Dari awal sampai ending dibikin speechless. Sekeren itu. Tadinya kupikir naganya bakal menyeramkan, ternyata dibikin unyu-unyu. Gemes banget. Pencinta film animasi wajib banget nonton ini.
Dari awal sampai ending dibikin speechless. Sekeren itu. Tadinya kupikir naganya bakal menyeramkan, ternyata dibikin unyu-unyu. Gemes banget. Pencinta film animasi wajib banget nonton ini.
Konfliknya gimana ya? Kek pondasinya kurang kokoh, jadi gak semua penonton bisa menerima. Saya salah satunya. Gak ngerti aja jalan pikiran mereka. Belum lagi, traumanya puluhan tahun, tapi bisa sembuh dalam hitungan menit dengan cara yang menurut saya agak konyol. Udah gitu gak diperlihatkan tahapan yang logis.
Ini agak lebay, sih, tapi justru daya tariknya. Bukankah sebagian besar orang nonton film untuk cari hiburan?
Dari awal sampai ending manis banget. Visualnya itu loh. Propertinya kek dipertimbangkan banget. Kesannya kek berkunjung ke taman yang semuanya serba tertata rapi dan terkonsep. Saya suka. Terhibur banget.
Selain unsur persahabatan yang kuat banget, entah apa lagi yang menarik dari film ini. Jujur saja, saya kurang menikmati. Entahlah, aku gak suka karakter Ann. Di sisi lain, Geez dan mamanya terposisikan amat sangat realistis.
Judul : Trauma
Penulis : Boy Candra
Penerbit : Mediakita
Editor : Fenisa Zahra
Layout : Widuri Dwi Astuti
Cover : Sekar Bestari
Cetakan : Pertama, 2020
Tebal : 144 hlm
ISBN : 978-979-794-615-9
Blurb:
Semua seolah baik-baik saja. Tawa yang lepas. Lampu panggung yang meriah. Kehidupan yang mungkin diinginkan banyak orang.
Aku memiliki beberapa hal yang orang lain tidak miliki. Semua tampak sempurna. Seolah tidak ada celah untuk luka.
Namun, jauh di dalam diriku, kesepian selalu datang menghampiri. Kesedihan yang sering kusembunyikan.
Aku bahkan tidak berani membuka hati lebih luas lagi. Orang-orang yang pernah datang di masa lalu membekaskan rasa takut yang membeku.
Aku takut tidak menemukan orang yang tepat. Takut terulang lagi luka yang sama. Takut jatuh lagi pada rasa sayang yang akhirnya sia-sia.
***
Novel rasa kumcer. Itu yang aku rasain saat membaca buku ini. Secara keseluruhan ceritanya seputar perjalanan asmara Kimara yang jauh dari kata mulus. Yang mana setiap bagiannya akan terfokus pada satu lelaki yang dekat dengan Kimara. Mulai dari cinta putih abu-abu hingga yang nyaris menikah tersaji dengan lengkap. Tentu saja dengan konflik yang berbeda-beda, yang membikin kita betah dan membuat novel ini seolah mengusung warnanya sendiri dibanding karya-karya Boy Candra lainnya.
Buku ini tidak akan membuat kita tercengang atau tiba-tiba membekap mulut. Caranya memikat tidak demikian. Ia hadir dengan lika-liku cinta yang sangat relate dengan kehidupan banyak orang. Itulah magnetnya. Selain itu bahasanya ringan banget tapi tetap ada ciri khas Boy Candra-nya.
Kerennya, dari bab ke bab penulis tidak hanya berusaha menampilkan konflik yang berbeda, tapi juga menggambarkan sosok Kimara yang bertumbuh dari waktu ke waktu. Dan itu berhasil banget. Cara Kimara menghadapi patah hatinya dari lelaki pertama hingga terakhir, secara emosional terasa banget pergerakan dewasanya.
Aku paling suka epilognya. Di situ ada sedikit kejutan yang akan membuat pembaca bergumam, "Wah, yang namanya jodoh."
Novel ini mungkin tidak punya kekurangan secara spesifik, hanya saja untuk aku pribadi belum bisa membekas lama-lama di kepala. Kisah Kimara mungkin langsung hilang begitu aku memulai bacaan baru.
Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang masih meraba-raba seperti apa sebenarnya bentuk cinta yang kamu butuhkan.
Judul : Besali
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : Laksana
Editor : Avifah Ve
Layout : Vitrya
Cover : Amalina Asrari
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : 292 hlm
ISBN : 978-602-407-560-6
Blurb:
Sering kenangan datang tak bilang-bilang.
Misalnya saat duduk di meja makan, kau tak digugah rasa lapar, tapi justru dibanjiri ingatan.
"Lohita, Ayah tahu kamu mencintai buku-buku seperti Ayah mencintai besi-besi."
Begitulah kalimat pembuka surat itu. Lohita Sasi tidak pernah menyangka kalau kepergian ayahnya meninggalkan wasiat yang sulit dilaksanakan. Sebagai seorang pandai besi di Pacitan, ayahnya meminta untuk menjaga Besali tetap hidup. Tetapi, Lohita seorang perempuan. Apa yang bisa dia lakukan dengan besi-besi tua di bengkel ayahnya? Memang, ayahnya menyebut satu nama; Sapta. Namun, sudah lama Lohita menjaga jarak dengan pemuda itu.
***
Sederhana yang indah. Itu yang saya rasakan setelah membaca novel ini. Judulnya juga lumayan memancing minat baca. Maksudnya, satu kata itu cukup misterius dan bikin menerka-nerka, ada kisah apa di baliknya?
Dibuka dengan sesuatu yang bikin nyesek tapi cukup kokoh sebagai pijakan awal untuk sebuah cerita yang sangat-sangat sarat pesan moral. Saya suka keterlibatan surat di awal, karena setelahnya penulis tidak melupakannya begitu saja. Surat itu terus muncul di banyak bagian, bahkan sampai ending. Hal sesederhana itu penulis jaga sebaik mungkin, disampaikan berkali-kali tanpa kesan pengulangan yang tidak berarti. Dari satu objek sederhana ini saya bisa merasakan, cerita ini dipersiapkan sangat matang.
Salah satu yang bikin aku jatuh cinta dengan tulisan Shabrina Ws, tokoh-tokohnya terasa dekat dan benar-benar hidup. Penggambaran settingnya juga detail tanpa berlebihan. Jadinya, kita semacam nggak sebatas jadi penonton atau pendengar, tapi diajak terlibat. Bahasanya juga sopan dan tertata rapi. Dari lembar ke lembar rasanya kayak menyusuri tempat-tempat favorit, ingin berlama-lama.
Konflik berkembang sangat baik. Pesan di sela-sela pergolakan batin Lohita benar-benar nyampe ke saya selaku penikmat. Kejutan-kejutan kecilnya bikin makin betah. Romansanya juga bikin senyum-senyum sendiri di beberapa bagian.
Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang butuh pemetaan ulang bagaimana menjadi tegar yang sesungguhnya. Proses Lohita bangkit dari kehilangan-kehilangan hingga belajar untuk ikhlas dan menerima benar-benar memberikan banyak pelajaran. Khususnya buat perempuan, sih. Namun, bukan berarti laki-laki tidak akan hanyut di kisah ini.
Judul : Meskipun Hujan Masih Turun
Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : Yutaka
Editor : Sigit Wibowo
Cover : Sarupani
Layout : Eros Rosita
Cetakan : Pertama, November 2020
Tebal : 249 hlm
ISBN : 9786239442477
Blurb:
Kita memang tidak bisa menerka akan bertemu siapa dalam perjalanan. Seperti kau dan aku yang tak pernah berencana saling menghampiri.
Kita dipertemukan pada suatu musim yang deras, berbagi keredaan di sebuah bangku kosong, sebelum kereta membawa kita ke stasiun yang berbeda.
Lalu musim diwarnai cerita-cerita kecil, kepingan gambar, potongan video, hingga petikan-petikan lagu.
Tak ada yang tahu akan ke mana perjalanan kisah ini. Yang aku tahu, aku hanya tidak ingin di antara kita saling melukai, dengan cara apa pun.
***
Bertemu dengan novel ini adalah salah satu pertemuan paling mengesankan antara buku dan penikmatnya di hidup saya. Saya mencintainya tanpa "tapi". Perasaan itu muncul sejak cerita dibuka dan terus membubung hingga akhir.
Openingnya memang bukan sesuatu yang menggegerkan, atau sekotak teka-teki yang bikin nggak tenang sebelum terpecahkan. Cerita justru dibuka dengan pertemuan lazim yang sangat mungkin terjadi kepada siapa saja di stasiun. Namun, di sinilah penulis memperlihatkan kelihaiannya mengolah kata. Sebagai pembuka, adegan sederhana itu berhasil menyakinkan bahwa kita akan mendapatkan pelayanan prima sepanjang cerita.
Berbekal gelas bekas dan nomor ponsel yang Senggani bawa pulang dari stasiun, penulis pun mengembangkan ceritanya menggunakan POV 1. Di POV ini, penulis yang berhasil mampu menggiring pembaca masuk sebagai tokoh utama. Dan saya merasakan itu. Bagaimana Senggani mulai penasaran dengan lelaki yang mengenalkan diri sebagai Pengelana itu, bagaimana dia mencarinya di sosial media, hingga mereka terhubung dengan cara yang tidak terduga.
Bahasanya sederhana tapi memikat. Beberapa bagian rasanya nggak cukup hanya dibaca sekali, saking cantiknya susunannya. Selain quotable, novel ini juga menyajikan tips-tips menulis. Jadi, kalau sekadar keren rasanya nggak cukup. Novel ini lebih dari keren.
Di awal-awal saya memang sempat membayangkan beberapa kemungkinan yang ternyata tidak sesuai alur cerita. Namun, apa yang penulis sajikan memang sudah seharusnya begitu. Dia tahu bagaimana membahagiakan tokoh-tokohnya tanpa mengesampingkan luka.
Setiap karya pasti tidak luput dari kekurangan, begitupun dengan novel ini. Namun, di mata saya yang telanjur cinta dari awal, kekurangan itu tidak terlihat. Mungkin baru kelihatan setelah dibaca ulang dengan misi khusus mencari kekurangan itu sendiri.
Overall, novel ini cocok banget sebagai teman bersantai karena ceritanya emang ringan dan ngalir banget. Selain itu, hampir semua orang pernah mengalami garis besar cerita ini.