Rabu, 06 Januari 2021

Review Novel "Kami yang Tersesat pada Seribu Pulau"

 


Judul            : Kami yang Tersesat pada Seribu Pulau

Penulis        : Andaru Intan

Penerbit      : BasaBasi

Editor          : Farrahnanda

Layout         : Amara

Cover           : Airawan Ratra

Cetakan       : Pertama, Mei 2018

Tebal            : 184 hlm

ISBN              : 978-602-5783-09-8


Blurb:


"Halaman berikutnya, Ayah menuliskan jadwal-jadwal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Kemudian nama dan jabatan rekan-rekan kerjanya. Sampai pada beberapa lembar setelahnya, tulisan Ayah sudah tak dapat dibaca. Beberapa lembar juga sudah disobek. Sepertinya Ayah berusaha menulis, tapi gagal beberapa kali sampai ia kesal dan memenuhi lembaran itu dengan coretan. Lembar demi lembar agenda terlewati sampai-sampai aku tak sadar air mataku menetes begitu saja."


Tia tumbuh berjarak dengan Ayah. Sampai, suatu hari, Tia gagal masuk perguruan tinggi negeri dan harus tinggal bersama Ayah di Ternate. Bersama Alang, seorang laki-laki pegiat komunitas baca yang dikenalnya dalam suatu insiden kecil, Tia mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri tahun depan dan menghadapi kenyataan bahwa Ayahnya pelan-pelan diserang demensia.


Alur Cerita:

Tia pernah mengalami masa lalu yang buruk, bahkan nyaris hancur karena gejolak asmara muda. Beruntung, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri. Gagal masuk perguruan tinggi negeri sesuai impian ayahnya seolah menjadi puncak dan titik balik dari semua kelalaian Tia selama ini. Akhirnya ia memutuskan ke Ternate, tinggal bersama Ayah untuk menebus rasa bersalahnya.

"Mengetahui kegagalanku, rupanya Ayah tidak marah--tapi (tentu saja) kecewa."_(hal 33)

Suatu hari Tia tercebur ke laut karena terdorong oleh serombongan anak kecil yang sedang asyik berlarian. Seorang laki-laki langsung terjun menolongnya. Tia tidak apa-apa, tapi hapenya tidak bisa diselamatkan.

"Lelaki yang terjun ke laut itu bernama Alang. Kami berkenalan di atas motor bebeknya sewaktu dia mengantarkanku pulang--tanpa berjabat tangan."_(hal 40)

Alang mengajak Tia bergabung di rumah baca yang dikelolanya bersama Ita dan Rambo. Tia sempat ragu, tapi karena orang-orang di rumah baca itu sangat bersahabat, akhirnya dia bersedia. Padahal sebenarnya salah satu alasannya karena dia mulai senang melihat Alang. Tia hanya tidak menyadari, ada satu hal di rumah baca itu yang luput dari pantauannya.

"Alang bilang, anak-anak di rumah baca, tidak butuh seorang yang cerdas, yang pandai, atau yang memukau--mereka hanya butuh seseorang yang mau menemani mereka belajar, yang bisa membimbing mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka."_(hal 57)

Di tengah kesibukan barunya, serta hari-hari yang semakin berwarna berkat kehadiran Alang, Tia mendapati fakta baru yang membuatnya sangat terpukul. Ayahnya mengalami demensia sehingga terpaksa pensiun dini dan kembali ke Surabaya. Tia sangat berat meninggalkan Alang, tapi dia tidak punya pilihan.

"Aku akan merindukannya. Dan aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya."_(hal 135)

Lantas, bagaimanakah kelanjutan hubungan Tia dan Alang? Mampukah mereka mempertahankannya dari pulau yang berbeda?

Yuk, segera miliki novel ini dan temukan sendiri jawabannya.


Review:

Aku selalu suka cerita bertema orangtua, banyak pesan yang bisa dipetik. Apalagi dalam novel ini, didampingi kisah romance yang elegan dan jauh dari kesan menye-menye.

Novel ini dominan narasi, terlebih di awal-awal. Dan entah kenapa aku kurang menikmati openingnya. Sampai pada saat Tia kembali ke Ternate, aku baru nemu feel-nya. Aku suka karakter Tia, benar-benar menggambarkan sosok remaja cewek kebanyakan. Melalui POV 1, penulis memaparkan segala kekurangan dan keterbatasannya dengan sangat meyakinkan.

Jujur, novel ini tidak sesuai ekspektasiku. Pas baca blurbnya, kupikir bakal disuguhi hubungan ayah-anak yang dramatis, mengharu biru, atau apalah. Benar, sih, kisah Tia dan ayahnya cukup mengaduk emosi, tapi kurang nendang. Untungnya hal itu tertutupi dengan keindahan alam serta ragam khas Ternate yang dimunculkan penulis di titik-titik yang pas.

Tidak ada yang salah dengan novel ini, hanya saja jika dibandingkan dengan "Teman Hidup" dan "33 Senja di Halmahera", yang ini agak di bawah. Setelah dibikin tercengang oleh kedua karya spektakuler itu, yang ini jadi terasa biasa aja. Ini balik lagi soal selera, dan mungkin aku yang telanjur berharap dibikin terpukau lagi sejak awal. Tapi apa pun itu, aku selalu suka karya penulis ini, dan insyaallah akan selalu berburu karyanya.

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang butuh bacaan bernutrisi. Settingnya Indonesia banget, konfliknya pun membumi. Dari awal sampai akhir banyak banget pelajaran yang bisa diambil.

Review Novel "Timeless Love"

 


Judul        : Timeless Love

Penulis    : Nurmala Sjahrazad

Penerbit : Qanita

Editor      : Rini Nurul Badariah

Layout     : Nono

Cover       : Muhammad Usman

Cetakan   : Pertama, Juli 2013

Tebal        : 200 hlm

ISBN          : 978-602-9225-89-1

Blurb:


Mama:
Sabar dan berjiwa besar, tapi terlalu lemah bila menyangkut lelaki satu itu. Dan itu yang aku benci.


Papa:
Tak bertanggung jawab. Pengecut. Paling kubenci di dunia.


2012,
Malika: pemalas, pemberontak, dan pembenci laki-laki. Dia suka gonta-ganti pacar sebagai wujud protesnya terhadap sang ayah yang menghilang saat dia masih 5 tahun. Dia kesal dengan Mama yang dianggapnya terlalu pemaaf bila menyangkut lelaki satu itu.


1982,
Akibat jatuh dari loteng, Malika terdampar di masa lalu. Masa ketika sang Mama dan sang Papa baru bertemu. Masa ketika kedua orangtuanya memperjuangkan cinta mereka. Dari pengalamannya ini, Malika mendapat jawaban atas menghilangnya sang Papa.
Tetapi, di tahun itu pula Malika bertemu dengan Damar, sahabat karib papanya. Tak disangka benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Bagaimanakah akhir kisah cinta mereka?


Alur Cerita:

Malika sangat membenci Papa, karena dia sudah meninggalkan Mama setelah kecelakaan dan lumpuh. Karena itu Malika ingin balas dendam dengan menyakiti banyak lelaki.

"Justru saat ini Lika sedang memberi balasan yang setimpal atas sakit hati yang pernah Lika alami! Lika akan membuat laki-laki itu merasakan bagaimana sakitnya dipermainkan dan dikhianati!"_(hal 18)

Suatu hari Malika jatuh dari loteng dan membuatnya terdampar ke masa lalu. Saat terbangun tahu-tahu dia sudah berada di Salatiga, tepatnya rumah Bu Lastri, Neneknya. Di rumah itu Malika bertemu Panji, papanya yang masih muda. Malika kaget luar biasa saat mendapati kalender di dinding bertuliskan tahun 1982. Karena masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan bingung saat ditanya asal-usul, akhirnya Malika pura-pura lupa ingatan. Kemudian dia diberi nama, Arum.

"Kamu sampai lupa tahun juga, ya? Sekarang masih tahun 1982. Tahun baru masih dua bulan lagi."_(hal 34)

Saat pertama kali melihat Malika, Panji dan Bu Lastri merasa tidak asing. Selain karena wajahnya sangat mirip dengan Sekar, mereka merasa punya ikatan batin. Malika sadar, Sekar yang mereka maksud pasti mamanya. Dia jadi penasaran ingin bertemu mamanya yang seumuran dengannya di tahun itu.

"By the way ... Mama mana, ya?"_(hal 45)

Akhirnya Malika punya kesempatan mengantarkan surat Panji kepada Sekar. Dari situ terbongkar, ada seseorang yang tidak menginginkan mereka bersatu. Surat-surat mereka sebelumnya tidak pernah sampai.

"Sudah hampir lima kali aku mengirim surat ke Mas Panji, tapi baru sekarang aku dapat balasannya."_(hal 59)

Di tengah kerumitan itu, Damar muncul. Lelaki itu sahabat karib Panji. Dia sudah lama merantau ke Jakarta. Dan kepulangannya kali ini karena rencana perjodohan. Nahas, perempuan yang akan dijodohkan dengannya ternyata Sekar.

"Aku tidak tahu kalau perempuan yang akan dijodohkan denganku itu kekasih Panji, Rum."_(hal 83)

Bagaimana persahabatan Panji dan Damar setelah ini?
Lalu Malika, berhasilkah dia menemukan sesuatu yang akan mengubah pandangannya terhadap Papa selama ini? Bisakah dia kembali ke zamannya?

Review:

Cerita tentang seseorang yang terlempar ke masa lalu bukan hal baru, tapi motif yang dihadirkan cerita ini cukup unik dan menarik. Namun, entah kenapa aku kurang bisa menikmati. Rasanya ada sesuatu yang kurang. Tahun 1982 pun menurutku kurang dieksplor. Aku tidak menemukan sesuatu yang 'wow' di sana. Untungnya kehadiran Damar lumayan menyelamatkan, agar kisah ini nggak hambar-hambar amat.

Cerita ini disampaikan dengan ringan, gaya bertutur penulis juga rada slengean, menyesuaikan dengan karakter Malika sebagai si pencerita.

Aku suka banget endingnya, sempat dibikin berkaca-kaca.

Overall, novel ini cocok banget buat kamu yang butuh bacaan ringan tapi tetap menghibur. Kita juga semakin yakin, bahwa keluarga memang harta yang paling berharga.

Review Novel "Seven Days"

 



Judul        : Seven Days

Penulis    : Rhein Fathia

Penerbit : Qanita

Editor      : HP Melati

Layout     : Nono

Cover       : Aditya Satyagraha

Cetakan   : Pertama, Februari 2013

Tebal        : 296 hlm

ISBN          : 978-602-9225-72-3

Blurb:


Nilam's Diary


Day 1
Selamat pagi, Pantai Kuta. Selamat pagi, Shen.


Day 2
Ah, kamu membawaku ke Pasar Seni Sukowati, tempat favoritku.


Day 3
Sendratari Ramayana ini membuatku bertanya-tanya, apa aku sudah bertindak tidak setia?


Day 4
"Aku juga punya rasa takut. Aku takut kamu terluka!"


Day 5
Seminyak, kamu, kejutan, dan pantai di malam ini.


Day 6
Pantai Padang-Padang ini menjadi saksi kamu mengacaukan semuanya ....


Day 7
Bandara Ngurah Rai. Kami, sepasang sahabat sejak kecil, yang kini bersikap seperti orang asing .....


Alur cerita:

Nilam sangat ingin ke Bali, tapi dari sekian kesempatan, selalu saja ada halangan. Makanya, saat kesempatan itu datang lagi, dia sangat antusias. Apa lagi perginya bareng Shen, sahabatnya sejak kecil, yang bisa diandalkan dalam segala hal. Shen terbiasa hidup penuh perencanaan, segala sesuatunya dipersiapkan jauh-jauh hari. Termasuk keberangkatan mereka ke Bali. Nilam yakin, tidak akan ada masalah selama bersama Shen.

"Dia terbiasa mengerjakan segala sesuatu dengan taktis dan terencana."_(hal 19)

Seperti pengalaman pertama pada umumnya, Nilam sangat menikmati penerbangan pertamanya. Ada letupan dalam dadanya yang tak perlu diutarakan ke orang lain, cukup untuk dia terjemahkan sendiri.

"Perasaanku begitu takjub. Tanpa sadar aku melambaikan tangan, entah pada siapa."_(hal 26)

Dan pada akhirnya Nilam tiba di Bali, tempat yang sudah lama didambakannya. Di sini dia akan menikmati liburan selama 7 hari bersama Shen. Sederet tempat-tempat wisata pun sudah diagendakan. Shen yang mengatur semuanya.

"Akhirnya, aku menjejakkan kaki di pulau istimewa ini!"_(hal 27)

Nilam sangat menikmati petualangannya bersama Shen dari hari ke hari. Sampai-sampai dia tidak sadar ada konspirasi kecil-kecilan di balik liburan ini. Dan bagaimana jika 7 hari berhasil mengubah sesuatu dalam diri Nilam? Nilam harus ekstra hati-hati, sebab sepulang dari sini dia berencana menjawab lamaran Reza, pacarnya.

"Sore ini, dalam balutan jingga di pantai penuh pesona, di tengah riuh yang tidak memedulikan keberadaan kami, sudut hatiku berujar dengan jujur."_(hal 228)

Apa yang akan terjadi setelah petualangan Nilam dan Shen di Bali berakhir?
Yuk, segera baca novel ini dan temukan sendiri jawabannya.

Review:

Hal pertama yang bikin aku tertarik sama novel ini adalah konsepnya. Bab diatur sesuai jumlah hari petualangan Nilam dan Shen di Bali. Hal ini membuat kita berasa benar-benar terlibat dalam liburan mereka.

Temanya terbilang umum, alurnya juga aman-aman saja. Tidak ada kejutan yang 'wow' serta ending yang sudah jelas banget arahnya. Tapiii ... Penulis punya jurus jitu hingga cerita ini menjerat dan kamu tidak tega melepaskannya sebelum tamat.

Di awal-awal kita diajak menikmati suasana jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di Bali. Kemudian perlahan-lahan kita mulai dibikin geregetan dengan sesuatu yang tengah merambat. Pada akhirnya menarik napas panjang.

Dari awal sampai akhir cerita ini benar-benar terasa hidup. Karakter Shen dan Nilam berhasil menggerakkan cerita serealistis mungkin. Interaksi mereka manis-manis gimana gitu. Sentuhan romantis diberikan dengan takaran yang pas, tanpa menanggalkan status mereka sebagai sahabat. Justru yang rada tanggung ini yang bikin semangat pengin terus baca. Kekonyolan-kekonyolan Nilam pun jadi bumbu pelengkap, membikin kisah ini makin segar.

Aku hanya kurang nyaman dengan kemunculan salah satu tokoh menjelang ending. Mungkin lebih baik kalo tokoh ini disinggung sedikit di awal, agar kemunculannya tidak terkesan dadakan.

Overall, novel ini cocok banget buat kamu yang pengin baca sambil jalan-jalan, pengin melihat dan mengenal tempat-tempat di Bali sambil tetap rebahan di kamar. Bukan cuma diajak jalan-jalan, loh, tapi ada pengenalan singkat juga seputar sejarah beberapa tempat yang dikunjungi. Keren banget, kan?

Jumat, 17 April 2020

Review Novel: Marginalia




Judul             : Marginalia

Penulis          : Dyah Rinni

Penerbit        : Qanita

Editor             : Triani Retno Adiastuti

Cover             : BLUEgarden

Cetakan         : Pertama, Februari 2013

Tebal              : 304 hlm

ISBN               : 978-602-9225-82-2

Blurb:

Aku Yudhistira, aku Arjuna, aku Bima, aku Nakula Sadewa. Berapa Bharatayudha harus kujalani. Demi kamu. Drupadiku?

Aruna

CENGENG! Tulisan singkat dan rapi di kumpulan puisi Rumi kesayangan almarhum Padma membuatku terbakar. Kurang ajar! Berani-beraninya cewek dingin berhati belatung itu menodai kenangan Padma. Belum tahu dia berhadapan dengan siapa. Aruna, vokalis Lescar, band rock yang paling diidolakan. Tunggu pembalasanku!

Drupadi

Aku tak punya waktu untuk cinta. Meski nyaris tiap hari aku berhubungan dengan yang namanya pernikahan, ini hanya urusan bisnis semata. Aku tak percaya romantisme, apalagi puisi menye-menye. Hidup ini terlalu singkat untuk jadi melankolis. Namaku memang Drupadi, tapi hatiku sudah tertutup untuk laki-laki.

"Kekasih tak begitu saja bertemu di suatu tempat, mereka sudah saling mengenal sejak lama."__Rumi

***

Alur Cerita:


Perang marginalia (catatan di pinggir buku) mengawali pertikaian absurd Aruna dengan Drupadi.

Drupadi tidak sengaja menemukan Marginalia, kafe terpencil yang menjadikan koleksi buku-buku tua sebagai ciri khas. Suatu hari dia harus kembali ke sana untuk urusan bisnis. Di situlah segalanya bermula. Tanpa pemahaman lebih lanjut, dia terpaksa menulis marginalia pada sebuah buku demi melancarkan tujuannya. Namun siapa sangka, buku yang dipilihnya justru buku kumpulan puisi Rumi, yang di dalamnya sudah dipenuhi marginalia yang ditulis oleh Padma, alharhuma kekasih Aruna.

"Tanganku terus berjalan. Terkadang aku mengambil satu atau dua buku untuk melihat isinya. Namun tak lama, buku itu kukembalikan ke tempatnya. Baru beberapa saat kemudian, aku menemukan apa yang kucari."_(hal 44)

Aruna meradang mendapati kenangan orang yang sangat dicintainya dinodai. Ia berjanji akan menemukan pelakunya dan membuatnya menyesal.

"Aku menuliskan kata-kata terbaik yang bisa aku pikirkan dan kemudian mengembalikan buku itu ke rak. Aku tak sabar menunggu balasannya."_(hal 50)

Drupadi orang yang paling tidak percaya keajaiban, terlebih jika hal itu harus diawali dari sebuah coretan kecil. Namun siapa sangka, marginalianya benar-benar mendatangkan hal besar dalam hidupnya.

"Suaranya terus menghantuiku. Suaranya yang indah, dalam, dan membius itu tidak bisa membuatku berhenti berpikir. Jauh di dalam pikiranku, aku merasa pernah mendengarnya. Tetapi di mana?"_(hal 100)

Aruna berhasil menemukan Drupadi. Namun siapa sangka, amarahnya luntur seketika. Yang terjadi selanjutnya sungguh di luar kendali. Tidak ada kisah yang selamanya mulus. Pasti ada guncangan yang akan membuat kita berpikir untuk menyerah. Tapi Aruna dan Drupadi punya cara masing-masing untuk bertahan. Dan itu berangkat dari patahhati-patahhati sebelumnya.

"Ia tersenyum tipis padaku, tetapi itu lebih dari cukup untuk mengaduk jiwaku, membuatku tak mengenali diriku sendiri."_(hal 109)

Lalu, bagaimana kisah Aruna dan Drupadi selengkapnya setelah dipertemukan oleh marginalia?
Yuk, miliki novel ini dan bersiaplah untuk larut dalam pertikaian emosi.

***

Review:

Awalnya kupikir marginalia sebatas nama kafe dan hanya akan jadi gaya-gayaan di awal. Nyatanya, ini benang merah yang berkesinambungan hingga akhir. Penulis berhasil menautkan takdir kedua tokoh utama dengan cara yang tidak biasa. Unik banget. Kemudian selaku pembaca, aku menemukan segurat teka-teki di setiap bab yang akan sangat menghantui jika tidak lekas dituntaskan.

Novel ini menggunakan POV 1 jamak. Kendati demikian, penokohannya kuat banget sehingga kita bisa menemukan warna yang berbeda di part Aruna dan Drupadi. Meskipun peralihannya cukup rapat, sama sekali tidak menggangu karena pemenggalan atau peralihannya selalu di titik yang tepat.

Bahasanya segar. Manis-manis gimana gitu. Aku suka kehidupan Aruna sebagai artis tidak terlalu digembor-gemborkan. Penulis malah menyajikannya dari sisi paling realistis.

Keunggulan novel ini di pengolahan konfliknya. Astaga ... gila! Rumit, menjebak, tapi tidak membingungkan. Penasaran banget, iya. Hehehe ....

Di 1/4 menjelang ending, aku bacanya udah kayak dikejar anjing, saking gak sabar pengin tahu seperti apa penyelesaiannya.


Bicara kekurangan, entahlah. Rasanya tidak ada waktu memikirkan ini. Anggap aja aku tidak menemukannya. Hanya saja, cara Aruna membuktikan cintanya dengan membaca semua buku di Marginalia ... gimana, ya? Penerimaanku terlalu dangkal untuk adegan itu. Terkesan maksa dan agak janggal akan dilakukan oleh pribadi seperti Aruna. Terus, saat Drupadi dibimbing untuk menemukannya, apa iya, dia masih sempat buka-buka buku saat kondisinya lagi kacau balau? Itu aja, sih.

Overall, ini sajian kisah yang cocok banget buat kamu yang merindukan pengalaman baru dalam membaca. Kita diajak untuk percaya keajaiban, dan semua yang terjadi hari ini, bisa jadi petunjuknya sudah ada di tahun-tahun sebelumnya tanpa kita sadari.



Selasa, 31 Maret 2020

Review Novel: Always be in Your Heart


Judul            : Always be in Your Heart

Penulis         : Shabrina Ws

Penerbit       : Qanita

Editor            : HP Melati

Layout          : Nono

Cover            : Agung Wulandana

Cetakan        : Pertama, Februari 2013

Tebal             : 236 hlm

ISBN              : 978-602-9225-77-8

Blurb:

Marsela

Aku selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat, hingga terbit lagi.
Aku telah melewati musim yang berganti berulang kali.
Tapi, kau tak pernah hadir di sini.
Kini setelah sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi, bahkan pada hatiku sendiri.

Juanito

Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah bicara.
Bahkan, sungai bisa saja berubah muara, sekuat apa pun aku bertahan, sepuluh tahun telah mengubah banyak hal.
Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama.

***

Alur Cerita:

Sela dan Juan tumbuh bersama. Mereka tetangga, bahkan halaman rumah mereka menyatu. Juan yang lebih tua tiga tahun selalu memosisikan Sela sebagai adik. Sela tidak keberatan. Meski terkadang Juan penuh aturan dan suka memaksa, nyatanya gadis itu aman dan nyaman berada di sisi Juan. Begitu seterusnya, hingga Juan sadar dan menemui batasan untuk memulai atau memastikan sesuatu yang baru.

"Kamu bukan anak-anak lagi. Aku tidak bisa lagi menjagamu seperti dulu, dan mengenalkan kepada semua teman-temanku kalau kamu adalah adikku."_(hal 60)

Namun, rencana yang sudah disusun rapi terpaksa dilupakan. Semuanya berantakan di balik referendum 99. Bentrok di mana-mana mengharuskan semua orang mengambil keputusan dengan cepat dan tegas, termasuk Sela dan ayahnya.

"Pilihan keluarga mereka berbeda. Kini jelas sudah."_(hal 77)

Perpisahan tiba-tiba membentangkan jarak, rindu, serta puing-puing harapan yang tidak menentu.

"Ermera telah jauh tertinggal di belakang sana. Kebun kopi, koto, Royo, Sungai Gleno, dan semua impiannya bersama Juanito. Semua menjelma menjadi satu nama, kenangan."_(hal 81)

Di tanah pengungsian, Sela berusaha menjalani kehidupannya senormal mungkin, termasuk menerima kehadiran Randu, lelaki yang seringkali membuat Sela tercengang akan kebaikannya.

"Ayahnya sesekali mengatakan pada Marsela bahwa Randu adalah laki-laki yang baik dan sopan. Marsela tak pernah menanggapi, dia tak ingin semakin lama pembicaraan tentang Randu semakin jauh."_(hal 93)

Sepuluh tahun berlalu, Sela masih saja mendapati aroma kopi dari Ermera sana memanggil dengan bahasa paling tulus. Ia harus menetapkan pilihan sekali lagi. Kembali? Atau menjauh dan melupakan segalanya? Dan kalau pun ia akhirnya kembali, apa yang akan ditemuinya? Masihkah keadaan tetap sama?

"... Yang pasti aku ingin menengok tanah kelahiranku."_(hal 164)

Penasaran?
Yuk, temukan novel ini, baca sendiri dan temani Sela menetapkan pilihan.


***

Review:

Di awal membaca prolog, aku agak tertatih. Tapi pas tahu yang sedang bercerita adalah seekor anjing, wah, antusiasme naik beberapa tingkat.

Di bab pertama masih selow, tapi setelah ketemu jalan utama cerita ini, selanjutnya hanyut dan tahu-tahu udah ending. Astaga, semelenakan itu?

Permainan alur maju mundur cantik sekali, meski rasanya ada beberapa bagian yang buru-buru. Masih ingin berlama-lama dengan kebersamaan Juan dan Sela tapi penulis udah berganti topik.

Entahlah, aku selalu merasa akan lebih baik kalo masa lalu Juan dan Sela ditampilkan lebih banyak. Tapi segini aja udah cukup, kok. Sensasinya lumayan mematikan untuk pembaca yang baperan. Hehehe ....

Uniknya, kisah ini dilatarbelakangi masa-masa saat Timor Leste akan memisahkan diri, sampai sepuluh tahun setelahnya. Jadi nggak hanya kisah romance, tapi novel ini juga menyuguhkan salah satu sejarah penting. Aku yang tidak begitu tahu peristiwa referendum 99 sangat berterima kasih kepada penulis.

Ohya, tadi aku udah singgung soal anjing, kan? Di sini ada dua anjing, Lon dan Royo. Pada akhirnya mereka paling membekas di benakku. Bagaimana penulis memosisikan mereka di cerita ini keren banget. Mungkin penulis lain akan berpikiran sama, tapi nggak yakin akan sedetail ini. Anjing-anjing itu dibikin bukan sebatas figuran.

Soal kekurangan, aku tidak menemukannya. Mungkin saking asyiknya atau memang tidak ada. Aku hanya kepikiran Randu setelah cerita ini selesai. Lah, kenapa? Baca, deh. Kamu akan tahu. Kekeliruan kecil pasti ada, tapi itu umum banget.

Overall, novel ini recommended banget buat kamu yang menyukai kisah romance berlatar sejarah. Meski kerusuhan di balik referendum tidak ditampilkan secara brutal, tapi nuansa mencekamnya cukup terasa. Dan aku nyesel banget baru baca sekarang.

Senin, 23 Maret 2020

Review Novel: Hati yang Berbalut Sutra di Pangkuan Sengkang




Judul             : Hati yang Berbalut Sutra di Pangkuan Sengkang

Penulis         : Ammy Nurrahmi

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor            : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : Meditation Art

Cetakan        : Pertama, Januari 2020

Tebal             : 243 hlm

ISBN              : 978-623-247-048-4

Blurb:

Berbekal selembar sutra peninggalan sang bapak, Nadiyah Halim nekat ke tempat yang belum pernah dia kunjungi. Dia harus bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi walinya saat menikah nanti dan juga demi mendapat restu akan hubungannya dengan sang kekasih, Aliff Imran.

Pencarian Nadiyah membawanya bertemu dengan Alfandy Shidqy, sepupunya yang merupakan hafidz yang akhirnya banyak membantu proses hijrahnya. Kedekatan itu berbuah perjodohan dari pihak keluarga mereka.

Diam-diam Aliff juga memulai proses hijrahnya. Memantaskan diri untuk menjadi pendamping dan pemimpin yang ideal bagi Nadiyah.

Dan Tuhan pun menunjukkan kasih sayang-Nya, menyatukan hati yang tertaut oleh doa, menciptakan alur cerita tanpa melukai hati hamba-Nya. Lalu, kepada hati siapakah kasih sayang itu tercurah?

***

Alur Cerita:

Nadiyah sama sekali tidak punya gambaran akan kampung halaman bapaknya di Indonesia. Tetapi untuk sebuah tujuan mulia, dia harus ke sana. Banyak hal yang memberatkan langkahnya untuk meninggalkan Singapura, salah satunya Aliff, kekasihnya. Dia harus meyakinkan lelaki itu terlebih dahulu, akan maksud kepergiannya.

"Jika Abang serius dan nanti kita akan menikah, harus ada yang menjadi wali Nadiyah menggantikan Bapak."_(hal 23)

Berkat paket pelayanan lengkap sebuah homestay yang dipesannya sebelum berangkat, Nadiyah berhasil tiba di Sengkang tanpa hambatan. Selanjutnya dia akan mencari keberadaan keluarga almarhum bapaknya.

"Butuh waktu sekitar lima jam menempuh jarak Makassar ke Sengkang. Tepat pukul 01.00 dini hari, Nadiyah tiba di Sengkang."_(hal 30)

Kota Sengkang tidak begitu besar. Dengan mengandalkan identitas pusat produksi sutra--ikon kota itu--Nadiyah berhasil menemukan keluarga bapaknya, meski sempat diwarnai insiden kecil.

"Belum Nadiyah mengucapkan sepatah kata, wanita di depannya terkejut sambil memegang dada saat melihat benda yang dipegang Nadiyah."_(hal 42)

Nadiyah bersyukur, keluarga almarhum bapaknya menyambutnya dengan hangat. Mereka keluarga besar yang sangat rukun dan religius. Hal ini berdampak besar terhadap Nadiyah. Di tengah keluarga yang sangat membudayakan makan bersama itu, dia menemukan banyak hal yang belum disadarinya selama ini. Dan terkhusus untuk Fandy, sepupunya, Nadiyah memendam sebentuk kekaguman yang berbeda. Lelaki itu tipe imam idaman.

"Dia yang jadi imam salat Subuh tadi. Lantunannya indah, kan? Wajahnya juga tidak mengecewakan. Fansnya banyak, loh."_(hal 55)

Lantas, bagaimana keseharian Nadiyah di kampung halaman bapaknya? Masihkan dia ingat tujuan utamanya? Dan bagaimana dengan semua hal yang ditinggalkannya di Singapura?

Jangan cuma menduga-duga, ya, karena kisah ini punya plot twist yang cukup menjebak tapi manis. Yuk, segera miliki novel ini.


***

Review:

Novel ini dipaparkan dengan sederhana. Ibarat jalanan, tikungannya nggak banyak. Konfliknya juga bukan tipe yang bikin kening berkerut, tapi dari semua itulah keunggulannya. Di setiap bab aku menemukan letupan-letupan yang membikin betah. Semacam keberanian melangkah, kehangatan keluarga besar, hati yang diam-diam terketuk hidayah, dan penafsiran cinta dengan cara yang agung. Sungguh, semua itu melenakan.

Aku bangga sama penulisnya, cukup peka untuk mengangkat sutra yang menjadi ikon kotanya menjadi benang merah cerita. Idenya sederhana tapi berdampak luar biasa. Dia seolah menegaskan kembali sesuatu yang mulai redup dari Kota Sengkang. Karena kebetulan kota kelahiranku bertetangga dengan Sengkang, jadinya cukup tahu, bahwa dulu pemaknaan sutra memang sesakral itu. Meski porsinya kecil, penulis berhasil mengeksplor Kota Sengkang dan menghidupkannya dengan aura sutra dalam cerita ini.

Hal yang paling Kusuka dari cerita ini adalah gambaran kehangatan sebuah keluarga besar. Kalau kamu bacanya pas lagi di perantauan, dijamin langsung kangen pulang kampung. Selain itu nuansa religinya cukup kental dan tidak dipaksakan. Setiap tokoh digambarkan secara wajar, sehingga kita pun mudah diajak terlibat dalam setiap adegan.

Menurutku kekurangannya cuma satu, penulis kurang hati-hati menyimpan senjata pamungkasnya sehingga berpotensi ketahuan sebelum waktunya. Aku sendiri bisa menebak, tapi makin ke belakang makin banyak hal yang membuat kita betah. Ohya, untuk para cewek, siap-siap jatuh cinta sama sosok Fandy. Hehehe ....

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang butuh siraman rohani secara tidak langsung. Tidak ada kalimat menggurui dalam novel ini, semuanya tersampaikan dengan halus dan sesuai porsi latar belakang parah tokohnya. Sepanjang cerita, ada bagian-bagian yang membuat hati bergetar dan tiba-tiba ingat Tuhan.

Sabtu, 22 Februari 2020

Review Novel: Atambua, Cukup Luka Itu yang Terakhir




Judul            : Atambua, Cukup Luka Itu yang Terakhir

Penulis         : Ferdiansyah Soenaryo

Penerbit       : Jejak Publisher

Editor            : Ansar Siri

Layout          : Tim CV Jejak

Cover            : M. Gustiar Perdana

Tebal             : 237 hlm

Cetakan        : Pertama, Januari 2020

ISBN              : 978-623-247-050-7

Blurb:

Tidak ada yang lebih diinginkan Hanan Ardinata selain segera menyelesaikan program internsip di Atambua. Terlebih adanya Resti Karenina, gadis super cerewet yang membantunya dan terkadang menyuruh melakukan hal-hal yang sangat membosankan.

Tapi senyum Resti membuat Hanan bertanya-tanya, bagaimana ia bisa berpikir pemilik senyum pelangi itu sangatlah membosankan.

Resti beranggapan tidak ada yang lebih buruk dari bekerja membantu dokter asing maha cuek dan menyebalkan.

Tapi senyum Hanan Ardinata terkadang membuat jantung Resti seolah berhenti berdegup, sampai-sampai ia takut kehilangan lengkungan manis yang membuatnya kembali punya harapan.

***

Alur Cerita:

Meski menjadi dokter bukanlah cita-cita Hanan sejak kecil, tapi sekarang ia sudah meraihnya dan merasa wajib untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Termasuk saat ia harus menempuh program internsip di Atambua. Meninggalkan zona nyaman, memasuki kehidupan baru, tentu tidak sepenuhnya menyenangkan. Belum apa-apa ia sudah jengkel. Pesawat delay, belum lagi orang yang akan menjemput dan mengantarnya ke tempat tinggalnya di Atambua, terlambat.

"Hanan tidak menyukai membuang-buang waktu hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, menunggu salah satunya."_(hal 14)

Resti sangat menyesal karena lupa menjemput dokter yang akan ditugaskan di klinik kesehatan dekat tempat tinggalnya. Ia ditunjuk langsung oleh Bupati Belu untuk mendampingi dokter itu selama bertugas. Akhirnya, saat ketemu di bandara, dokter itu teramat ketus. Ini bukan pertemuan pertama yang mengesankan, tapi demi tugas, mau tidak mau mereka harus berurusan untuk waktu yang cukup lama.

"Jadi, masihkah saya harus menunggu permintaan maaf dan berdiri di sini lebih lama?"_(hal 20)

Hanan memenuhi gambaran dokter pada umumnya di benak Resti, tinggi, putih, bersih, dan ganteng. Tapi galak. Sementara di mata Hanan, Resti gadis yang cerewet, suka memperdebatkan hal-hal kecil, dan suka menyuruh tiba-tiba. Tapi, dia periang, cerdas, berwawasan luas, dan mungkin juga cantik.

"Gadis itu terlihat lebih kuat dari yang ia lihat semula."_(hal 22)

Di Atambua, akhirnya Hanan menemukan banyak hal baru, yang pada akhirnya mematangkan mentalnya untuk menjadi dokter yang sesungguhnya. Lewat Resti, Hanan belajar bagaimana memahami perasaan orang lain, bagaimana harus mengutamakan kepentingan orang banyak daripada diri sendiri. Seiring semua itu, perlahan-lahan Hanan mengenal sosok Resti, juga mengetahui apa yang selama ini disembunyikan gadis itu.

"Dokter di sampingnya itu kini berangsur menjadi orang paling manis sedunia. Mulai ramah, memedulikan orang lain dengan cara yang hangat, juga komunikasinya yang tidak berlebihan."_(hal 83)

Di saat Hanan mulai merasa tertarik pada Resti, seseorang dari masa lalu gadis itu (Arkha) tiba-tiba hadir. Arkha tentu saja lebih mengenal Resti dalam segala hal, membuat Hanan merasa tersisih. Kendati demikian, waktu yang telah ia lalui bersama Resti juga tidak bisa dianggap tidak ada apa-apanya. Pada akhirnya Resti harus memilih, dan Hanan harus siap dengan segala keputusan, sekali pun itu adalah luka.

"Terima kasih karena mengizinkan saya untuk mengenalmu. Sekali lagi, saya tidak mau kamu terbebani dengan pengakuan ini."_(hal 169)

Bagaimana akhir kisah mereka? Bagaimana Atambua meninggalkan kesan di hidup Hanan? Segera miliki buku ini dan temukan sendiri jawabannya.

***

Review:

Pertama-tama saya mau muji covernya, karena komposisi warna dan ilustrasinya sangat mewakili isi cerita.

Masih ada perasaan yang sulit dibahasakan setelah menyelesaikan cerita ini. Intinya, penulis berhasil menjadikan saya tokoh utama dalam ceritanya.

Novel ini bagian dari ASSP " City Series" yang bisa dibilang dalam pemilihan kota cukup berani. Banyak yang tidak tahu Atambua, termasuk saya, dan akhirnya tahu berkat novel ini. Pada dasarnya City Series bertujuan untuk mengenalkan kota-kota di Indonesia dalam sajian cerita fiksi. Meski masih kurang eksplor, tapi novel ini sudah cukup berhasil mengenalkan Atambua.

Saya jatuh cinta dengan novel ini sejak pertemuan pertama Hanan dan Resti. Interaksi awal mereka benar-benar menjanjikan jalinan cerita yang kuat. Kepribadian keduanya yang bertolak belakang memberi bumbu-bumbu humor yang cukup menggelitik tapi tetap elegan. Kemudian bagaimana kisah mereka bergulir dengan latar kota yang cukup asing, sangat menarik untuk diikuti.

Dari sekian keunggulan novel ini, yang paling saya soroti adalah penokohannya. Penulis berhasil menghidupkan karakter Hanan dengan sangat baik. Mulai dari kegelisahannya saat harus memasuki kota terpencil, sampai kekesalannya saat menghadapi kecerewetan Resti, benar-benar terasa.

Novel ini tidak hanya menghibur, tapi juga memotivasi. Bagaimana seseorang harus berjuang untuk mencapai impian, bagaimana seseorang harus berkorban melewati fase pertumbuhan menuju pribadi yang lebih baik, dan bagaimana seseorang harus merelakan. Kita juga bisa memetik nilai-nilai kehidupan dari profesi Hanan yang diharuskan terjun langsung ke masyarakat. Dari sini sedikit banyak kita bisa menilik pola hidup dari kacamata seorang dokter.

Kekurangan novel ini hanya terdapat pada pengulangan kata yang kurang efektif di beberapa bagian. Ada beberapa narasi juga yang masih perlu dipadatkan agar lebih enak dibaca. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kenikmatan cerita. Sosok Hanan dijamin banget bakal bikin kamu jatuh cinta dan betah diajak keliling Atambua. Percayalah.

Overall, novel ini cocok banget untuk kamu yang masih mencari jati diri dan terkadang bingung menentukan sikap. Di sini kamu akan menemukan beberapa hal yang secara tidak langsung merangsang untuk berpikir, bagaimana jika kamu yang di posisi itu.