Minggu, 07 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 8)

 


Alea memang jarang membawanya ke sekolah. Tapi mengingat sikap Ratih yang seolah jaga jarak dengannya, hari ini ia benar-benar butuh mobil-mobilan itu selalu di dekatnya sebagai sumber energi. Meski tak ada penjelasan lebih lanjut, mobil-mobilan itu selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.

Alea masih belum tahu pasti kronologis hingga mobil-mobilan itu bisa berada di tangan Gilang.

Alea : Kok, bisa sama lo?

Gilang : Keluar, gih! Nggak seru ngobrol lewat ketikan.

Keluar? Alea mengernyit. Ia merapat ke jendela, lekas menyibak gorden dan menatap lurus ke jalanan depan rumahnya. Meski samar terhalang rimbun tanaman hias, Alea mengenali mobil Gilang di sana, mengilap di bawah penerangan lampu jalan.

Alea bergegas keluar. Kali ini ia tidak terlalu terkejut dengan ulah Gilang. Anggap saja mulai terbiasa, atau malah menyukainya. Lebih dari itu, ia hanya ingin mobil-mobilannya kembali secepatnya.

Gilang menyenderkan sisi kanan tubuhnya di mobil ketika Alea tiba di depannya.

"Mana mobil-mobilan gue?"

"Buru-buru amat." Gilang beralih duduk di kap depan mobil. Ia menepuk tempat di sampingnya sambil tersenyum kepada Alea.

Paham maksudnya, Alea mendekat. Tapi tidak ikut naik, hanya bersandar.

"Nih!" Gilang mengembalikan mobil-mobilan itu kepada tuannya.

Alea menyambarnya dengan ekspresi paling lega.

"Jarang-jarang, loh, ada cewek yang suka main mobil-mobilan. Apalagi udah segede lo. Biasanya juga mainin hati cowok."

Mendengar ucapan barusan, Alea termenung sejenak. Sedetik kemudian, alih-alih merespons omongan melantur cowok di sampingnya, ia malah mendekap mobil-mobilannya dengan ekspresi menggemaskan. Gilang sangat menikmati pemandangan yang berlangsung sekitar lima detik itu.

"Pengen, deh, jadi mobil-mobilan itu, biar bisa didekap sama lo." Gilang belum pernah merasa sedamai ini, melihat tingkah polos Alea yang belum pernah ditemukannya di cewek lain.

"Apaan, sih, lo?" Alea meninju lengan Gilang.

Gilang pura-pura kesakitan, buru-buru menggosok bekas tinju Alea. "Lo harus tanggung jawab kalau sampai tulang gue retak."

"Nggak usah lebay!"

Mereka terbahak. Dan sekali lagi, tawa lepas Alea mengacaukan kerja jantung Gilang.

"Mobil-mobilan itu penting banget, ya, buat lo?" suara Gilang agak serius kali ini.

Alea mengangguk mantap. "Banget!"

"Kalau gitu, dijaga, ya! Gimana kalau jatuhnya bukan di mobil gue?"

"Thanks, ya! Tapi, kok, lo tahu, sih, ini punya gue?"

"Lo yang terakhir naik mobil gue. Dan gue nggak sempat memikirkan kemungkinan lain selain lo." Gilang merebahkan tubuhnya di kaca depan mobil, membantali kepalanya dengan lengan kanan. Tatapannya langsung menemukan langit malam yang kosong. Kilau bintang tersamarkan oleh pantulan cahaya lampu jalan.

Kendaraan masih lalu-lalang di samping mereka, tapi ada hening yang menggantung sesaat.

"Lo nggak lupa untuk ngasih gue jawaban, kan?"

Seketika Alea meluruskan punggungnya, mendadak kaku dan seolah lupa caranya bicara. Ia beranjak tiga langkah mendekati pintu pagar rumahnya. "Lo mau masuk dulu atau langsung pulang?" tanyanya tanpa menoleh.

"Langsung pulang aja kalo gitu cara lo nawarin. Salam buat mama-papa lo." Gilang turun dari kap mobil.

Sepintas Alea menoleh, mengangguk dan tersenyum seadanya.

"Selamat malam, Alea. Sampai jumpa besok."

Lagi-lagi Alea hanya mengangguk, lalu mengambil langkah panjang-panjang melewati pagar dan halaman. Dari balik jendela ruang tamu, Alea mengintip, memastikan cowok itu benar-benar sudah menyingkir dari sana sebelum melanjutkan langkah ke kamar.

Alea tersentak saat berbalik, Mama-Papa tepat di belakangnya—ikut mengintip Gilang.

"Ih, Mama-Papa bikin kaget aja."

"Siapa, sih?" tanya Hadi pura-pura penasaran.

"Papa kepo, deh!" Alea mencolek manja dagu Hadi.

"Itu Gilang, Pa, cowok tampan dan santun itu."

"Yang tadi sore bawain bakmi Jawa?"

Rahma mengangguk.

"Kok, nggak diajak masuk?" Tatapan menuntut penjelasan Hadi bergeser ke arah Alea.

"Hati-hati, Pa, Mama naksir, tuh!"

Hadi pura-pura melototi istrinya sambil berkacak pinggang.

Alea memasang senyum kemenangan, lalu beranjak ke kamar, meninggalkan sepasang suami istri yang tidak pernah bosan menjailinya. Hadi dan Rahma adalah segalanya bagi Alea. Ia sangat bersyukur memiliki orangtua yang bisa memosisikan diri sebagai sahabat seperti mereka.

Alea meletakkan mobil-mobilan itu di tempat seharusnya, di pojok meja belajar. Setelah hari ini ia akan berpikir dua kali untuk membawanya ke mana-mana.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku samping piamanya, lalu menjatuhkan diri di tempat tidur. Ia membuka Wattpad, membaca puisi-puisi terbaru Gilang. Kemungkinan puisi-puisi itu akan termaktub di buku keduanya nanti.

Alea memang selalu senyum-senyum sendiri saat berhadapan dengan puisi-puisi Gilang, tapi belum pernah selebar ini. Keusilan serta senyum renyah pemilik mata sipit itu mulai menghantuinya akhir-akhir ini.

Alea menolak mengartikan debar tak wajar di dadanya. Tapi sampai kapan?

***

Delon menghentikan motornya sedepa di depan Alea. Ia membuka helm lalu mengernyit, menyadari cewek itu tampak tidak berniat naik ke boncengannya.

"Kok masih diam di situ? Ratih masih ngambek, kan? Buruan naik, entar telat, loh."

Terdengar decitan lembut mesin mobil yang perlahan mereda dari arah belakang. Delon menoleh, mendapati Gilang baru saja muncul dari balik pintu kemudi. Ia melangkah mendekat dengan kepakan senyum sempurna.

"Sori, Man, mulai hari ini, Alea pergi-pulang sekolah bareng gue." Gilang menepuk pelan pundak Delon.

"Kalian pacaran?"

Alea menggeleng cepat, tapi Gilang malah mengangguk antusias. Delon menatap mereka bergantian. Aneh!

"Lo nggak sekalian ikut kami? Motor lo tinggal di sini aja, pulang sekolah ambil lagi."

"Makasih!" Delon memasang asal helmnya lalu buru-buru menarik gas menjauh dari dua makhluk membingungkan pagi ini.

***

Pelajaran pertama Kimia, detik-detik berat yang butuh stamina khusus untuk bisa melewatinya dengan selamat. Untuk pelajaran yang dipegang oleh guru ter-killer ini, Alea sangat memerhatikan segala macam tugas-tugasnya dengan baik. Sekali lupa mengerjakan PR, berarti selamat datang di neraka. Bisa-bisa jadi sasaran pelototan sepanjang semester.

"PR tolong dikumpulkan, dioper dari belakang ke depan. Tidak usah rusuh." Pak Umar berkata santai dengan mimik selalu sama, terlihat penuh beban.

Alea lekas mengeluarkan buku PR-nya.

"Yang belum mengerjakan, maju sekarang juga," imbuhnya penuh penekanan.

Alea hendak mengoper buku PR-nya ke depan, ketika Ratih berjalan melewatinya sambil menunduk. Ia berhenti di depan meja guru.

Pak Umar membuang napas kesal yang nyaris merontokkan kumisnya. "Ada lagi?"

Alea memasukkan kembali buku PR-nya lalu meninggalkan bangkunya dan bergabung di sisi Ratih.

"Ada lagi?" Pak Umar setengah teriak sambil melempar pandangan ke seluruh penjuru kelas.

Kelas hening. Hanya terdengar ketukan pelan sepatu beberapa siswa yang duduk di bangku paling depan sedang mendekati meja guru untuk menaruh buku yang sudah terkumpul.

"Kalian ini ...." Tampang Pak Umar sudah seperti serigala yang hendak menerkam mangsa.

***

Maka di sinilah mereka, di tengah lapangan basket sedang hormat ke arah matahari pukul delapan. Meski kandungan sinarnya masih sehat, sengatannya tidak boleh diremehkan. Sehelai dua helai rambut rasanya sudah terbakar.

"Kok, tumben, lo nggak ngerjain PR?" pelan Alea sambil menyeka keringat di dagunya, tidak yakin Ratih akan meresponsnya.

"Bukan nggak ngerjain, tapi bukunya ketinggalan. Salah masukin ke tas. Yang kebawa malah buku PR Fisika."

Alea sungguh lega. Ratih memberi respons, pertanda baik. Semoga kedongkolan sahabatnya itu benar-benar sudah surut.

"Lo sendiri, ngapain ikut-ikutan dihukum? Gue yakin, lo pasti ngerjain PR dan nggak mungkin lupa atau pun salah masukin buku."

"Karena gue sahabat lo. Bukankah dari dulu teori persabatan selalu sama? Senang bareng, susah bareng, gila juga bareng."

Masih dengan posisi hormat, Ratih melirik sekilas, mendapati senyum tulus Alea mengembang. Detik itulah pertahanan Ratih runtuh. Ia beralih mendekap Alea, sangat erat. Seperti awal perjumpaan setelah bertahun-tahun terpisahkan.

"Maafin gue." Seketika sudut mata Ratih basah.

Alea membalas dekapan Ratih, menepuk pelan punggungnya.

"Nah, gitu, dong. Damai itu indah, kan?" Suara Delon meleraikan dekapan mereka. "Gue ikutan serba salah kalau kalian marahan." Delon menyodorkan dua botol soft drink yang disambut keduanya dengan senyum berterima kasih.

Setelah membuka tutupnya, keduanya langsung meneguk isinya.

"Apes banget kalian hari ini. Kok bisa kompakan dihukum berdiri di tengah lapangan gini? Pake hormat segala pula!"

Keduanya tidak merespons, masih sibuk minum.

"Woe ... apa-apaan ini?" Itu suara Pak Umar.

Keduanya nyaris tersedak. Mereka lekas kembali ke posisi hormat dan menyembunyikan botol minuman yang isinya hampir habis, dan sepertinya telanjur ketahuan. Sedang Delon, mendadak menjelma jadi atlet lari jarak pendek hingga menghilang di ujung koridor. Meski berhasil kabur, nasibnya tentu saja tidak akan baik-baik saja setelah ini.

"Alea, gue benar-benar minta maaf, ya. Gue sadar, sikap gue kemarin itu kekanak-kanakan banget," ungkap Ratih setelah lolos dari pelototan Pak Umar yang sudah kembali ke kelas.

"Udahlah, nggak usah dibahas lagi." Alea kembali melayangkan senyum bersahabat.

"Gue emang nggak bakat lama-lama ngambek sama lo."

Keduanya tertawa.

"Oh ya, lo sama Gilang, gimana? Gue udah ikhlas, kok. Perasaan yang kemarin itu kayaknya masih kasus lama, sesaat."

Alea mendapati sosok Ratih yang sesungguhnya sudah kembali. Maka mengalirlah kepo-nya yang lagi-lagi membuat Alea kewalahan meladeninya. Tapi Alea senang, sebab hal itulah yang terasa hilang belakangan ini.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Sabtu, 06 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 7)

 


Gilang mengenali sedan hijau yang terparkir di pinggir jalan depan rumah keluarga Delon, mobil Aira. Cewek itu pasti datang mencarinya. Gilang belum sekali pun menceritakan soal kepindahannya ke rumah ini, tapi bukan hal baru jika Aira gampang melacak keberadaannya.

Berawal dari kekaguman saat menyaksikan aksi Gilang di lapangan basket saat PORSENI di tahun kedua, Aira mulai mencari tahu apa-apa soal cowok bermata sipit itu. Selaku model yang diberkahi wajah cantik, Aira tahu betul bagaimana tampil menarik di setiap kesempatan. Berbekal semua itu, dengan mudah ia bisa mendekati teman-teman Gilang untuk mengorek informasi.

Aira tak butuh waktu lama untuk mengantongi banyak hal yang dirasa cukup untuk mengenal Gilang lebih jauh. Kecuali soal kegemarannya menulis puisi, ia baru tahu setelah Gilang menelurkan buku perdananya beberapa bulan yang lalu. Hal itu seolah menegaskan, bahwa ia belum benar-benar berhasil memasuki kehidupan Gilang.

Gilang tak pernah menepis pertemanan yang ditawarkan Aira. Siapa yang tidak senang berteman dengan cewek sepopuler Aira? Hanya saja Gilang mulai jaga jarak ketika Aira tampak menginginkan lebih. Terlebih saat ia benar-benar memintanya di awal semester ganjil tahun ketiga.

Tidak ada yang salah dengan Aira. Cowok mana pun pasti akan tertarik ketika ia memasang senyum simpul dengan sepasang mata bulat yang benar-benar hidup. Termasuk Gilang sebenarnya. Hanya saja untuk menjalin hubungan yang pernah diminta Aira, entah kenapa, Gilang belum merasa klik.

Gilang melangkah masuk setelah memarkir mobil di garasi. Dari ruang tamu ia bisa mendengar suara-suara akrab yang sesekali diselingi tawa sedang mengobrol entah apa di ruang tengah--suara Aira dan Tante Maya. Yang benar saja mereka langsung seakrab itu?

Setibanya di ambang pintu ruang tengah, Gilang melihat Aira dan Tante Maya duduk di sofa panjang dan benar-benar terlihat akrab. Sedang Delon berbaring hanya beralaskan karpet bulu di depan tivi. Tante Maya dengan antusias menunjukkan album koleksi resep kue keringnya. Aira yang memang juga hobi bikin kue, menyimak tak kalah antusias.

Naluri ingin memiliki anak perempuan lagi-lagi tampak jelas dari gerak-gerik Maya saat berinteraksi dengan Aira. Di usia pernikahannya yang sudah 21 tahun, Tuhan belum juga memercayakannya merawat bayi perempuan. Kakak Delon laki-laki, meninggal di usia 14 tahun karena leukimia. Adik Delon lagi-lagi laki-laki, bocah kelas enam SD yang sangat sulit ditemukan di rumah di jam segini.

Keseruan dua perempuan beda generasi itu terjeda saat menyadari kehadiran Gilang.

"Eh, Gilang. Kamu sudah pulang rupanya. Saking serunya ngobrol sama Aira, Tante sampai nggak dengar suara mobil kamu." Maya menutup album resepnya lalu menyelipkannya di bawah meja.

Sadar Gilang sudah pulang, Delon langsung bangkit menghampirinya.

"Lo sama Alea mampir ke mana dulu? Kok, baru nyampe rumah?"

Gilang mengernyit menerima todongan dari Delon. Ia bahkan belum bergeser dari ambang pintu.

"Gue lihat Alea masuk ke mobil lo," terang Delon seolah paham ekspresi Gilang.

"Lo mata-matain gue?"

"Yaelah, cuma nggak sengaja lihat."

Sekarang Gilang paham, Delon tidak benar-benar nonton tivi tadi, tapi sedang menunggunya. Lagian tumben jam segini ia turun ke ruang tivi, biasanya juga di kamar lantai atas, sibuk dengan laptopnya.

"Gue nggak mau lo cuma mainin Alea." Delon memelankan suaranya, tapi memastikan Gilang masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Maksud lo?"

"Tuh, permaisuri lo dari tadi nungguin."

Sekilas Gilang menatap Aira, permaisuri yang dimaksudkan Delon. Cewek itu masih mengenakan seragam sekolah. Pasti dari sekolah langsung ke sini.

"Eh, ngapain malah ngobrol di situ?" sela Maya. "Ayo duduk sini. Saya mau kalian nyobain kue bikinan Aira tadi. Rasanya benar-benar enak. Pokoknya nggak nyesel." Maya memastikan kedua cowok itu duduk bergabung bersama Aira sebelum ia beralih ke dapur.

Ruang tivi mendadak kaku. Delon sebenarnya ingin langsung ke kamar, membiarkan Gilang menyelesaikan urusannya dengan cewek cantik itu. Tapi Delon tidak akan berani menolak mencicipi kue Mama. Uang saku taruhannya. Maka ia hanya bisa terenyak pasrah di samping Gilang, menunduk, seolah memberi ruang jika memang ada hal penting yang harus dibicarakannya dengan Aira.

"Dari tadi?" Gilang memulai dengan kikuk. Entah kenapa harus sekaku itu, padahal tidak pernah benar-benar ada masalah di antara mereka.

Aira hanya menggeleng, masih disertai senyum simpul yang selalu membuatnya terlihat manis.

Gilang yakin, gelengan itu mengandung arti bertolak belakang. Buktinya, ia sempat membantu Tante Maya bikin kue, yang tentu butuh waktu di atas 30 menit.

Maya hadir kembali dengan senyum antusias penuh percaya diri. Baki di tangannya berisi setoples kue dan tiga gelas susu cokelat yang masih berhiaskan asap tipis di permukaannya.

"Saya jamin kalian pasti suka," katanya sambil meletakkan sajiannya di atas meja.

Aira cekatan meraih sendiri gelas susu untuknya, bermaksud membantu.

Tanpa aba-aba lebih lanjut, Delon dan Gilang lekas mengambil sebiji. Dimakannya pelan-pelan.

"Gimana, enak, kan?"

"Em ... enak banget, Tante," seru Gilang sambil manggut-manggut.

Sedang Delon hanya mengacungkan jempol kirinya.

"Tuh, kan! Aira, loh, yang bikin." Maya mengusap lengan Aira. Ada kasih sayang yang mengalir di sana. Aira bisa merasakannya. "Tante senang, deh, kalau kamu mau sering-sering main ke sini. Tante jadi punya teman. Soalnya mereka susah banget disuruh bantuin Tante bikin kue. Banyak alasan." Maya mencebik ke arah dua cowok di depannya.

Aira tersenyum geli, membanyangkan ekspresi Gilang saat diminta membantu hobi Tante Maya di dapur.

"Gilang, kalau nggak suka bantuin Tante bikin kue, kamu harus sering-sering ajak Aira ke sini!"

Tenggorokan Gilang mendadak terasa kering, nyaris tersedak. Ia melegakannya dengan aliran susu hangat, lalu pura-pura mengiyakan permintaan Tante Maya.

"Gue ke sini mau ngasih undangan ini." Aira mengeluarkan amplop kecil bercorak kembang-kembang dari tas selempangnya dan meletakkannya di atas meja.

Menyadari kemungkinan adanya pembicaraan yang tak seharusnya mereka campuri, Maya beranjak setelah memberi kode mata kepada Delon untuk meninggalkan ruangan itu juga. Delon memang tidak berminat berlama-lama di situ. Ia membawa serta susu cokelatnya.

Setelah ditinggal berdua, malah hening sesaat.

"Lo masih ingat, kan, hari ulang tahun gue?"

"Inget, kok." Gilang meraih kartu undangan yang tadi disodorkan Aira, tanpa menatap si pemberi.

"Kita benar-benar nggak bisa kayak dulu lagi, ya?"

"Nggak ada yang berubah, kok, Ra." Gilang sebenarnya antara tidak suka dan tidak tega jika Aira mulai memperdengarkan suara bergetar seperti barusan. Pertanda cewek itu merapuh lagi, merasa terabaikan dan tersakiti lagi.

"Gue masih ingat, lo begitu antusias nyiapin pesta ulang tahun gue tahun kemarin. Tapi sekarang? Mau datang aja, gue kurang yakin."

"Bukannya nggak peduli lagi. Tapi ... lo tahu sendiri, kan, sekarang kita udah beda sekolah, gue juga udah pindah ke sini, otomatis segala sesuatunya nggak segampang dulu lagi."

"Lo sengaja, kan, merancang semua ini? Biar lo bisa ngehindar dari gue."

Gilang menghela napas berat. Mereka sudah sering melalui percakapan seperti ini. Entah bagaimana lagi menjelaskan kepada cewek di depannya tentang perubahan-perubahan yang sulit diterimanya belakangan ini.

"Gue pasti datang, kok." Gilang tersenyum meyakinkan, memastikan Aira tidak meneteskan air mata.

Bahkan dipaksakan pun, senyum itu tetap damai di hati Aira. Entah sudah sedalam apa cinta tak berbalas yang masih terus diyakininya itu.

"Oh ya, karier lo apa kabar? Lo beneran nolak tawaran kerjasama dengan brand luar itu?" Pengalihan basi sebenarnya, tapi cuma obrolan seputar karier modelling-nya yang bisa disambut Aira tanpa perlu basa-basi panjang lebar.

"Iya. Mama-Papa nggak ngizinin. Katanya harus lulus dulu dengan nilai bagus, baru boleh ngambil job yang menyita banyak waktu." Senyum Aira perlahan-lahan kembali hadir, dan mulai menceritakan pengalaman-pengalaman baru yang ia dapatkan di lokasi pemotretan belakangan ini.

Gilang masih seantusias dulu, menyimak kata per kata yang keluar dari mulut Aira. Tapi tetap, ia masih belum bisa melebihkan status teman di antara mereka.

***

Dengan tampang gusar Alea menumpahkan semua isi tas sekolahnya di atas meja belajar. Ia langsung mengacak-acak setelah buku-buku serta alat tulis berserakan di sana. tampangnya semakin tak keruan setelah tidak menemukan sesuatu yang dicarinya.

Gerakan tangannya terhenti, mencoba mengingat-ingat kembali. Ia yakin membawanya ke sekolah tadi pagi. Lalu, ke mana perginya? Terjatuh di suatu tempat? Oh, God, betapa Alea tidak ingin kehilangan. Tubuhnya merosot di kursi, lalu menopang kepalanya yang mulai terasa berat dengan kedua tangan yang bertumpu di siku. Saat itulah ponsel di samping kanannya bergetar. Rupanya WA dari Gilang. Ia mengirimkan gambar.

Gilang mengirimkan foto benda yang membuat Alea panik lima detik sebelumnya, mobil-mobilan kayu berwarna merah.

Gilang : Merasa kehilangan ini?

Demikian captionnya.

Alea terbelalak dengan mulut menganga pula.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Jumat, 05 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 6)

 


Fix, Alea akan menghabiskan jam istirahat di perpustakaan hari ini. Sepertinya Ratih masih tidak ingin diganggu, ia menghilang entah ke mana. Sedang Delon lagi latihan dengan tim futsalnya.

Dalam hening khas ruang perpustakaan, Alea berusaha menikmati bacaannya dengan pikiran yang sebenarnya sedang tidak cocok diajak membaca. Alea menyadari kehadiran seseorang mengisi bangku kosong di seberang meja di depannya. Dan tanpa melirik, Alea tahu, itu Gilang. Alea mengutuk kemampuannya yang terlalu cepat mengenali aroma tubuh cowok itu.

"Gue pilih nomor dua," ucap Alea tanpa mengalihkan pandangan dari halaman buku yang terbuka di depannya. Ia pikir Gilang akan menagih soal option kover tadi pagi.

"Nggak sopan, kali, bicara sama orang tanpa menatap matanya." Kalimat barusan memaksa Alea menegakkan kepala dan mempertemukan tatapannya dengan tatapan Gilang. Tatapan hangat, seolah dari sanalah matahari terbit setiap pagi. Cewek mana pun pasti betah berlama-lama dengan tatapan itu. Termasuk Alea sebenarnya. Hanya saja ia belum menemukan cara yang tepat untuk menikmatinya.

"Tahu dari mana gue di sini?"

"Entah kapan Tuhan menganugerahi kemampuan ini, atau mungkin semacam kutukan. Yang jelas, akhir-akhir ini gue ngerasa jadi semut, yang selalu mampu menemukan senyum semanis senyummu."

Alea melongo, lalu bergidik. Sumpah, itu gombalan tergeli yang pernah didengarnya. Tapi tunggu, Gilang menggombalnya? Menyadari hal itu, Alea tersipu. Ia mengangkat bukunya tinggi-tinggi demi menutupi rona wajahnya.

"Kirain lagi belajar, tahu-tahunya baca novel." Gilang terkekeh.

Alea cepat-cepat menurunkan bukunya lalu menempelkan telunjuk di depan bibir. Jangan berisik!

Alea sedang menoleh kiri-kanan, memastikan tidak ada yang terusik dengan kekehan barusan ketika Gilang tiba-tiba meraih kedua tangannya dan menggenggamnya. Sesaat Alea beku, terlebih saat sorot mata Gilang berubah. Tidak ada tatapan jail dan sok imut di sana, berganti semakin hangat dan menenangkan. Hal itu seketika mengacaukan aliran oksigen di tubuh Alea. Ia menarik napas pendek-pendek.

"Gue mampu menulis ribuan bait puisi, tapi lenyap seketika jika harus gue ucapkan di depan lo. Karena perasaan gue bukan sesuatu yang butuh dimanipulasi, tidak perlu dimanis-maniskan. Ini kesungguhan!" Gilang menarik napas panjang, memastikan paru-parunya menampung oksigen yang cukup. "Gue sayang sama lo!" pungkasnya kemudian, masih dengan tatapan yang seolah memetakan kesungguhan.

Alea lekas meleraikan tangannya dari genggaman Gilang. "Maksud lo?"

Gilang mengernyit. "Lo mampu ngulas novel yang tebalnya bisa dijadiin bantal, tapi gagal paham dengan kalimat sependek tadi?" tukasnya.

Itu memang pendek, tapi reaksinya dahsyat.

"Lo belum punya pacar, kan? Gue boleh, dong ngajuin diri."

Seenteng itu? Demi apa seorang Gilang Rendra, penulis buku puisi best seller, nembak cewek di perpustakaan?

"Gue sadar, tempatnya mungkin memang kurang pas. Tapi kalau bukan di sini, di mana lagi? Jangankan jalan, berangkat bareng ke sekolah aja, kamu nolak," tutur Gilang yang seolah mampu membaca pikiran Alea.

Seluruh kosakata menghilang di benak Alea. Ia hanya ingin menghilang dari hadapan Gilang secepatnya. Untunglah, bel pertanda jam istirahat berakhir berdering—menyelamatkannya.

Gilang mengerang pelan, mengutuk suara bel barusan.

Alea gesit merapikan buku-bukunya, lalu melangkah panjang-panjang meninggalkan ruang perpustakaan.

"Jam pulang nanti gue tunggu di parkiran. Kalau lo nolak pulang bareng, berarti lo juga nolak gue. Tapi kalau lo mau, artinya gue masih punya harapan."

Alea tidak berhenti, tapi sengaja memelankan langkah demi memberi kesempatan kepada Gilang untuk menuntaskan kalimatnya. Dan ia benar-benar menyesal telah mendengarnya.

***

Hingga jam pelajaran terakhir, Alea tidak bisa lagi fokus ke materi pelajaran, sekeras apa pun ia mencoba. Hanya kalimat terakhir Gilang di perpustakaan tadi yang memenuhi kepalanya. Dan ia harus menentukan pilihan sekarang juga. Bel pulang baru saja berdering.

Alea melangkah penuh keraguan, antara menuju mobil Gilang atau melesat ke arah gerbang, menyetop angkot, dan menjauh dari sekolah itu secepatnya. Langkahnya terhenti di ujung koridor. Arah jam dua belas pintu gerbang, arah jam dua area parkir. Setelah menimbang-nimbang, Alea memutar badan sedikit dan melangkah ke arah jam dua. Sial. Alea mengutuk kakinya yang seolah bekerja di luar perintah otak.

Kali ini harus Alea akui, suara hati jauh lebih berkuasa dibanding otak. Menolak pulang bareng berarti penolakan, yang sejujurnya tidak ingin Alea lakukan. Setelah ini juga bukan berarti mereka langsung jadian. Gilang masih memberinya kesempatan untuk berpikir. Apa salahnya pulang bareng? Alea mengupayakan argumen paling tepat, bentuk lain dari penolakan melabeli dirinya dengan kata "munafik". Alea menggeleng cepat, ia tidak munafik.

Gilang melepas earphone saat melihat Alea melangkah ke arahnya. Senyum kemenangan langsung terbit di wajahnya. Ia berusaha keras mengontrol diri agar tidak loncat-loncat kegirangan, sok biasa saja setelah mengira Alea tetap tidak mau diajak pulang bareng. Bahkan ia sudah menyiapkan plan B jika itu terjadi.

Gilang lekas membukakan pintu sebelum Alea berubah pikiran. Alea tidak tersenyum, tapi juga tidak cemberut. Setidaknya tidak ada ekspresi terpaksa di sana.

"Apa ini artinya ... kita sudah jadian?" pelan Gilang setelah mereka sudah lumayan jauh dari sekolah.

"Kalau gue mau, artinya lo masih punya harapan. Gitu kata lo di perpustakaan tadi. Bukan ja-di-an!" Alea memberikan penekanan penuh pada kata terakhir.

"Hadeeh .... Tahu gitu gue nggak perlu membelokkan kalimat tadi di detik-detik terakhir," keluh Gilang dengan ekspresi sempurna menyesal. "Tapi setidaknya masih ada harapan," imbuhnya cepat. Senyumnya kembali.

Selanjutnya kikuk. Gilang bingung harus mengangkat tema obrolan apa. Alea selalu menjawab pendek-pendek saat ditanya. Gilang menyentuh tombol hijau pada monitor berukuran sepuluh inci yang menempel di dasbor. Lagu "Ada Cinta" milik Acha-Irwansyah langsung mengalun.

Mengapa sulit mengaku cinta

Padahal ia terasa

Dalam rindu dendam

Hening malam

Cinta terasa ada

"Nggak ada lagu lain, ya? Jadul banget!" protes Alea buru-buru.

"Kesindir, ya?" Gilang menaikturunkan alis saat Alea menatapnya.

Alea lekas berpaling dan membuang pandang ke luar jendela.

Kenapa makin ke sini semua tingkah Gilang malah bikin gemes?

"Kok, malah mampir di sini?" protes Alea saat Gilang membelokkan mobilnya memasuki pelataran sebuah rumah makan Jawa.

"Makan dulu. Lo nggak lapar?"

"Lang, gue nggak biasa pulang terlambat. Mama pasti nyariin." Alea memasang tampang pura-pura cemas. Padahal keseringan juga main ke rumah Ratih sepulang sekolah.

"Gue bakal tanggung jawab. Nanti gue ngomong sama mama lo." Gilang melepas seat belt-nya lalu turun dari mobil. Sumpah, Alea tak mampu menolak lagi ketika Gilang membukakannya pintu sambil memasang senyum paling manis di bawah terpaan sinar matahari pukul dua. Kali ini Alea tidak hanya mengutuk gerakan kakinya, tapi seluruh tubuh yang begitu patuh pada apa-apa keinginan Gilang.

Alea cukup takjub pilihan Gilang jatuh pada rumah makan sederhana seperti ini, bukan restoran mewah yang hanya menyediakan makanan-makanan bule. Gilang seolah ingin menunjukkan, bahwa ia bisa tampil sederhana di balik kemasan hidupnya yang terbilang mewah.

Suasana rumah makan berkonsep pedesaan itu tidak terlalu ramai setelah lewat jam istirahat seperti ini. Mereka memilih meja yang berdampingan dengan jendela. Dari situ mereka bisa melihat beberapa bunga gantung yang sengaja dipasang si pemilik sebagai pemanis.

Jangankan untuk makan, sekadar melihat buku menu saja rasanya Alea tidak berselera. "Samain kayak lo aja!" katanya tanpa menoleh saat Gilang menyodorkan buku menu.

Sesaat kemudian, pelayan kembali menghampiri meja mereka dengan baki berisi dua porsi bakmi Jawa dan dua gelas jus jeruk di kedua tangan.

"Mas, tambah dua porsi lagi. Dibungkus, ya!" pinta Gilang setelah pelayan tadi selesai memindahkan isi bakinya ke atas meja.

Pelayan bertubuh gempal itu mengangguk seraya tersenyum ramah—mengiyakan.

Alea makan buru-buru, ingin cepat-cepat menghabiskan makanannya lalu pulang dan lekas tiba di rumah. Makan siang bareng Gilang seperti ini sungguh tidak ada dalam perencanaannya.

"Makannya pelan-pelan aja. Tempat duduk di sini nggak kena cas, kok."

Alea nyaris tersedak mendengar guyonan Gilang.

Gilang lekas menyodorkan minuman. Alea menyedotnya pelan-pelan.

Tangan Gilang beralih membersihkan sisa makanan yang menempel di sudut kiri bibir Alea. Ia tidak menggunakan tisu, langsung mengusapkan jempolnya. Saat itulah waktu di sisi Alea seakan terhenti. Dadanya kembali mendadak sesak. Wajahnya menghangat perlahan-lahan.

Mungkin berlebihan, tapi andai momen ini terjadi di bawah sinar bulan, pasti lebih romantis dari adegan paling fenomenal di film Titanic. Apa-apaan ini? Momen itu berlangsung tak lebih dari lima detik, tapi respons Alea berlebihan. Sepertinya ia harus mengurangi membaca novel romance untuk beberapa minggu ke depan.

***

Rahma sedang menonton serial India favoritnya di salah satu channel tivi swasta setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur. Meski ia suka anak-anak, tapi menjadi guru SD tidak selalu menyenangkan. Kadang ia kewalahan menghadapi kenakalan murid-muridnya. Wajar jika sepulang mengajar, ia butuh quality time untuk menenangkan syaraf seperti sekarang. Ia hanya mengenakan daster dan mengikat rambutnya serapi mungkin, hingga tak sehelai pun yang menjuntai keluar. Kedua kakinya dinaikkan di atas meja, dipangkunya setoples keripik jagung hasil buatan sendiri.

Kepalanya sedikit mendongak, melihat jam dinding di atas tivi. Ia kepikiran Alea yang belum pulang. Padahal anak itu sudah mengabarinya sedang mampir makan siang bareng temannya, tetap saja ia tidak tenang sebelum anak gadisnya itu berada di rumah. Lagian tidak biasanya ia singgah makan siang. Kalau bareng Ratih, keseringan Ratih malah numpang makan siang di sini. Delon juga begitu.

Ia meraih ponsel, bermaksud menelepon Alea. Saat itulah tiba-tiba pintu depan diketuk seseorang. Rahma meletakkan kembali ponselnya dan bergegas ke depan untuk membuka pintu.

"Selamat siang, Tante," sapa Gilang dengan senyum ala menantu idaman begitu pintu terkuak.

Rahma meneliti pemuda tampan di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu tersenyum kikuk.

"Kenalin, Tante, saya Gilang, teman barunya Alea." Gilang mengulurkan tangan.

Rahma menyambutnya sambil berpikir. Sepertinya ia tidak asing dengan nama itu, sering mendengar Alea menyebutkannya. Tapi entah kapan. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk benar-benar mengingatnya.

"Maaf, Tante, Alea pulang terlambat karena saya ajak makan siang dulu." Gilang berucap sambil sesekali merundukkan kepala.

"Oh, nggak apa-apa." Rahma mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

Alea melongo mendengar reaksi mamanya. Padahal ia sudah berharap Gilang mendapatkan peringatan.

"Oh ya, ini ada bakmi Jawa untuk Om dan Tante." Gilang menyodorkan kantong plastik di tangan kanannya sambil agak membungkuk.

"Wah, sudah lama Tante nggak makan bakmi Jawa." Rahma meraihnya lalu melongok sejenak untuk melihat isinya. "Makasih, ya!" imbuhnya dengan mata cerlang.

Lihatlah, betapa mudah Gilang menaklukkan hati perempuan berumur 41 tahun itu. Pasti bukan hanya karena disogok bakmi Jawa, pikir Alea.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tante. Salam buat Om."

"Iya, nanti Tante sampaikan. Om juga pasti senang banget menerima bakmi ini."

Gilang meraih tangan Rahma dan menciumnya. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Rahma tampak terpesona dengan sikap santun Gilang. Ia terus memerhatikan pemuda itu hingga berlalu bersama mobilnya.

"Naksir, ya? Alea bilangin Papa, loh!" sembur Alea setelah mobil Gilang tidak terlihat.

"Hus, sembarangan kamu."

"Lagian reaksi Mama ke Gilang berlebihan banget. Bukannya marah karena anak gadisnya telat dipulangin, eh, malah senyam-senyum nggak jelas." Alea berucap sambil melangkah masuk. Rahma menyusul lalu menutup pintu di belakangnya.

"Tadi rencananya gitu. Tapi pas lihat wajah cute-nya, jadi nggak tega. Lagian Mama bingung gimana caranya marahin anak sesopan itu."

"Belum lagi bakmi itu, sejak kapan Mama suka bakmi?"

"Ini namanya menghargai pemberian orang. Masa Mama tolak, sih? Nanti biar dimakan Papa semua."

Alea menghempaskan diri di sofa ruang tivi.

"Lagian kamu aneh, deh. Pulang sama cogan, bukannya senang malah uring-uringan gitu." Rahma meneruskan langkahnya ke dapur untuk menyimpan bakmi pemberian Gilang.

Alea semakin yakin, Gilang memang memesona di mata semua perempuan, seumuran Mama sekali pun.

Rahma kembali ke ruang tivi membawakan Alea segelas air dingin.

"Eh, tapi serius dia teman baru kamu? Kok, Mama kayak nggak asing, ya, sama namanya? Gilang ...?" Rahma berusaha mengingat-ingat.

"Gilang Rendra, yang penulis puisi itu, loh, Ma," terang Alea setelah meneguk hampir semua isi gelasnya.

"Omaigat. Dia, kan pujaan kamu, segalanya kamu. Lalu ...?" Rahma menunjukkan ekspresi berlebih.

Sadar akan diberondong pertanyaan tidak penting, Alea beranjak ke kamar.

"Eh, kok, malah pergi? Soal Gilang, gimana?"

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Kamis, 04 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 5)

 


Setibanya, Gilang langsung menarik cewek bernama Aira itu menjauh dari Alea. Aira tidak mengelak. Ia terus mengikuti langkah cepat Gilang menuju mobil yang terparkir di depan gerbang sekolah. Tatapan Alea mengekori mereka sambil bertanya-tanya, siapa cewek itu?

"Gilang sama siapa, tuh? Cantik banget." Delon menghentikan motornya tepat di samping Alea yang masih mematung.

Alea hanya melirik sekilas. Ia berusaha mencerna kejadian barusan. Ia hanya tidak ingin bermasalah dengan siapa pun tanpa tahu penyebab pastinya.

"Lo kenapa sendirian di sini? Ratih mana?"

Alea menoleh ke belakang, mobil Ratih sudah tidak ada di sana.

"Gue nebeng sama lo, ya."

"Siap!"

Gilang membanting pintu mobilnya lalu mencengkram setir kuat-kuat. Dadanya naik turun, pertanda ada amarah meluap-luap di sana. ia menjatuhkan punggung di sandaran jok lalu menghela napas panjang beberapa kali.

"Gue nggak ngerti dengan sikap lo barusan," ucapnya setelah cukup tenang.

"Lo emang nggak pernah ngerti, Lang, dan nggak pernah mau ngerti." Aira menunduk, memerhatikan jemari tangannya yang sibuk saling mengusik.

"Please, Ra, kita udah sering bahas ini." Gilang memelankan suaranya. Tangannya berangsur dari setir ke pundak Aira yang semakin dalam menunduk. Rambut yang sengaja dibikin ikal dari tengah ke ujung mulai kusut, menutupi sebagian wajahnya.

"Lo nggak pernah mau jujur soal alasan lo pindah ke sekolah ini. Tapi hari ini sepertinya gue udah tahu. Selain untuk ngehindarin gue, juga karena cewek tadi."

Gilang ingin menyanggah, tapi Aira buru-buru keluar tanpa menoleh sedikit pun. Ia bergegas ke mobilnya yang terparkir di seberang jalan, menerobos kepadatan kendaraan yang lalu-lalang, mengabaikan suara klakson yang bersahutan karena ulahnya.

Gilang cukup khawatir melihat kenekatan Aira, tapi ia hanya bisa mengawasinya dari dalam mobil.

***

Gilang sedang melototi akun instagram Alea sambil tiduran. Sudah cukup jauh scroll ke bawah, namun hanya foto-foto buku yang bermunculan. Ya iyalah, namanya juga akun booksstagramer, rutuknya dalam hati. Nyaris saja ia menghentikan pencariannya, ketika menemukan foto selfie Alea bersama setumpuk buku di tangan kanannya. Gilang mengabaikan ­caption-nya, telanjur terpikat sama senyum yang mulai meracuninya akhir-akhir ini.

Alea memang tidak secantik Aira, tapi entah apa yang membuat mata betah memandanginya lama-lama. Lihat gigi gingsul yang turut mengintip di sela senyumnya, cowok mana yang tidak gemes? Mau-maunya Delon hanya bersahabat dengan cewek semanis ini, renung Gilang.

Gilang senyum-senyum sendiri, diam-diam jempolnya mengusap pipi Alea di layar ponselnya. Saat itulah Delon menyelonong dan langsung banting diri di sampingnya. Gilang buru-buru mengantongi ponselnya.

"Lo nonton bokep, ya?" tuduh Delon setelah menangkap keterkejutan sepupunya itu. Ia senyum-senyum jail sambil mengacungkan telunjuk di depan wajah Gilang yang masih tampak aneh.

"Sembarangan, lo. Siapa yang nonton bokep?" Gilang pura-pura bergidik lalu menepis telunjuk Delon.

"Terus, kenapa hapenya buru-buru dikantongin? Apa, coba, kalau nggak lagi browsing yang aneh-aneh?"

"Kepo, lo."

"Iya juga nggak apa-apa, kok. Gue ngerti. Sesama cowok nggak usah ditutup-tutupinlah." Delon terus menggoda Gilang sambil memainkan alisnya.

Gilang tidak merespons. Ia menautkan jemari tangan di bawah kepala, tatapannya menyelami langit-langit kamar. Ia kembali terbayang Alea. Foto tadi harus di-screenshot setelah Delon keluar dari kamar ini.

"Betewe, lo betah, kan, di rumah ini?"

Gilang hanya mengangguk.

"Emang, sih, tidak semewah apartemen lo yang kemarin, tapi di sini ada gue, Dandi, Papa, Mama. Setidaknya lo nggak selalu sendirian. Atau jangan-jangan, lo sering masukin cewek nggak bener ke apartemen lo?"

"Ngomong apa, sih, lo? Gue senang, kok, di sini. Tante Maya dan Om Lukman juga baik banget sama gue."

"Syukurlah!" Delon hendak bangun, tapi kemudian malah beralih memiringkan badan menghadap Gilang. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. "Eh, siapa cewek yang lo seret-seret tadi siang?"

"Cantik, ya? Mau gue kenalin?"

"Dia ganggu Alea, kan?"

Gilang mengernyit.

"Alea pulang sama gue, dia cerita," terang Delon setelah membaca pertanyaan tersirat di wajah sepupunya itu.

Gilang memasang tampang menyesal. Ia baru ingat, ia belum menghubungi Alea untuk minta maaf soal kejadian tadi siang. Bagaimana pun, ia penyebabnya.

"Ingat, gue nggak akan maafin siapa pun yang berani nyakitin sahabat gue." Delon turun dari tempat tidur setelah menekankan kalimat barusan, bahkan sedikit bernada mengancam.

Gilang ikut bangun. Tatapannya mengekori punggung Delon hingga menghilang di balik pintu. Sampai segitunya? Gilang merasa, ekspresi Delon saat mengucapkan kalimat tadi agak berlebihan jika sampai saat ini ia hanya menganggap Alea sahabat.

Berselang lima detik, Delon kembali. Ia hanya melongok kali ini. "Gue sampai lupa. Tadi gue ke sini karena disuruh Mama. Lo disuruh turun ke dapur."

"Ngapain?"

"Bantuin Mama bikin kue."

"What?"

"Lo tinggal di sini nggak gratis-gratis amat, kali. Bayarannya, lo harus ikhlas saat Mama minta dibantuin bikin kue. Makasih, ya. Berkat ada lo, Mama jadi punya pilihan, nggak melulu mesti gue yang bantuin dia bikin kue." Delon menahan tawa.

"Lo jadiin gue tumbal?"

Tawa Delon meledak kali ini.

"Gue bantuin kerjaan Om Lukman aja, deh, atau motongin rumput di halaman. Asal jangan bikin kue."

"Eits ... nggak pake tawar menawar." Delon berlalu setelah memasang tampang puas.

Gilang tepuk jidat.

***

"Kamu di mana sekarang? Kalau kita ketemu, apa kamu masih bisa ngenalin aku? Aku nggak ingat wajah kamu." Alea bicara pada mobil-mobilan kayu berwarna merah di sudut meja belajarnya.

Di depannya, soal-soal PR Kimia menanti untuk diselesaikan. Alih-alih lekas mengerjakannya, Alea malah meraih ponsel. Ia mengecek postingan terbarunya di instagram. 204 likes, tapi tidak ada nama Ratih di sana. Biasanya cewek itu yang paling cepat merespons postingan Alea, meski kadang-kadang komennya nggak nyambung. Jelas-jelas postingan Alea seputar ulasan buku, Ratih malah nanyain tugas-tugas sekolah di kolom komentar. Atau yang paling horor, malah membahas diskonan produk kecantikan di online shop langganannya.

Alea memang harus tabah memiliki sahabat sejenis Ratih. Tapi sebenarnya kesemuanya itulah yang terkadang dirindukan Alea, terlebih untuk saat ini. Ratih salah paham, dan sepertinya benar-benar marah kali ini.

***

Alea tak mungkin mengharapkan jemputan Ratih hari ini. WA-nya semalam saja tidak dibalas. Karena itu ia berangkat bareng Delon, setelah mengabaikan ajakan Gilang yang meneleponnya di pagi buta.

"Lo kenapa nggak berangkat bareng Gilang aja, sih?" Alea setengah teriak demi mengalahkan deru angin. Delon melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Alea tahu, mereka tinggal bareng. Tapi anehnya masih berangkat sendiri-sendiri.

"Lo kayak nggak tahu gue aja. Gue nggak bisa pisah sama Si Merah." Tentu saja yang dimaksud Delon adalah motor yang saat ini mereka tumpangi. Motor itu dibelikan papanya di tahun pertama masa putih abu-abu.

Sebenarnya Alea sudah paham meski Delon tak perlu menjawab pertanyaannya barusan.

"Lagian kita punya urusan masing-masing. Gue ngerasa nggak bebas kalau bareng Gilang," imbuh Delon, lalu menambah kecepatan motornya setelah tikungan.

Alea mengencangkan pegangannya di pinggir jaket Delon.

Alea melihat mobil Ratih sudah terparkir di tempat biasa. Berarti benar, Ratih sengaja menghindarinya. Tidak biasanya ia berangkat sepagi ini.

"Kalian marahan lagi?" tanya Delon setelah melepas helm dan mengunci motornya.

Alea hanya mengangkat bahu lalu mulai melangkah meninggalkan area parkir.

Setibanya di kelas, Alea melihat Ratih pindah duduk di bangku paling belakang. Alea meletakkan tas selempangnya di meja lalu duduk perlahan-lahan dengan isi kepala berkecamuk. Ia harus menghampiri Ratih, ia sedang memikirkan kalimat yang akan diucapkannya untuk mengakhiri kesalahpahaman ini.

Alea hendak berdiri ketika tiba-tiba tangan Gilang menahan pundaknya. Alea benar-benar tidak fokus, sampai-sampai tidak melihat Gilang masuk.

"Lo nggak mau berangkat bareng gue, tapi malah berangkat bareng Delon?" Gilang tidak terima, kentara dari nada suaranya.

Alea kembali mengenyakkan diri di bangkunya. Dia membenturkan tatapan di permukaan meja, sedang tidak berselera menerima tatapan Gilang yang duduk berlawanan arah di depannya.

"Tapi nggak apa-apa. Gue sadar, kok, gue cuma orang baru di kehidupan lo yang sedang berusaha mengakrabkan diri. Tentu saja butuh waktu. Nggak seharusnya gue cemburu sama Delon, yang jelas-jelas udah sahabatan lama sama lo." Untung saja Gilang cepat menormalkan situasi sebelum emosi Alea terpancing. Kalimat panjang barusan cukup ampuh membuat Alea merasa bersalah, sedikit iba.

"Maaf, ya, gue ...." Kalimat Alea terputus saat Gilang menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

"Lo nggak salah. Gue yang harus berjuang lebih keras lagi demi bisa dekat sama lo." Gilang tersenyum, senyum yang terlalu manis untuk dinikmati sepagi ini. Mata sipitnya semakin kecil saat otot-otot pipinya tertarik ke samping. Mungkin pemandangan seperti ini yang menyihir hampir semua cewek yang pernah melihatnya. Dan Alea baru menyadarinya? Ke mana saja ia selama ini? Dada Alea mendadak sesak, terlebih posisi jari telunjuk Gilang masih menempel di bibirnya.

Bola mata Alea terputar ke bawah, menatap jari telunjuk Gilang yang seolah tak berdaya ia tepis meski telah membuatnya tidak nyaman. Gilang tersadar dan lekas menarik jari telunjuknya, beralih pura-pura merapikan kerah seragamnya.

Sedetik dua detik, Alea berusaha menormalkan kerja jantungnya. Ada apa ini? Karena senyuman, atau malah sentuhan jari telunjuk Gilang? Ah, sepertinya ia hanya kurang tidur tadi malam.

"Gue minta maaf soal kejadian kemarin," ucap Gilang dengan tampang menyesal.

Alea mengernyit. Sorot matanya seolah berkata, untuk?

"Yang kemarin hampir labrak lo, namanya Aira, teman gue di sekolah yang lama."

Alea paham sekarang. Mau tidak mau ia jadi ingat kejadian yang cukup mengacaukan suasana hatinya itu. Seumur-umur ia tidak pernah bermasalah dengan orang, terlebih hanya karena cowok.

"Oh ya, gue minta pendapat lo, dong." Gilang mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya setelah lama menunggu respons Alea yang tak kunjung tiba. Ia tampak sibuk mencari sesuatu. Sekejap kemudian, ia menghadapkan layar ponselnya ke Alea. "Penerbit sudah mengirimi tiga option bakal kover buku kedua gue. Lo suka yang mana?"

Alea memerhatikan tiga gambar kover di sana, tapi ia belum bisa berkonsentrasi sepenuhnya.

"Kok nanya ke gue? Lo juga bakal ngadain voting di Wattpad, kan?"

Gilang mengangguk. "Tapi gue mau, lo orang pertama yang kasih suara. Dan kalau pun natinya pilihan lo gagal mengumpulkan suara terbanyak, gue tetap bakal milih itu."

"Kok, gitu?" protes Alea. Sekilas tatapannya beralih dari layar ponsel ke sepasang mata Gilang.

"Biarin! Lagian, lo, kan, bookstagramer kece, nih, seleranya pasti nggak asal-asalan, dong."

Alea tersenyum tipis. Ia merasa lucu dengan sebutan itu, "bookstagramer kece".

"Gue yang mana aja, deh. Semuanya bagus."

"Yah, kok, gitu, sih?" Gilang memasang tampang pura-pura kecewa. Itu malah membuatnya terlihat semakin cute. Ia hanya tidak sadar, sedari tadi tatapan semua cewek di kelas itu tak lepas darinya. Termasuk Ratih, di bangku paling belakang.

"Anggap aja ini foto cowok yang harus lo pilih salah satunya untuk nikahin lo. Nggak mungkin, kan, lo milih semuanya?" Mereka terbahak bersama, tampak akrab, membuat iri semua cewek di kelas itu.

Alea melihat-lihat sekali lagi sebelum memberikan suara, ketika tiba-tiba Ratih berjalan melalui mereka dengan hentakan kaki dibuat-buat. Alea bergegas menyusulnya, meninggalkan Gilang yang kebingungan.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Rabu, 03 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 4)

 


"Halo, Rat." Alea baru saja turun dari angkot ketika Ratih meneleponnya.

"Lo lagi di mana, kok, banyak suara kendaraan?"

"Gue baru tiba di mal tempat biasa kita jalan. Gue mesti nyari beberapa properti buat keperluan konsep foto-foto baru."

"Kebetulan banget. Gue nitip beliin bukunya Gilang, ya!"

"Lo serius mau pedekate sama Gilang?"

"Alea sayang, Gilang itu satu-satunya Song Joong Ki versi Indonesia, masa iya gue anggurin?"

Alea hanya memutar bola mata.

"Pokoknya, kalau lo nggak beliin, gue nyuri punya lo."

"Iyya!" tegas Alea, lalu memutus sambungan telepon.

***

"Jadi selama ini, lo belum punya buku gue?" Suara barusan dari arah samping, tepat ketika tangan kanan Alea meraih salah satu buku puisi bersampul merah dari rak yang dipasangi header "Best Seller".

"Gilang?" Mulai sekarang sepertinya Alea harus belajar memasang tampang biasa saja setiap kali Gilang ada di dekatnya. Terlebih untuk kemunculan tak terduga seperti sekarang. "Ini titipan teman," imbuhnya dengan kekikukan luar biasa kental.

Gilang hanya ber-o panjang tanpa suara.

"Lo ngapain di sini?" Sial. Pertanyaan bodoh macam apa itu? jelas-jelas ini tempat umum. Alea beralih pura-pura sibuk memilih buku.

"Jalan-jalan aja, sih."

Sejenak tak ada yang bersuara. Gilang mengikuti gerak Alea yang bergeser perlahan-lahan sambil mengamati deretan buku di rak di depannya.

"Lo tahu, nggak, sampai sekarang terkadang gue masih belum percaya kalau buku yang sampulnya bertuliskan nama gue sudah beredar di toko buku seluruh Indonesia. Memandangnya langsung terpajang di sana, ada kebahagiaan yang tak bisa dirangkai dengan kata-kata. Ini tentang mimpi yang terwujud secara ajaib." Gilang berucap sambil menoleh ke arah rak buku-bukunya terpajang, yang sudah mereka tinggalkan beberapa langkah.

Alea sadar, ucapan barusan rasanya terlalu dalam untuk diucapkan ke orang yang baru dikenal. Sepertinya Gilang sedang berusaha mengakrabkan diri.

"Pada dasarnya semua mimpi berhak untuk terwujud. Dan lo sudah bertanggung jawab atas mimpi itu."

"Baru sebagian kecil, masih banyak mimpi-mimpi selanjutnya." Tatapan Gilang beralih dari jejeran buku ke manik mata Alea.

"Tetap lakukan yang terbaik, seperti yang lo lakuin selama ini."

"Lo sendiri, punya mimpi apa?" Mereka kembali melangkah, kali ini berdampingan.

"Simpel, sih. Sekolah tinggi-tinggi, lulus dengan nilai memuaskan, dapat kerja sesuai passion yang menghasilkan uang banyak, ketemu pangeran tampan, terus nikah, punya anak, dan hidup bahagia selamanya." Alea berucap sepanjang itu tanpa sekali pun menoleh ke cowok di sampingnya.

"Kayaknya lo cocok nulis dongeng, deh!"

Alea tergelak. Meski sesaat, tapi itulah pertama kalinya Gilang mendengar tawa Alea. Sungguh renyah dan sukses membuat dadanya berdesir.

"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Gilang saat mereka tiba di meja kasir.

"Mau langsung pulang, sih."

"Kita nggak makan dulu atau apa ... gitu? Mumpung telanjur ketemu di sini, loh."

"Lain kali aja, Lang! Utang review gue numpuk, nih. Ini juga dipaksain keluar karena ada properti yang harus dibeli demi memperindah tampilan feed." Alea tersenyum lebar di ujung kalimatnya.

"Duh, gue lupa sedang berhadapan dengan bookstagramer kece." Gilang terkekeh.

"Apaan, sih?" Alea menerima struk dan uang kembaliannya.

"Gue anterin pulang, ya!"

"Nggak usah. Lo di sini aja, tawarin buku-buku lo. Sesekali jadi SPB buat buku sendiri, nggak masalah, kan?" Alea berucap sambil menahan tawa.

"Tanpa gue tawarin udah laku banget, kali. Apalagi kalo gue terjun langsung buat nawarin?" Gilang menoleh ke arah Alea sambil memasang tampang kepedean dengan menggerakkan alisnya naik turun.

"Sombong ...."

Mereka terbahak.

Bisa dibilang ini interaksi langsung pertama mereka tanpa perantara apa atau siapa pun. Tidak buruk. Gilang tidak menyangka bisa mengakrabkan diri secepat itu. Dan sikap Alea yang cenderung jaga jarak justru menjadi poin pertama alasan ketertarikannya.

Meski belum pernah diakuinya kepada siapa pun, setidaknya Gilang harus jujur pada diri sendiri, bahwa ia memang tertarik pada kesederhanaan cewek yang kini masih ia temani melangkah keluar mal. Sedang bagi Alea, cowok di sampingnya cukup asyik diajak ngobrol, tapi belum senyaman ketika ia membaca puisi-puisinya dalam hening. Fakta bahwa sekarang mereka satu sekolah dan bisa berteman, entah kenapa masih terasa biasa.

***

"Ke kelas Gilang, yuk!"

Alea yakin tak salah dengar, tapi ini kali pertama Ratih mengajaknya ke tempat lain selain kantin saat jam istirahat.

"Ngapain?"

Alih-alih menjawab, Ratih malah mengacungkan buku puisi bersampul merah sambil cengar-cengir tidak jelas.

"Harus sampai segitunya, ya?"

Ratih menarik tangan Alea untuk berdiri. "Please, deh, Al. Di mana-mana emang gitu. Yang namanya fans ketemu idola, wajar kalau minta tanda tangan. Lagian, lo kenapa, sih? Perasaan kemarin-kemarin lo yang paling heboh kalau ngebahas Gilang."

"Puisinya, Rat, bukan orangnya."

"Sama aja!" Tanpa persetujuan, Ratih menyeret Alea menuju kelas Gilang.

"Eh, pada mau ke mana?" Delon menghadang mereka di pintu.

Ratih menerobos pertahanan Delon tanpa menjawab.

"Kita nggak makan siang hari ini?" teriakan Delon juga tidak direspons. Cowok itu mengernyit sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Setibanya di kelas XII IPS 3, Gilang sedang dikerumuni cewek-cewek yang kebanyakan adik kelas. Sama seperti Ratih, mereka juga membawa buku puisi sang idola dan minta ditandatangani.

Merasa tak terima, Ratih langsung beraksi. "Dasar! Baru juga kemarin lepas seragam putih biru, eh, sekarang sudah berani keganjenan sama senior." Mereka kompak menoleh ke arah Ratih. Saat itulah Ratih melototinya satu per satu.

"Sekarang juga kalian keluar!" Sadar sedang berhadapan dengan Ratih, serigala betina, junior-junior itu langsung berhamburan ke arah pintu sambil mencebik dan merutuk tidak jelas.

Merasa tidak enak dengan sikap Ratih, Alea pura-pura sibuk dengan ponselnya.

Sesaat Gilang tercengang melihat pengaruh kekuasaan cewek yang gemar mengenakan softlens biru barusan. Tapi bagaimana pun juga, mereka yang berhamburan ketakutan tadi adalah sebagian penggemar puisi-puisinya. Gilang bermaksud meladeninya sebelum dikacaukan kemunculan Ratih.

Selanjutnya, tanpa rasa bersalah dan canggung sedikit pun, Ratih menyodorkan buku di tangannya, minta ditandatangani. Ia memasang senyum terbaiknya, yang justru menurut Gilang aneh.

"Oh ya, Al, selamat, ya, lo kepilih jadi host untuk booktour buku kedua gue."

Jelas saja mood Ratih langsung hancur. Ia yang minta tanda tangan tapi malah Alea yang diajak bicara.

Alea yang sebenarnya ingin segera meninggalkan kelas itu tidak terlalu menyimak. Sekarang ia malah bingung harus merespons seperti apa.

"Kok, lo nggak bilang-bilang, sih?"

"Gue pikir, lo udah tahu duluan."

"Yang nentuin murni dari pihak penerbit. Gue baru tahu tadi pagi."

Alea manggut-manggut tidak jelas.

Merasa diabaikan, Ratih menghambur keluar dengan muka ditekuk sempurna. Sigap, Alea menyambar buku di depan Gilang lalu menyusul Ratih.

Hingga jam pelajaran terakhir, Ratih jadi pendiam. Ia hanya menjawab seperlunya ketika Alea mengajukan pertanyaan basa-basi. Alea sangat tidak nyaman dengan perubahan itu.

"Lo marah, ya, sama gue?" Akhirnya Alea mengajukan pertanyaan itu ketika mereka tengah berjalan menuju area parkir.

Ratih hanya mengembuskan napas secara kasar.

Alea meraih pergelangan tangan Ratih. "Rat, kita nggak bisa kayak gini. Gue nggak suka lo diemin."

Ratih menghela napas berat, lalu berbalik memandang Alea.

"Gue nggak marah, kok, sama lo. Gue cuma kesal sama diri gue sendiri. Kenapa, sih, semua cowok kayaknya lebih suka sama lo dibanding gue? Gue kurang apa, coba?"

Melihat sepasang mata Ratih berkaca-kaca, perlahan-lahan Alea melepaskan cengkramannya. Alea sadar, ini bukan hanya soal Gilang, tapi juga yang sudah lalu. Ini memang bukan kali pertama persahabatan mereka retak karena cowok. Dan seperti yang sudah-sudah, Alea tak pernah menginginkan situasi seperti ini.

"Lo beneran suka sama Gilang?"

Ratih mengedarkan pandangan ke tak tentu arah tanpa menjawab.

Alea bertanya seperti itu karena paham betul watak Ratih. Sahabatnya itu memang selalu heboh setiap kenal cowok yang menurutnya ganteng. Tapi tidak bertahan lama. Biasanya akan reda dalam waktu dua sampai tiga minggu. Sejatinya, ia memang Miss Drama yang suka melebih-lebihkan segala hal, termasuk rasa suka yang belum pasti.

Alea tersentak. Tiba-tiba saja seorang cewek tinggi semampai menghampiri dan langsung mencengkram pundaknya.

"Lo ada hubungan apa sama Gilang?"

Alea berusaha mengingat-ingat, tapi ia yakin belum pernah bertemu sebelumnya dengan cewek yang kini melototinya penuh rasa tidak suka.

"Apa-apaan, sih, lo?" Meski mood-nya sedang hancur, Ratih tidak terima sahabatnya diperlakukan seenaknya seperti itu. Ia menepis tangan cewek itu dari pundak Alea.

"Lo jangan ikut campur!" Cewek cantik berkulit putih bersih itu mengacungkan telunjuk ke arah Ratih. Saat itulah Alea membaca nama sekolah lain di badge seragamnya.

Terang saja emosi Ratih langsung tersulut. Ia hendak maju, tapi Alea menahannya.

"Maksud lo apa, sih?"

"Jangan pura-pura bego. Gue lihat lo di toko buku sama Gilang tadi malam."

"What? Jadi tadi malam lo jalan sama Gilang?" Ratih menimpali dengan kening penuh kerutan. Ia butuh penjelasan dari Alea secepatnya.

"Kami ketemu di sana, sama sekali nggak janjian."

"Di depan gue, lo selalu nunjukin sikap seolah tidak tertarik sama Gilang, tapi kalian malah jalan di belakang gue?" Kali ini Ratih tak perlu menunggu sanggahan dari Alea, ia berlari ke arah mobilnya.

Alea hendak menyusul, tapi cewek itu lebih dulu meraih pergelangan tangannya.

"Gue belum selesai sama lo!" semburnya setengah membentak.

"Aira, lepasin!" teriak Gilang sambil berlari menghampiri dua cewek yang sedang bersitegang.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Selasa, 02 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 3)

 


Alea meluruskan punggung setelah mengkhatamkan novel yang harus di-review-nya minggu ini. Ia meraih ponsel di sisi bantal. Tanpa peduli dengan tumpukan notifikasi dari berbagai sosial media, ia langsung buka Wattpad, mana tahu ada puisi terbaru Gilang yang ia lewatkan.

Ternyata belum ada pembaruan sejak sore tadi. Kendati demikian, ia tetap berlama-lama di sana, mencecap kembali puisi-puisi kemarin yang selalu terasa baru untuknya. Selesai membaca dua-tiga puisi, tatapannya beralih ke tubuhnya sendiri yang dilapisi kaus bertandatangan Gilang. Senyumnya seketika mengembang, ada bahagia yang menyusup.

Ia membuka galeri foto dan menemukan satu-satunya foto bersama Gilang yang diambil tadi sore. Ah, harusnya bisa ada dua-tiga foto, dan posenya tidak sekaku ini, rutuknya dalam hati. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum. Yang satu ini juga sudah sangat spesial. Tiba-tiba rasa ingin berterima kasih meluap di benaknya. Ia memang sempat berterima kasih secara langsung tadi, tapi di tengah kebisingan suara-suara iri penggemar yang lain, sepertinya Gilang kurang menyimak.

Alea bermaksud mengirimi Gilang DM, ia sudah mengetiknya malah, ketika kembali berpikir untuk benar-benar mengirimnya atau tidak. Dalam sekali tarikan napas panjang, akhirnya jempolnya mengetuk ikon send dan cepat-cepat menyelipkan ponselnya di bawah bantal. Jantungnya mendadak bekerja lebih cepat dari biasanya, dan ia gelisah bukan main.

Alea meraih kembali ponselnya setelah bergetar, dan langsung menemukan pesan balasan dari Gilang.

Gilang : Sama-sama.

Balasan itu disertai smile emoticon. Tangan dan kaki Alea seketika menghentak asal tak keruan saking senangnya. Ia tak menyangka Gilang akan merespons pesannya secepat itu, mengingat pasti banyak sekali fans yang mengiriminya DM.

Alea menghentikan celebration-nya setelah menyadari satu hal, ia wajib pamer sama kedua sahabatnya.

Alea : Gila, Gilang bales DM gw.

Teks itu langsung meluncur ke WA Delon dan Ratih.

Delon : So?

Alea : Ah, lo nggak asyik!

Tidak ada lagi balasan dari Delon. Kalau sama Ratih pasti jadi panjang urusannya. Tapi, tumben memasuki menit kelima, Miss Drama itu belum juga merespons.

***

Alea sedang mengikat tali sepatunya ketika panggilan Ratih menggetarkan ponselnya. Ia mengeluarkan benda persegi gepeng itu lalu menjepitnya di telinga dengan pundak.

"Halo, Rat."

"Gue nggak bisa masuk, nih, lagi kurang enak badan. Lo minta jemput sama Delon aja, ya!"

"Oh, oke. Cepat sembuh, ya."

"Oh ya, chat lo semalam baru gue baca tadi. Jadi apa kata Gilang? Kalian ngomongin apa aja?"

Alea memutar bola mata. Padahal lagi sakit, tapi masih saja kepo. "Nggak usah ngomongin itu dulu. Udah jam berapa ini, takut telat." Alea memutus sambungan telepon. Ia beralih menelepon Delon.

"Lo di mana?" tanyanya langsung begitu Delon menyahut di seberang sana.

"Masih di jalan."

"Belum lewat rumah gue, kan?"

"Belum. Kenapa?"

"Ratih nggak bisa masuk hari ini. Gue nebeng sama lo, ya!"

"Siap!"

Entah kapan cowok itu tidak bilang "siap" setiap kali Alea minta tolong. Meski tak pernah diungkapkan terang-terangan, Alea sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Delon dan Ratih, yang bisa ia jadikan tempat pelampiasan apa pun. Sikap saling mengerti serta tidak mudah tersinggung yang membuat persahabatan mereka awet sejauh ini, sejak tahun pertama masa putih abu-abu.

Waktu kelas X mereka bertiga sekelas. Tapi setelah naik kelas XI, Alea dan Ratih di IPA 2, sedang Delon terpisah di IPA 1. Tidak terlalu masalah, kelas mereka berdempetan, tetap bisa ngerusuh tanpa batas.

Kesekian kalinya Alea melirik jam tangannya ketika mobil sport hitam mengilap memelan dan berhenti tepat di depannya. Sejenak ia abai, menengok lagi ke ujung jalan, menanti Delon muncul bersama Ninja-nya. Perhatiannya tersita ketika kaca jendela mobil turun dan senyum Delon mengembang di sana.

"Delon?"

"Iya, kali ini gue datang dengan mobil keren, tapi nggak usah mangap gitu, dong."

Alea masih terperangah. Delon punya mobil mewah dan sopir pribadi? Sejak kapan?

"Mau masuk sendiri atau gue gendong?"

Alea tersadar. Ia menarik pintu belakang dan bergegas masuk. Alea merapikan rok setelah mobil mulai berjalan pelan.

"Sori, ya, mobilnya rada berantakan. Di jok belakang suka ada remah keripik soalnya."

Alea sempat memeriksa keadaan di sekitarnya ketika menyadari satu hal, suara tadi bukan suara Delon. Lantas, sopirnya? Alea menegakkan kepala. Saat itulah ia mendapati senyum itu. Iya, senyum Gilang. Alea sempurna mematung. Waktu terasa berhenti selama mereka berpandangan. Alea berusaha menemukan kesadarannya ketika Gilang sudah kembali fokus mengamati jalanan.

Berangkat ke sekolah menggunakan mobil mewah dan disopirin Gilang? Tidak! Ini pasti cuma mimpi! Mulai dari ia mengikat tali sepatu sambil menerima telepon Ratih tadi, itu hanya mimpi. Bisa jadi sekarang raganya masih beringsut di balik selimut yang berusaha ditarik paksa oleh Mama.

"Mulai hari ini Gilang pindah ke sekolah kita." Delon akhirnya bersuara.

Mereka satu sekolah? Sempurna. Ini benar-benar cuma mimpi.

Menyadari sedang disopirin Gilang, dan sekarang malah satu sekolah, harusnya Alea senang bukan main. Tapi ... nyatanya tak begitu. Apa-apaan ini? Entahlah! Alea masih terus-terusan beranggapan ini cuma mimpi, meski sudah beberapa kali meringis akibat mencubit lengan sendiri.

"Kok, diam aja, sih, Al?" Gilang kembali bersuara, tapi kali ini tanpa menoleh.

Gilang menyapa Alea seakrab itu? Mereka, kan belum benar-benar kenalan. Alea semakin tidak berdaya.

***

Jam pelajaran pertama dilalui Alea dalam renungan. Terlebih tak ada Ratih yang suka usil di sampingnya. Pikirannya masih berputar di 30 menit terakhir. Bahkan ketika ia menjabat tangan Gilang di parkiran tadi untuk perkenalan yang sesungguhnya, ia masih belum percaya dengan yang dilaluinya pagi ini. Tadi ia langsung memisahkan diri, sedang Delon mengantar Gilang ke ruang tata usaha. Alea bahkan tidak sempat tahu kelas Gilang.

"Lo sakit?" tanya Delon ketika mereka bertiga sedang makan di kantin. Ya, bertiga sama Gilang.

Alea hanya menggeleng.

"Lo benar-benar beda hari ini."

Tampak jelas Alea malas menanggapi.

"Oh, gue tahu. Lo pasti jaim karena ada Gilang, kan?"

"Apaan, sih, lo?" Alea menyikut Delon.

Gilang senyum-senyum saja.

Sungguh, jaim bukan sifat Alea. Entah kenapa kalau sekarang malah terlihat seperti itu.

Gilang memang bukan artis sinetron, hanya penulis puisi yang kebetulan berhasil menarik perhatian pengguna Wattpad. Kemunculannya juga baru beberapa bulan terakhir. Wajar jika kehadirannya hanya terdeteksi beberapa orang saja, yang kebetulan segolongan dengan Alea—gila baca.

Tapi nyatanya siang ini, seisi kantin mengarahkan pandangannya ke Gilang. Yang cewek tentu saja terpikat sama ketampanannya. Benar kata Ratih, sepintas Gilang memang mirip Song Joong Ki. Sedang yang cowok ... entah! Sepertinya merasa tersaingi.

Di tengah bisik-bisik pengunjung kantin perihal Gilang, Alea sempat menyimak pembicaraan cowok yang sudah dipastikan jadi idola baru di sekolahnya itu dengan Delon. Biasa, basa-basi antar cowok. Tapi dari situ Alea jadi tahu, Gilang di kelas XII IPS 3.

***

Ponsel Alea bergetar setibanya di kamar Ratih. Sepulang sekolah ia langsung menjenguk sahabat super cerewetnya itu.

Delon : Lo di mana?

Alea malah bengong sesaat setelah membaca WA dari Delon.

Alea : Di rumah Ratih.

Delon : Kok, nggak bilang-bilang?

Alea tidak membalas.

Delon : Tadi mau ngajakin pulang bareng. Gue samperin ke kelas, lo udah ngilang.

Alea mengantongi kembali ponselnya.

"Habis chat sama siapa? Kok, tampangnya gitu?"

"Biasa, Delon nyariin."

"Lo nggak bilang mau ke sini?"

Alea hanya menggeleng. Ia mengeluarkan kembali ponselnya setelah dirasanya bergetar.

"Delon, ya?" todong Ratih. "Kalau mau ke sini suruh mampir ke minimarket dulu, suruh beli snack yang banyak."

"Bukan. Ini email pengumuman pencarian host untuk booktour buku kedua Gilang."

"Lo nggak diterima, ya?" Ratih sengaja memelankan suaranya.

"Diterima, kok!"

"Terus, kenapa tampang lo biasa-biasa aja?"

Alea menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan cepat. Entah ada apa dengannya. Selama ini salah satu hal yang bisa membuatnya bahagia, adalah saat membaca puisi-puisi Gilang. Ia tahu cara menikmatinya tanpa penulisnya harus hadir di hari-harinya. Sama sekali tidak ada yang salah jika sekarang ia satu sekolah dengan Gilang. Tapi ada semacam keganjalan yang ia sendiri belum bisa menguraikan. Mungkin ini hanya sisa-sisa ketidakyakinannya pada kejadian sejak tadi pagi.

"Gilang pindah ke sekolah kita."

"What?" Meski sedang sakit, Ratih tetap memperlihatkan reaksi berlebih. Bahkan, ia sampai bangkit dari baringnya. Sekarang duduk sambil memeluk bantal, menunggu Alea kembali bersuara.

"Lo mau tahu apa lagi? Intinya, sekarang kita satu sekolah dengan Gilang."

"Kok, bisa? Alasannya? Dia di kelas mana? Anak-anak langsung pada ngomongin, nggak?"

"Tahu, ah!"

"Kalau gitu gue harus masuk besok, gue harus cari tahu sendiri. Lo emang selalu payah ngorek informasi."

"Lo udah sehat?"

Ratih mengangguk mantap, membuat Alea geleng-geleng tak habis pikir.

***

[Bersambung]


Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA

Senin, 01 Januari 2024

Rahasia Idola (Bab 2)


 

Ratih : Gue hitung sampai sepuluh. Kalau lo nggak keluar, gue tinggal.

WA dari Ratih memaksa Delon menyudahi upaya mempertampan diri di depan cermin yang sudah berlangsung tak kurang dari tiga puluh menit. Ia menyambar jaket jins yang tersampir di kursi meja belajar, lalu buru-buru memakainya sambil berlari keluar. Terengah-engah, Delon meraih handle pintu kemudi sedan putih yang terparkir di depan pintu gerbang rumahnya.

"Lo mau ngapain?" hadang Ratih.

"Gue yang nyetir."

"Ah, kelamaan. Udah, duduk di belakang aja!"

"Tapi, kan ...."

"Delon, beneran mau ditinggal, ya?" Suara Alea selalu ampuh membuat Delon tidak berkutik. Ia bergegas masuk ke mobil.

Mobil itu langsung melesat dengan tarikan gas awal yang agak kasar. Delon yang belum sempurna pada posisi duduknya langsung terhuyung.

"Woe, pelan-pelan, dong!" protesnya.

"Gagal, deh, dapat tempat duduk paling depan," rutuk Alea.

"Gara-gara Si Cebol, tuh."

"Iya, maaf. Perasaan janjiannya jam tiga, deh. Ini, kan, masih kurang 30 menit."

"Kenapa lo nggak bareng Gilang aja, sih?" Ratih terus mengomel. Ia memang selalu naik darah bila berhadapan dengan Delon.

"Gilang bareng tim dari penerbit. Masa gue nyempil di sana, sih?"

"Katanya sepupu?" Lagi-lagi Ratih memperdengarkan nada kebangsaannya, me-ra-gu-kan.

"Eh, Miss Drama, saudara kembar aja nggak harus selalu sama-sama, apalagi cuma sepupu?"

Kali ini Alea tak berselera menengahi. Biarkan saja sampai salah satunya mengibarkan bendera putih. Meski hal itu tidak akan terjadi.

Ia memilih mengenyakkan punggung di sandaran jok lalu memasang earphone dan memutar lagu "Say You Won't Let Go" milik James Arthur. Setelah memasuki bait pertama, ia meluncur ke Wattpad, lagi-lagi membaca puisi Gilang yang sebagian bahkan sudah ia hafal di luar kepala. Fakta bahwa beberapa menit lagi ia bisa melihat penulisnya secara langsung, membuat senyum Alea merumpun, abai pada suara perdebatan Delon dan Ratih yang masih terdengar sesayup.

Mal yang dituju ketiga remaja itu memang selalu ramai, terlebih hari ini. Ratusan orang yang didominasi ABG cewek sudah memadati pelataran sebuah toko buku yang menjadi lokasi Meet and Greet Gilang kali ini.

"Yah, jauh banget," keluh Alea sambil memandangi berlapis-lapis saf manusia di depannya. Tumpuan pandang mereka adalah panggung kecil yang dilapisi karpet merah di depan sana, dengan background foto selfie Gilang bersama buku perdananya. Kekesalan Alea karena gagal dapat tempat duduk paling depan sejenak terlupakan saat menatap foto Gilang di sana. Masih dengan senyuman khasnya, senyum miring ke kiri yang justru terlihat sangat pas di wajahnya.

Kesadaran Alea kembali ketika Ratih meremas lengannya agak kencang. "Sumpah, benar-benar mirip Song Joong Ki," gemas Ratih.

Alea lekas membebaskan lengannya. "Sakit, tahu!"

"Terus, orangnya mana?"

"Kok, jadi lo yang nggak sabaran? Baca puisinya aja nggak pernah," sewot Alea, lalu duduk melantai seperti yang lain.

Ratih turut duduk sambil tetap mengawasi panggung. Ia benar-benar tidak ingin melewatkan momen kemunculan Gilang.

"Gara-gara kelamaan nungguin Si Cebol, nih, jadinya nggak bisa lihat Gilang dari dekat." Akhirnya serangan yang sedari tadi dirisaukan Delon meluncur juga dari mulut Ratih.

Kali ini Delon hanya mencebik. Kalau saja mereka tidak di tengah keramaian, kelanjutannya sudah bisa ditebak.

Gemuruh-riuh mendadak senyap ketika seorang lelaki tambun berjalan ke tengah-tengah panggung. MC sepertinya. Ia mengecek suara mikrofon dengan mengetuk-ngetukkan jari telunjuk. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, ia menyapa ratusan wajah-wajah tak sabar menanti kemunculan sang idola.

"Selamat sore semuanya ...."

"SOREEE ...!"

Lelaki berkulit gelap di atas sana mulai berbasa-basi, menyuburkan rasa tak sabar yang mulai menjalar ke mana-mana.

"Kita sambut, Gilang Rendra!"

Sorak-sorai seketika bergemuruh. Saf mulai kacau. Banyak yang refleks berdiri demi mendapatkan angle yang pas untuk mengabadikan momen saat Gilang berjalan ke tengah panggung. Ratih sudah menerobos beberapa saf di depannya, meninggalkan Alea yang masih tenang di tempat semula. Alea menikmati pesona Gilang dengan caranya sendiri.

"Dimohon untuk kembali ke tempat duduk masing-masing." MC mengencangkan suaranya. "Nanti akan ada sesi foto-foto." Histeria pun berangsur-angsur reda. Mereka kembali ke titik semula, termasuk Ratih. Ia langsung memamerkan ke Alea beberapa penampakan Gilang di ponselnya.

"Biasa aja, dong!" sela Delon.

Kali ini Ratih cuma memutar bola mata. Tumben tidak langsung pasang jurus.

Histeria kembali meledak ketika Gilang dipersilakan untuk menyapa para penggemarnya. Gilang berdiri di tepi panggung. Tubuhnya agak condong ke depan sambil melambaikan tangan. Senyumnya bertaburan, menghipnotis ratusan cewek-cewek di depannya.

Setelah meleluasakan hujan blitz ke arahnya, Gilang kembali duduk. Obrolan seputar bukunya pun dimulai. Yang benar-benar menyimak seperti Alea hanya segelintir, selebihnya masih belum bisa move on dari pesona cowok jangkung di depan sana. bisik-bisik yang sesekali disela pekikan gemas terus merambat.

Alea merekam gerak-gerik Gilang, menyimak apa-apa yang diucapkannya.

Sesi tanya jawab dimulai. Ratih yang paling duluan angkat tangan. Alea melongo dibuatnya. Setelah dipersilakan, Ratih berdiri dengan penuh percaya diri. Hampir semua mata mengarah padanya.

"Gilang sudah punya pacar?" tanyanya tanpa canggung yang langsung disambut sorakan payah dari penggemar Gilang yang lain.

"Uuuuuu ...."

Alea menarik Ratih kembali duduk. Di depan sana Gilang hanya senyum sambil geleng-geleng dilempari pertanyaan yang memang selalu muncul setiap kali ia berhadapan dengan fans seperti ini.

"Dasar genit!" Umpatan Delon barusan berhadiah tabokan di bagian belakang kepalanya.

"Auw ...," ringis Delon sambil memegangi bekas tabokan Ratih.

Pertanyaan selanjutnya dari beberapa orang sudah menenggelamkan keriuhan yang ditimbulkan Ratih tadi. Alea tidak menyiapkan pertanyaan apa pun. Ia memang lebih suka menyimak.

Di tengah-tengah sesi tanya jawab, MC mengadakan kuis berhadiah selembar kaus eksklusif bergambar kover buku sang idola yang sudah ditandatangani bagian punggungnya. Suasana kembali riuh, semua tampak sangat menginginkan kaus itu.

"Ada yang hafal puisi-puisi Gilang?" pancing MC.

Banyak sekali yang langsung angkat tangan, termasuk Ratih. Delon yang sedari tadi diam, langsung tepuk jidat melihat tingkah Miss Drama.

"Oke, kita mau bukti. Gilang akan membacakan sebait puisi dari bukunya, yang bisa melanjutkan tanpa nyontek, langsung angkat tangan, ya." Selesai berucap, MC mempersilakan Gilang maju ke tengah-tengah panggung.

Mendadak senyap, menunggu Gilang bersuara.

"Dengar, Kekasih: menyepilah

demi menepikan gelisah yang selalu

Senyap akan temu. Aku ingin menjaga kita

Pada semoga-semoga yang kutuang

Diam-diam, dalam doa dan harapan

yang rela tumbuh mengakar berteman sepi"

Gilang merendahkan mikrofon di depan dada, lalu kembali menebar senyum. Tangan-tangan langsung mengacung tinggi-tinggi.

"Al, apa lanjutannya?" desak Ratih sambil meremas lengan Alea.

"Katanya hafal?" sindir Delon.

"Gue nggak nanya sama lo."

Tanpa tunggu lama, Gilang menunjuk cewek berambut panjang di sudut kiri. Tampak sangat senang, cewek itu langsung berdiri dan menyuarakan bait selanjutnya. Dan salah.

"Uuuuu ...."

Cewek itu memegangi pipinya yang memerah karena malu dan lekas merosot di balik punggung teman di sebelahnya. Gilang kembali menunjuk, kali ini cewek berhijab di tengah-tengah, yang bahkan sudah berdiri sebelum ditunjuk. Sayang, begitu diberi kesempatan, ia malah mengarang puisi baru. Semua orang tertawa dibuatnya.

Suasana mulai agak rusuh. Beberapa sembunyi-sembunyi membuka buku puisi Gilang, mencari kilat bagian yang dibacakan barusan. Kali ini sasaran telunjuk Gilang agak jauh ke belakang. Cewek yang ditunjuk malah menoleh kiri-kanan, mencari orang yang dimaksud karena sedari tadi ia tidak pernah angkat tangan. Di tengah gerakan tengak-tengok, tanpa sengaja tatapannya terpaut dengan tatapan Gilang. Saat itulah Gilang memberikan kode berupa gerakan alis, bahwa benar, memang dirinya yang ditunjuk.

Deg!

Bagaimana ini? Sadar semua mata telah mengarah padanya, mau tidak mau cewek itu harus berdiri. Ia menarik napas panjang sebelum bersuara.

"Belum tiba saat kita pulang, Kekasih

Maka biar saja asing meresap dalam palung

Sebab cinta kita telah menolak tua

Biar terlukis lebih dari kata-kata

Agar kita tak tersesat waktu

Agar cinta tak pernah piatu"

Sempurna. Banyak yang tepuk tangan, tapi lebih banyak yang kecewa. Kaus incaran mereka resmi jatuh ke tangan cewek yang baru saja berhasil melanjutkan puisi Gilang tanpa menyontek, Alea.

Gilang mengundang Alea maju ke depan untuk menerima hadiah. Tepuk tangan kembali bergemuruh. Tubuh Alea mendadak panas dingin saat berdiri berhadapan dengan Gilang. Terlebih saat cowok bermata sipit itu menyodorkan kaus yang sudah ditandatangani sebelumnya. Meski tengah gugup, Alea tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk foto bareng idola. Perasaan Alea makin tak keruan ketika Gilang merangkulnya. Alea menjabat tangan Gilang dan mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke tempat duduknya.

"Wah, keren." Ratih kembali tepuk tangan saat Alea berjalan ke arahnya. "Buat gue, ya!"

"Enak aja." Alea mencebik.

***

[Bersambung]

Klik link di bawah untuk baca lanjutannya;

KBM

KARYAKARSA