku belum pernah segugup ini. Telapak tangan serta keningku dirembesi keringat dingin. Terlebih saat Ustadzah Annisa sudah berada di depanku dan sedang ancang-ancang untuk melepas cadarnya.
            Ketika cadar itu tersingkap, aku menemukan cahaya yang lebih lembut dari purnama. Mungkin berlebihan, tapi sudah kukatakan di awal, bahwa aku bukan tipe orang yang pandai menggambarkan kecantikan seorang perempuan.
            “Subahanallah! Alhamdulillah!” hanya dua kalimat itu yang kurasa mampu mewakili gemuruh rasa di dada saat ini. Tidak salah lagi, wajah inilah yang melahirkan senyuman pelumpuh di angkot itu. Dialah yang kuinginkan, Uztadzah Annisa yang sempat kusangsikan.
            Konsep pernikahan yang kurancang matang-matang, serta-merta kubatalkan. Aku lebih memilih nikah massal, bergabung dengan 80 pasangan lainnya yang terdaftar tahun ini. Ustadzah Annisa pun menginginkan itu, sebagai bentuk penyempurnaan kami selaku kader Pesantren Al-Hidayah. Meskipun akhirnya aku juga melakoni nikah massal—tradisi yang tidak kusukai—ini, tapi aku tidak akan memaksakannya kepada anak-anakku kelak. Aku hanya akan menawarkan, lalu membiarkan mereka memutuskan.

            Di malam pertama kami.
            “Aku belum paham bagaimana perjodohan ini terjadi,” ucapku kikuk.
            “Kamu menyesal?” tanyanya pelan.
            “Oh … tidak. Aku hanya ….” Aku tercekat.
            “Karena aku lebih pantas jadi kakakmu?”
            “Bukan, sama sekali tidak seperti itu. Bahkan awalnya aku menolak perjodohan ini karena aku menginginkan perempuan yang kutemui di atas angkot itu,” sanggahku sebelum ia tersinggung.
            “Ya, semua berawal dari angkot itu. Sudah lama abi selalu mendesakku untuk segara menikah, tapi aku tidak mau gegabah sebelum hati menemukan pelabuhan yang tepat. Dan akhirnya kuturuti keinginan beliau setelah bertemu denganmu. Sejak kamu menyapaku di angkot itu, suaramu tak pernah berhenti terngiang di telingaku. Kamu berhasil membuatku merasakan rindu terlarang untuk pertama kalinya.” Ia jeda untuk mengambil napas. Bisa kutangkap, ia yang menginginkan perjodohan ini.
            “Awalnya aku ragu, ketika sadar, kamu lebih pantas jadi adikku. Tapi setelah kupikir, St. Khadijah, pun, umurnya lebih tua 15 tahun dari baginda nabi. Sementara kita, hanya terpaut beberapa tahun.”
            “Sudahlah, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Aku benar-benar tulus mencintaimu. Sekalipun kamu bukan perempuan di atas angkot itu, karena sekarang kamu adalah istriku,” ucapku meyakinkan.
            “Bisakah aku minta satu hal?”
            “Tentu, apa itu?”
            “Panggil aku Dek Annisa!”
            Aku tersenyum nakal, kemudian kubalas dengan mengecup keningnya. Sungguh besar kuasa Tuhan mempertemukan dua cinta dengan cara terindah setelah saling meminta dalam doa. Dan untuk pertama kalinya, aku beranggapan, bahwa tradisi nikah massal itu tidak terlalu buruk.
---


[1] Hukuman bagi santri yang melanggar aturan pesantren.
[2] Menggunakan barang orang lain tanpa seijin pemilik.
[3] Istilah yang digunakan ketika mengerjai santri lain.
[4] Kegiatan menyetorkan hafalan nadzaman kitab-kitab.
[5] Makan bersama menggunakan lengser atau nampan.

*Cerpen ini awalnya saya tulis untuk lomba Santri Menulis dengan tema "Sepenggal Cerita di Lorong Pesantren", tapi gagal, hanya lolos seleksi tahap awal (100 besar). Kemudian saya kirim ke Read Zone, dan tayang pada tanggal 08 Oktober 2016. Cerpen ini lahir atas bantuan salah seorang teman facebook (Ahmad Naufal Arsyaf), yang kebetulan seorang santri, dan di pondok pesantrennya itulah tradisi nikah massal ini benar-benar ada.
PROFIL PENULIS
            Ansar Siri, penyuka warna merah ini menghabiskan masa kecil hingga remaja di tanah kelahiran, Bone, Sulawesi Selatan. Cowok Capricorn ini mengemban mimpi untuk mengharumkan nama daerahnya melalui tulisan. Kecintaannya pada dunia menulis berawal dari kebiasaan menulis catatan harian.
Lebih dekat dengan penulis;
Email               : ansarsiri357@gmail.com
Facebook         : Ansar Siri
Twitter             : @SiriAnsar