Kamis, 24 Juni 2021
Review Singkat Film "Layla Majnun"
Review Singkat Film "Peninsula"
Gokil! Geregetan. Pengin ikut nampol, pengin ikut lari. Ngos-ngosan sendiri jadinya, padahal gak ngapa-ngapain. Ending-nya dikemas sangat apik. Meskipun secara keseluruhan belum bisa mengungguli "Train to Busan", rasanya film ini gak cukup kalau cuma ditonton sekali.
Review Singkat Film "Raya and the Last Dragon"
Dari awal sampai ending dibikin speechless. Sekeren itu. Tadinya kupikir naganya bakal menyeramkan, ternyata dibikin unyu-unyu. Gemes banget. Pencinta film animasi wajib banget nonton ini.
Review Singkat Film "Hujan di Balik Jendela"
Konfliknya gimana ya? Kek pondasinya kurang kokoh, jadi gak semua penonton bisa menerima. Saya salah satunya. Gak ngerti aja jalan pikiran mereka. Belum lagi, traumanya puluhan tahun, tapi bisa sembuh dalam hitungan menit dengan cara yang menurut saya agak konyol. Udah gitu gak diperlihatkan tahapan yang logis.
Review Singkat Film "Mariposa"
Ini agak lebay, sih, tapi justru daya tariknya. Bukankah sebagian besar orang nonton film untuk cari hiburan?
Dari awal sampai ending manis banget. Visualnya itu loh. Propertinya kek dipertimbangkan banget. Kesannya kek berkunjung ke taman yang semuanya serba tertata rapi dan terkonsep. Saya suka. Terhibur banget.
Review Singkat Film "Geez & Ann"
Selain unsur persahabatan yang kuat banget, entah apa lagi yang menarik dari film ini. Jujur saja, saya kurang menikmati. Entahlah, aku gak suka karakter Ann. Di sisi lain, Geez dan mamanya terposisikan amat sangat realistis.
Sabtu, 12 Juni 2021
Review Novel "Trauma"
Judul : Trauma
Penulis : Boy Candra
Penerbit : Mediakita
Editor : Fenisa Zahra
Layout : Widuri Dwi Astuti
Cover : Sekar Bestari
Cetakan : Pertama, 2020
Tebal : 144 hlm
ISBN : 978-979-794-615-9
Blurb:
Semua seolah baik-baik saja. Tawa yang lepas. Lampu panggung yang meriah. Kehidupan yang mungkin diinginkan banyak orang.
Aku memiliki beberapa hal yang orang lain tidak miliki. Semua tampak sempurna. Seolah tidak ada celah untuk luka.
Namun, jauh di dalam diriku, kesepian selalu datang menghampiri. Kesedihan yang sering kusembunyikan.
Aku bahkan tidak berani membuka hati lebih luas lagi. Orang-orang yang pernah datang di masa lalu membekaskan rasa takut yang membeku.
Aku takut tidak menemukan orang yang tepat. Takut terulang lagi luka yang sama. Takut jatuh lagi pada rasa sayang yang akhirnya sia-sia.
***
Novel rasa kumcer. Itu yang aku rasain saat membaca buku ini. Secara keseluruhan ceritanya seputar perjalanan asmara Kimara yang jauh dari kata mulus. Yang mana setiap bagiannya akan terfokus pada satu lelaki yang dekat dengan Kimara. Mulai dari cinta putih abu-abu hingga yang nyaris menikah tersaji dengan lengkap. Tentu saja dengan konflik yang berbeda-beda, yang membikin kita betah dan membuat novel ini seolah mengusung warnanya sendiri dibanding karya-karya Boy Candra lainnya.
Buku ini tidak akan membuat kita tercengang atau tiba-tiba membekap mulut. Caranya memikat tidak demikian. Ia hadir dengan lika-liku cinta yang sangat relate dengan kehidupan banyak orang. Itulah magnetnya. Selain itu bahasanya ringan banget tapi tetap ada ciri khas Boy Candra-nya.
Kerennya, dari bab ke bab penulis tidak hanya berusaha menampilkan konflik yang berbeda, tapi juga menggambarkan sosok Kimara yang bertumbuh dari waktu ke waktu. Dan itu berhasil banget. Cara Kimara menghadapi patah hatinya dari lelaki pertama hingga terakhir, secara emosional terasa banget pergerakan dewasanya.
Aku paling suka epilognya. Di situ ada sedikit kejutan yang akan membuat pembaca bergumam, "Wah, yang namanya jodoh."
Novel ini mungkin tidak punya kekurangan secara spesifik, hanya saja untuk aku pribadi belum bisa membekas lama-lama di kepala. Kisah Kimara mungkin langsung hilang begitu aku memulai bacaan baru.
Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang masih meraba-raba seperti apa sebenarnya bentuk cinta yang kamu butuhkan.






