Jumat, 07 Februari 2020

Review Novel: Too Far to Hold



Judul             : Too Far to Hold

Penulis          : Fifi Alfiana

Penerbit        : Bentang Belia

Editor             : Adham T. Fusama dan Dila Maretihaqsari

Cover             : Dilidita

Cetakan         : Kedua, 2018

Tebal              : 286 hlm

ISBN               : 978-602-430-227-6

Blurb:

Mustahil bisa dapetin hati Wingga! Alana yakin itu. Ia selalu merasa cowok itu terlalu keren untuk dekat dengannya. Jadi, yang bisa Alana lakukan hanyalah mengagumi Wingga diam-diam.

Akan tetapi, rupanya semesta mendekatkan Alana dengan Wingga secara nggak sengaja. Saat Wingga pingsan di perpustakaan, Alana menolongnya. Sejak itu, Alana tahu lebih banyak tentang Wingga. Bukan Wingga yang sering menyabet juara olimpiade sains, melainkan Wingga yang punya rahasia dan luka hati.

Ingin rasanya Alana membantu cowok itu menghadapi kehidupan peliknya. Masalahnya, maukah Wingga mengizinkan Alana memasuki kehidupannya?

***

Alur cerita:

Selama ini Alana merasa cukup dengan menjadi pengagum rahasia Wingga. Semua foto yang ia ambil diam-diam untuk ia nikmati sendiri, tanpa harus orangnya tahu.

"Senyum bak malaikat miliknya praktis membuat aku terpesona, sampai membuatku seolah terbang dibawa angin ke atas awan dan bertemu burung-burung serta pelangi."_(hal 3)

Tapi setelah ditolong saat pingsan di perpustakaan, Wingga jadi punya kesempatan untuk tahu isi kamera Alana. Namun, dasar Wingga emang nggak peka, masih saja tidak paham maksud semua itu. Akhirnya kedekatan mereka sebatas gitu-gitu aja. Tapi Alana bersyukur, itu jauh lebih baik dibanding sebelumnya hanya mengamati sosok Wingga dari jauh. Bahkan, ia jadi tahu apa yang tidak diketahui kebanyakan orang.

"Aku tahu itu egois. Aku tahu aku pernah bilang bahwa aku tidak takut ketahuan mencintai seseorang lebih dari 100%. Tapi, sekarang aku sendiri takut dia tahu aku diam-diam jatuh cinta kepadanya."_(hal 90)

Meski sudah lebih saling mengenal, soal perasaan tidak lantas mulus-mulus saja. Ada-ada saja tikungan yang mesti dilalui. Lantas, bagaimana akhir kisah Alana dan Wingga? Bersatu atau malah belajar untuk saling melupakan?

Yuk, jemput mereka di toko buku terdekat dan temukan sendiri jawabannya.
***

Review:

Membius. Itu yang saya rasakan saat mulai membaca bab satu. Entah karena apa, tahu-tahu saya kesetrum dan nggak mau berpaling. Akhirnya bab-bab selanjutnya saya lahap dengan mudah, ibarat berhadapan dengan makanan sesuai selera.

Bahasanya khas teenlit, ringan dan mudah dipahami. Kedua tokoh utama juga lumayan hidup tanpa harus digambarkan berlebihan. Saya suka interaksi mereka yang sederhana tapi manis.

Saya suka banget penggunaan POV1 bergantian antara Wingga dan Alana, meski agak aneh tiba-tiba Roger nyempil di tengah-tengah. Saya paham, bagian itu memang harus ada, hanya saja agak merusak citarasa yang sudah terbangun sejak awal. Problem seperti ini memang sering muncul di POV1.

Secara garis besar novel ini tidak memiliki kekurangan, hanya saja rahasia dan luka hati Wingga menurut saya kurang nendang. Jadi pas diungkap ekspresi saya datar-datar aja. Padahal sejak dia pingsan di perpustakaan ekspektasi saya sudah melambung. Selain itu, di akhir-akhir menurut saya agak terburu-buru, jadi bacanya juga tidak seenak di awal-awal.

Overall, novel ini salah satu novel teenlit paling nagih yang pernah saya baca. Nggak percaya? Cobain, deh. Di sini kamu bakal disadarin, bahwa nggak ada yang nggak mungkin. Tinggal bagaimana kita mau dan terus mengupayakan yang terbaik.

"Tapi, sulit bukan berarti mustahil. Jauh pun bukan berarti tidak teraih." Ini kalimat penutup sebelum tulisan "The End" yang saya suka banget.

Minggu, 03 November 2019

Review Novel: Rain, Paper Boat and Grey Story on Wednesday



Judul            : Rain, Paper Boat and Grey Story on Wednesday

Penulis        : Aldi.A

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor           : Ansar Siri

Layout         : Tim CV Jejak

Cover           : Freepik

Cetakan       : Pertama, Agustus 2019

Tebal            : 215 hlm

ISBN             : 978-602-474-845-6

Blurb:

Keanu Prasasti, pemuda yang kerap mengarungkan perahu kertas berisi kepedihan setiap kali hujan turun, tak pernah menyangka pertemuannya dengan Naomi Irawan akan berhasil menghadirkan berjuta rasa di antara keduanya: kesetiaan, pengorbanan, luka, juga air mata yang mengiring. Mengenai rahasia hari Rabu kelabu, hujan dan perahu kertas berisi luka milik Keanu, yang lantas terus meramu pahit manis kisah cinta di antara kedua siswa sekolah menengah atas tadi.

Lalu, akankah kisah keduanya kemudian berujung bahagia? Atau malah berakhir tragis dan penuh nestapa?

Sebab, nyatanya cinta hanyalah satu kata dengan lima huruf di dalamnya, namun memiliki ribuan akhir dari kisahnya masing-masing.

***

Alur cerita:

Peristiwa traumatik di masa lalu menjadikan Keanu pribadi yang tertutup dan mungkin agak sulit dipahami. Kesenangannya adalah menyendiri. Dan bila hujan turun, ia tidak mau ketinggalan melarungkan perahu kertas sebagai wadah untuk membuang kesedihannya. Meski kesedihan itu tak pernah benar-benar berkurang. Ia hanya merasa lega sesaat, lalu luka-luka itu bisa kembali memekat sewaktu-waktu.

"Memimpikan Ibu adalah pertahanan terakhir yang memecahkan gelas berisi air mata."_(hal 18)

Namun ceritanya agak berbeda sejak ia bertemu Naomi. Lebih tepatnya sejak gadis itu memergoki ritualnya melarungkakan perahu kertas. Naomi yang sepertinya punya niatan mengenal lebih jauh, awalnya memang agak mengganggu di mata Keanu. Pemuda itu merasa tidak perlu berteman, tidak perlu berbagi apa pun. Hanya saja, lambat laun Keanu menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman. Entah apa yang istimewa dari gadis itu. Bahkan, Keanu tidak segan membagikan kisah kelamnya kemudian, sesuatu yang tidak pernah diungkapkan ke siapa pun.

"Bagiku, kau adalah satu kebetulan yang berlanjut pada satu kebetulan lainnya."_(hal 10)

Sejak awal seluruh gerak-gerik Keanu dinilai Naomi sebagai sesuatu yang mengarah pada kepedihan. Orang jadi pendiam dan setertutup itu tidak mungkin tanpa sebab. Hal itulah yang ingin diketahui Naomi. Dan, entah dengan cara apa Keanu justru sangat menarik dengan sikap anehnya itu. Jujur, Naomi menyukainya.

"Kau tak perlu repot-repot menggali lebih dalam luka yang kau bikin. Sebab, kisahmu sebentar lagi akan tamat."_(hal 25)

Meski dibayang-bayangi Raihan, sang mantan, Naomi berjuang merobohkan benteng pertahanan yang dibangun Keanu. Pada akhirnya ia benar-benar berhasil memasuki hati pemuda itu. Hanya saja, hidup tak sesederhana pemahaman manusia. Takdir selalu saja menghadirkan hal-hal tak terduga.

"Jangan ada dendam di hatimu. Sebab, kau tidak akan tenang jika memilikinya."_(hal 32)

Apa yang terjadi dengan hubungan mereka? Yuk, segera miliki novel ini. Bisa diorder langsung ke penulis atau penerbit.

***

Review:

Unik. Sepertinya itu kata paling tepat untuk menggambarkan novel ini. Berhubung saya menyukai hal-hal berbau puitis, sudah pasti novel ini jadi bacaan yang menyenangkan. Sebenarnya jalan ceritanya bukanlah sesuatu yang bisa mendatangkan decak kagum, atau gelengan tak habis pikir. Tapi, penulis punya cara tersendiri menyajikan cerita ini hingga benar-benar melenakan.

Penulis lebih banyak bermain di narasi, dialog hanya seperlunya. Gabungan antara kalimat-kalimat puitis mendayu-dayu dan POV1, menjadikan novel ini sepintas mirip prosa senandika. Tapi semakin jauh kita digiring menyelami isi kepala Keanu dan Naomi secara bergantian, kita bisa menemukan konflik utama yang ingin diuraikan penulis.

Dari awal langsung terasa bias kepedihan yang coba disuguhkan penulis. Dan yang saya suka, hal ini konsisten hingga akhir. Bahkan, emosi kita ditarik ulur. Rasanya cukup sesak. Untungnya penulis menyematkan bumbu-bumbu asmara khas remaja, membuat kita punya ruang untuk menghela napas sejenak sebelum kemudian kembali disuguhi hal yang mencengangkan.

Endingnya bikin merinding, sih, dan yah ... lagi-lagi menyesakkan. Secara garis besar saya tidak menemukan kekurangan apa pun. Hanya saja, mungkin lebih baik jika ada sedikit perbedaan antara part Keanu dan Naomi. Misal dari segi susunan kalimat. Karena logikanya, cerita bergulir dari dua orang yang berbeda secara bergantian, otomatis ada sedikit perbedaan, dong. Sekecil apa pun harusnya ada. Tapi di sini saya belum menemukannya.

Overall, novel ini cocok banget buat kamu yang suka kalimat-kalimat puitis ala prosa senandika. Terus, di sini kamu juga bisa menemukan arti penting dari sebuah penerimaan terhadap setiap masalah. Dan yang paling utama, jangan pernah menutup diri dalam kondisi apa pun. Karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Review Buku: One Mind One Heart One Commitment




Judul       : One Mind One Heart One Commitment

Penulis   : Gunadi Getol Ph.D.

Penerbit : Elexmedia

Tebal       : 102 hlm

ISBN        : 978-602-02-0581-6

Secara tampilan, penggunaan font judul warna-warni plus tumpang tindih antara bahasa asing dan bahasa Indonesia, menurut saya kurang eye catching. Karena pada dasarnya judul sebuah buku haruslah memikat bahkan sebelum calon pembaca menyentuhnya. Ini malah agak sulit terbaca.

Untuk ukuran non fiksi, buku ini cukup ringan. Meskipun pembahasannya seputar dunia perusahaan, tapi penulis menghindari pengolahan kata yang berpotensi membingungkan. Dari awal hingga akhir tiap pembahasannya mudah dipahami. Selain itu, susunan babnya benar-benar ditata dari hal yang paling mendasar hingga level-level krusial untuk kesuksesan sebuah perusahaan.

Secara keseluruhan, buku ini membahas hubungan timbal balik antara pemilik perusahaan dengan karyawan, pun antara perusahaan itu sendiri dengan potensi diri seseorang. Perusahaan butuh karyawan untuk kelangsungan operasional mereka, sementara karyawan butuh perusahaan untuk mengembangkan karier mereka. Hal ini akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama hingga tidak menutup kemungkinan akan tumbuh rasa saling memiliki.

Dari sekian banyak pembahasan, inti yang paling menonjol adalah, ketika seseorang sudah terikat janji dengan pihak mana pun, harusnya janji itu dipegang teguh. Kedua belah pihak harus bersetia hingga akhir, melawan banyak godaan yang menang akan selalu ada di setiap langkah perjuangan. Karena pada akhirnya, tidak ada kesuksesan tanpa kerjasama yang nyata.

Saya nyaris tidak menemukan kekurangan apa pun di buku ini. Bahkan, buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Tidak mesti mereka yang berstatus karyawan atau pemilik perusahaan.

Rabu, 11 September 2019

Review Novel: Thursday Challenge No Make Up-Make Up Day!



Judul             : Thursday Challenge: No Make Up-Make Up Day!

Penulis         : Dita Anggita

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor           : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : Freepik

Cetakan        : Pertama, Agustus 2019

Tebal             : 273 hlm

ISBN              : 978-602-474-848-7

Blurb:

Gista adalah gadis remaja masa kini. Aktif di berbagai sosial media dan menjadi salah satu beauty influencer remaja yang memiliki ratusan ribu pengikut. Berbeda dengan komentar-komentar di laman Youtube yang selalu penuh pujian ketika ia mengunggah video tutorial make up-nya, di sekolah ia selalu mendapat dark comment, terutama oleh guru BK-nya. Hampir setiap hari, ia selalu dipanggil ke ruang BK dengan alasan yang sama, make up yang berlebihan.

Namun gadis itu tidak pernah memedulikannya. Baginya, ber-make-up adalah hak setiap wanita. Sampai suatu hari, ia ditantang oleh guru biologinya. Jika nilai biologi Gista tidak sesuai target, maka gadis itu tidak boleh menggunakan make up lagi ke sekolah.

Apakah Gista dapat menaklukkan tantangan itu? Atau justru ia malah takluk dengan tantangan hari Kamis guru biologinya?

***

Alur cerita:

Bagi Gista penampilan adalah nomor satu. Ia akan melakukan segala hal demi mempertahankannya, termasuk keluar masuk ruang BK karena tidak ingin menanggalkan kebiasaan menggunakan make up berlebihan ke sekolah. Jika selama ini Gista bisa menghadapinya, tidak lagi setelah sekolahnya kedatangan guru biologi baru, Melki. Sebenarnya Melki tidak berbuat yang tidak-tidak. Ia murni menjalankan perannya sebagai guru yang kebetulan diberkahi murid seajaib Gista. Tapi semua tindakannya terkesan 'sok' di mata Gista dan tentu saja berhasil mengusik ketenangan cewek itu.

"Hanya Tuhan yang tidak punya masalah, jadi curhat sama Tuhan aja. Sudah pasti didengar dan dikasih bonus penyelesaian masalah."_(hal 9)

Setelah hampir putus asa, Melki menemukan cara jitu untuk memisahkan Gista dari make up-nya. Tapi bukan Gista namanya jika menyerah tanpa perlawanan. Tapi pada akhirnya cewek itu kalah, dan harus takluk pada aturan Melki.

"Nggak bisa. Nggak bisa. Nggak bisa. Hidup Gista tak bisa tanpa warna."_(hal 68)

Tapi dasar Gista, ia masih saja terus berulah. Untungnya Melki punya stok kesabaran lebih untuk menghadapinya. Seiring berjalannya waktu, guru dan murid itu semakin dekat. Bahkan tanpa keduanya sadari, lebih dekat dari hubungan sewajarnya. Terlebih setelah Melki pelan-pelan mengerti alasan di balik sikap Gista yang rada brutal itu.

"Kamu boleh tetap pakai make up ... kecuali hari Kamis!"_(hal 73)

Melki sendiri, di balik tampilan elegannya sebagai sosok pendidik, ia tak lebih dari seorang pengecut yang lari dari masalah. Memilih pindah tempat mengajar demi berdamai dengan kenyataan yang selalu berhasil membuat hatinya berdenyut sakit. Lalu bertemu Gista, perlahan-lahan hari-harinya kembali terasa hidup. Di sisi lain ada Alvin, pacar Gista yang tentu saja tidak rela pujaan hatinya semakin dekat dengan si guru baru yang memang masih sangat muda dan tampan itu. Mereka terjebak pada kisah yang rumit.

"Lagi-lagi senyum wanita itu membuat Melki menjerit. Wanita itu tidak pernah tahu seberapa keras ia menahan perasaannya."_(hal 76)

Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Mampukah Melki berdamai dengan masa lalunya? Lalu, sanggupkah Gista terpisah dari make up tebalnya? Dan siapa yang akhirnya ia pilih? Setia pada Alvin, atau memulai kisah baru bersama Melki? Yuk, segera miliki novel ini dan temukan sendiri jawabannya.

***

Review:

Segar, satu kata yang menurut saya tepat untuk mewakili novel ini. Premisnya sebenarnya lumayan pasaran, tapi karena dibungkus dengan situasi yang sangat real dengan kehidupan anak zaman now, bikin cerita ini terlihat beda. Terlebih konsep make up yang kemudian dijadikan tema, berhasil membuat novel ini informatif di bidang kecantikan. Para beauty influencer dijamin bakal suka dengan cerita ini.

Di samping penggunaan bahasa ala remaja banget, dengan memunculkan istilah-istilah yang memang akrab dengan dunia mereka, sosok Gista akan sangat mudah dicintai pembaca. Ia berhasil tampil sebagai perwakilan remaja masa kini untuk menyuarakan uneg-uneg.

Saya sangat suka dengan cara penulis mengenalkan sosok Gista yang meledak-ledak. Untuk sebagian pembaca, termasuk saya, di awal mungkin kurang suka dengan Gista, mengingat bagaimana ia bersikap di depan gurunya. Tapi di sisi lain hal ini pun jadi nilai plus yang bikin cerita ini mudah diterima, karena sosok seperti Gista memang banyak di dunia nyata. Lalu seiring konflik yang berkembang perlahan-lahan, kita jadi tahu alasan Gista bersikap seperti itu. Di sinilah ia berhasil menarik simpati pembaca.

Dari semua hal, saya paling suka dengan pesan dan pelajaran yang ingin disampaikan penulis.

Tapi, meski ini cuma fiksi, ada beberapa bagian yang menurut saya sikap Gista berlebihan untuk ukuran murid. Selain itu, saya merasakan plotnya kurang rapi sehingga masih berpotensi menimbulkan tanda tanya di benak pembaca.

Overall, novel ini pas banget buat kamu yang mencari cerita remaja dengan konsep kekinian. Tentang bagaimana terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik, peran penting keluarga, usaha meraih mimpi, pentingnya untuk tidak terlalu percaya dengan orang-orang di sekitar kita, semuanya dikupas habis di sini. Kamu harus baca!

Rabu, 04 September 2019

Review Novel: Fake Boyfriend on Friday



Judul            : Fake Boyfriend on Friday

Penulis        : Lina Purwati

Penerbit      : Jejak Publisher

Editor          : Ansar Siri

Layout         : Tim CV Jejak

Cover           : Iis Prastikasari

Cetakan       : Pertama, Agustus 2019

Tebal            : 248 hlm

ISBN             : 978-602-474-842-5

Blurb:

Juna si selebgram harus jadi dokter karena ingin membuat laki-laki yang meninggalkan Ibu menyesal. Juna ingin Ayah kandungnya tidak memandang Ibu sebelah mata. Sejak saat itulah Juna belajar giat untuk bisa masuk perguruan tinggi melalui SBMPTN. Tidak mungkin lagi menggunakan jalur SNMPTN, mengingat nilai Juna yang bisa bikin sakit mata saking merahnya. Tapi selalu saja ada cewek-cewek yang mengganggu Juna untuk belajar.

Muncul sebuah ide untuk memiliki pacar palsu.

"Happy month anniversary, Kirana Sayang." Juna berujar sambil menyerahkan boneka teddy seukuran Kirana.

Kirana hanya bisa bengong melihat Juna. Niat awal membuat perhitungan karena Tiara-sahabat Kirana-ditolak Juna malah berakhir menjadi pacar palsu. Kirana tidak mau ditindas Juna, tapi cowok menyebalkan itu mengancam dengan pasal 406 KUHP tentang perusakan barang dengan sengaja bisa dipenjara dua tahun delapan bulan. Pasalnya, Kirana pernah merusak ban motor Juna.

Mana yang harus Kirana pilih, pacar palsu atau penjara?

***

Alur cerita:

Berawal dari hal sepele yang malah berdampak serius, Kirana terpaksa masuk ke kehidupan Juna. Hari-harinya yang semula tenang pun jadi jungkir balik. Padahal ia hanya ingin menuntut keadilan untuk sahabatnya yang ditolak mentah-mentah oleh Juna, tapi malah dirinya yang terjebak dan harus patuh menjadi pacar palsu Juna.

Di balik popularitasnya sebagai selebgram, Juna sedang merencanakan balas dendam kepada ayahnya, yang telah meninggalkannya dan ibunya demi perempuan lain. Balas dendam ala Juna adalah dengan menjadi dokter, seseorang yang bisa membanggakan. Sebab itulah ia butuh pacar palsu, agar cewek-cewek di sekolah berhenti mengganggunya saat ingin serius belajar. Dan tiba-tiba saja Juna menemukan peluang itu di diri Kirana.

Situasi semakin rumit setelah Juna tahu, Tiara, sahabat Kirana, cewek populer yang pernah ditolaknya ternyata adik tirinya. Di sinilah Juna mematangkan rencana balas dendamnya.

Menjadi pacar palsu Juna jauh lebih menyeramkan dari dugaan Kirana sebelumnya. Selain waktu luangnya yang terkuras demi jadi bodyguard dadakan, ia terpaksa jadi sasaran bullying para fans Juna yang tidak terima sang idola sudah punya gandengan. Apalagi menurut mereka, Kirana sama sekali tidak cocok untuk Juna. Mulai dari hujatan di sosial media hingga kekerasan fisik, terpaksa Kirana terima. Ia hanya bisa bertahan, sesekali menangis diam-diam. Sebab untuk melawan, cukup sulit menemukan pelaku sebenarnya. Tidak sampai di situ, persahabatannya dengan Tiara pun hancur.

Terlepas dari bahaya yang mengintai Kirana, Juna sangat menikmati status palsu di antara mereka. Ia bebas dari gangguan receh para fans dan punya banyak waktu untuk belajar. Seiring berjalannya waktu, Juna menemukan kenyamanan berada di sisi Kirana. Tepatnya, tidak ingin status palsu itu berakhir. Namun ada Elvan, cowok pintar yang mengakui Kirana sebagai cinta pertamanya, dan akan melakukan berbagai cara untuk menjauhkannya dari Juna.

Pada akhirnya, mampukah Juna meraih cita-citanya menjadi dokter? Lalu, sampai kapan ia butuh Kirana sebagai pacar palsunya? Bagaimana jika status palsu itu malah terbongkar di waktu yang tidak tepat? Bagaimana pula jika Juna menemukan fakta lain di balik kebenciannya pada ayahnya? Yuk, segera miliki novel ini dan temukan sendiri jawabannya.

***

Review:

Dari opening saya langsung suka dengan novel ini. Interaksi awal kedua tokoh utamanya sungguh menjanjikan jalinan cerita yang kuat dan berbobot. Penulis menyampaikannya dengan bahasa yang ringan dan terstruktur dengan baik. Pemilihan diksinya menurutku berada di tengah-tengah, antara remaja dan dewasa muda. Dan menurutku itu sangat sesuai dengan konsep cerita yang memang tidak hanya berisi kisah cinta ecek-ecek ini.

"Remaja yang patah hati tidak butuh dimarahi. Apalagi diceramahi. Mereka hanya butuh dimengerti."_(hal 8)


Dari sosok Juna kita bisa belajar, bahwa tidak selamanya kepopuleran itu membahagiakan. Ada kalanya kita butuh privasi untuk hidup yang lebih berbobot. Satu elemen yang saya tangkap adalah, memperbaiki diri bisa jadi salah satu bentuk balas dendam. Balas dendam yang positif. Saya acungi jempol untuk semangat juang yang dituang penulis dalam kisah ini.

"Susah bukan berarti nggak bisa. Justru karena susah berarti kita harus berjuang lebih keras."_(hal 19)

Yang paling saya suka, penulis piawai merawat rahasia yang akan dijadikannya senjata, sekecil apa pun itu. Ada beberapa bagian yang sengaja dibiarkan begitu saja di awal, seolah memang begitu adanya. Tapi kemudian menjelang akhir malah dikulik lebih dalam dan mampu mendatangkan decak kagum. Dari sudut pandang pembaca, saya sangat menikmatinya. Jarang-jarang ada tipe bacaan seperti ini. Ringan tapi tidak bisa disebut ringan, berat tapi sama sekali tidak bikin kening berkerut.

"Amarah akan membuat sesuatu yang baik-baik saja menjadi bencana."_(hal 28)

Selain beberapa typo, juga pengulangan kata yang tidak berarti, saya tidak menemukan kekurangan lainnya. Bahkan menurut saya, karya ini nyaris sempurna.

"Siapa pun kamu pasti akan mengalami kesulitan dan kesulitan lain dalam hidup."_(hal 39)

Overall, novel ini recommended banget untuk remaja, agar sadar, masa muda harusnya bukan soal pacar-pacaran yang diprioritaskan, tapi rancangan masa depan.

Senin, 05 Agustus 2019

Review Novel: Lost



Judul          : Lost

Penulis      : Febriani Puspita

Editor        : Purindraswari

Layout       : Vindya Puspasari R.

Cover         : Ferryan Nugroho P.

Tebal          : 300 hlm

ISBN           : 978-623-7122-06-7

"Menghilang dan kehilangan adalah sepaket keputusan"

Blurb:

"Aku bulan dan kamu langitnya. Jika matahari meminta haknya untuk bersinar dan aku harus menyingkir, tak apa. Karena sejatinya, bulan tidak pernah benar-benar meninggalkan langitnya. Dia selalu di sana, namun tak ada yang menyadarinya."

Yang jatuh cinta pada Revi Prameswari sejak hari pertama masa orientasi siswa.
--Zarradam Anduarsa

***

Apa ada yang pernah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri? Kurasa banyak, termasuk aku. Aku jatuh cinta padanya. Pemuda sederhana yang selalu memberiku semangat di saat aku terpuruk, gagal SNMPTN dan SBMPTN misalnya. Namun, kisahku tak seindah persahabatan yang berakhir jadi cinta. Di saat suatu tragedi besar menimpaku, Adam menyuruhku pergi dan berpisah dengannya. Karena keadaan yang tidak memungkinkan kami untuk bersama, aku mengikuti apa yang dia katakan.

Aku pergi. Tak tentu arah. Tak tentu waktu. Hanya berpasrah kepada apa yang digariskan Tuhan padaku, dengan harapan agar suatu hari aku dan Adam kembali dipersatukan dalam suatu momen bahagia.

Akan tetapi, siapa yang bisa menyangka bahwa runtutan kejadian di kota orang membuatku benar-benar jauh dari Adam. Dan harapanku ... tidak terealisasikan. Kami memang bertemu pada akhirnya, tapi dalam keadaan yang tidak pernah kami inginkan.

Dipertemukan hanya untuk kembali dipisahkan.

***

Alur cerita:

"Ini hidupku. Ini masa depanku. Orang lain hanya bisa berbicara, tapi akulah yang menjalani dan menentukannya."_(hal 52)

Kondisi keluarga Revi memang jauh dari kesan harmonis. Pada akhirnya Revi kabur demi tidak meladeni perjodohan tidak masuk akal dari kedua orangtuanya. Dan lagi, Revi ingin menjauh dari sesuatu yang sewaktu-waktu bisa membuat hatinya koyak. Tentang perasaan yang masih mengambang, tentang Adam, sahabat yang diam-diam menumbuhkan perasaan lebih.

"Hidup itu mengalir. Ikuti saja arusnya. Namun, tetap ingat bahwa di sepanjang aliran itu pasti terdapat banyak batu yang menghadang. Jangan terlalu terlena hingga membuatmu tergores dan menyebabkan luka."_(hal 53)

Dalam pelarian itu, beruntung Revi bertemu orang sebaik Bu Marni yang kemudian langsung mempekerjakannya di warung makannya.

"Tidak peduli kamu berasal dari keluarga yang bagaimana, asalkan pribadimu menunjukkan seseorang yang berbudi pekerti, maka masyarakat akan menerima dengan senang hati."_(hal 62)

Tahun bergulir, keadaan Revi membaik. Ia semakin terbiasa dengan semua hal yang ditemuinya di kota orang. Tapi tiba-tiba Revan muncul, pemuda misterius yang perlahan-lahan mengusik ketenangan Revi.

"Harapan kepada manusia mungkin bisa mengecewakan, tetapi berharap kepada Tuhan tidak akan pernah membuatmu kecewa."_(hal 160)

Revi tak pernah menyangka, di balik hidupnya yang mulai baik-baik saja ada konspirasi besar-besaran. Hingga pada akhirnya Revi harus kembali ke titik awal, mengorek apa-apa yang luput dari pantauannya selama ini.

Revi harus menyiapkan hati yang kuat, ketika satu per satu fakta mulai terkuak.

***

Review:

Saat membaca blurbnya, saya agak sangsi. Takutnya disuguhi cerita bertema friendzone yang begitu-begitu saja. Nyatanya saya salah besar. Perihal jatuh cinta pada sahabat sendiri, di novel ini diceritakan dari sudut pandang yang baru. Jika kebanyakan cerita friendzone mengangkat warna-warni kebersamaan mereka, cerita ini malah dimulai dengan perpisahan. Tidak ada lagi kebersamaan, semua tinggal kenangan yang serupa benang kusut di kepala tokoh utama dalam menemui hari-hari baru.

Opening-nya cukup berhasil memicu rasa penasaran, terhadap tokoh utama yang langsung disodorkan ke kita dalam kondisi luntang lantung. Kita dibuat bertanya-tanya, ada apa dengannya?

Novel ini dituturkan dengan bahasa yang ringan, sedikit puitis dan quotable. Diksinya sederhana, tapi terstruktur dengan baik. Yang paling saya suka, banyak banget petuah-petuah yang disampaikan secara cerdik, jauh dari kesan menggurui. Novel ini membahas persoalan cinta sewajar-wajarnya. Penulis tidak hanya menyoroti perihal hati, tapi bagaimana penerimaan terhadap lingkungan di sekitarnya.

Untuk tipe pembaca yang suka dikejutkan seperti saya, tempo novel ini terbilang lambat. Bahkan ada beberapa bagian berisi sekian paragraf narasi yang tidak memajukan cerita.

Saya suka alur maju mundur yang digunakan penulis, hanya saja saya kurang nyaman dengan peralihan POV1 ke POV3 yang terjadi beberapa kali. Tidak masalah, sih, banyak novel yang seperti itu. Hanya saja di novel ini menurut saya perpaduannya kurang luwes. Mungkin karena saya pribadi memang tidak begitu suka sama tipe cerita yang sudut pandangnya "tidak konsisten".

Overall, novel ini saya rekomendasikan untuk kamu yang menyukai cerita bertema friendzone tapi mendambakan sesuatu yang baru. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari sini.

Rabu, 10 April 2019

Review Novel: Harta Kaitu


Judul            : Harta Kaitu

Penulis        : SahrialPratama1777

Penerbit      : AT Press Lombok

Editor           : Mulya Indah Lestari

Layout         : ND Aohana

Cover           : ND Aohana

Cetakan       : Pertama

Tebal            : 336 hlmn

ISBN             : 978-602-0745-58-9

Blurb:
Demi mengganti rugi roti yang telah dicurinya dan untuk membantu kebutuhan keluarga, Asher menerima tawaran Fabio. Bersama dengan seorang pesuruh Fabio bernama Vittor, ketiganya menuju Pegunungan Kaitu. Meski beranggapan harta kaitu hanyalah mitos, Asher tetap mengikuti ke mana Fabio pergi demi bayaran yang dijanjikan. Hingga di tengah perjalanan, Asher menyadari kalau pilihannya adalah sebuah kesalahan.

Perjalanan menuju Pegunungan Kaitu ternyata sangat berbahaya, terutama setelah ia mengetahui kalau ada sosok Sang Kegelapan yang mengikuti mereka. Ditambah lagi ramalan menakutkan yang dibacakan seorang gadis peramal bernama Aryana, membuat Asher sadar tidak seharusnya ia menerima tawaran Fabio.

Bagaimanakah nasib Asher, Fabio, dan Vittor? Apakah mereka akan berhasil mendapatkan harta Kaitu?

***

Alur cerita:

Asher tidak menyangka, setelah dua tahun menyembunyikan aksinya mencuri roti atau mainan untuk adiknya, akhirnya ketahuan juga. Masalah ini semakin rumit ketika pemilik toko meminta ganti rugi sepuluh keping emas. Ayah Asher meradang. Dari mana ia bisa mendapatkannya? Jangankan memiliki, menyentuh sekeping emas saja belum pernah. Hal itu membangkitkan amarahnya, hingga ia mengusir Asher dari rumah.

Sebenarnya sang ayah tidak bersungguh-sungguh mengusir, ia hanya ingin memberi anak itu pelajaran. Karena apa pun alasannya, tindakannya tidak bisa dibenarkan. Diam-diam ia berharap Asher segera pulang.

Namun, malam itu Asher menerima tawaran Fabio untuk menemaninya melakukan perjalanan menuju Pegunungan Kaitu. Awalnya Asher menolak dengan tegas tawaran pemuda angkuh itu, tapi bayaran seratus keping emas yang dijanjikan sangat menggiurkan.

"Aku tidak punya waktu untuk bergurau. Kau tinggal menjawab setuju atau tidak. Semudah itu."_(hal 39)

Akhirnya, Asher mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Malam itu juga ia memulai perjalanannya bersama Fabio dan seorang pesuruhnya, Vittor.

Sebelum memasuki hutan mereka membeli beberapa keperluan. Salah satunya senjata. Perasaan Asher mulai tidak enak. Keharusan membawa senjata menandakan mereka akan menghadapi banyak bahaya. Namun demi bayaran tinggi yang dijanjikan Fabio, Asher menepis ketakutannya. Akhirnya ia memilih belati.

Di tengah hutan, mereka bertemu pria misterius bermantel hitam, yang sepertinya sangat berbahaya. Meski berhasil kabur, Asher mulai meragukan pilihan senjatanya. Seharusnya ia memilih senjata yang lebih menjanjikan dari sebilah belati.

Semakin jauh perjalanan, Asher mulai paham tugasnya ikut dalam perjalanan itu, melindungi Fabio. Ia dan Vittor harus menghadapi seekor singa yang menghalangi jalan mereka, membiarkan Fabio menghindar ke tempat yang aman.

Lolos dari singa, mereka harus menuruni jurang, menyeberangi sungai untuk menuju sebuah desa kecil. Di sanalah mereka bertemu Aryana, gadis peramal dengan perkataan yang menakutkan. Merasa gadis itu bisa mempermudah perjalanan mereka, Fabio mengajaknya bergabung dengan bayaran 200 keping emas. Aryana setuju. Bukan karena bayarannya, tapi sepertinya ada hal lain.

"Aku setuju, tapi dengan satu syarat. Kalian harus mendengarkan apa yang kukatakan. Apa pun itu, kalian harus menurutinya. Sebagai gantinya, kau tidak perlu memberiku bayaran."_(hal 104)

Perjalanan ke Pegunungan Kaitu berlanjut. Asher lebih sering merasakan hal-hal aneh. Meski jarang menampakkan diri, Asher yakin, Sang Kegelapan mengikuti mereka.

Mereka tiba di Pegunungan Kaitu. Berkat bantuan Aryana, mereka berhasil menemukan harta kaitu. Meskipun harta itu dijaga seekor naga yang dikutuk, mereka bisa menanganinya dengan baik. Namun, rupanya rintangan tidak sebatas ini. Perjalanan pulang mereka akan jauh lebih berbahaya. Sebab dengan status harta sudah ditangan tentu tidak akan membuat Sang Kegelapan tinggal diam.

Benar saja, sang Kegelapan tidak hanya menghalangi perjalanan mereka, tapi juga mengacaukan hubungan mereka. Keadaan semakin menegangkan karena naga Kaitu berhasil lolos.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Mampukah mempertahankan harta kaitu hingga tiba di desa? Lalu, bagaimana jika ada pengkhianat di antara mereka?

"Apa kau lupa waktu kita pertama kali bertemu? Aku sempat menegang tangan kalian. Saat itulah aku tahu bagaimana dia. Dan, karena itu juga aku memutuskan ikut dalam perjalanan ini."_(hal 161)

Cari tahu sendiri, ya. Yuk, segera miliki buku fantasi lokal kece ini.

***

Review:

Kisah fantasi memang terlalu identik dengan petualangan. Hal itu membuat beberapa jadi membosankan karena terlalu klise. Namun tidak dengan novel ini. Meski plot utamanya masih seputar petualangan, di dalamnya terselip makna kehidupan dari berbagai sisi. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Tentang perjuangan, pengorbanan dan mengikhlaskan melebur dalam balutan kisah pencarian harta kaitu.

Sejak awal saya cukup terhibur dengan cerita ini. Penulis membuka ceritanya berangkat dari kegelisahan seorang kakak yang ingin membahagiakan adik kecilnya. Dari sini titik haru saya mulai tersentuh. Kemudian konflik berkembang cukup cepat tapi tidak berlebihan. Semuanya mengalir dalam takaran yang membuat kita tetap enjoy menikmatinya.

Penulis berhasil meniupkan ruh ke dalam setiap adegan, memimbulkan refleksi yang terasa nyata di dalam kepala.

Saya juga suka bumbu asmara yang sempat melintas di tengah ketegangan. Meski porsinya sangat kecil, tapi itu cukup sebagai pemanis. Kepiawaian penulis menggambarkan adegan pertarungan patut diacungi jempol. Harus menyampaikan adegan itu berkali-kali dengan bahasa yang tidak monoton tentu bukan hal yang mudah.

Menurut saya, kekurangannya hanya pada pemborosan kata di beberapa bagian. Penggunaan tanda baca terkadang juga masih keliru. Selebihnya sudah oke.


Overall, novel ini cukup menghibur. Tingkat ketegangannya memang tidak sampai bikin jantungan, tapi sisi kemanusiaannya bikin berkaca-kaca. Dari sini kamu bisa belajar pentingnya saling menghargai dan sahabat itu harusnya seperti apa.